EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 330


__ADS_3

...


“Kau kacau sekali. Apa yang terjadi padamu?” namun keheningan memenuhi ruangan. Tidak ada yang menjawab.


“Kenapa dia seperti itu?” tanya dokter Stefan mengulang, kali ini dengan nada serius.


“Pak Bayu—dia—keputusan atasan—mendapat sidang disiplin.”


“Apa?!” aku sama kagetnya seperti dokter Stefan mendengar suara ragu-ragu dari Dika.


Selanjutnya, kelopak mataku perlahan bisa terbuka, meski lemah tapi aku memaksakan diri untuk mencari Bayu. Aku khawatir.


Namun mata dokter Stefan yang pertama menyadari keadaanku. Bayu yang membelakangiku tidak sadar aku yang sudah membuka mata.


“Icha.” Panggil dokter Stefan melangkah mendekatiku, melewati bahu Bayu dan segera memeriksa ku, mulai dari tekanan darah, saturasi oksigen sampai tetesan infusnya.


Tanganku terangkat, ingin melepaskan masker oksigen yang mengganggu ini dan dokter Stefan membantuku melepasnya.


“Bayu.” Panggilku pelan karena melihatnya masih diam di tempatnya tadi. Tangan kanan ku terangkat, ingin dia menyambutku. Begitu Bayu melangkah mendekatiku, dia segera meraih tanganku dengan kedua tangannya dan sekarang aku bisa tahu apa yang membuat dokter Stefan tadi kaget saat pertama melihatnya.


Wajah Bayu terlihat pucat, aura nya kentara sekali kalau dia sedang marah, emosi dan sedih. Rambutnya agak berantakkan dan yang membuatku semakin mendesah kecil adalah punggung tangannya, ada luka di sana seperti dia habis memukuli orang.


“Aku akan lihat laporannya.” Pamit dokter Stefan, seolah mengerti dengan suasana setelah melihat kami hanya saling memandang satu sama lain tanpa berbicara.


Kamar inap ini terlihat luas dan sepi ketika semua orang sudah keluar. Aku meremas tautan tangan kami sekuat yang aku bisa untuk menyadarkan Bayu dengan keheningan ini.


Tapi bukannya mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja Bayu mendekatiku, memelukku dengan hati-hati dan aku mendengar suara isak tangis nya di bahuku.


Aku kaget namun memutuskan untuk tidak mengganggunya, membiarkan dia tetap menangis di pelukanku sembari aku balas memeluknya sembari menepuk-nepuk punggungnya.


“Ma—maafkan aku.” Katanya di sela isak tangisnya yang semakin kencang.


“Tidak apa-apa.” Bisikku menenangkannya. Aku berusaha menahan tawa ku meski mulutku tidak bisa berhenti tersenyum.

__ADS_1


“Kemarilah, berbaring di sampingku.” Kataku sembari agak bergeser ke sisi.


Bayu tidak membantah, dia melepaskan pelukan kami dan segera berbaring di sampingku, kembali memelukku dan terisak lagi di dadaku.


“Hahahahah…..” Aku tidak tahan lagi dan akhirnya tertawa. Bayu seperti anak kecil yang menangis karena di tinggal ibunya bekerja.


.


..



“3 hari??! Aku tidak sadar selama 3 hari??” aku berseru tak percaya mendengar alasan kenapa Bayu merasa putus asa dan sedih tadi.


“Kebanyakan dokter mengatakan yang memeriksamu kalau kau dalam keadaan koma karena racun yang di suntikkan itu.” Bayu bergumam pelan, dia masih menyandarkan kepalanya di dadaku, kedua tangannya yang memeluk pinggangku erat, tak mampu aku tolak.


“Apa yang kau rasakan? Kau tahu—racun itu adalah racun hormon yang sedang di kembangkan oleh lab Asura. Apa kau merasa dada atau kepalamu sakit?” Bayu bertanya khawatir dan penasaran, dia mendongak menatapku.


Melihat matanya yang berkaca-kaca karena sisa air matanya tadi membuatku tidak tahan untuk mencium keningnya dan menjawab, “tidak. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit—”


“Lapar.” Di akhir kekehan kecil, Bayu mendesah lega, tapi ketika aku menduga dia akan langsung melepaskan pelukan ini dan akan meminta pihak dapur rumah sakit untuk membuat makanan, ternyata aku salah. Bayu justru tidak bergerak sedikit pun, wajahnya menghirup dalam-dalam aroma tubuhku yang sesaat membuatku geli.


“Biarkan seperti ini sebentar lagi, setelah itu akan membawakan makanan untukmu.”


Aku tahu. Lelaki ini sedang dalam mode manja.


“Aku tidak keberatan sama sekali.” Aku mengusap punggungnya pelan. Awalnya aku ingin menanyakan keadaan yang terjadi setelah melihat kekacauan tadi, tapi aku menahannya karena melihat wajah Bayu benar-benar pucat. Ada lingkaran hitam yang dalam di bawah matanya, mungkin dia tidak tidur selama tiga hari ini.


“Bayu, apa selama tiga hari ini kamu tidur dengan baik?” tanyaku.


Ada jeda panjang sebelum dia menjawab, “….aku tidur sambal menemanimu.”


Sudah jelas jawabannya kalau dia tidak tidur. Aku menghela napas panjang dan entah mengapa tiba-tiba aku menguap. Mendengar hembusan napas Bayu yang frekuensinya mulai teratur, aku menunduk melihatnya sudah memejamkan mata, pelukannya di pinggangku perlahan tapi pasti mulai melonggar. Dia pasti sudah tertidur.

__ADS_1


Tanpa sadar aku tersenyum kecil, kali ini aku yang memeluk erat lehernya dan membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang, memberi ciuman keningnya lama dan dalam sebelum mataku juga semakin berat dan aku juga tertidur.


***


Klik


Pintu kamar inap ini tertutup dari dalam oleh seorang wanita paruh baya yang tampak cantik dan elegant. Wanita itu adalah bunda Kirana yang datang saat aku tidak sadarkan diri di hari ke 2.


Bunda melangkah mendekatiku dan mengambil tempat di kursi samping, dia baru saja kembali setelah mengantar Bayu untuk segera menemui ayah Rasha karena ternyata ayah Rasha dan kakek Jeremy sedang membantu Bayu dalam sidang disiplinnya.


Aku menatap bunda dengan pandangan penasaran mengenai alasan sidang disiplin Bayu. Melihatku yang seperti ini, bunda menghela napas kecil dan berkata, “Bayu harus menulis laporan tentang penggunaan senjata api, untuk 2 tembakan dan yang membuat anak itu harus sidang karena dia membuat keributan dengan pak Baron.”


“Ohh…” aku mengangguk, penjelasan singkat bunda menjawab pertanyaan yang sejak tadi aku pikirkan.


“Apa istri pak Baron, Nadya di penjara? Lalu siapa wanita yang membawa bom itu?”


“Nadya sedang di introgasi, dan wanita yang membawa bom itu adalah selingkuhan pak Baron.”


“Hah?!”


“Dia nekad melakukan itu karena katanya pak Baron mencampakkannya. Tapi sebenarnya bom yang dia bawa adalah palsu.” Aku mengangguk, mengingat lagi apa yang Bayu katakan saat itu bahwa dia mengenali kalau bom itu palsu.


“Tapi, Icha, apa tubuhmu baik-baik saja? Bunda sampai kaget karena kamu tidak sadar selama tiga hari.” Bunda menatapku, masih ada sisa ke khawatiran dari sorot matanya.


Aku tersenyum kecil dan mengangguk, sebenarnya agak aneh juga karena racun itu sudah masuk ke dalam tubuhku tapi aku tidak merasakan sakit sama sekali.


“Icha beneran tidak merasa sakit sama sekali. Ini juga aneh.” Kataku.


“Bunda khawatir akan efek sampingnya nanti. Dokter Stefan masih menganalisis racun itu.” Sekali lagi aku mengangguk setuju.


“Dan juga, Bayi yang ada di perutmu, baik-baik saja. Dokter kandungan sudah mengkonfirmasinya setelah melakukan beberapa tes. Syukurlah.” Senyum ku semakin lebar mendengar itu, aku jadi teringat mimpi ku sebelumnya.


Namun sebelum aku bisa menanggapi ucapan bunda Kirana, tiba-tiba saja goncangan terasa di sekitar kami. Lampu, barang-barang mulai berjatuhan seiring goncangan yang makin lama makin besar.

__ADS_1


...


,


__ADS_2