EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 297


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


Tanganku terangkat untuk melepas topi hitamnya agar aku bisa melihat keseluruhan wajahnya. Rambutnya lebih pendek dari terakhir kali aku ingat. Kulitnya agak kecoklatan tapi rahangnya terlihat lebih keras dan mantap. Lalu tanganku menyentuh bahu dan dadanya untuk membenarkan dugaanku tadi saat kami berpelukan, bahwa otot dadanya terasa keras dan bahunya sedikit lebih besar. Lelaki ini pasti lebih sering berolahraga.


 


 


“Aku tahu kau akan melindungiku. Terima kasih.” Bisikku mendongak menatapnya, tersenyum kecil dan kedua tanganku meraih tangannya untuk di genggam erat.


 


 


Wajah pucatnya tadi berangsur-angsur hilang, di gantikan dengan tatapan penuh kasih sayangnya. Dia balas meremas tanganku, kemudian dia bangkit berdiri dan membantuku untuk berdiri juga.


 


 


Sekarang aku bisa memfokuskan pada di sekeliling kami. Bus dan mobil yang terbakar menjadi gambar yang menarik perhatian banyak orang. Belum ada pemadam kebakaran yang tiba tapi orang-orang sibuk mencari air, setidaknya mereka tidak mau jika api itu menjalar lebih jauh karena tiupan angin.


 


 


Kendaraan di perempatan jalan ini berusaha untuk mundur atau mencari jalan lain untuk menjauh, gerombolan penumpang bus sedang menatap kobaran api di depan mereka dengan tatapan nanar.


 


 


Kemudian suara sirine polisi mengalihkan pandangan semua orang. Ada tiga mobil yang sampai dan segera mengamankan tempat kejadian. Beberapa orang dari mereka juga sibuk membuat laporan dengan walkie talkie, meminta bantuan pemadam kebakaran dan mengabari agar pos polisi yang dekat untuk segera datang.


 


 


Aku berbalik ke belakang saat mendengar suara Gia yang terisak. Gadis itu sedang duduk di atas aspal bersama Jack dan Justin di sisi kanan kirinya. Tali yang tadi mengikat tubuhnya sudah di potong dan Jack berusaha menenangkan gadis itu.


 


 


 


 


“Gia, kenapa kau bisa ada di sini?” Tanyaku, melepas genggaman tangan kami untuk berjongkong menghadap gadis ini.


 


 


Gia mendongak, dengan pipi sembab dan mata merah dia menjawab “a—aku tidak tahu kak. Aku hanya ingat sedang bersama teman-teman mengunjungi cafe dan izin ke kamar mandi. Setelah itu aku merasa pandanganku buram dan aku jadi mengantuk sekali. Aku bahkan tidak tahu sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Begitu aku sadar justru ada di dalam tumpukan ban itu dan tidak sengaja melihat wajah kak Icha yang melewatiku. Aku pikir bukan kak Icha karena rambut kakak berbeda, tapi setelah aku panggil ternyata kakak menjawabku.”


 


 


Kepalaku refleks menoleh pada Bayu. Lelaki ini mengerutkan kening mendengar jawaban Gia, tangannya terlipat di atas perut dan dia menggeleng pelan menjawab pandanganku.


 


 


“Memangnya ini di mana?” Tanya Gia seolah baru sadar kalau lingkungan di sekitarnya sangat berbeda.


 


 


“Tenangkan diri saja. Nanti kami jelaskan.” Jawabku menepuk pelan lengannya lalu aku kembali berdiri menghadap Bayu.


 

__ADS_1


 


“Aku pikir polisi pasti akan mengintrograsi Gia dan aku juga.”


 


 


“Tidak hanya kalian, tapi sepertinya semua penumpang bus akan di minta keterangan.” Jawab Bayu sembari melirik kumpulan penumpang bus yang sekarang sedang berbicara dengan dua orang polisi. Sebelum aku bisa berbicara banyak dengan Bayu dan Gia, tiba-tiba dua orang polisi menghampiri kami, seperti dugaanku, mereka akan  mengintrogasi kami.


 


 


 


 


 


 


.


..


...


 


 


 


 


 


 


Introgasi individu kami selesai jam satu siang setelah di bawa ke kantor polisi, Bayu ikut menemaniku sedangkan dua rekannya menemani Gia, memastikan gadis itu aman.


 


 


 


 


Sepuluh menit kemudian, lima orang polisi membawa semua barang kami, ketika kami sedang membereskan barang masing-masing, seorang polisi dengan lencana terbanyak di antara empat lainnya mulai berbicara dengan suara lantang, “mungkin kalian penasaran kenapa kami sampai harus mewawancarai kalian satu persatu, itu karena pengakuan dari sopir mobil pickup.”


 


 


Suara ribut-ribut langsung terhenti, semua orang menatap pria paruh baya di dekat podium, penasaran dengan apa yang di katakan sopir itu.


 


 


“Sopir itu mengaku, penyebab kecelakaan hari ini karena dia punya misi untuk membawa kembali barang dari salah satu penumpang bus. Barang ilegal yang melanggar undang-undang. Pelaku bahkan rela untuk terluka demi mendapatkan barang itu lagi dari pada misinya gagal.” Semua orang langsung menduga-duga barang yang di sebutkan secara ambigu oleh polisi.


 


 


Aku pikir, barang itu mungkin saja narkoba.


 


 


 


 


Semua orang tiba-tiba saling pandang dengan sorot menuduh. Mereka semua pasti berharap agar orang yang di maksud segera ketahuan. Bagaimanapun, perjalanan kami benar-benar tertunda.


 


 


“Lalu, apa polisi sudah menemukan pelaku di antara penumpang bus?” Salah satu penumpang wanita dengan berani mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


 


 


“Kami ingin meminta semua orang yang ada di sini untuk bekerja sama, coba diingat lagi, adakah situasi atau kejadian aneh ketika kecelakaan terjadi? Apapun itu, kami akan sangat berterima kasih agar kasus ini segera berakhir.” Kali ini suara keras dari polisi lain menginterupsi.


 


 


“Hari ini adalah minggu, kami harus segera pulang. Aku pikir orang yang sering naik bus jurusan itu tidak mungkin melakukannya.” Kata suara pria.


 


 


“Oh? Kenapa bisa begitu?” Tanya yang lain.


 


 


“Tentu saja karena orang yang sering naik jurusan bus itu tahu situasi di kota ini, apalagi siang hari, selain polisi, tentara di kota kita ini banyak yang berjaga. Pasti pelakunya penumpang dari luar kota.” Jawab pria tadi. Sebagian orang mulai saling mengangguk-angguk setuju.


 


 


“Coba angkat tangan, siapa di sini penumpang dari luar kota?” Polisi di samping podium sepertinya ikut setuju dengan pernyataan pria itu.


 


 


Aku melirik ke sekeliling, ada setidaknya sepuluh orang yang mengangkat tangan, mau tak mau aku pun ikut mengangkat tangan.


 


 


 


 


“Oh? Aku ingat! Bukannya kamu yang tadi menyuruh kita semua untuk keluar dari bus setelah kecelakaan terjadi?” Suara pria tadi kali ini di tujukan padaku.


 


 


“Benar! Dia yang menyuruh kita untuk keluar dan dia juga yang tadi naik ke atas mobil pickup itu ‘kan? Mungkinkah kamu sudah tahu mobilnya akan meledak?”


 


 


“Kamu pura-pura menolong kami, lalu menolong orang yang ada di tumpukan ban itu agar tidak di curigai, tapi kamu mengabaikan sopir mobil. Apa kamu diam-diam berharap sopir itu mati dalam ledakan? Menghancurkan saksi mata?”


 


 


Suara-suara tuduhan itu di tujukan padaku. Mereka juga berbisik-bisik untuk menyimpulkan sendiri persepsi dari pikiran masing-masing. Polisi yang ada di aula ini juga sedang sibuk memeriksa berkas sembari melirkku.


 


 


“Nak, apa kamu pelakunya? Barang itu mungkin sangat menguntungkan secara materi...” penumpang wanita paruh baya menatapku penuh selidik, matanya melirik rambutku yang di ikat ekor kuda dan berakhir melirik jari tangan kiri ku karena memakai cincin emas putih dan cincin hitam lalu jari tangan kanan memakai dua cincin emas putih, empat cincin itu adalah pemberian Bayu. 2 cincin lamarannya dan 2 cincin pernikahan kami,


“Tapi itu barang ilegal yang menyebabkan banyak kerugian, salah satunya kecelakaan hari ini. Bagaimana kalau kami semua tidak selamat?? Apa kamu bisa bertanggung jawab?”


 


 


 


...


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2