
...
Aku ikut sedih melihat bagaiamana pria itu menangis, ada yang pernah mengatakan kalau seseorang akan lebih sakit dan kehilangan kala orang yang berharga mati mendadak
“Seharusnya aku tidak membiarkannya masuk ke ruang terkutuk itu! Seharusnya aku tidak memaksanya untuk pergi ke rumah sakit! Aku akan menuntut kamu dan orang-orang yang menanganinya!” Teriak pria itu kencang dan berhasil mendapat perhatian orang lain.
“Tuan, anda bisa jelaskan tentang penyebab lukanya. Itu bisa saja sesuatu yang berbahaya. Ada yang aneh dengan luka—“
“Brengsek! Berhenti menanyakan tentang lukanya!!” Aku terkejut begitu pria itu memukul rahang dokter di hadapannya sampai terjatuh.
Suster dan orang-orang yang memperhatikan mereka menjerit tertahan begitu pria itu ingin memukul lagi tapi pria lain yang ada di sampingnya sejak tadi segera menahannya.
Dua petugas keamanan yang wajahnya familiar bagiku sudah menghampiri mereka dan berusaha melerai pertengkaran itu.
“Sepertinya serius.” Suara Bayu yang terdengar dekat di belakangku membuatku tersentak kaget. Aku menoleh ke belakang Bayu, mencari sosok Benny.
“Dia sudah pergi.” Kata Bayu tanpa mendengar pertanyaan ku.
“Ayo kembali.” Ajak Bayu mengambil alih tiang infus yang sejak tadi aku genggam di tangan kananku.
Aku mengangguk dan segera mengikutinya menuju pintu lift yang masih tertutup. Lelaki ini menekan tombol ke atas, lalu kami sama-sama diam menunggu pintu lift nya terbuka.
Begitu pintu lift terbuka, tiga orang pegawai rumah sakit yang ada di dalamnya segera keluar. Bayu menahan pintu agar aku bisa masuk lebih dulu kemudian selanjutnya Bayu juga ikut masuk dan menekan tombol angka yang menunjukkan lantai yang kami tuju.
Tepat ketika pintu hendak tertutup, tangan seseorang menahannya dari luar hingga pintu liftnya terbuka lagi.
Dua orang pria yang tadi aku lihat bertengkar dengan dokter melangkah masuk ke dalam lift. Pria yang tadi menangis dan memukul dokter sudah berdiri di sampingku.
Kedua pria ini sekilas sempat melirik kami dan tidak berbicara apa-apa. Aku bisa melihat dengan jelas kalau wajah pria yang tadi menangis terlihat merah dengan pipi basah.
“Bagaimana? Sudah mendapatkan hasilnya?” Tanya pria yang menangis.
“Sudah. Seperti yang kita duga, semuanya ada sangkut paut dengan orang-orang itu.” Jawab pria yang menemaninya.
“Urus pemakaman Ria, aku akan langsung mengunjungi rumah orang tuanya untuk mengabari tentang putri mereka setelah ini.”
__ADS_1
“Baik, aku akan meminta supir untuk segera menyiapkan mobil.”
Aku melirik Bayu sekilas, lelaki ini juga sepertinya sama, sedang diam-diam mendengarnya. Bayu menunduk, balas menatapku lalu tangannya terangkat menyentuh puncak kepalaku sembari mengusapnya pelan.
“Kita harus minta dokter Stefan untuk mengganti infusnya, sudah hampir habis.” Ucap Bayu menyentuh kantung infus yang isinya benar-benar habis. Hanya tersisa cairan yang ada di dalam selangnya saja.
“Aku tidak sadar kalau ini sudah habis.” Jawabku mengangguk.
“Oh ya aku baru ingat, gimana kabar kakek saat kita meninggalkannya ketika itu. Aku bahkan hanya bertemu dengannya beberapa detik.” Aku bertanya mengenai kakek yang pernah menolong kita saat pelarian.
Seseorang pria tua yang sudah Bayu anggap sebagai kakeknya.
“Dia baik. Tidak ada yang berani menyentuhnya ketika kakek Leonardo ada di wilayahnya.” Jawab Bayu terlihat senang.
“Syukurlah, kalau begitu kapan-kapan kita harus mengunjunginya lagi.” Lelaki ini mengangguk menjawabku.
Kemudian suara getaran ponsel dari saku celana Bayu mengalihkan pandanganku. Dia segera merogohnya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Itu dari Benny.
“Oy, kenapa? Ada yang kelupaan?” Bayu menyapa riang saat benda pipih itu sudah menempel di telinga kirinya.
“Ya, kami sudah ada di lift, menuju lantai—tunggu sebentar.” Suara Bayu yang serius membuat pandanganku kembali padanya.
Lelaki ini sedikit memajukan tubuhnya untuk meraih tombol angka, sesaat dia memperhatikan layar di atasnya.
“Apa angkanya tidak bergerak?” Bayu berbalik bertanya padaku.
Aku mengerutkan kening menggeleng tidak tahu. “Aku tidak memperhatikannya.”
“Benar, angkanya tidak bergerak sejak tadi.” Suara lain menjawab pertanyaan Bayu, pria yang memakai setelan jas rapih yang menemani pria menangis itu.
Pria itu juga mencoba menekan tombol angka.
Lalu tiba-tiba goncangan kecil membuat lampu di dalam lift berkedip.
Aku merasakan tangan kanan Bayu yang bebas melindungiku, membawaku ke dalam rangkulannya.
“Ada apa ini!” Pria yang menangis tadi bertanya kesal sembari menekan tombol lift dengan tidak sabaran.
Aku mendongak lagi melihat layar kecil yang menunjukkan lantai tujuan untuk membawa kami tidak berubah, masih di lantai 2.
__ADS_1
Namun secara mengejutkan, angka dan arah panahnya berubah menuju ke lantai paling bawah rumah sakit.
“Basement?? Yaa, liftnya tiba-tiba membawa kami ke basement. Oke. Sampai jumpa.” Bayu memutuskan sambungan dan segera memasukkan lagi ponselnya ke saku celana.
Lift bergerak turun yang membuat dua pria di samping kami ini bertanya-tanya.
“Temanku mengatakan dia melihat ada segerombolan orang-orang bersenjata menuju basement. Lift ini sepertinya di sabotase agar kita bergerak turun.” Ucapan Bayu membuatknya kaget tentu saja.
Lelaki ini menatap dua pria di hadapan kami dengan serius.
“Apa?! Siapa mereka?” Tanya pria menangis itu.
“Aku tidak tahu, tapi tolong segera mundur, jika mereka memang berniat menyergap lift ini, aku yang akan melawan mereka lebih dulu.” Katanya lagi.
Aku tahu, Bayu tidak bisa menjelaskan pada dua pria itu kalau kemungkinan besar gerombolan orang bersenjata itu mengincar kami.
Bayu menunduk, menatapku dan menarik tangan kananku yang masih di pasang jarum infus.
“Maaf.” Bisiknya pelan.
Aku tidak menyangka Bayu langsung melepaskan jarum infusnya hingga sekarang punggung tanganku tidak lagi menyambung dengan selang itu. Ada tetesan darah keluar dari sana tapi Bayu segera menekan titik asal darah itu dengan jempol tangannya.
“Tetap di belakangku, jangan coba-coba berpikir untuk melakukan gerakkan tendangan itu.” Bayu memperingati ku dengan serius.
Di saat seperti ini aku tidak ingin membantah dan hanya mengangguk.
Pria yang menangis tadi sudah berdiri di sampingku sedangkan pria lainnya berdiri di samping Bayu di hadapan kami.
Mata kami memperhatikan perubahan angka di layar kecil di atas pintu, menandakan liftnya bergerak turun tanpa berhenti.
Begitu angka yang di tunjukkan sudah berada di lantai paling bawah, basement, getaran di lift terhenti dan kami sama-sama diam menunggu pintu lift ini terbuka.
Ting!
Pintu terbuka perlahan, jantungku berdetak tak karuan dan diam-diam aku semakin bersembunyi di belakang punggung Bayu.
Segerombolan pria sudah menunggu kami di depan pintu. Pria yang semua memakai pakaian hitam dengan masker menutupi sebagian wajah mereka. Di tangan mereka, masing-masing membawa pisau lipat dan tongkat pemukul baseball.
__ADS_1
...