
...
“Siapa?”
“Benny.”
“Ah ya, jika yang kau maksud itu mengganggu dalam artian dia mencari apa yang ada pada latar belakangku, maka dia sudah melakukannya kemarin.”
“Dia sangat berani saat pertama kali bertemu denganmu, iya ‘kan?” Aku mengangguk menyetujui.
“Apa dia juga melakukannya padamu?”
“Yaa, setelah pertemuan kami yang ke tiga, dia membongkar semua latar belakangku. Menyebalkan sekali kalau mengingatnya lagi.” Bianca tampak menerawang mengingat lagi.
“Dia memang seperti itu semenjak seseorang yang ada di dekatnya berkhianat.” Tiba-tiba Talia bergabung dengan obrolan kami saat kami semua sudah berada di dapur.
“Yaa! Seharusnya tim phonex memiliki 5 anggota tapi karena kejadian salah satunya berkhianat, mereka sekarang hanya berempat.” Kata Bianca.
“Apa yang orang itu lakukan?” Tanyaku penasaran.
“Aku mendengar kalau pria itu ber-aliansi dengan kelompok rahasia di pemerintahan untuk menghapus tim phonex karena keberadaan tim ini mengancam mereka. Ada banyak kasus-kasus yang di sembunyikan.” Jawab Bianca.
“Lalu di mana dia sekarang? Apa orang itu di penjara?” Aku bertanya lagi.
“Belum. Pria itu mendapat dukungan dari orang-orang berkuasa.” Bianca menggenggam pisau sembari menatap penuh kesal saat mengatakannya.
“Orang kepercayaan pria itu, kau sudah bertemu dengannya.”
“Siapa?” Aku menatap prof. Bora tak mengerti. Talia dan Bianca menghentikan pergerakkan mereka dan menatapku juga.
“Rey Orihara!”
Jantungku berdetak cepat mendengar nama itu. Jadi seperti itu. Aku mulai mengerti sekarang kenapa Rey selalu ingin mencelakaiku atau Bayu, atau ketika Benny menuduhku bekerja sama dengan Rey.
__ADS_1
“Kau sudah bertemu dengannya?” Tanya Talia dan Bianca bersamaan.
“Yaa, beberapa kali.”
“Orang itu seperti ninja, cepat dan tidak meninggalkan jejak. Kalau kita biasa menemukan jejaknya, maka itu akan memudahkan untuk menemukan pria itu.” Talia tampak bersemangat.
“Dia menargetkanmu karena kau anggota baru di sini.” Kata Bianca memperjelas semuanya.
Kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini berputar di otakku, ada kepuasan tersendiri bisa mengetahui niat Rey selama ini.
Lamunanku buyar saat mendengar suara langkah kaki ringan memasuki dapur. Kami semua melihat Sonia berlari menghampiriku dan dia langsung memeluk kakiku. Aku mengangkatnya dan mendudukkannya di atas meja counter.
“Ngomong-ngomong, dia siapa cha?” Prof Bora bertanya padaku sembari mendekati kami.
“Ini Sonia, ada kejadian di pasar yang membuatnya tidak bisa kembali ke rumah. Tapi siang ini ayahnya akan pulang dan nanti akan menjemputnya di sini.”
“Hai gadis cantik, kau ingin makan sesuatu?” Prof Bora bertanya yang langsung di jawab oleh Sonia dengan gerakkan tangan. Untuk sesaat ketiga wanita ini terdiam agak kaget dengan keadaan Sonia.
“Dia ingin susu atau roti.” Kataku setelah membaca gerakkan tangannya.
“Kau mengerti bahasa isyarat?” Prof Bora menatapku tidak percaya.
“Sedikit.” Jawabku dan ketiga wanita ini tidak bertanya lebih lanjut. Mereka hanya tersenyum dan mulai mempersiapkan apa yang di inginkan Sonia.
Untuk selanjutnya, kami para wanita sibuk di dapur, asik memasak sembari bercerita dan tertawa. Makanan yang kami siapkan pun lebih cocok untuk makan siang tapi karena jam menunjukkan pukul sepuluh, kami akhirnya berhenti dan memilih untuk memanjakan diri di atas.
Kelima lelaki di bawah juga sibuk dengan acara nonton dan game mereka dan tidak ada yang menyadari kami sudah pindah ke atas, ke kamar yang aku tempati untuk berbaring berbaris di sana.
“Bagaimana kondisi tubuhmu, cha?” Tanya Prof Bora saat aku yang mengajukan diri untuk membantu mereka memakaikan masker dan mereka bisa langsung memposisikan untuk tidur tenang.
“Aku sudah jauh lebih baik.” Jawabku setelah selesai memasangkan masker pada Bianca.
“Kemarin aku melihat anak itu murung sekali.” Lapornya.
“Aku sudah membuatnya khawatir.” Gumamku tanpa sadar.
Talia yang hanya dia belum aku pakai kan masker melirikku sekilas dan tersenyum menatapku. “Kapan-kapan kalian harus ke rumahku. Aku ingin kita mempercantik diri seperti ini.”
“Aku akan mengosongkan jadwal di kampus.” Jawab Prof Bora
“Aku juga akan mengosongkan jadwal pemotretanku.” Kali ini Bianca yang menjawab semangat. Mendengar ceritanya kalau dia adalah seorang model dan pemilik perusahaan design sangat cocok dengan gaya berpakaiannya yang elegant dan trendi.
“Terima kasih Sonia.” Sonia sedang menempatkan irisan timun pada ketiga wanita ini.
__ADS_1
Kami semua sudah berbaring saling berhimpitan di atas tempat tidur. Aku yang terakhir memakai masker kemudian di beri dua timun oleh gadis ini.
“Gadis baik.” Ucapku mengusap puncak kepalanya dan menutup kedua mataku dengan timun hingga sekarang yang aku lihat hanya cahaya warna hijau.
Sepuluh menit selanjutnya kami semua terdiam, aku merasakan langkah kaki ringan Sonia meninggalkan kamar. Hanya terdengar suara TV dari lantai bawah dan sesekali diiringi tawa para lelaki.
“Ngomong-ngomong apa kalian tidak mencium sesuatu? Seperti ada yang terbakar?” Suara Bianca memecah keheningan.
Refleks kami semua menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mencium bau itu. Samar-samar hidungku mencium bau terbakar.
“Apa tadi kompornya belum di matikan?” Prof Bora bertanya membuat kami sesaat terdiam.
“Tapi aku rasa tadi semuanya sudah di matikan.” Jawabku yang memang terakhir keluar dari dapur dan aku melihatnya, kompor listriknya sudah semua di matikan.
“Biar aku yang meminta tolong Lifer untuk memeriksa.” Itu suara Talia.
Aku tidak bisa melihat apa yang akan dia lakukan tapi kemudian kebingunganku terjawab setelah mendengar wanita itu menelpon suaminya tanpa kami merasakan pergerakkan di atas tempat tidur.
“Halo sayang, bisa kau cek di dapur? Iya, kami di sini mencium bau terbakar.”
“Apa kau lupa lagi mematikan kompornya, sayang?” Kami bertiga tertawa kecil mendengar suara Lifer di sambungan telpon yang begitu jelas terdengar.
“Jangan meledekku sayang, atau nanti malam kau tidak akan mendapat jatah.” Seketika tawa kami bertiga meledak, Talia memang blak blakan.
“Baiklah aku mengalah. Apapun yang akan nanti kau dengar, jangan turun ke bawah. Kalian semua!”
Tut.
Sambungan terputus, perkataan Lifer yang terakhir memberikan kesan yang ambigu.
“Ada apa dengan ‘jangan turun ke bawah’-nya itu?” Bianca tiba-tiba bergerak bangkit.
“Apa terjadi sesuatu?” Prof Bora juga ikut bangkit, kami berempat melepaskan timun dari kedua mata dan saling pandang tidak mengerti.
Untuk sesaat pandanganku terlihat kabur dan samar-samar akibat timun tapi setelah membaik, aku bisa melihat jelas wajah kebingungan ketiga wanita ini di balik masker mereka.
Lalu terdengar suara langkah ringan memasuki kamar, refleks kami menoleh mendapati Sonia berlari mendekatiku. Gadis kecil ini menggerakkan tangannya berbicara padaku.
“Paman bilang agar aku menunggu di atas.” Kataku memberi tahu maksud Sonia. Entah bagaimana tapi pemikiran kami sama.
Tanpa aba-aba kami berlari kecil mendekati jendela besar dekat sofa dan melihat langsung ke bawah, ke halaman depan.
__ADS_1
...