EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 51


__ADS_3

...


 


Rey bertanya padaku sembari dia berbalik menatapku dengan santai saat aku hendak berbalik untuk lari.


“Apa??”


“Jika kalian berdua kabur, aku akan meledakkan pesawat yang membawa anak-anak itu.”


“Apa??” Aku hampir berteriak marah menatapnya. Rey hanya tersenyum seolah puas dengan reaksiku.


“Aku selalu punya rencana ke dua mengingat aku sangat kenal lelaki ini.” Rey berbalik menatap Bayu yang menggertakkan rahangnya keras, dia juga sangat marah dan khawatir.


“Apa yang kamu mau??” Rey tersenyum sinis mendengar tawaran Bayu, sesaat dia justru menatapku dan kembali pada Bayu dengan wajah angkuh, menyebalkan!


“Aku ingin kamu mati secara perlahan dan menderita—“


“Apa yang kamu mau dariku?” Aku memotong ucapan Rey. Ketiga lelaki ini refleks menatapku. Entah mengapa aku merasa tatapan Rey tadi dia ingin membuat kesepakatan denganku, bahwa sebenarnya sejak awal dia mengincarku secara langsung.


“Wah wah! Tidak heran kamu adalah pacarnya.” Rey sekarang melangkah lebih dekat padaku. Tanpa sadar aku melangkah mundur, takut dan enggan berhadapan dengan lelaki ini.


“Jangan ganggu dia! Sekarang apa yang kamu inginkan!!” Bayu menggeram marah, maju mendekat Rey hingga dia berhasil menyetuh bahu Rey untuk menghentikan lelaki ini mendekatiku.


“Ciih! Drama apa ini? Kamu pacarnya?? Jadi kalian benar-benar mempermainkanku untuk tidak saling kenal??” Mike kali ini menatapku sangat marah. Dia berjalan cepat mendekatiku tapi sebelum dia berhasil menyentuhku Bayu sudah memukulnya dari belakang hingga Mike tersungkur jatuh. Aku refleks menghindar saat dia akan jatuh di dekatku.


Kalau di pikir-pikir, sudah beberapa kali aku melihatnya jatuh seperti ini. Entah saat aku menendang tulang kering kakinya atau saat dia dipukul Bayu. Seharusnya dia belajar dari kesalahan.


“Aku hanya temannya.” Perkataan itu meluncur begitu saja menjawab pertanyaan Mike. Sesaat aku melirik Bayu untuk melihat ekspresinya. Dia menatapku sekilas tidak membantah ucapanku dan kembali berhadapan dengan Rey.


Pikiranku tiba-tiba teringat masalah tentang pertunangannya. Aku tidak ingin berharap lebih, setidaknya meskipun aku tidak ingin melihatnya terluka dan memastikannya aman, tapi saat ini aku hanya ingin mengambil posisi yang aman untuk hatiku.


 


Namun aku tahu, terkadang ketika apa yang kita pikirkan baik untuk hati kita, justru itulah yang menjadi alasan


hati kita menjadi sangat sakit.


“Jangan bohong! Kamu masih ingin pura-pura setelah tertangkap basah seperti ini?” Tanya Mike sarkastik sembari

__ADS_1


berdiri. Masih tidak menghilangkan tatapan marahnya padaku dan Bayu.


Aku menghembuskan napas lelah, tidak ingin meladeni Mike lagi. Aku kembali menatap Rey. “Apa yang kamu inginkan dariku? Lepaskan mereka dan biarkan kami berdua pergi dari sini!”


“Well nona, karena kamu sendiri yang menawarkannya maka lakukan sekarang.” Rey merogoh saku jaketnya. Dia mengeluarkan sebuah suntikan di dalam plastik yang masih baru. Suntikan dengan isi cairan tidak berwarna.


“Ini yang kita tunda saat itu.” Rey menambahkan dengan senyum kecilnya.


Diam-diam kedua tanganku bergetar ketakutan. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana sakitnya saat itu. Lalu saat kejadian di mall, Rey gagal mendekatiku.


“Biarkan aku bertanya satu hal padamu sebelum aku memutuskan. Jawab dengan jujur!”


“Cha!” Bayu memanggilku dengan nada putus asanya. Tapi aku sudah terlanjur memutuskan.


“Silakan.”


“Aku menyadari satu hal. Sejak awal, kamu mengincarku. Kamu tidak terlalu berambisi untuk balas dendam dengan Bayu bukan? Jadi, siapa yang bahagia melihat aku menderita dan mati perlahan karena racun itu?”


Pertanyaan ini yang sejak beberapa hari lalu aku pikirkan. Jika dia memang benar-benar ingin balas dendam pada


Bayu, seharusnya dia melakukan itu sejak awal. Aku yakin Bayu dan Rey sebelumnya mungkin saja teman, mereka pasti sudah bermusuhan sebelum Bayu menemuiku lagi.


Rongga dadaku terasa sesak, air mataku sudah menetes membasahi pipiku menduga jika di balik semua ini mungkin saja orang yang aku kenal atau yang berhubungan denganku. Tapi apakah aku sanggup mendengarnya? Cepat atau lambat aku harus menghadapi kenyataan ini.


“Kamu yakin sanggup mendengarnya?”


“Katakan!”


Bayu dan Mike menatapku dan Rey bergantian seolah mereka penasaran juga. Aku tidak tahu apa yang di pikirkan


Rey tapi sebelum dia menjawab, tangannya yang terangkat untuk memperlihatkan suntikan itu padaku seketika jatuh di samping sepatunya. Jantungku berdetak cepat. Kedua tanganku terkepal menahan gejolak ini.


“Orang yang selama ini kamu bantu biaya sekolahnya, orang yang selama ini diam-diam menggunakan uangmu dengan alasan untuk investasi yang gagal. Orang yang dengan berani meminjam uang ke rentenir dan mengatas namakan kamu. Orang itu Daniel.”


Aku tidak kuat lagi menahan tangis. Aku menutup mataku dengan kedua tanganku dan terisak pelan. Hatiku bahkan lebih sakit di bandingkan saat ibu memaki-makiku. Lebih sakit dari saat aku harus menjauh dari Bayu. Lebih sakit lagi saat tahu ayah kembali padaku setelah hampir dua puluh tahun hanya untuk menguasai warisan bibi Rose. Atau lebih sakit lagi saat aku mendengar ibu dan amarahnya tidak sengaja mengatakan jika aku anak tiri bibi Rose yang berarti aku bukanlah anak kandung ibu.


Selama ini yang aku pikir dia adalah orang yang selalu mendukungku dan tidak pernah marah-marah padaku justru yang paling menginginkanku mati secara perlahan. Aku tidak tahu lagi apa arti dari sebuah keluarga ketika hanya dendam yang ada di hati mereka.


Telingaku tidak mendengar apapun selain suara tangisan pelanku. Beberapa kali aku mengusap mataku agar aku

__ADS_1


berhenti menangis di hadapan ketiga lelaki ini tapi aku tidak bisa. Sakit di hati ini semakin bergejolak saat bahu kiriku terasa sangat perih lebih dari tadi.


Sakit di rongga dadaku sangat kebas, setiap tarikan napas terasa sakit.


 


Ya tuhan, bagaimana aku harus menghadapi sakit ini? Rasanya aku ingin menghilang. Seolah aku marah pada apapun! Tapi aku tidak sanggup menyalahkan siapapun.


 


Daniel dan ibu membenciku karena takdirku. Karena aku hidup di antara mereka.


Klik.


“KATAKAN YANG SEJUJURNYA!!” Suara teriakkan Bayu mengalihkan perhatianku. Aku yang masih menangis sesegukan melihat Bayu sudah mengacungkan pistolnya pada Rey.


Telinga lelaki itu memerah, rahanganya mengeras dan matanya tampak berkaca-kaca dan penuh amarah.


“Jatuhkan pistol itu.” Aku mengusap kasar pipiku melihat kali ini Mike yang mengarahkan pistol kecilnya pada Bayu.


“Katakan!!” Bayu tidak peduli jika peluru itu bisa saja menembus jantungnya. Dia semakin menekan Rey untuk


berbicara.


Diam-diam aku menunggu jawaban Rey. Berharap jika dia sedang berbohong.


 


“Kau tidak percaya? Bahkan jika aku berkata jujur. Pada akhirnya semua akan kembali sebagai bekas luka untuknya.” Jawab Rey.


“Aku menjawab jujur. Aku punya buktinya.” Rey melirikku dengan tatapan yang sulit di artikan.


“Jangan katakan pada Daniel kalua aku sudah tahu.” Jawabku, meskipun suaraku bisa di kontrol kembali tapi pelupuk mataku masih saja mengeluarkan air mata.


Hatiku belum baik-baik saja.


 


...

__ADS_1


__ADS_2