EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 264


__ADS_3

...


 


 


 


 


“Saya tidak akan mengganggunya, hanya mengkonfirmasi nomor Tio apakah masih tetap sama. Bukan kah Bapak-bapak akan puas mendengar penjelasanku kalau apa yang kita maksudkan sama? Nomor telpon adalah satu yang


penting.” Jelasku masih tetap tenang.


 


 


Sekali lagi mereka saling pandang dan pada akhirnya salah satu dari mereka memberitahuku nomor Tio. Aku segera mengecek nya di ponselku yag lain, ponsel khusus urusan kantor. Ternyata nomornya sama.


 


 


“Terima kasih, nomornya sama.” Kataku mengangguk puas.


 


 


“Lalu bagaimana? Penjelasan apa yang ingin ibu berikan pada kami?” Tanya pria berbadan kecil dengan tidak sabaran.


 


 


“Saya ingin menjelaskan sedikit tentang peraturan di perusahaan kami, karyawan yang tidak masuk dan tidak memberikan ketarangan apapun selama tiga hari berturut-turut di anggap mengundurkan diri. Kami yakin Tio sudah tahu peraturan ini sejak ketika dia masuk pertama kali. Lalu untuk kasus Tio ini, dia tidak memberi kabar lebih dari


tiga hari.” Aku melirik Pak Ginanjar yang langsung di angguki oleh pria ini.


 


 


“Betul. Tio tidak masuk dan tidak memberi ketarangan selama lebih dari tiga hari, jadi saya memecatnya setelah tidak juga mendapat kabar darinya selama satu minggu. Saya sudah menelponnya setiap hari tapi tidak ada tanggapan.”


 


 


“Itu berarti Pak Ginanjar sudah menunggu kabar dari Tio selama satu minggu dan memutuskan untuk memecatnya karena dia tidak memberi kabar apapun.” Aku menyimpulkan.


 


 


“Saya juga punya bukti kalau kami tidak langsung memecatnya begitu saja.” Aku menyerahkan ponselku pada mereka, menunjukkan pesan-pesan yang aku kirimkan setiap hari pada Tio selama satu minggu. “ini adalah pesan yang saya kirim pada Tio, tapi dia tidak pernah membalas pesan saya. Bisa di cek dari tanggal dan waktunya, saya mengirimkannya setiap hari dan itu adalah nomor yang sama seperti yang kalian tahu.”


 


 


Mereka semua segera menerima ponselku dan gantian untuk mengecek pesan yang aku tunjukan. Perlahan tapi pasti, ekspresi wajah mereka tidak lagi keras.


 


 


“Seharusnya, hari keempat seorang karyawan tidak hadir tanpa keterangan, maka kepala bagiannya berhak memecatnya langsung. Tapi Pak Ginanjar masih memberi kesempatan pada Tio sampai hari ketujuh. Bapak-bapak bisa lihat dari pesan itu kalau saya, meski bukan kepala bagiannya langsung secara struktur organisasi, tapi saya mengkhawatirkannya, juga mengajaknya, berharap dia memberikan kami kabar. Nyatanya sampai saat ini pun kami tidak tahu apa-apa tentang keadaan nya.” Jelasku lagi memanfaatkan situasi mereka yang sedang berpikir.


 


 


Salah satu dari mereka mengembalikan ponselnya padaku. “Kami mengerti. Tapi Tio tidak memberitahu kami apapun tentang ini.”


 


 


Melihat perubahan emosi mereka yang sudah lebih tenang dan agak malu menatapku, akhirnya aku hanya mengangguk dan segera berdiri, “kalau gitu, saya serahkan kembali pada Pak Ginanjar selaku kepala bagian Tio.”


 


 


Pak Ginanjar mengangguk padaku, sorot matanya mengatakan terima kasih secara tersirat. Aku tersenyum kecil dan balas mengangguk, lalu kembali mendekati Hanna dan teman-temanku yang lainnya.


 


 


“Untungnya kau masih menyimpan pesan-pesan itu.” Rima berbisik padaku ketika kami sudah melangkah keluar dari pintu utama gedung perusahaan.


 


 

__ADS_1


“Bagaimanapun, data semua karyawan di cabang ini, tim kita yang memprosesnya, termasuk Tio. Jadi aku tidak bisa terus menunggu mendapat kabar darinya.” aku bisa merasakan tatapan Hanna padaku lebih kesal dan marah dari sebelumnya.


 


 


Wanita ini benar-benar menunjukkan jati dirinya sekarang. Mengingat lagi bagaimana dia ingin aku jadi saudaranya ketika bertemu di acara pernikahanku, tapi sekarang dia secara terang-terangan ingin aku jadi musuhnya.


 


 


 


 


 


 


 


 


.


..



 


 


 


 


Ternyata serah terima pekerjaanku selesai pada jam tiga sore. Aku sudah menyampaikan isi inti dokumen yang harus dia tandatangani, secara keseluruhan sudah, tapi dengan adanya beberapa permasalahan biasa, seharusnya dia banyak bertanya nantinya padaku. Tapi melihat Hanna yang mengangguk menerima dokumenku, dia pasti belum kepikiran untuk bertanya.


 


 


Setelah acara tandatangan dokumen selesai, sekarang aku bisa merelakan kursi dan mejaku ini. Lalu aku juga sudah selesai membereskan barang-barangku dari atas meja, pindah masuk ke kotak kardus kecil.


 


 


 


 


 


 


 


“Teman-teman, kalau kalian ada yang ingin di tanyakan, bisa menghubungiku. Kau juga Hanna, kalau ada yang tidak mengerti segera hubungi aku.” Kataku tulus.


 


 


“Jam pulang kantor masih satu setengah jam lagi.” Kata Tiwi.


 


 


Aku terkekeh pelan dan mengangguk. “tentu saja. Juga, jangan lupa aku berutang makan malam pada kalian. Hari ini bagaimana?”


 


 


Seketika mereka semua mengangguk gembira, syukurlah.


 


 


 


 


 


 


 


“Icha!” Suara Pak Ginanjar yang muncul di ambang pintu mengalihkan perhatian kami semua. Aku menoleh menatapnya.


 

__ADS_1


 


“Cha, di panggil mereka. Ayo.” Perkataan singkatnya tidak perlu membuatku bingung. Ke lima orang yang datang dari pusat ingin bertemu denganku.


 


 


Maka tanpa basa basi lagi, aku segera mengikuti Pak Ginanjar yang membawaku ke lantai pertama. Mereka semua ada di sudut, duduk di sofa, tampaknya baru saja kembali dari luar.


 


 


Ternyata tidak hanya mereka, ada seorang pria paruh baya berkacamata yang sudah aku kenal. Dia adalah Pak Roni, manajer area perusahaan investasi di area pulau ini. Beberapa kali kami bertemu dalam rapat, dia pernah mengobrol denganku tidak lebih dari satu menit, atau kami biasanya hanya saling sapa seperti sekarang.


 


 


Pak Roni yang melihatku datang langsung tersenyum lebar, “Natasha.”


 


 


“Pak Roni.” Balasku tersenyum juga.


 


 


“Kamu mengundurkan diri, Cha?” Tanya nya yang membuatku sedikit kaget karena justru Pak Roni menanyakan hal itu.


 


 


“Ya pak.”


 


 


“Kenapa?”


 


 


Aku sempat melirik ke lima orang yang datang dari pusat ini, mereka hanya diam menunggu. “Tidak apa-apa pak. Hanya ada kesalahpamahan kecil yang seharusnya bisa segera di luruskan.”


 


 


“Sayang sekali, saya sudah dengar dari dulu kamu orang yang berbakat. Bagaimana kalau bergabung di perusahaan kami?” Sekali lagi Pak Roni membuatku terkejut. Pria paruh baya ini menatapku serius.


 


 


“Soal itu…” Ini tawaran menggoda. Aku harus melepaskan pandanganku padanya, hal itu membuat mataku menangkap sebuah mobil yang aku kenali, sedang terparkir di dekat pos jaga, karena sebagian besar kaca di lantai satu ini transparan, kami bisa melihat keluar, dan di luar juga bisa melihat ke dalam.


 


 


Itu mobil Jeep hitam. Apa mungkin Bayu ada di sekitar sini? Atau mungkin Dika yang datang menjemput?


 


 


“Sayang sekali memang, orang berbakat seperti Icha harus mengundurkan diri dari perusahaan kami.” Suara Ibu Felly, salah satu dari tim pusat yang datang, menginterupsi pandanganku dari luar. “mulut orang sangat kejam, banyak rumor mengatakan sesuatu tentang Icha akhir-akhir ini.”


 


 


Pak Roni menatapku dan mengangguk. “Ya, saya sudah dengar, kamu sudah menikah, Cha?”


 


 


 


 


 


...


 


 

__ADS_1


__ADS_2