
...
Aku menyerahkan air mineral dalam botol padanya lalu diam memperhatikan gerakkan tangannya yang mulai membuka dan meminum isinya.
“Sekarang kita akan kemana?” Tanyaku melihatnya sudah menutup tutup botol setelah menghabiskan setengah isi botol.
Bayu melirikku sebentar sebelum menjawab. “Kita akan kembali, ke rumah sakit.”
“Lebih baik kita kembali ke rumahku!”
“Kenapa?”
“Rasanya lebih aman di sana.” Bayu langsung menjitak keningku dengan jari tengah dan jempolnya membuatku langsung mengaduh protes.
“Kenapa memukulku!!”
“Karena kau menggemaskan.” Katanya tidak masuk akal.
“Ayo cepat naik! Kita harus ke rumah sakit sekarang karena wajahmu sudah pucat. Aku tidak akan menunda lagi!” Pernyataan selanjutnya dari Bayu refleks membuatku langsung melihat ke kaca spion. Memperhatikan wajahku di sana.
Padahal aku sudah memakai liptint, bedak, mascara dan eyeshadow seperti biasanya. Dari mana lelaki ini yakin wajahku pucat. Ketika sedang asik dengan spion, telapak tangan Bayu menyentuh keningku.
“Masih demam!”
“Kalau begitu jangan mendekatiku! Nanti kamu tertular!” Jawabku menurunkan tangannya dan berdiri tegak menatapnya.
“Bagaimana kalau kita lari saja, menikah dan hidup bahagia. Jangan memberi tahu siapapun.” Senyuman jahil lelaki ini kembali. Dia menarik jaket denimku agar lebih dekat dengannya.
“Bagaimana?” Tanyanya lagi.
“Kalau jangan memberi tahu siapapun bagaimana kita hidup nanti? Sekarang kemungkinan seseorang menggantikanku di perusahaan karena aku sudah lama mengambil cuti, lalu aku belum lulus kuliah. Apa gaji seorang kapten tinggi? Kau bisa membiayai hidupku juga?” Jawabku berbisik membalas senyum jahilnya.
“Aku akan berusaha agar kau tidak kelaparan.” Jawabnya mengangguk serius. Gemas melihat tingkahnya, kedua tanganku terangkat mencubit kedua pipinya.
“Ayolah sayangku. Kita pergi dari sini.” Katanya tidak menghiraukan cubitan pipinya. Aku melepaskannya dan menerima helm full face yang di berikannya padaku lalu segera memakainya dan naik ke atas motor tanpa mengucapkan apapun.
Motor sport hitamnya mulai keluar dari area pom bensin dan bergabung dengan kendaraan lain.
.
__ADS_1
..
…
Tiga puluh menit berikutnya, Bayu benar-benar membawaku menuju jalan rumah sakit pusat. Aku sekarang tidak mengerti rencananya, setelah pergi ke pinggiran kota, dia membawaku lagi ke tujuan awal kami juga saat di rumah kakek sebenernya apa yang hendak dia lakukan mengingat kami hanya lima menit berada di sana.
Kami berhenti di perempatan lampu merah. Aku melirik jam tanganku dan waktu sudah menunjukkan hampir pukul setengah sepuluh. Ini masih pagi tapi hari ini rasanya pagi yang panjang untukku,
Jalan menuju rumah sakit ada di belok kanan setelah lampu merah tapi nyatanya saat lampu berubah hijau, Bayu menyelip di antara mobil-mobil besar lalu dia belok ke kiri dan masuk ke jalan pintas menuju daerah kampus.
Seperti dugaan, jalanan di sini begitu ramai oleh mahasiswa dan pedangang. Gedung-gedung tinggi tiga kampus yang berbeda ada di sekitar sini dan Bayu membawaku masuk ke parkiran luas dengan gedung paling tinggi di sekitar sini.
Setelah memarkirkan motornya, aku segera turun dan membuka helm, begitupun dengan lelaki ini. Sembari mendongak melihat bangunan di depanku, aku mencari-cari gedung apa ini dan mataku menemukan tulisan besar di pintu masuk.
“Kita akan menemui seseorang di sini. Ayo!” Bayu langsung menggenggam tanganku dan menariknya dengan langkah cepat menuju tangga mewah besar tepat saat kami masuk dari pintu.
Suasana kampus sangat ramai dan hal itu membuatku merindukan suasana kampus. Aku juga merindukan teman-teman. Beberapa orang sempat memperhatikan kami mengingat Bayu menyeretku cepat-cepat menaiki tangga dan lorong-lorong kampus.
Aku tidak tahu harus naik berapa tangga lagi saat kaki ku rasanya pegal dan napasku mulai pengap. Bayu menyadari pergerakkanku sedikit lambat dan dia hanya terkekeh dengan kondisiku dan semakin menarikku agar langkah kakiku tidak melambat.
“Kita harus menjadwalkan rencana olahraga. Kau butuh pelatihan dariku.” Ledeknya tidak mempedulikan aku yang ingin berhenti sebentar.
“Aku punya tenaga yang kuat tapi dengan langkah cepat seperti ini! Memangnya aku anggota tentara!!” Jawabku cepat sudah kehabisan napas, tidak ingin kalah dengannya.
Aku mendongak melirik Bayu, dari samping belakang saja aku bisa melihat sudut bibir dan pipinya terangkat. Dia tersenyum lebar, refleks aku menarik pelan genggaman tangannya dan berhasil saat wajahnya menoleh padaku.
Senyumnya masih bertahan di sana. “Apa?”
Aku menggeleng cepat dan tersenyum lebar. Senyum lelaki ini benar-benar menular padaku dan sekarang perasaan kesal dan lelah beberapa detik yang lalu menguap entah kemana.
Langkah kami terhenti di lantai empat, berjalan menuju lorong yang di penuhi mahasiswa-mahasiswa yang sedang mengobrol dan berkumpul.
__ADS_1
Seharusnya Bayu melepaskan genggaman tangannya tapi seolah tidak peduli mereka memperhatikan kami yang berjalan lewat, Bayu terlihat tidak terganggu sama sekali sedangkan aku rasanya malu di perhatikan.
Langkah cepat kami perlahan melambat saat kami menuju pada pintu yang terbuka lebar, aku bisa melihat beberapa mahasiswa keluar masuk dari ruangan itu. Terlebih di depan pintu itu berkumpul mahasiswa yang sepertinya sedang membahas sesuatu.
Tok tok tok.
Meskipun pintu terbuka lebar dan ada mahasiswa yang berdiri dekat ambang pintu tapi Bayu mengetuk pintu itu hingga semua orang yang ada di dalam ruangan menoleh pada kami, seorang wanita yang sedang serius berbicara dengan dua orang mahasiswa di depan mejanya seketika mendongak menatap kami.
“Ohh Bayu! Kau datang lebih cepat!” Dia berseru, tersenyum lembut.
Rambutnya terikat rapih, memakai kacamata dan di wajahnya cantik dengan olesan make up yang rapih. Dia terlihat lebih muda untuk ukuran seorang professor. Namanya terpampang jelas di depan pintu.
Bayu tidak menjawab, hanya tersenyum menunggu professor Bora bertindak. Wanita itu berbicara sebentar pada dua orang mahasiswa di depannya yang membuat keduanya memberitahui teman-temannya yang lain yang ada di ruangan itu untuk keluar.
“Masuklah.” Ajak professor Bora berdiri mendekati sofa.
Bayu menarikku masuk menuju sofa, bunyi klik yang khas terdengar di belakangku saat mahasiswa terakhir sudah keluar dari ruangan dan menutup pintunya.
“Ini kah yang di maksud Stefan?” Tanyanya terdengar antusias saat aku sudah duduk di depannya.
“Ya, ini Icha.” Bayu memperkenalkanku, refleks aku mengulurkan tangan.
“Icha, prof.”
“Bora. Jangan terlalu formal.” Jawabnya membalas uluran tanganku.
“Kalian datang lebih cepat. Apa sesuatu terjadi?” Lanjutnya kali ini terlihat lebih serius.
“Ya! Mereka tahu aku akan membawa Icha ke sana. Jadi rencana cadangan ini harus berhasil. Hanya sisa satu setengah jam lagi.”
“Baiklah, aku akan mengabari yang lain.” Prof. Bora bangkit berdiri menuju mejanya. Aku tidak bisa lagi menunggu.
“Apa yang kau rencanakan sebenarnya? Ceritakan padaku ada apa!” Berbisik pelan padanya, Bayu menoleh padaku tapi dia tetap tidak membuka mulutnya, seperti sedang berpikir keras.
...
__ADS_1