EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 343


__ADS_3

...


“Pertama, katakan dengan jujur, dimana bom yang kalian pasang? Bukannya itu remot.” Aku menunjuk tangannya.


“Kenapa aku harus menjawab—”


“Kamu telah menyulitkan penyelidikan Bayu selama ini, setidaknya itu yang setimpal!” nada suaraku meninggi, tidak membiarkannya memilih.


“A—aku tidak mau menjawab itu.”


“Kalau begitu, tidak ada alasan lagi untukku melanjutkan ini.” Aku akan berdiri tapi Cilia lebih dulu berteriak.


“AKU AKAN MELEDAKKAN BOM ITU!” Dia mengancamku. Tangannya yang memegang remot terlihat gemetaran.


“Tidak ada bom.” Kataku dengan tenang menatapnya.


“A—apa? Tentu saja ada bom—”


“Bom yang terakhir meledak saat penangkapan.”


“Kami tidak percaya dengan remot ini?! Aku akan membuktikan—”


“Kalau kamu mau meledakkannya seharusnya sejak tadi, dari awal kalian memang tidak memasang bom di rumah sekitar sini karena tempat ini pernah longsor sebelumnya. Ledakan pertama saat penangkapan, itu terjadi karena itu tempat lab nya. Iya ‘kan? Kalian akan memilih rumah dengan tanah yang kokoh untuk lab penelitian. Jadi, kalian tidak cukup bodoh untuk memasang bom di tempat lain.” Tangan yang memegang remot tampak lemas seolah itu tidak berguna.


PAAKK


Cilia melempar remot itu dan menatapku dengan dingin, “kami orang-orang pintar, tentu saja tahu kondisi di tempat ini.”


Mulutku melipat ke dalam, aku mencoba untuk tidak tertawa, menahan tawa kepuasan karena semua yang tadi aku katakan hanya dugaan, tapi ternyata dugaanku terbukti benar.


“Yang kedua, karena kalian telah menculikku, sekarang katakan, di mana orang-orang yang kalian culik juga??”


“Kami tidak—”

__ADS_1


“Mereka ada di desa ini ‘kan? Di mana itu?” Aku menekan setiap kata.


Cilia terdiam, melihatnya yang mengalihkan tatapan dariku pertanda kalau dia memang menyembunyikan sesuatu.


“Apa kamu gila?! Kamu menuduh kami menculik orang lain?? Hah!” Cilia menatapku marah, tapi aku bisa lihat kalau dia pura-pura marah untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Satu hal lagi yang aku perhatikan sebelum berhadapan dengan Cilia, di kejauhan aku bisa lihat kumpulan orang-orang yang di tangkap dan di awasi oleh sebuah tim, tapi sejak tadi aku tidak melihat sandera untuk uji coba obat selain aku karena aku yakin, mereka pasti menyembunyikan di suatu tempat.


Entah di desa ini atau yang tak jauh dari sini, dan reaksi Cilia mengatakan kalau dugaanku kali ini juga benar.


“Kamu tidak ingin mengatakannya? Berarti tidak ada lagi diskusi.” Aku mengangkat bahu, segera berdiri dari kursi dengan tenang karena permintaan Bayu dan tim nya adalah untuk menahan Cilia selama beberapa menit sampai mereka bisa tahu bom yang di pasang Cilia, tapi ternyata bom nya hanya bohong. Lalu, kalaupun Cilia tidak mau menjawab pertanyaanku yang kedua, cepat atau lambat mereka akan di introgasi dan semuanya akan ketahuan.


“Apa kamu pikir hanya aku yang mengendalikan bom?” suara geraman marah Cilia menghentikan gerakkanku.


Aku menatapnya, menunggu dia melanjutkan. “tim kami di tempat lain akan tahu ada yang tidak beres dengan kami di sini. Mereka akan ke sini dan meledakkan bom lain.”


“Ahh kalau soal itu kamu jangan khawatir.” Aku berbalik, tidak menyangka yang menjawab justru Bayu.


“Apa kamu pikir kami hanya berburu di sini?” ada senyum kecil kepuasan di wajah Bayu ketika pandangannya tidak lepas menatap Cilia.


Alisku terangkat, aku memang tahu kalau Bayu menyelidiki tentang Rey dan yang berhubungan dengan semua ini, tapi mendengarnya langsung dari rekan kerjanya seperti ini terasa berbeda. Ada kebanggan dan kepuasan dalam nada suara pria ini.


Dia kemudian beralih menatap Cilia, suaranya yang lebih berat dari suara Bayu menambahkan, “semua cabang kalian sudah di tangkap pada jam yang sama seperti di tempat ini. Kita bergerak secara serentak pagi ini.”


Aku menoleh lagi pada Bayu dan memberinya jempol. Bayu tersenyum kecil sebelum sebelah matanya berkedip.


“Kamu—” Cilia kehilangan kata-kata sembari matanya dengan membara menatap Bayu.


“Apa aku sudah selesai di sini?” Tanyaku pada pria yang tadi bersuara.


Pria itu mengangguk dan tersenyum puas, “terima kasih sudah membantu.”


“—apa…” suara mendesak Cilia mengalihkan tatapan kami padanya lagi, “apa permintaan ke tiga kalau aku menjawab yang kedua.”

__ADS_1


Senyumku semakin mengembang melihat bagaimana Cilia sangat penasaran dengan jawabanku tentang kenapa tubuhku baik-baik saja terhadap racun hormon nya.


“Hmm.. apa ya, aku tidak kepikiran untuk yang ketiga. Lalu, bagaimana kalau kamu tawarkan sesuatu padaku yang seimbang dengan jawaban itu?” tanyaku balik.


Kemudian aku bisa merasakan usapan pelan di puncak kepalaku. Tanpa melihat pun aku tahu, tangan besar dan lembut ini milik Bayu.


“Bukannya jawaban yang akan aku berikan sangat berarti untuk orang-orang pintar seperti kalian? Aku sangat yakin kalau jawabanku akan memuaskan kamu karena hanya aku sendiri yang tahu bagaimana keadaan tubuhku.” Kataku, mendorongnya sedikit lagi agar dia mau memberitahu dimana mereka menyekap orang-orang yang menjadi objek penelitian.


Jari-jari tangan Cilia bergerak cepat seolah dia sedang menghitung untung rugi dalam pembicaraan ini. Aku yang melihatnya berdecak jijik mengingat kalau kami pernah dekat.


“Sudah cukup. Ayo kamu harus kembali.” Bayu menepuk pundakku dari belakang, membantuku untuk membuat Cilia memutuskan dengan cepat.


Aku mengangguk, tidak membantah dan segera berbalik dengan Bayu yang mendorongku dari belakang.


“K—kita belum selesai! Bagaimana dengan sandera yang lain—”


“Oh?!” aku berbalik dengan cepat. Cilia benar-benar berantakkan, dia dengan mudah masuk dalam perangkap.


“Dimana mereka?” tanyaku lagi, kali ini dengan nada serius dan mendesak.


Cilia menunduk, memejamkan mata dan menjawab, “mereka ada di g—gudang bawah tanah di dalam rumah yang setengah bagunannya rusak. A—ada pintu yang terhalang oleh tanah.”


“Hah! Benar-benar!!” aku rasanya emosi mendengar jawabannya. Siapapun yang ada di dalamnya, mereka pasti ketakutan dan hidup mereka dalam bahaya.


Salah satu pria memberi tanda pada pria lain untuk memeriksa tempat itu, dia langsung berlari kecil melewatiku untuk keluar.


Aku menggeleng tak percaya, menatap Cilia dan berbalik, tidak ingin melanjutka obrolan kami, tapi Cilia yang berdiri dari kursinya membuat dua pria lainnya bergerak juga untuk menahannya.


“Jawaban!! Kamu belum memberi jawabannya!!” dia mendesakku.


“Hei. Apa kamu tidak mendengar tadi? Tiga kesepakatan! Kamu tidak menawarkan sesuatu di pertanyaan terakhir.” Bayu menjawab dengan kesal menahan amarahnya, dia merangkulku dan menarikku untuk lebih dekat dengannya.


“Apa?! Apa yang kamu mau?!!” dia menjerit putus asa.

__ADS_1


...


.


__ADS_2