
...
Kemudian suara klakson mobil terdengar di depan rumah. Aku segera membawa tas gendong sedang hitam dan tas selendang kecil yang hanya cukup untuk 2 ponsel dan dompetku.
Kami berdua berjalan beriringan sampai depan rumah, langit di luar gelap, lampu-lampu rumah dan jalan menerangi dua mobil SUV hitam dan putih terparkir di luar gerbang. Ayah Evano turun dari mobil SUV putih bagian depan, sebelah kemudi dan berjalan menghampiri.
“Kirana…” Sapanya tersenyum lebar pada Bunda.
Setelannya kali ini memakai celana jin biru dongker di padukan dengan kaos hitam dan sepatu reebok hitam. Ada kacama hitam terkait di kerah kaosnya. Dia terlihat lebih muda. Selama ini aku terbiasa melihatnya memakai pakaian formal.
“Evano, apa kau yakin tidak ingin Dika atau Lucy ikut menemani?” Pertanyaan bunda mengalihkan perhatianku padanya.
Betul.
Aku lupa soal mereka.
Ayah menggeleng. “Ada satu mobil tim keamanan di mobil belakang yang akan mengikuti kita. Aku pikir itu sudah cukup.”
“Kirana, ayo ikut!” Teriak kan suara kakek Alvaro dari mobil hitam membuat kami menoleh menatapnya.
Tampak kakek dan nenek duduk di jok belakang, lalu tante Kenzie dan suaminya yang mengemudi, Giliant, mereka berempat satu tim di mobil hitam.
“Tidak, terima kasih. Bersenang-senanglah.” Bunda menggeleng menjawab kakek Alvaro.
“Kita bisa ajak Alisya juga.” Kali ini paman Kenzo di belakang kemudi mobil putih berteriak semangat.
“Alisya sedang tidak ada di rumah. Mungkin lain kali.”
“Baiklah kalau gitu.” Bunda memelukku. “bersenang-senanglah.”
Aku mengangguk lalu mulai mengikuti ayah menuju mobil SUV putih sembari melambai pada Bunda.
Ketika aku membuka pintu penumpang bagian belakang mobil, aku kira akan menemukan wanita itu, pacar ayah Evano, tapi nyatanya tidak ada siapapun di sana, berarti dalam tim mobil ini hanya ada kami bertiga.
__ADS_1
“Tidak ada yang ketinggalan?” Paman Kenzo melirik ku dari kaca spion tepat ketika aku menutup pintu di sampingku.
“Tidak.”
“Kirana pasti membekalimu dengan banyak makanan.” Tebak ayah sembari memasang sabuk pengaman.
“Ya. Ini untuk kita makan di jalan.”
Ayah mengangguk. “Kirana memang selalu seperti itu sejak dulu kalau kita ada rencana liburan, dia bagian menyiapkan perbekalan makanan.”
Paman Kenzo membunyikan klakson begitu mobil mulai meninggalkan rumah keluarga Jeremy. Aku melihat bunda melambai pada kami dan menghilang dengan cepat karena laju mobil membawa kami segera keluar dari komplek perumahan ini.
Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri, waktu menunjukkan pukul tujuh malam.
“Kita akan sampai kira-kira jam dua pagi di vila. Beristirahat sebentar untuk melihat matahari terbit.” Ujar paman Kenzo yang sepertinya melirik ku melihat jam.
Aku mengangguk dan langsung merogoh ponsel, mulai membuka aplikasi percakapan yang di tujukan untuk Bayu. Mengabarinya kalau aku dalam perjalanan liburan bersama keluarga Danendra, berharap kali ini ponselnya aktif dan membalas pesan ku.
Setelah mendengar bunda cerita kalau terkadang, ketika sedang menjalankan misi, ponsel ayah Rasha tidak aktif membuatnya khawatir, yang berarti sama dengan Bayu saat ini. Tapi bunda meyakinkan ku untuk berharap semuanya baik-baik saja.
Ya! Semua pasti baik-baik saja.
Aku harap.
***
Sisa perjalanan bersama paman Kenzo dan ayah yang aku duga akan canggung, nyatanya tidak seperti itu. Ketika mereka membuka obrolan, berkali-kali aku di mintai pendapat dan reaksi atau terkadang mereka meminta ku untuk menceritakan pengalaman dari topik yang sedang di bahas.
Selain itu, aku jadi tahu jenis musik kesukaan keduanya saat tangan mereka berkali-kali memindahkan channel radio. Paman Kenzo menyukai musik genre pop dan country,sedangkan yang terduga adalah ayah menyukai musik genre reggae dan jazz.
Mereka juga kadang membicarakan hal sepele seperti plang di jalan yang kami lewati, atau tentang acara TV bahkan tentang makanan.
Aku tidak tahu berapa lama mendengar mereka mengobrol, suara mesin di bawah kami, malam semakin larut di luar dan udara dingin yang terasa di kulitku, tapi semakin lama di paksakan, mataku terasa berat dan aku terpejam begitu saja.
__ADS_1
Mungkin hanya satu detik? Satu menit? Entah berapa lama aku terlelap tapi mataku terbuka seketika ketika mendengar suara klakson mobil lain melewati mobil kami.
Di luar masih gelap, aku tidak mempercayai pendengaranku ketika ayah dan paman Kenzo memaki mobil yang baru saja lewat, yang kini melaju di depan kami, tapi nyatanya memang mereka tampak kesal sekali.
Setelah satu kali berhenti untuk mengisi bensin dan ke toilet, kami sampai di tempat tujuan pukul dua lewat dua puluh menit pagi. Karena semuanya sudah lelah dan mengantuk, aku tidak begitu memperhatikan vila yang akan kami tempati, hanya menerima sambutan dari tiga orang pegawai vila berseragam rapih. Kami di berikan masing-masing kunci kamar dan di antar oleh pegawai vila.
Hembusan angin kencang masuk ke beranda vila, berhasil membuatku menggigil sekaligus gerah. Aku ingin cepat-cepat masuk ke kamar, masuk kedalam selimut dan melanjutkan tidur.
Aku menempati kamar di lorong yang sama dengan paman Kenzo dan ayah Evano. Mereka memberitahuku untuk bangun jam setengah enam nanti, jadwal pertama kami adalah untuk sama-sama melihat matahari terbit di tepi pantai. Aku tidak akan melewatkan itu tentu saja.
Begitu aku masuk ke dalam kamarku, suasananya nyaman dan harum, hembusan AC yang sejuk menenangkanku. Langsung saja aku naik ke atas kasur setelah melepas sepatu dan jaket. Mataku terpejam cepat saat kepalaku menyentuh bantal.
.
..
…
Orang bilang tidur nyenyak itu tanpa mimpi yang terasa hanya beberapa detik terlelap. Aku pikir itu terjadi padaku juga ketika suara klik yang di hasilkan kunci pintu membuatku langsung membuka mata lebar.
Rasanya baru beberapa detik aku terpejam dan berpikir mungkin saja ada yang mau membangunkan ku untuk mengingatkan ada jadwal melihat matahari terbit, bersama anggota keluarga Danendra lain di pinggir pantai.
Refleks aku bangun dari kasur sangat cepat hingga lututku kaku karena gerakan tiba-tiba. Aku memandang pintu untuk melihat seseorang sedang berusaha membuka gagang pintu kamarku.
Lalu jam dinding besar di atas pintu memberitahuku kalau ternyata aku baru berbaring sepuluh menit, sekarang masih terlalu pagi untuk siapapun membangunkanku.
Kantuk yang tadi menguasaiku menguap di gantikan perasaan takut dan penasaran. Tidak mungkin ada orang yang mau menerobos masuk untuk menculik ku kan? Atau makhluk penunggu vila? Tidak tidak!
Sebelum aku bisa bergerak, pintu itu terbuka perlahan yang semakin membuat jantungku berdetak kencang. Aku melotot berharap dengan begitu siapapun yang berkunjung ke kamar ku akan langsung kabur setelah mendapat pelototan dariku.
Dia memakai celana khaki hitam di padukan dengan sepatu boots pdl hitam juga. Kaos polos hitam dan jaket denim biru tua yang membuat langkahnya percaya diri ketika dia bergerak masuk.
...
__ADS_1