
...
“Aahhh itu, Bayu sering bawa permen atau jelly setiap dia pulang tugas dan di bagi ke anak-anak kecil. Jadinya setiap kali Bayu pulang, mereka nagih.” Jawab Bunda sekila smelirik ke luar jendela.
“Kayanya anak-anak itu nahan Bayu karena dia enggak bawa permen dan Jelly. Tapi anak itu kalau udah asik main sama anak kecil suka lupa waktu. Liat aja, dia pasti lagi buat sesuatu.” Tambah Bunda sembari menggeleng dan berdecak.
Aku tersenyum kecil mengangguk, pasalnya aku belum pernah menemukan sisi Bayu yang seperti ini. Tidak pernah terbayangkan kalau lelaki itu bisa asik bermain dengan anak-anak.
“Biasanya di rumah Bunda suka sendiri, tapi kalau Bayu pulang langsung tuh jadi rame banyak anak kecil.”
“Kalau Alisya, bun?”
“Anak itu kalau pulang yaa suka nya diem di kamar. Main HP.” Aku mengangguk lagi mengerti.
“Icha juga kalau di rumah sendiri, bun. Apalagi kalau hari biasa, Berangkat pagi kerja terus kuliah pulang malam.”
“Sering-sering ke sini, Cha. Temenin Bunda.” Aku tersenyum dan mengangguk mendengar tawaran bunda.
“Oh ya bun, Icha sekalian mau ngobrol sesuatu ke bunda.” Aku teringat tentang keluarga kandungku. Bagaimanapun aku memang harus membicarakannya dengan keluarga Bayu mengingat lelaki itu telah mendapat persetujuan kakek Jeremy.
“Ada apa sayang? Apa yang bisa bunda bantu.” Bunda menatapku, memberikan perhatian penuh padaku.
Aku sedikit membenarkan posisi duduk ku untuk lebih menghadap pada bunda, lalu semuanya mengalir begitu saja.
Aku menceritakan tentang ibu dan Daniel, lalu bibi Rose yang selama ini ternyata punya hubungan dengan ayah kandungku, Evano Kavin Danendra. Lalu aku yang tiba-tiba saja di sebut dengan putri yang tersembunyi.
Selama menceritakannya, bunda tidak banyak bicara, hanya mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa mengalihkan tatapannya padaku.
“Begitu bun, jadi Icha mau undang keluarga Bayu untuk bertemu dengan keluarga dari ayah kandung Icha dan juga Icha akan undang ibu dan Daniel.” Kataku mengakhiri ceritaku.
Untuk sesaat bunda terdiam, seperti memikirkan sesuatu. Aku juga ikut terdiam, tidak pernah membayangkan hidupku seolah berubah ke bagian lain dalam waktu beberapa bulan terakhir saja.
Tidak pernah terpikirkan oleh ku menghadapi bahaya di luar sana, keracunan dan terluka. Hidup ku yang normal dengan ibu dan Daniel adalah keluargaku berubah dengan hadirnya fakta kalau sebenarnya mereka tidak berbagi darah denganku.
__ADS_1
Dan yang lebih tidak aku sangka-sangka adalah kehadiran Bayu. Dia muncul lagi di hadapanku begitu saja tanpa peringatan, seolah tuhan mengirimnya langsung padaku tanpa adanya keterlibatan orang lain.
Sekarang, aku duduk di hadapan bunda, membicarakan tentang pernikahanku dengannya. Ini juga hal yang datang begitu saja tanpa rencana. Aku memang sangat bahagia karena Bayu mencintaiku dan ingin menikah denganku, ingin menjadikan aku teman hidupnya.
Tapi terkadang aku takut, semua kebahagian ini dating tiba-tiba, seolah seperti mimpi. Terbuai dengan ke indahannya sampai aku tidak ingin bangun lagi.
“Bunda, apa yang bunda pikirkan?” Tanyaku memecah keheningan.
Bunda sedikit terperanjat kaget dan menatapku. Senyuman lembutnya terlihat ketika aku membalasnya dengan tatapan bingung dan khawatir.
“Tentu saja bunda sangat menantikan pertemuan keluarga kita secepatnya.”
“Tapi sepertinya bunda sedang memikirkan yang lain.” Tebak ku.
Bunda tersenyum lebar lalu berdiri dan berkata. “Tunggu sebentar, bunda mau ambil sesuatu.”
Setelah mengatakannya, bunda berdiri dan keluar dari ruangan ini, meninggalkanku sendirian dengan tanda tanya besar di pikiranku.
Lelaki itu masih di sana, tapi sekarang dia sekarang sedang mengajari salah satu anak dengan remote di tangannya dengan anak-anak lain berteriak heboh di sekelilingnya karena melihat mobil kecil melaju dan berputar di sekitar mereka.
Apa dia dari tadi merakit mobil mainan itu?
“Icha seperti di takdirkan untuk Bayu.” Aku melirik Bunda yang datang dengan ekspresi senang sembari membawa cover buku tebal besar berwarna hijau lumut di tangannya.
Bunda Kirana duduk di tempatnya tadi sembari menyerahkan benda yang di bawanya padaku. Aku segera menerimanya dan membuka cover buku tebal itu.
__ADS_1
“Album foto, bun?”
“Iya. Coba lihat, apa ada yang Icha kenal?” Pertanyaan bunda membuatku semakin penasaran.
Aku segera memperhatikan foto-foto di dalam album ini, mengira isinya adalah foto pertumbuhan Bayu dari bayi sampai sekarang, tapi bukan.
Ini seperti album foto perjalanan liburan bersama teman-teman ayah Rasha dan bunda Kirana sejak mereka muda.
Kebanyakan dari wajah-wajah yang ada di dalam foto tidak aku kenal. Bunda pun tidak menginterupsi atau memberitahuku maksudnya, dia hanya diam memperhatikanku hingga aku menemukan sebuah foto dengan gaya berfoto yang terlihat formal.
Ada delapan orang yang berdiri tegak menghadap ke kamera dengan dua baris. 4 wanita berdiri di belakang lebih tinggi dari 4 pria yang di depannya. Mereka semua tersenyum lebar sembari wanita-wanita ini meletakkan tangannya di bahu pria dengan mesra.
Aku mengenali wajah-wajah ini. 2 pasangan yang terlihat lebih tua dari yang lain adalah kakek Jeremy dan kakek kandungku yang aku temui tadi pagi. Aku bisa menebak dua wanita di belakang mereka pasti adalah nenek kandungku dan nenek Bayu.
Lalu dua pasangan lainnya adalah bunda Kirana dan ayah Rasha juga ayah Evano dan bibi Rose. Melihat bagaimana senyum bibi Rose yang lebar dan bahagia tiba-tiba membuatku merindukannya. Setelah kematian bibi, aku jarang sekali memperhatikan foto bibi Rose yang sedang tersenyum seperti ini.
“Bunda kenal ayah kandungku dan bibi Rose?!” Tanyaku tidak percaya sembari mendongak menatap bunda.
Bunda Kirana mengangguk dan menjawab. “Keluarga kami adalah teman lama. Itu adalah foto yang kami ambil saat pertama kali kami kumpul bersama. Awalnya ayah dan ibu dari keluarga suami bunda merupakan teman masa kecil kakek mu. Karena hubungan baik orang tua kami, berlanjut pada Rose dan Evano. Kami juga teman lama bahkan sebelum kami berempat menikah. Tapi karena kesibukan ayah Rasha di militer, kesibukan Evano dengan perusahaannya, kami sudah lama tidak berkumpul. Terakhir aku dapat kabar kalau Rose meninggal karena kecelakaan, bunda dan ayah Resha tidak bisa hadir saat pemakanan. Sudah lebih dari dua puluh lima tahun kami tidak pernah berkumpul bersama lagi. Hanya sesekali kami tidak sengaja bertemu atau bertemu untuk membicarakan urusan penting.”
“Aku tidak pernah menyangka kalau bunda kenal dengan bibi Rose.” Kataku masih dalam
mode terkejut.
“Bunda ingat dulu, Bayu selalu cemberut karena kami harus pindah-pindah karena pekerjaan ayah Rasha tujuh tahun awal pernikahan kami. Anak itu harus sering beradapatasi dengan lingkungan baru. Tapi ketika kembali lagi ke kota ini, bunda bertemu dengan Rose, setelah mengobrol-ngobrol, dia mengatakan sedang mencari tempat les yang cocok untuk keponakannya. Karena bunda tahu keponakan Rose seumuran dengan Bayu, maka bunda merekomendasikan tempat les yang Bayu ikuti. Di sana lah kalian bertemu dan jadi teman, ‘kan?” Aku mengangguk cepat.
“Iya bun, di tempat les kami pertama kali bertemu.” Jawabku tersenyum lebar.
__ADS_1
...