
...
Ketika salah satunya berhasil memukul punggung Bayu, aku merasakan napasku terhenti sesaat. Dua penjahat itu menyadari kedatanganku bersama pria ini dan salah satunya seolah berganti target ingin mendekati kami tapi lagi-lagi Bayu menghalanginya.
Untuk kedua kalinya malam ini aku bisa bernapas lega mendengar suara orang-orang dari belakangku ini berlari menuju arah kami.
Bantuan telah datang!
Ada tujuh orang pria yang masih muda sampai paruh baya yang wajahnya familiar di komplek ini berlari menghampiri kami. Seperti dugaanku, dua penjahat itu hendak melarikan diri tapi salah satunya di pukul Bayu lebih keras dan karena tidak siap, penjahat itu jatuh pingsan tak sadarkan diri sedangkan satu penjahat lainnya sudah kabur lari dengan motornya yang lagi-lagi tidak aku sadari terparkir tak jauh dari depan gerbang rumahku.
Gerombolan pria-pria yang datang lima di antaranya berlari mengejar laju motor itu sedangkan dua di antaranya membantu Bayu dan pria yang tadi datang bersamaku untuk mengamankan penjahat yang tergeletak tak sadarkan diri.
Aku hanya memandang Bayu yang sedang berbicara pada orang-orang itu sembari kakiku melangkah mendekati mobil jeepnya.
Pecahan kaca mobilnya berserakkan. Aku masih tidak percaya secepat ini bahaya itu datang, padahal beberapa menit yang lalu jelas-jelas aku sedang menangis.
Keberadaan Mike dan Rey masih membayangi, selama mereka belum benar-benar tertangkap aku harus menduga serangan seperti ini pasti akan datang lagi.
“Jangan banyak berpikir yang macam-macam.” Bayu datang menghampiriku.
“Boleh aku pinjam ponselmu? Aku tidak bisa membiarkan penjahat itu di tangani oleh polisi.” Aku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan ponselku itu, memberikan padanya sembari mataku tak lepas menatap penjahat yang masih di kelilingi orang-orang komplek.
Bayu sedikit berjalan menjauh saat dia melakukan sambungan telpon. Dari gestur dan nada bicaranya aku sudah menduga dia sedang menghubungi atasannya. Saat Bayu dan orang-orang itu sibuk berbicara, aku sekali lagi menatap mobil jeep Bayu yang kacanya berantakkan di jok depan.
Pikiranku melayang, memikirkan awal kaca ini pecah lalu perkelahian Bayu dengan kedua penjahat itu. Semuanya terjadi dalam hitungan menit tapi rasanya jantungku masih berdetak kencang tidak juga mereda.
Refleks aku menyentuh dadaku, kalau di ingat lagi tadi pagi justru aku masih merasa mendapat serangan dan dadaku masih sangat kesakitan. Tapi karena obat jantung yang di resepkan dokter Stefan perlahan mulai membaik. Lalu sekarang setelah serangan jantung itu terkendali, yang aku rasakan justru adrenalin kuat yang juga membuat jatungku berdetak cepat.
__ADS_1
“Apa kau terluka?” Aku berbalik cepat mendengar suara Bayu.
Lelaki ini sudah berdiri di belakangku sembari menyodorkan ponsel yang tadi di pinjamnya. “Tidak. Bagaimana denganmu? Tadi dia sempat memukul punggungmu. Apa sakit?”
Bayu tersenyum kecil. “Pukulan seperti itu sudah biasa bagiku. Tidak sesakit yang di pikirkan.”
Aku mendesah pelan dan menggeleng. “Katakan saja kalau sakit. Sebelah mana? Di sini?”
Aku bergerak ke balakang punggungnya, kemudian tanganku mengusap bagian itu. Bayu berbalik lagi menghadapku membuat tanganku terlepas tidak bisa menggapai punggungnya itu.
Senyum kecilnya masih bertahan sembari tangannya meraih tanganku kananku yang di pakai untuk memeriksa punggunya tadi. “Aku sungguh baik-baik saja. Tubuhku sangat kuat.”
Aku terdiam berpikir, mendongak untuk menatapnya, mencari kebohongan dari sorot matanya. Tapi aku malah terpesona dengan wajahnya yang tampan. Bulu matanya panjang dan matanya seperti mutiara hitam. Poni rambutnya jatuh di atas keningnya dan rambutnya bergoyang pelan karena tertiup angin.
Seorang lelaki seperti ini mungkin dia hanya perlu berdiri di sana dan banyak wanita cantik akan mendekatinya, ‘kan?
Apa yang kupikirkan? Apa ini waktunya memikirkan soal itu?? Terlebih lagi ini sudah hampir tengah malam tapi wajah tampannya masih terlihat jelas.
Aku mengerjap dan menarik napas lebih dalam kemudian tersenyum malu karena secara terang-terangan terpesona seperti ini, ditambah wajahku memanas. Astaga!!
“B—baiklah! Beritahu aku jika terasa sakit.” Kenapa harus menjawabnya tergagap seperti ini!!!
“Kenapa menatapku seperti itu?” Jelas sekali Bayu tampak kebingungan dengan reaksiku. Beruntung sekali Bayu tidak tahu apa yang aku pikirkan. Ha ha.
Aku menggeleng lagi, tersenyum lebar dan berbalik menjauh darinya, berjalan mendekati kerumunan bapak-bapak kompek ini yang sedang berdiskusi sembari mengelilingi penjahat yang tidak sadarkan diri.
“Nona Icha kenal tidak sama penjahatnya?” Pria paruh baya yang aku kenal wajahnya sebagai ketua RT, pak Sanjaya bertanya padaku.
“Tidak. Aku tidak tahu siapa dia.”
“Sudah lapor polisi?”
“Tidak. Beberapa temanku akan datang, kami akan mengurusnya.” Bayu menjawab pertayaan pak Sanjaya.
__ADS_1
Lalu salah satu pria berlari mendekat dan menyerahkan tali tambang pada pak Sanjaya yang langsung di minta oleh Bayu agar dia sendiri yang mengikat tangan dan kaki si penjahat.
“Apa tidak sebaiknya lapor polisi saja?” Salah satu pria di kerumunan masih tidak yakin dengan Bayu, mereka semua menatapku dan Bayu bergantian.
Karena itu adalah keputusan Bayu, refleks aku menunduk memperhatikan lelaki itu yang sedang mengikat tangan penjahat itu. Menunggu apa yang akan di katakan Bayu.
“Tidak apa-apa. Teman satu tim ku akan mengurusnya. Kami—“
“Ohh! Kau tentara?!” Pak Sanjaya menyela ucapan Bayu yang langsung mendapat gumaman dari semua orang. Bayu bangkit berdiri dan mundur untuk berdiri di sampingku.
Lelaki ini tersenyum mengangguk. Sebenarnya aku bingung apa yang membuat ketua RT ini bisa menebaknya. Tapi pandanganku langsung tertuju pada ikatan tali yang di selesaikan Bayu. Itu Simpul tali rumit tapi rapih yang aku yakin di pelajari seorang tentara.
“Jadi—“
“Bayu! Nama saya Bayu.” Bayu membalas jabatan tangan pak Sanjaya yang sempat bingung untuk memanggil apa padanya.
Setelah menjawab beberapa pertanyaan dan meyakinkan semua orang kalau Bayu akan membawa penjahat ini, kerumunan mulai bubar dan hanya menyisakan pak Sanjaya dengan 3 orang lainnya.
Tidak lama saat kami masih berbicara di luar, dua mobil hitam berhenti di depan gerbang rumahku. Lima orang pria turun dari mobil dan semuanya langsung berbaris memberi hormat pada Bayu.
“Kapten!” Seruan mereka serempak. Semua angota tim Bayu sudah berdiri di hadapan kami sekarang dengan style pakaian bebas mereka masing-masing.
“Maaf sudah mengganggu waktu liburan kalian. Aku butuh bantuan kalian.” Bayu melangkah maju agak menjauh dari kami dan lelaki itu tampak sedang memberi pengarahan pada ke lima onggotanya tentang apa yang harus mereka lakukan.
“Jadi, Bayu ini pacarnya non Icha?” Bisikan pak Sanjaya mengalihkan perhatianku.
“Tentu saja pasti pacarnya!” Yang menjawab antusias justru pria paruh baya di sampingnya.
…
__ADS_1