EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 253


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


“Syukurlah, Icha, kau di sini.” Suara ayah Evano mengalihkan pandangan kami berdua.


 


 


Sekarang kami ada di luar, dua puluh meter lebih jauh dari vila yang baru aku sadari vila dan rumah lain di sekitar kami tidak mati listrik, hanya vila keluarga Danendra tampak gelap dan menyeramkan dari luar.


 


 


Ayah Evano, kakek, nenek, paman Kenzo, tante Kenzie dan suaminya ada di hadapanku dengan piyama mereka. Dua orang wanita dan dua orang pria paruh baya ada di barisan belakang, mereka pasti pegawai di vila.


 


 


“Kami sudah menelpon polisi, tolong tunggu di sini sampai pemeriksaan selesai.” Ujar Bayu pada rombongan.


 


 


Ayah berjalan mendekati Bayu dan menepuk bahu lelaki ini sembari mengangguk lega. “Beruntung kau ada di sini bersama kami di sela tugasmu, aku tidak salah mengharapkanmu datang saat kau menanyakan tentang alamat vila.”


 


 


“Tidak usah sungkan, ayah. Aku memang sangat ingin menemui Icha sebelum kembali ke perbatasan.” Mendengar Bayu memanggil ayah, aku merasa sekujur tubuhku menghangat karena merasakan limpahan rasa sayang dan syukur.


 


 


Tepat setelah itu, suara sirine dari kejauhan terdengar, semua orang menatap ke arah mobil itu datang tapi Bayu langsung memegangi kedua bahuku agar dia mendapat mendapat perhatian.


 


 


“Aku akan menjelaskan semuanya, setelah kami berhasil menangkapnya.” Aku mengangguk.


 


 


“Tolong hati-hati, di sini masih ada orang yang ingin mencelakai keluarga Danendra.” Bisiknya yang berarti orang itu belum di tangkap.


 


 


Aku mengangguk lagi. Semilir angin dingin pagi ini menerpa tubuh kami. Helaian rambutku bergerak mengikuti arah angin, beberapa anak rambut menempel pada pipiku yang langsung di singkirkan oleh tangan Bayu sebelum dia mengecup keningku.


 


 


 


“Aku cinta kamu.”


 


 


Senyum kecil berhasil mengembang di wajahku, suaranya lembut ketika mengucapkan kata cinta. “Aku juga cinta padamu. Tolong hati-hati.”


 


 


Seiring dengan anggukan Bayu, dua mobil polisi dan sebuah mobil hitam berhenti di samping kami.

__ADS_1


 


 


Dua tangan hangat Bayu yang semula memegangi bahuku terlepas meninggalkan perasaan dingin. Dia menghampiri salah satu polisi menjelaskan situasi lalu berjalan cepat menghampiri mobil hitam yang datang, lalu membuka pintu penumpang depan, sebelum dia masuk ke dalam, Bayu sempat melirikku lagi.


 


 


Akumengangguk kecil yang di balas senyuman kecilnya.


 


 


Jantungku rasanya seperti di peras seiring dengan mobil jemputan untuk Bayu semakin menjauh dariku.


 


 


 


 


“Dia mengetuk semua kamar, meminta kami semua untuk keluar dari vila secepatnya.” suara paman Kenzo di belakangku membuatku langsung berbalik menghadapnya.


 


 


Piyama warna biru cerah di balut jaket coklat, paman Kenzo tersenyum kecil padaku. “Dia menjelaskan singkat pada kami kalau ada laporan tentang orang yang ingin mencelakai keluarga Danendra, itu bukan hal baru untuk kami.”


 


 


“Bukan hal baru?”


 


 


“Kami sudah pernah mendapat beberapa teror sejak dulu. Seperti contohnya seseorang mengirim bangkai tikus ke kantor, atau orang yang sengaja merusak mobil, atau yang menyabotase distribusi gudang, atau orang yang merayu karyawan berbakat kami agar bergabung dengan mereka. Oh atau penyergapan di basement waktu kita pertama bertemu. Hal-hal seperti itu.” Aku mengerutkan kening, ekspresi paman Kenzo saat mengatakan semua itu terlihat biasa saja.


 


 


 


 


“Aku tidak tahu. Tapi yang aku rasakan dengan keluarga ini, mereka semua orang baik. Meski orang-orang di luar sana menjuluki kami monster bisnis itu semua karena kami bekerja sama, mengeluarkan kemampuan kami yang terbaik. Aku beruntung karena di takdirkan sebagai bagian keluarga Danendra.” Paman Kenzo menatap anggota keluarganya dengan sorot penuh kasih sayang yang membuat ke khawatiranku perlahan menguap.


 


 


Lalu dia melirikku dan tersenyum lebar, tangannya terangkat untuk mengusap puncak kepalaku. “Tentu saja untuk kasusmu itu khusus, jangan salah paham pada kami, apapun yang kau lakukan, ketahuilah bahwa kau bagian dari keluarga Danendra, kau adalah putri sejati Kak Evano yang juga keponakanku.”


 


 


Aku mengangguk, kali ini paman Kenzo menepuk bahuku sembari menunduk untuk berbisik pelan. “Kak Evano sejak dulu memperhatikanmu dari jauh, dia sangat bangga padamu, terlebih dengan karir pekerjaanmu, dia tidak berhenti mengatakan betapa kau membanggakan baginya.”


 


 


 


 


 


“Apa yang kau bisik kan padanya, Kenzo.” Kami berdua tersentak kaget mendegar suara berat ayah di belakang, seperti ketahuan melakukan sesuatu yang ilegal.


 


 


“Dia tidak mengatakan hal-hal aneh padamu, ‘kan?” Ayah menatapku. Aku menggeleng cepat, berusaha menahan senyumanku.


 

__ADS_1


 


Suara-suara petugas polisi yang sedang menyusun rencana untuk masuk ke dalam vila mengalihkan pandangan kami. Lalu ayah dan paman Kenzo bergabung bersama Giliant dan kakek Alvaro untuk berbicara dengan polisi.


 


 


Lalu pandanganku terpaku pada nenek dan tante Kenzie yang sedang berdiskusi dengan dua wanita pegawai vila.


 


 


Aku memutuskan untuk melangkah mendekati empat wanita itu, namun seiring langkahku mendekat, salah satu wanita pegawai vila menatapku, sorot matanya agak terkejut tapi segera dia ubah detik berikutnya.


 


 


Meski pencahayaan di pinggir jalan yang samar-samar namun aku yakin dia kaget melihatku, karena pekerjaan yang selama ini membutuhkanku untuk bisa membaca raut wajah seseorang, aku tidak kebingungan untuk yakin kalau wanita itu entah mengapa tidak mengharapkan kehadiranku.


 


 


Wanita paruh baya itu, yang berdiri di samping nenek terlihat agak posesif, seolah mengatakan kalau dia dan nenek Nella Syana adalah teman baik.


 


 


Begitu aku sampai di hadapan mereka, tante Kenzie segera menarik tanganku agar berdiri di sampingnya.


 


 


“Ini dia yang kalian tanyakan. Namanya Natasha. Panggil saja Icha.” Aku sedikit terkejut dengan perkenalan oleh tante Kenzie yang tiba-tiba.


 


 


“Halo nona Icha, selamat datang di vila kerang pantai timur.” pegawai vila yang lebih muda dari wanita paruh baya yang tadi menatapku kaget, tersenyum lebar, menyambutku.


 


 


Aku melirik nenek Nella, menunggu reaksinya, tapi dia tidak mengatakan apapun, bahkan pandangannya terlihat agak mengacuhkanku mengingat sejak awal, secara terang-terangan nenek memang tidak menyukaiku.


 


 


Anehnya, aku lega bahwa nenek Nella begitu berjarak, juga ayah Evano, kakek Alvaro. Andai mereka berusaha meminta maaf, atau mengatakan bahwa mereka mencintaiku atau membuat dalih yang payah untuk menjelaskan ketidakhadirannya, itu pasti terasa palsu. Lagi pula, aku juga belum tahu pasti apa perasaanku tentang mereka.


 


 


“Vila yang indah.” Jawabku pada wanita yang masih menampilkan senyum lebarnya, meski jawabanku setengah berbohong karena aku belum memperhatikan suasana vila.


 


 


“Mereka yang mengurus vila-vila kami di sini.” Aku mengangguk mendengar penjelasan singkat tante Kenzie. Vila-vila. Berarti tidak hanya satu vila.


 


 


“Nona Icha baru pertama kali datang ke sini bersama keluarga Danendra, entah apa yang bisa kami sajikan sebagai ucapan selamat datang. Mungkin makanan laut? Udang? Kepiting? Lobster?” Tanya wanita paruh baya itu yang terdengar punya arti lain dari pernyataannya.


 


 


 


 


...


 

__ADS_1


 


__ADS_2