
...
“Jane Alexander! Putri tunggal keluarga Alexander, keluarga yang memiliki perusahaan properti di negara ini!! Aku baru saja kembali dari amerika dan kau sudah semakin kurang ajar merebut tunanganku!”
“Jangan-jangan kau anak ibuku? Drama kalian membosankan.”
“HAH!! Orang ketiga sepertimu selalu mencari alasan!”
“Mau bertemu untuk menyelesaikan masalah ini?” Aku menawarinya baik-baik.
“Ayo kita bertemu sekarang juga! Kau ada di mana?”
“Tidak sekarang, aku sedang bersama pacarku.” Jawabku sengaja di buat terdengar semanis mungkin.
Jane semakin berteriak kesal di sebrang telpon. Ada kepuasan tersendiri mendengarnya berteriak seperti itu. Hahaha
“Jangan berbohong! Aku tahu kau sedang menginap di rumah temanmu.”
“Apa kau di beri tahu ibuku? Kalian sedang bersama?”
“Ya! Aku sedang bersama ibumu! Dia kecewa pada kelakuan anaknya yang seperti wanita liar.” Mendengarnya menghinaku seperti ini membuat aku marah seketika.
Tapi sebelum aku menjawab perkataannya, sepasang tangan melingkari bahu ku dari belakang. Aroma tubuhnya yang tercampur dengan wangi parfum yang familiar tercium olehku.
“Hai sayang, bagaimana keadaanmu hari ini?” Tanyanya berbisik di telingaku yang lain.
Aku tersenyum lebar, emosi marahku sesaat telah meluap entah kemana. “Aku sudah lebih baik.”
“Apa kau merindukanku?”
“Tentu saja!”
Bayu terkekeh pelan dan dia bangkit untuk pindah posisi di sampingku. Aku mendengar suara Jane yang berteriak marah-marah di sebrang telpon.
Aku hampir melupakannya.
“Kau kenal nomor ini?” Tanyaku sembari menunjukkan layar ponselku. Bayu mengerutkan keningnya untuk berpikir kemudian menggeleng.
“Siapa?”
“Jane Alexander.” Mendengar jawabanku, tangan Bayu hendak merebut ponselku tapi dengan cepat tanganku menghindarinya.
“Tidak! Biar aku urus sendiri.” Kataku penuh keyakinan. Lelaki ini tertawa kecil lalu mengusap puncak kepalaku.
Aku kembali menempelkan ponselku di depan telinga dan suara teriak-teriak Jane semakin menggila di sebrang telpon. “Aku akan mengabari waktu dan tempatnya. Sekarang aku sedang sibuk, aku akan tutup!”
“Yakkk!! Jangan kabur—“
Aku tidak peduli dan segera memutuskan sambungan telpon kemudian mendongak menatap Bayu yang juga sedang menatapku dengan alis terangkat.
__ADS_1
“Mau apa dia?”
“Dia masih belum mengerti.” Jawabku.
“Kau ingin aku yang mengusirnya?” Aku menggeleng cepat.
“Baiklah, ayo turun. Mereka ingin bertemu denganmu.” Bayu mengulurkan tangannya, aku mengangguk dan tersenyum meraih tangannya untuk berdiri dan mengikutinya.
Dari ujung tangga saja aku mendengar suara tawa dari ruang tamu depan, suasananya jadi ribut sekali di dalam rumah padahal sudah larut malam.
“Ohh ini dia bintang kita hari ini!” Pria bermata sipit, Lifer berteriak seketika saat kami berdua masuk ke ruang depan.
Semua orang sedang berdiri memperhatikanku. Dokter Stefan dan prof. Bora saling berangkulan sedangkan Lifer dan Ronald yang aku kenal juga bertepuk tangan heboh.
Seorang pria lain yang memiliki wajah tanpa ekspresi juga memperhatikanku. Aku tidak mengenal pria itu.
“Kau sudah tahu Lifer dan Ronald. Lalu perkenalkan ini adalah, Benny, si Black.” Mendengar penuturan Bayu, aku justru mengerutkan kening heran.
Pria asing yang kini mengulurkan tangannya tidak memiliki kulit hitam. Justru dia memiliki kulit paling putih di antara ketiga orang itu. Pria itu juga memiliki warna mata coklat yang mencolok padahal rambutnya hitam.
“Benny.”
“Icha.” Aku membalas jabatan tangannya, tersenyum canggung karena pria ini tidak tersenyum.
“Aku baik-baik saja.” Jawabku tersenyum.
“Jadi kau sudah merencanakannya, eh?” Lifer menyenggol Bayu.
“Apa?” Bayu bertanya tidak mengerti.
“Berlibur di tempat terpencil seperti ini.” Tampak Lifer sedang menggoda Bayu.
“Tidak! Dan itu bukan berlibur namanya! Tapi hukuman!” Aku bisa melihat ekspresi kesal di tunjukkan Bayu. Sepertinya ada sesuatu terjadi.
“Kau tidak pernah tinggal lama di rumah ini, tapi tiba-tiba saja kau akan menginap di sini. Tentu saja kami jadi curiga. Ternyata kau membawa wanita ke sini.” Lifer merangkul Bayu, mengacak-acak rambut Bayu karena gemas.
Melihat ke akraban mereka membuatku ikut tertawa. “Kau berpikir terlalu berlebihan!!”
“Ehh ayo duduk!” Dokter Stefan seperti menyadari kami semua tidak dalam posisi duduk.
“Aku dan Icha akan menyiapkan cemilan dan minuman.” Prof. Bora menatapku yang langsung mendapat anggukan dariku. Ada tiga keresek besar cemilan di atas meja yang sepertinya mereka beli saat perjalanan pulang.
Aku dan wanita ini membawa kereseknya, meninggalkan kelima pria yang sedang rebut saling meledek. Namun sebelum aku benar-benar menghilang dari ruang tamu, aku merasakan pria bernama Benny itu terus menatap pergerakkanku sejak tadi. Dari pandangannya dia seperti sedang menilaiku.
__ADS_1
Ketika sudah ada di dapur barulah aku bisa menghela napas lega.
“Ada apa?” Prof. Bora menyadari ke gugupanku.
Tapi aku hanya menggeleng. Mungkin yang tadi hanya perasaanku saja. “Tidak. Hehehe.”
Kemudian kami berdua mulai mengeluarkan gelas, piring dan air hangat. Prof. Bora memutuskan untuk membuatkan mereka semua kopi karena wanita ini sudah mengenal mereka jauh sebelum aku yang kenal maka aku hanya mengangguk menyetujui arahannya.
Saat kami sedang menyiapkan semuanya, lama kelamaan aku tidak lagi mendengar suara ribut-ribut dari ruang tamu.
Suasananya jadi hening.
“Cha, antarkan ini dulu ke depan ya.”
“Oke.” Aku menyanggupi saat prof. Bora memintaku untuk membawa dua piring cemilan yang sudah di tata rapih sedangkan wanita ini masih sibuk menatap piring lain sembari menunggu air panas mendidik dalam teko.
Aku berjalan membawa dua piring di tanganku ke ruang tamu yang kini tidak ada siapapun kecuali pria itu, Benny, masih duduk di tempatnya tadi.
Seperti dugaanku, dia sudah memperhatikan aku dari ambang pintu hingga ke dekatnya. Meski agak canggung tapi aku mencoba untuk balas menatapnya dan tersenyum kecil namun lagi-lagi dia tidak menampilkan ekspresi lain selain ekspresi datarnya itu.
Karena tidak ingin mengganggu, aku berbalik dan berjalan hendak menuju pintu.
“Natasha Icha Davindra.”
Aku menghentikan langkahku mendengar dia menyebut nama lengkapku padahal tadi aku tidak menyebutkan nama lengkapku.
“Ya?” Aku berbalik dengan kening berkerut, menatapnya yang sekarang sudah berdiri dan berjalan perlahan mendekatiku.
“Aku tidak akan basa basi dan akan mengatakannya langsung.” Benny menatapku dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celananya. Pria ini sudah berdiri dua meter di hadapanku.
“Jadi apa yang kau lakukan di sini? Apa niatmu sampai sejauh ini?”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Kau mendekati Bayu karena kau merencanakan sesuatu.” Aku ingin tertawa mendengarnya.
“Apa aku terlihat seperti itu?” Aku bertanya balik sembari berusaha menahan agar tawaku tidak meledak.
“Kenapa Bayu sampai membawamu ke tempat ini? Aku belum pernah mendengar apapun tentangmu selama ini tapi tiba-tiba saja lebih dari tiga bulan lalu Bayu mulai membahasmu. Awalnya aku pikir mungkin Bayu hanya mengenang masa lalunya tapi tidak menyangka kalian akan kembali bersama bahkan sampai dia melakukan tindakannya hari ini. Mau seberapa pun kuat tawaran yang Bayu terima dari koneksi para pejabat dan pengusaha itu agar Bayu mencabut gugatannya hari ini tapi Bayu hanya mengatakan kalau dia tidak akan memaafkan mereka semua karena telah berani mengincarmu. Sebenarnya trik apa yang kau mainkan?”
__ADS_1
...