EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 67


__ADS_3

...


“Aku akan secepatnya membawa penawar itu. Mereka akan mendapat balasannya karena berani mengganggu wanitaku!” Ada kilatan marah di sorot matanya.


Yang aku pikirkan justru bahaya yang akan dia dapatkan, saat di hutan itu mungkin ukuran bahaya baginya hanya lima persen. Membayangkan Bayu berada di tengah orang-orang itu membuatku semakin khawtir.


Aku melepaskan masker oksigen setelah dirasa aku sudah bisa bernapas normal. “Tapi kenapa secepat ini? Bukan kah kau bilang libur dua hari?”


Bayu mengalihkan pandangannya menghindar, dia menghela napas sebelum kembali menatapku lebih serius. “Sebenarnya aku tidak ingin pergi meninggalkanmu sendirian, tapi—“


“Apa yang terjadi? Katankan lah.” Aku menyentuh tangannya, ada kegelisan dalam ucapannya.


Bayu menggenggam tangan kananku, membawanya ke depan mulut dan dia menghembuskan napasnya di sana hingga aku merasakan tanganku hangat karena usapannya juga.


“Tanganmu dingin sekali.”


“Bayu...”


“Kau hanya perlu percaya pada timku, kami pasti akan membawa penawar itu secepatnya—“


“Aku tidak meragukan kalian untuk itu, aku juga tidak ingin kau terlibat dengan penjahat-penjahat itu lagi. Tapi aku tahu, ini adalah resiko dari pekerjaanmu. Aku tidak bisa menghalangimu.” Jawabku.


Bayu tersenyum kecil kali ini membawa tanganku menyentuh pipinya. “Namun, untuk tugas kali ini jika aku bisa membantumu, katakan saja.”


“Sebenarnya ada satu hal yang harus kau tahu, aku menempatkan penjagaan di sini. Temanku dari kepolisian mengirim tim nya untuk menjagamu.” Aku mengerutkan kening, tidak mengerti kenapa justru sekarang aku di awasi oleh kepolisian.


“Ada apa?”


“Mike berhasil kabur. Kami sedang melacaknya dan kemungkinan terbesar dia akan mencarimu karena dia sudah tahu kau adalah pacarku. Selama aku tidak ada, polisi akan menjagamu dua puluh empat jam. Semakin cepat kami menangkap dan menghancurkan kelompok mereka, semakin cepat pula Mike akan menemuimu bagaiamapun caranya, maka dari itu berjanjilah satu hal padaku.”


“Apa?!”

__ADS_1


“Jagalah dirimu baik-baik. Kau percaya padaku ‘kan?”


“Apa maksudmu? Kalimatmu sepertinya tidak lengkap.” Aku mengerutkan kening merasa perkataannya terdengar ambigu.


“Aku sudah berhasil masuk ke kelompok mereka, setidaknya aku sudah hafal bagaimana sifat mereka. Mike akan menggunakan berbagai cara untuk berbicara denganmu, meskipun polisi ada di mana-mana menjagamu.”


“Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu ‘kan?” Aku jadi penasaran sekarang. Aku merasa Bayu tidak mengatakan poin inti pembicaraannya.


“Memang apa yang aku sembunyikan?”


“Jika kau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan itu artinya kau sedang berbohong.” Bayu menghela napas, matanya menghindari tatapanku lagi.


“Kau membuatku takut, ada apa? Apa maksudmu?” Sekarang aku merasa emosi. Takut akan kehilangannya membuatku marah.


Bayu terdiam tidak langsung menjawab, dia mengusap pelan pipiku. Tatapannya padauk seolah sedang memikirkan jawaban yang tepat. Kemudian dia menghela napas pelan dan tiba-tiba lelaki ini mengecup singkat pipiku.


Detak jantungku semakin tidak karuan saat wajahnya sangat dekat dengan wajahku, kecupannya berhasil membuat wajahku memerah dan terasa panas. Aku mengerjap beberapa kali ketika Bayu justru tersenyum lebar.


“Kau mencoba menghindari pembicaraan kita?!” Tanyaku setelah berhasil mengendalikan keterkagetanku. Bukannya menjawab Bayu kembali mencium pipiku, kali ini dia seperti sengaja mengecupnya lama sembari lelaki ini menghirupnya dalam-dalam.


“Melihatmu kesal seperti ini terlihat sangat menggemaskan.”


“Apa?!” Aku tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa menghadapi Bayu yang menyebalkan ini.


“Ngomong-ngomong tentang menggemaskan, kau ingat dulu saat kita kecil aku pernah menjahilimu dengan meneriakimu. Saat kau berjalan melewati rumahku dan justru berhenti di depan jendela kamarku. Saat itu kau sedang menggandeng Daniel, dia sedang menangis dan kau berusaha menenangkannya.”


Refleks aku tersenyum lebar mengingatnya, saat itu aku yang sedang kesusahan menenangkan Daniel kecil menangis karena merindukan Ibu sedangkan Bayu justru meneriaki namaku terus lalu bersembunyi setiap kali aku melirik jendela kamarnya yang terbuka. Keadaan saat itu sangat merepotkan dan membuatku semakin kesal padanya dan Daniel tapi akhirnya aku berhasil mengetahui Bayu yang menjahiliku setelah sepupu perempuannya muncul di depan jendelanya sembari menunjuk-nunjuk ke dalam kamar untuk memberitahuku.


“Oh ya, kau sangat menyebalkan saat itu.” Kami tertawa bersama mengingat saat itu.


 

__ADS_1


 


“Ahh senang melihatmu bisa tertawa. Aku benar-benar khawatir beberapa menit yang lalu. Aku tidak akan pernah siap untuk kehilanganmu.” Ucapnya pelan seperti berbisik.


Rasanya rongga dadaku menghangat dan ada sesuatu dalam perutku yang menggelitik. Perasaan bahagia ini selalu aku rasakan saat bersamanya. “Berhati-hatilah, hm? Aku tidak ingin kehilanganmu juga. Kau sudah tahu bukan, bagaimana keluargaku. Aku tidak memiliki siapapun yang aku percaya di dunia ini selain kamu.”


Kali ini Bayu tersenyum begitu lembut dan mengangguk pelan. “Cobalah kau berbicara baik-baik dengan Daniel, tanyakan padanya tentang semua ini. Jika memang dia melakukannya, aku akan membuat perhitungan.”


Aku terdiam, tidak langsung menjawabnya. Memikirkannya saja membuatku tiba-tiba merasa sedih, mengingat bagaimana hatiku sangat hancur saat Rey mengatakan dia mengincarku karena Daniel membayarnya dari uang yang selama ini dia sering katakan untuk investasi. Dari uang yang aku ikut mencicil untuk melunasinya ke bank atau pada reintenir.


“Lucu bukan? Uang yang dia berikan pada Rey sebenarnya adalah uangku juga.”


Bayu menggeleng pelan, semakin mendekatiku karena melihat mataku yang sudah berembun. Perasaan kecewa ini datang lagi. “Maafkan aku karena membahas ini.”


“Tidak! Hatiku sudah terlanjur kecewa jika mengingat tentang Daniel. Aku pasti akan menanyakan semuanya. Entah itu benar atau tidak, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan nantinya.”


“Aku tidak memaksa, jika bukan waktu yang tepat jangan di paksakan. Melihatmu menangis saat itu, ketika Rey memberitahumu. Aku seperti tidak tahu harus melakukan apa padamu. Kau seperti sebuah kaca yang jika di sentuh saja bias pecah, kau terlihat sangat rapuh namun di saat yang sama kau seperti sekokoh gunung. Melihatmu yang dengan berani menghadapi kenyataan ini membuatku begitu kagum. Kau bisa tersenyum lagi dengan cepat. Jika aku berada di posisimu, aku pasti tidak bisa berpikir jernih.”


“Jangan berlebihan. Kau tahu kan aku sedang sakit?” Aku merasa sesak dan sakit di tenggorokkanku, seperti sesuatu menahannya di sana. aku memang tertawa kecil saat mengatakannya tapi sebenarnya aku sedang menyembunyikan kesakitan itu.


Mengingat lagi dokter Cilia menjadi dokter terapiku juga membuatku sebenarnya malu menghadapi Bayu. Dia sangat hebat, pasti banyak sekali wanita yang lebih baik dariku di luar sana untuk menjadi pacarnya. Sedangkan aku, aku hanya gadis merepotkan baginya.


Bayu justru menunduk, mengusap tanganku dan dia tertawa kecil. Bukan tawa bahagia yang aku dengar, aku mendengarnya tertawa dengan isakan pelan hingga setetes air membasahi punggung tanganku.


Lelaki ini menangis, apa perkataanku menyakitinya?


“Kau menangis? A—apa aku menyakitimu? Bayu, lihat aku. Aku ingin melihatmu!” Aku berusaha membuat Bayu untuk membalas tatapanku seperti biasanya bukan menunduk seperti ini!!


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2