EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 161


__ADS_3

...


 


 


“Aku yang bodoh, egois, brengsek dan jahat ini tidak akan mengganggumu lagi.”


“Apa? Tapi—“


“Kamu sendiri kan yang tadi mengatakannya? Aku akan pergi sekarang.”


“Tidak Bayu! Aku tadi hanya emosi—“


“Aku akan pergi dengan Ana dan akan menikahinya besok. Jadi aku memintamu untuk berhenti mencintaiku.”


“Bayu! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memintaku berhenti mencintaimu??” Aku terisak kencang saat melihat sosok Bayu yang sudah berdiri di ambang pintu.


Aku yang berbaring tidak berdaya di ranjang kesakitan ini tidak bisa menahannya. Tubuhku seolah terkunci dan aku tidak bisa bergerak.


“Selamat tinggal, Icha. Aku akan melupakanmu dan berhenti mencintaimu.” Suaranya yang dingin tanpa perasaan menyakiti hatiku sedemikian rupa.


“Tidak! Bayu maafkan aku! Kembali!” Dia tersenyum kecil padaku, senyuman dingin tidak berperasaan lalu sosoknya perlahan keluar dari kamar inap ini, pintu kamarku tertutup seiring dengan tubuhnya yang hilang di


balik pintu.


Aku menjerit, tidak menyangka lelaki itu akan meninggalkanku.


Tidak menyangka aku akan kehilangan dia secepat ini.


Tidak menyangka dia memintaku untuk berhenti mencintainya.


Aku ingin berlari menyusulnya, aku ingin menahannya pergi, aku ingin menariknya kembali.


.


..


 


“JANGAN PERGI!!!” Aku menjerit dan mataku terbuka dengan cepat, napasku memburu dan bahuku perih.


Langit-langit kamar yang aku kenali masih sama. Aku tidak mendengar suara apapun selain suara detik jarum jam.


Apa yang barusan itu mimpi?


Aku segera bangkit duduk, melihat kesekeliling.


Semuanya masih sama seperti yang terakhir aku ingat, aku masih memakai dressku, sarapan di atas nakas, meja kaca di depan sofa juga penuh dengan alat make up ku yang berantakkan tapi aku tidak melihat siapapun.


Jam menunjukkan pukul sembilan pagi dan kenapa Bayu tidak ada di sini?


Apa mungkin mimpi tadi adalah firasat?


Apa mungkin Bayu benar-benar tersinggung dengan ucapanku tadi dan ingin meninggalkanku??


Memikirkannya saja membuat jantungku berdetak cepat, perasaan takut kehilangan ini mengusaiku.


Jangan! Tolong jangan pergi! Aku harus meminta maaf padanya! Aku menyesal berdebat dengannya!


Aku bergerak cepat turun dari atas ranjang dan akan berlari menuju pintu kamar yang tetutup tapi sesuatu yang menyakitkan di tangan kananku menghentikan pergerakkanku.

__ADS_1


Sekarang tangan kananku mengucurkan tetesan darah, aku lupa kalau masih memakai jarum infus dan sekarang sudah lepas dengan paksa sampai kulitku terluka.


Tapi aku tidak peduli, yang aku pedulikan sekarang adalah menemukan Bayu dan meminta maaf padanya. Memintanya untuk tidak berhenti mencintaiku. Entah tadi itu mimpi atau bukan tapi keinginanku untuk mencarinya


sangat kuat.


Aku berlari tanpa alas kaki, menyentuh lantai yang dingin dan berlari di sepanjang koridor menuju meja podium panjang tempat suster-suster berada.


Lorong rumah sakit pagi ini lebih ramai, banyak pengunjung dan pegawai rumah sakit di sini sampai beberapa kali aku harus menabrak bahu mereka dan meminta maaf.


Saat sudah sampai di depan meja, hanya suster Lia yang aku kenali di antara keempat suster lainnya yang menatapku heran.


 


“Suster Lia, kamu tahu di mana Bayu berada??”


Suster Lia tampak bingung, sesaat dia melirik teman-temannya. “Tidak tahu. Aku—astaga! Nona Icha, bahu nya berdarah! Sepertinya jahitannya terbuka.”


Aku melirik bahu kiriku dan benar, tetesan darah merembes keluar dari dress ku ini menetes di sepanjang tangan kiriku hingga ke ujung jariku. Sekarang lantai yang aku pijak ternodai beberapa tetesan darah.


Ke empat suster mulai panik menatapku.


“Hei Icha. Sedang apa kamu di sini? Seharusnya kamu di kamar ‘kan?” Suara Lifer terdengar di belakangku.


Aku berbalik mendapati tiga sosok tinggi menatapku dari atas sampai bawah dengan pandangan heran dan khawatir.


Lifer, Ronald dan Benny melotot menatapku.


“K—kamu berdarah-darah? Ya ampun apa yang terjadi? Dan kenapa kamu tidak pakai alas kaki??” Itu pertanyaan Lifer lagi.


“Apa ada penjahat di kamarmu??” Ronald bertanya.


Aku menggeleng cepat dan berkata. “Kalian lihat Bayu?”


Hanya ini satu-satunya jalan yang tidak banyak orang menghalangiku.


 


Aku barlari cepat menuruni tangga, mengabaikan teriakkan Benny, Lifer dan Ronald yang memanggilku, mengabaikan lantai dingin yang menyentuh telapak kakiku, mengabaikan sakit dari kedua tanganku, mengabaikan


suara-suara langkah kaki cepat yang mengejarku di belakang.


 


Tujuanku hanya satu, bertemu cepat dengan lelaki itu.


 


Meminta maaf padanya.


 


Tidak membiarkannya pergi dari hidupku.


 


Aku ketakutan,


 


Aku juga ingin menangis kencang sekarang agar hatiku lebih baik.

__ADS_1


 


Aku tidak ingin mimpi itu jadi kenyataan.


 


Aku tidak peduli dengan rasa sakit yang perlahan membuat langkahku melambat dan sempoyongan.


 


Aku harus kuat! Aku hanya harus berlari mengejarnya.


 


Ya! Seperti itu!


Aku berkali-kali mengusap pipiku yang basah dengan bagian punggung tangan kananku yang tidak ternodai darah.


Kenapa di saat seperti ini aku harus cengeng? Kenapa aku tidak bisa berhenti menangis?


Oh tuhan, aku cinta dia.


Aku berjanji tidak akan menyakitinya. Tolong pertemukan aku dengan Bayu secepatnya.


Tanganku meremas baju di dadaku, sesak ini tidak mau hilang. Sekarang napasku memburu antara sakit hatiku, perih karena lukaku juga karena aku yang sudah berlari-lari seperti ini.


 


“ICHA!! TUNGGU! KAMU SEDANG TERLUKA! JANGAN LARI!” Aku mendengar teriakkan Benny semakin dekat.


Kini langkahku sudah membawaku keluar dari pintu darurat di lantai dasar. Di sini orang-orangnya lebih banyak dan jalan di hadapanku juga sesak.


Ada semacam antrian panjang dan orang-orang sakit yang menunggu giliran sambil berdiri karena tidak ada lagi kursi yang tersedia.


Tapi aku tidak peduli, pintu utama tidak jauh di depanku.


 


Aku berlari menabrak orang-orang dan menggumamkan kata maaf pada mereka sampai mataku akhirnya menemukan sosok itu.


Bayu dan dokter Stefan sedang mengobrol dan mereka baru masuk melewati pintu kaca yang terbuka otomatis itu.


Kesedihanku semakin muncul kepermukaan karena masih bias melihat wajah Bayu.


Berarti apa yang tadi aku alami adalah mimpi.


Lelaki itu tidak akan pergi begitu saja meninggalkanku ‘kan?


Aku terisak, air mataku tidak bisa berhenti keluar. Napasku tercekat dan dadaku juga sesak. Tenggorokkanku sakit untuk memanggil namanya.


Tapi Bayu seolah menyadari kehadiranku, pandangan matanya menemukanku.


Langkahnya terhenti dan menatapku kaget. Dokter Stefan juga yang kaget melihatku ikut menghentikan langkahnya.


Aku tidak peduli orang-orang yang melihatku kasihan sekarang, kakiku hanya bergerak cepat, melangkah lebih cepat, mengikis jarak di antara kami.


Aku menangis sembari menabraknya, memeluknya sangat erat. Berjinjit melingkarkan kedua tanganku di bahunya, menenggelamkan wajahku di lehernya dan menangis semakin kencang.


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2