
...
“Bagaimana dengan pilihan kedua?” Tanya Wildan.
“Pilihan kedua, kita tidak langsung memecatnya, tapi menahannya untuk menyelesaikan kerugian dia dengan membuat laporan stock dan keuangan di masa jabatannya, itu berarti harus ada cut off data, dalam hal ini harus di dampingi tim audit pusat agar langsung di cek dan ada kontrol. Lalu mencari orang baru untuk mengisi posisinya. Karyawan baru tidak akan di repotkan dengan masalah itu, tapi juga secara tidak langsung dia bisa belajar pada orang sebelumnya. Bagaimanapun, meski dia melakukan korupsi, dia tetap lebih berpengalaman di posisi jabatannya. Setelah semua selesai, perusahaan bisa langsung menyerahkannya pada polisi.”
“Kalau dia tidak mau bekerja sama, tidak bisa menahannya untuk menyelesaikan laporan kerugiannya--”
“Tahan saja ijazahnya sampai dia mengembalikan kerugiannya, atau apapun itu. Ancam jika perlu, bagaimanapun dia yang merugikan perusahaan, seharusnya kita tidak takut. Justru dengan dia melakukan itu, merugikan karyawan lain yang tidak bersalah.” Aku langsung memotong perkataan Diana.
“Kenapa ayah tidak kepikiran pilihan yang kamu sebutkan?” tiba-tiba ayah berkata sembari merenung.
Aku tersenyum kecil dan menjawab, “itu karena ayah belum sarapan.”
Ayah tertawa kencang kemudian tangannya terangkat dan menepuk-nepuk puncak kepalaku sembari berkata, “ayo sarapan.” lalu dia melangkah menuju pintu, mengajak Wildan dan Diana untuk ikut sarapan juga.
Aku menatap punggung mereka bertiga, tanpa sadar tanganku terangkat menyentuh kepalaku sendiri. Ada sengatan kecil yang menyenangkan dalam rongga dadaku ketika ayah menepuk-nepuk puncak kepalaku tadi, aku tersenyum kecil dan ikut beranjak dari kursi.
Begitu ketiganya sampai di ambang pintu, ayah tiba-tiba sadar sesuatu, dia menatap ponsel yang dari tadi di genggamnya, menempelkannya kembali ke telinga sembari berkata dengan ceria, “halo? Kamu masih di sana? Maaf, ayah lupa tadi sedang berbicara denganmu di telpon.”
Ayah?
Kenapa ayah seperti bicara di telpon dengan anaknya? Bukankah semua orang di sini mengatakan kalau aku satu-satunya anak kandung ayah? Mungkinkah orang lain juga memanggilnya ayah?
“Nanti akan ayah cari tahu. Oke. Hati-hati, Nak.”
Nak?
Kerutan di keningku semakin dalam dan obrolan ayah dengan seseorang di telpon berakhir.
“Oh? Icha! Kamu berhasil!” Pekikan suara tante Kenzie menyadarkanku kalau kami berempat sudah sampai di ruang makan.
Wildan dan Diana di sambut hangat seperti biasa oleh keluarga Danendra, mempersilakan mereka untuk duduk dan menunggu paman Felix menyediakan piring, gelas, sendok, dan garpuh.
“Bagaimana kau melakukannya? Kakak paling menyebalkan kalau sudah marah-marah karena kerjaan.” Bisik paman Kenzo yang tentu saja di dengar hampir semua orang di meja makan.
“Dengan sedikit diskusi.” Jawabku, balas berbisik.
Lalu perhatianku teralih karena getaran dari ponselku yang di letakkan di atas meja. Ternyata ada sebuah pesan dari Bayu. Tanpa menunggu, aku segera membukanya.
__ADS_1
Akhir-akhir ini aku lupa mengatakan, kamu hebat.
Aku bangga padamu.
Jantungku berdetak cepat, entah mengapa aku jadi sedih membaca pesannya. Tidak pernah ada orang yang mengatakan itu padaku.
Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba mengirimku pesan ini?
Ini bukan pesan pamit karena kau akan perang ‘kan?
Balasku mengetik dengan cepat.
Hahaha. Tidak sayang.
Aku tadi dengar diskusimu dengan ayah dan yang lain.
Jadi? Panggilan nak oleh ayah di telepon tadi sebenarnya adalah Bayu?
Oh!
Jadi kau yang sedang bicara dengan ayah di telelpon tadi?
Aku pikir itu orang lain. Aku sempat cemburu karena ayah memanggil orang lain sebagai anaknya
Hanya berselang lima detik, Bayu membalas
Aku bisa membayangkan lelaki itu sedang tertawa meledek ku di tempatnya sekarang.
Aku akan berusaha lebih keras di sini, tidak akan kalah hebat dan kerennya darimu.
Senyumku semakin lebar membaca pesan selanjutnya yang Bayu kirim.
Ya! Semangat!
Aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendo’akan keselamatanmu
Aku juga tidak akan kalah darimu dan akan berusaha keras agar menjadi kebanggaanmu.
“Icha, ayo sarapan dulu.” Suara ayah Evano mengalihkan perhatianku dari ponsel. Menyadari sekarang semua orang sedang memandangku, aku hanya mengangguk dan menyimpan ponsel di atas meja, di samping kananku, untuk selanjutnya meneruskan sarapan.
***
__ADS_1
Ternyata setelah sarapan, ayah memanggilku lagi ke ruang kerjanya tanpa Diana. Dia meminta asistennya, Wildan, untuk memanggil Yudha agar segera datang ke rumah.
Kali ini ayah mendesakku untuk membantunya di perusahaan, dia memintaku untuk menyelesaikan masalah cabang retail yang sedang bermasalah. Dia akan mengirimku bersama tiga orang karyawan dari pusat yang akan mengaudit cabang tersebut, juga ayah berpesan agar aku mau di temani oleh Yudha.
Aku ingin menolak dan mengatakan kalau aku ingin menyusul Bayu, tapi aku tidak bisa. Sebagian dari diriku ingin membantu ayah dan menyibukkan kembali diri dengan pekerjaan.
“Semuanya sudah jelas ‘kan, Cha? Kamu akan bergabung bersama tiga orang lainnya untuk kunjungan. Ayah pastikan agar orang-orang yang nantinya mungkin akan mencari tahu tentangmu, mereka hanya tahu kau adalah karyawan dari kantor pusat.” Aku mengangguk mendengar penjelasan ayah.
“Dengan kau di temani Yudha, mereka akan percaya kalau kamu karyawan pusat.”
“Aku mengerti. Tapi ada beberapa hal yang ingin aku pastikan pada ayah.”
“Oh? Apa itu?”
Mataku melirik Wildan dan Yudha yang sejak tadi diam memperhatikan.
“Pertama, aku tidak keberatan kalau ada orang lain yang bertanya pada ayah tentang identitasku, ayah bisa memberitahu mereka apa adanya.”
“Kau tidak keberatan?” Tanya ayah memastikan.
“Aku pikir, tidak ada kehormatan tanpa tanggung jawab. Jika mereka langsung yang tanya pada ayah, aku tidak keberatan.”
“Ayah mengerti.” Ayah mengangguk, sorot matanya tampak lebih cerah.
“Lalu, Dika dan Lucy ikut juga denganku ‘kan? Bisa tolong pastikan mereka juga karyawan pusat? Aku tidak ingin orang lain menanyai mereka lebih lanjut kalau mereka hanya mengikutiku.”
“Oke. Itu bisa di urus.” Jawab ayah melirik Wildan yang langsung di angguki pria itu.
“Terakhir, kalau masalah cabang retail ini sudah terkendali, aku ingin langsung berangkat menyusul Bayu.” ayah menatapku dengan senyum menggoda, “tanpa Dika dan Lucy.” seketika ekspresi ayah berubah masam.
“Tidak! Kau harus di temani mereka!”
“Aku ingin melakukan perjalanan sendiri. Dari dulu aku ingin melakukan itu.”
“Tidak tidak tidak!” Ayah menggeleng cepat, mengangkat tangannya.
“Apa ayah pikir, aku tidak punya cara untuk kabur? Lebih baik ayah tahu aku berangkat sendiri dari pada ayah tahu aku kabur sendiri.”
“Itu sama saja.” Ayah mendesah jengkel.
“Tentu saja beda. Kalau aku berangkat sendiri, artinya aku pamit pada ayah. Kalau aku kabur? Aku tidak akan mengatakan kapan akan pergi, iya ‘kan?” Dari sudut mataku, Wildan dan Yudha tersenyum dan menggeleng kecil mendengar penjelasanku.
...
__ADS_1