
...
“Kau di sini?” Tanya nya setelah ada di hadapanku.
“Kak Evano menyuruhmu datang ke sini?” Aku mengangguk.
“Paman juga baru datang?” Aku melirik tas yang di bawanya bersama seorang pria yang sedang berjalan menghampiri kami. Pria yang aku kenal bernama Peter.
“Ya, karena ada urusan pagi ini, jadi paman baru datang sekarang.”
“Selamat siang, nona Icha.” Peter menyapaku begitu dia tiba di hadapanku.
“Siang, Peter.”
“Ayo!” Ajak paman Kenzo yang langsung di angguki olehku. Pria ini merangkul bahuku dengan santai agar aku berjalan di sampingnya. Aku tidak pernah membayangkan paman Kenzo berani mengambil langkah lebih dekat denganku, padahal aku baru mengenal keluarga Danendra beberapa hari yang lalu.
Aku sempat melirik dua resepsionis tadi dan tersenyum singkat pada mereka.
“Dimana Bayu?”
“Dia ada urusan mendadak dan akan menyusul.” Jawabku saat kami berempat sedang di depan pintu lift.
Sembari menunggu pintu terbuka, aku sadar kalau karyawan yang hendak menunggu lift melirik kami ingin tahu. Peter yang tadi menekan tombol panah sempat melirik paman Kenzo yang masih merangkul bahuku dengan tangan kirinya, aku bisa melihat senyum kecil di wajahnya. Tidak tahu apa itu pemikiran yang baik atau buruk.
“Udah makan siang?”
“Belum.”
“Oh! Kebetulan, paman juga belum makan siang. Kita akan pergi ke tempat makan yang selalu jadi langganan kami setelah menemui kak Evano.”
Begitu pintu lift terbuka, kami berempat segera masuk ke dalam lift yang kosong. Aku kira karyawan yang sedang menunggu akan ikut bersama kami, tapi nyatanya mereka hanya diam menunggu dua pintu lift lain yang masih tertutup.
“Tuan Kenzo, bukan kah anda terlalu—berani?”
“Apa?” Peter berbalik menghadap paman Kenzo yang masih dengan santai nya merangkulku.
Aku melirik Peter dengan kening berkerut mendengar perkataannya. “Mereka akan bergosip kalau nona Icha adalah pacar anda dan berpikir anda terlalu cepat beralih.”
__ADS_1
“Tidak akan. Tadi di depan meja resepsionis Icha memanggiku paman.” Jawab paman Kenzo dengan senyum kecil, seolah menunjukkankalau dia menang di depan Peter.
“Begitu?”
“Ya! Iya ‘kan, Cha?” Aku yang tiba-tiba di tanya seperti ini untuk sesaat melirik mereka bergantian dan mengangguk pelan.
Ting!
Tidak sadar kalau ternyata kami sudah sampai ke lantai yang di tuju, aku mendongak untuk melihat ke lantai berapa kami berada, ternyata di lantai 10.
“Di lantai ini hanya ada ruang-ruang untuk rapat atau diskusi.” Beritahu paman Kenzo sembari melepas rangkulannya untuk sedikit merapikan kemejanya yang agak kusut.
Aku memutuskan untuk mengikuti langkah pria ini dengan Lucy yang juga ada di belakangku. Peter menyerahkan jas hitam --yang tidak aku sadari di bawanya sejak tadi-- pada paman Kenzo. Sembari melangkah melewati pintu-pintu tertutup, lantai ini sepi sekali, tidak ada siapapun kecuali dua orang pria besar yang menjaga di depan pintu ujung lorong. Salah satu dari mereka duduk di belakang meja dan yang lain berdiri menatap kami seolah sedang menunggu kedatangan kami.
“Bagaimana? Apa yang terjadi di dalam?” Aku mendengar Peter bertanya pada salah satu pria itu begitu kami hampir sampai ke depan pintu.
“Seperti yang kau duga, pimpinan akhirnya membahas tentang laporan keuangan itu.”
“Lebih baik aku tunggu saja di sini. Aku tidak ingin mengganggu.” Kataku setelah memikirkan apa jadinya kalau orang asing tiba-tiba bergabung dalam rapat, terlebih mereka sedang membahas tentang laporan keuangan.
Sesaat paman Kenzo tampak berpikir namun dia akhirnya mengangguk dan berbalik untuk mendekati pintu lain tepat di sebrang pintu tujuannya.
“Kalau gitu kamu tunggu di sini.” Katanya sembari membuka pintu itu dan menyalakan saklar lampu.
Aku mengangguk dan segera masuk bersama Lucy. Dari ujung mataku, aku melihat paman Kenzo mengatakan sesuatu pada salah satu pria keamanan itu lalu langsung masuk ke ruang rapat bersama Peter.
Ruangan yang aku masuki hanya ada meja besar bundar dengan dua belas kursi hitam empuk berjajar rapih. Di satu sisi ruangan tampak dinding polos dan gulungan tergantung di atasnya, selain itu sebuah white board berdiri di sudut ruangan. Ini pasti ruang rapat lainnya yang lebih kecil.
Aku segera duduk di salah satu kursi, pintu ruangan yang sengaja di buka memungkin aku untuk bisa melihat jika ada yang keluar dari ruangan sebrang.
“Nyonya muda, apa anda baik-baik saja menunggu di sini?”
Aku melirik Lucy yang berdiri di dekat pintu dengan kening berkerut. “Kenapa?”
__ADS_1
“Kalau anda tidak nyaman, kita bisa pindah—“
“Tidak tidak!” Aku menggeleng cepat.
“Kenapa kau tidak ikut duduk juga di sini.” Kataku sembari menunjuk kursi di samping kananku tapi kelopak mata Lucy melebar, kaget.
“Tidak. Itu tidak ada dalam peraturan.” Dia menjawab kaku yang justru membuatku terkekeh pelan.
“Baiklah, aku tidak memaksa mengingat ini hari pertama kita bersama, mungkin masih canggung, iya ‘kan?”
Lucy menatapku dengan mata yang berkedip cepat di iringi deheman pelan. Aku tahu, dia pasti tidak bisa menjawab.
Namun pintu di sebrang ruangan yang di jaga oleh dua pria tadi terbuka, di sana muncul sosok ayah Evano yang duduk di kursi roda dengan Wildan mendorongnya dari belakang.
Aku segera berdiri begitu ayah Evano melihatku dengan senyuman kecilnya. Tidak menyangka dia langsung keluar dari ruang rapat, aku kira butuh waktu lebih lama menunggunya.
“Icha, ayo bicara dengan ayah.” Katanya di ambang pintu. Aku mengangguk dan tersenyum kecil sembari melangkah mendekatinya.
Wildan mundur dan pamit untuk kembali ke ruang rapat, aku yang mengambil alih untuk mendorong kursi rodanya hanya mengangguk.
“Seperti biasanya, Rasha memang bisa bergerak cepat, dia langsung mendapatkan orang untuk jadi penjagamu.” Ayah melirik sekilas Lucy yang berjalan dua meter di belakangku.
“Jadi, ini kesepakatan kalian berdua?”
“Sebenarnya ini diskusi dadakan kami tadi malam. Ayah harap kamu tidak terganggu.”
“Tentu saja terganggu. Aku tidak pernah terbiasa dengan pengawal atau penjaga.” Jawabanku entah mengapa membuat ayah Evano tertawa kecil.
“Ya, alasan itu bisa di mengerti.”
“Aku pikir, ayah memanggilku ke sini bukan untuk mendiskusikan ulang soal ini.” Tebak ku menghentikan langkah kami saat kami sudah di depan jendela besar dengan pemandangan kota di hadapan kami. Karena koridor ini khusus untuk ruang rapat dan sepi, sangat di sayangkan pemandangan indah ini tidak sering di lihat orang.
“Ayah merasa egois mengatakan ini mengingat kita baru saling mengenal dan bertemu tapi Icha, ayah tidak bisa menghilangkan fakta kalau kamu adalah pewaris grup Eternity. Mungkin kamu belum menerima keluarga Danendra tapi ayah harap kamu mengerti.” Mendengar suara ayah Evano yang serius membuat pikiranku melayang mengingat ibu dan ayah.
...
__ADS_1