EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 165


__ADS_3

...


 


 


Wajah Ana terlihat merah padam antara malu, kesal dan marah padaku. Tapi aku tidak peduli dan hanya melangkah mendekati ambang pintu untuk masuk ke dalam kamar.


“Aku hanya perlu bicara berdua dengan Bayu!” Ana menghentikan langkah ku.


“Aku yakin ini bukan soal pekerjaan ‘kan, nona Ana? Kalau kamu tidak mau aku mendengarnya, setidaknya teman-teman Bayu di sini harus tahu juga apa yang kalian obrolkan.” Jawabku santai sembari kembali berbalik menghadapnya.


“Ini urusan pribadi ku dengan Bayu.”


“Oh maksudmu urusan tentang memaksa Bayu ikut denganmu karena kamu anggap dia pacarmu? Atau urusan tentang hilang ingatan nya? Kalau itu yang di maksud, maka itu bukan jadi urusan pribadi lagi karena kamu sendiri yang tadi berbicara di hadapan kami, benar ‘kan?”


 


Aku tahu, Lifer dan Ronald tertawa kecil di belakangku.


 


“Nona Ana, kita bicara di dalam saja. Aku tidak berniat menyembunyikan sesuatu dari teman-teman dan pacarku.”


 


Hah! Dengar itu!!


Jawaban Bayu menjadi lemparan terakhir yang mematikan. Aku terkekeh pelan meliriknya dan kembali berbalik untuk masuk ke dalam kamar.


.


..



 


Sekali lagi, aku mamandang bayangan ku sendiri di depan cermin besar kamar mandi yang ada khusus di kamar rawat yang aku tempati ini.


Aku baru selesai berganti pakaian dengan pakaian pasien, dress yang tadi sempat aku pakai tergeletak di samping wastafel dengan noda gelap darah di sana yang perlahan berubah kecoklatan.


Ketika tadi kami semua masuk ke kamar ini, suster Rini datang membawa baju pasien ini agar aku segera menggantinya sebelum dia kembali lagi untuk memasangkan infus padaku.

__ADS_1


Sekarang aku masih diam memandang wajahku yang benar-benar pucat, meskipun tadi sempat memakai cream wajah, tapi lisptik atau eyeshadow di sita Bayu sehingga tanpa dua benda itu wajahku seperti tidak memakai make up.


Tatapan mataku sayu, mata ku juga agak berair karena demam yang aku rasakan. Hembusan napasku masih panas dan aku bisa merasakan kulit wajahku hangat. Telapak tangan dan kakiku kedinginan, untuk sesaat tadi aku menggigil pelan.


Dengan kehadiran Ana di sini, aku tidak ingin menunjukkan sisi lemahku meskipun saat sendiran rasanya kakiku lemas sekali dan tubuhku minta di baringkan. Perih di bahu kiriku membuatku menahan napas sesaat, berusaha agar aku tidak mengerang kesakitan.


 


Aku akan minta obat pereda sakit pada suster Rini nanti.


 


Setelah memastikan aku bisa tersenyum di depan cermin dengan ekspresi semngat, aku memutuskan untuk melangkah keluar dari kamar mandi sembari membawa dress ku di tangan kiri.


Ternyata semua orang sedang duduk di sofa dengan Bayu yang sedang berdiri memegangi tas kecil khusus tempat make up ku. Dia baru saja membereskan semuanya hingga sekarang di atas meja tidak ada apapun.


“Oh, kau sudah membereskannya? Terima kasih.” Kataku senang sembari tersenyum lebar dan melangkah mendekati ranjang kesakitan yang ada di depan mereka.


“Kalau mau mengobrol silakan, hiraukan aku.” Kataku lagi karena tidak ada suara yang terdengar. Suasana nya terasa canggung.


“Ayo aku bantu naik.” Suara Bayu terdengar di belakang ku saat aku hendak naik. Tangannya kanannya meraih tangan kananku dari belakang dan membantuku menahan berat badanku untuk naik ke atas tempat tidur.


Dengan bantuannya saja aku agak kesusahan apalagi kalau Bayu tidak membantuku, mungkin aku akan minta seseorang menggendongku untuk naik.


Bukannya Bayu segera menghampiri Ana, tapi lelaki ini justru duduk di sisi tempat tidur, menghadapku dengan tangannya tidak melepaskan telapak tanganku.


“Telapak tanganmu dingin.”


“Kau ada tamu. Tidak baik kalau mengabaikannya.” Bisikku berusaha mengalihkan pembicaraanya. Bayu melirik sarapan pagi ku yang belum tersentuh sama sekali di atas nakas.


“Aku akan memakan sarapannya selagi kamu menerima tamu.” Usulku cepat sebelum Bayu berkata.


Lelaki ini tersenyum kecil dan mengangguk tanpa protes, lalu menyerahkan bubur dan sendoknya setelah sebelumnya Bayu membuka plastik bening yang menutupi makanan itu.


Ketika Bayu sudah berbalik dan melangkah mendekati sofa tempat Ana dan ketiga temannya berada, aku mulai melahap bubur ku walaupun rasanya hambar.


Tepat saat Bayu sudah duduk di hadapan Ana, ketiga pria itu tiba-tiba berdiri lalu melangkah menghampiriku. Mereka tidak berniat menjadi penonton jarak dekat.


 


“Mau aku suapi?” Aku hampir tersedak mendengar Ronald langsung menawarkan diri saat dia sudah duduk di sisi kasur.


“Ti—tidak usah.” Jawabku cepat.

__ADS_1


Lalu tangan Benny terulur, menyerahkan gelas air minumku tanpa berkata-kata. Aku hanya menatapnya dan menerima gelas itu, meminumnya untuk membersihkan tenggorokkan ku yang hampir tersedak ini dan Benny mengambilnya setelah aku selesai.


Aku mendongak, meliriknya yang juga sedang berdiri menatapku. “Sama-sama.”


Karena kalah cepat untuk mengucapkan terima kasih, dia lebih dulu menjawabnya. “Terima kasih.”


Aku kembali melahap bubur hambar ini setelah mengucapkannya, walaupun terlambat aku tetap harus mengatakannya ‘kan?


“Talia akan datang nanti siang.” Lifer yang tadi membelakangiku untuk menjawab telpon sekarang sudah memutuskan sambungannya dan menghadapku.


Dia kemudian duduk di sisi tempat tidur lain sembari menghadapku. Menatapku yang sedang melahap bubur ini.


“Aku merasa merepotkan. Padahal aku berniat akan keluar dari sini besok pagi.” Jawabku.


“Jadi kamu masih punya rencana kabur?” Lifer seperti tidak percaya mendengarku.


“Besok aku pasti sudah lebih baik. Lagi pula aku tidak bisa izin terus! Pekerjaan dan tugas kuliahku menumpuk!” Kataku tegas.


“Oh iya aku dengar dari Bayu kamu masih kuliah? Jurusan apa yang di ambil?” Ronald bertanya.


“Aku melanjutkan jurusan manajemen bisnis S2.”


“Aku kira kamu mengambil jurusan seni.” Kata Lifer.


Aku meliriknya dan mengerutkan kening. “Memangnya aku terlihat orang yang pintar dalam seni?”


“Kemarin aku tidak sengaja melihat kumpulan jawaban tugas dari vila wanita, hanya ada jawaban dengan dua gambar dan salah satunya itu gambar wajahmu. Itu kamu yang menggambar ‘kan?”


“Ohhh iya, itu dua gambar yang aku gambar dengan cepat. Gambarnya jelek dan berantakkan.“


“Menurutku itu bagus. Terlihat mirip. Setidaknya aku kira kamu mendaftar kuliah jurusan arsitek. Kenapa kamu tidak memanfaatkan bakatmu itu?” Pertanyaan Lifer membuatku mengingat lagi masa sekolah dulu, saat bibi Rose masih ada.


“Kalau di pikir-pikir lagi, aku mengambil jurusan ini karena dulu orang yang aku kagumi lulusan dari manajemen bisnis juga. Melihatnya yang terampil dan hebat dalam pekerjaannya aku juga jadi ingin seperti dia. Jadi aku memutuskan mengambil jurusan ini. Lagi pula dulu aku tidak kepikiran kalau ternyata menggambar juga bisa jadi pekerjaan di masa depan.” Jawabku tersenyum lebar mengingat bibi Rose.


Dia juga bekerja di kantor dan karisma nya menganggumkan saat aku sempat melihatnya berbicara. Rekaman presentasinya dari video yang aku tonton lah yang membuat ku memutuskan ingin belajar manajemen bisnis.


“Memangnya di keluarga mu tidak ada yang jago menggambar juga? Biasanya orang yang bias menggambar bagus adalah turunan.” Tanya Lifer membuatku seketika mengingat Ibu dan Daniel.


 


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2