
...
Obrolan kami terhenti saat melihat ada bus yang berhenti di pintu gerbang depan, pinggir jalan, bersama itu, banyak pria-pria berseragam tentara turun dari sana. Kemudian satu per satu wanita di sekitarku melambai untuk menyambut suami mereka, mengajak mereka masuk atau merangkul lengan mereka.
Ini benar-benar pemandangan yang baru untukku, tapi entah mengapa aku merasa senang sekali melihatnya. Aku seperti masuk ke dunia lain, tidak menyangka akan melihat semua ini. Padahal lebih dari delapan bulan lalu aku masih seorang Icha yang selalu di marahi oleh ibu karena ketidak puasaannya.
Bus itu pergi setelah menurunkan sepuluh orang tentara yang kini rata-rata dari mereka sedang mengobrol singkat dengan istri mereka masing-masing.
Mataku melirik Nadya, suami wanita itu masih belum datang. Entah mengapa, aku jadi penasaran siapa suaminya.
Lalu perhatian kami teralihkan, kali ini pada beberapa motor dan mobil yang memasuki lapangan parkir, beberapa wanita di sekelilingku terlihat senang karena mengenali kendaraan milik suami mereka, termasuk Indah. Wanita itu langsung berlari kecil menyambut seorang pria yang baru turun dari mobil jeep yang sudah terparkir.
Untuk ketiga kalinya sore ini, perhatian orang-orang yang ada di sini teralihkan saat sebuah mobil hitam mewah masuk, dan berhenti tepat di depan tangga menuju pintu gedung apartemen ini.
Begitu pintu mobil terbuka, seorang pria paruh baya berseragam militer rapih keluar dari pintu belakang, diikuti dengan pintu mobil di sisi lain terbuka, menampilkan sosok pria gagah dan tampan yang tentu saja aku kenali.
Aku tidak menyangka ayah Rasha akan datang. Aku juga tidak menyiapkan makanan spesial atau berdandan cantik dan rapih. Saat ini aku hanya memakai celana skinny hitam, kaos merah, sandal dan rambut yang di ikat asal.
Ya ampun! Kenapa Bayu tidak memberitahuku dulu!
Para tentara yang masih ada di luar gedung segera berdiri tegak dan memberi hormat pada ayah Rasha.
Aku melepas ikat rambutku, cepat-cepat merapihkannya dan bergerak maju untuk menyambut mereka berdua.
“Ayah.” Sapaku mendekat pada mereka setelah ayah Rasha meminta agar orang-orang tidak perlu memberi hormat.
“Oh Icha! Lama tidak bertemu. Maaf, karena ayah tidak memberitahumu kalau akan datang.”
“Tidak tidak. Ayo masuk, Yah.” Ajakku yang di angguki ayah Rasha, membiarkan dia yang jalan di depan kami.
Begitu aku berdiri sejajar dengan Bayu, lelaki ini langsung merangku pinggangku, tidak mempedulikan kalau kami masih ada di tengah keramaian.
Aku ingin melepasnya, tapi dia semakin mengeratkan pelukannya, menunduk dan berbisik di atas kepalaku, “kau harus tanggung jawab karena membuatku jadi bahan gosip pagi ini.”
“Tentu saja aku akan bertanggung jawab, aku wanita yang bertanggung jawab!” Jawabku berbisik.
“Bagaimana kau akan tanggung jawab padaku?”
__ADS_1
“Aku akan tanggung jawab padamu malam ini. Di kamar kita.” Bisikku menggodanya. Hal itu membuat Bayu menjauhkan kepalanya dariku, kaget.
Telinganya berubah merah tapi seringaian penuh godaannya mulai mengembang.
“Berani menggodaku, eh? Tapi aku suka kau yang seperti ini. Terlihat lebih seksi.” Kata Bayu dengan mulut menempel di depan telingaku.
Aku terkekeh pelan, berusaha mendorongnya menjauh karena geli.
“Ekhmmm...” Deheman ayah Rasha menyadarkan kami berdua, dengan paksaan dan malu, aku mendorongnya menjauh.
“Kalian bisa meneruskannya setelah ayah pergi. Ayah hanya ingin bicara sebentar.” Nada suara ayah Rasha terdengar bergurau, mengingatkanku pada cara Bayu ketika dia sedang bercanda.
“Ayah, kau harus makan malam dulu di sini.” Kataku merasa tidak enak. Kami bertiga sudah sampai di depan lift, menunggu pintu itu untuk terbuka.
“Bukannya ayah ada janji setelah ini, iya ‘kan?” Bayu menanggapi.
“Kamu ini...” Ayah menyentil kening Bayu dengan jari tangannya, aku tidak bisa tahan untuk tertawa karena baru kali ini melihatnya di tindas oleh ayah Rasha.
“Ayah mengerti! Harus memberi kalian banyak waktu berdua. Bagaimana pun, ayah dan Evano sudah menantikan seorang cucu.”
Wajahku memanas tapi Bayu justru berdiri di samping ayahnya, merangkul pria paruh baya itu sembari berkata, “kami akan bekerja keras! Kalian tenang saja!”
***
“Apakah kamu makan secara normal? Lenganmu kurus sekali!” Pertanyaan ayah Rasha membuat pergerakan ku yang sedang meletakkan minuman panas di hadapannya terhenti.
“Maksud ayah, Icha? Tentu saja dia makan--”
“Aku tidak bertanya padamu. Kenapa kamu yang jawab?!” Bayu dan ayah Rasha saling pandang dengan serius.
Aku segera duduk di samping Bayu, menghadap ayah dan menjawab, “aku biasanya makan sampai kenyang, tiga kali sehari.”
“Makan lebih banyak lagi!”
“Baik, Yah.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan olahraga?”
“Aku lari pagi tiap hari sabtu atau minggu, tapi terkadang aku pemanasan tiap hari.” yang ini benar-benar aku lakukan, selama empat bulan mengurusi perusahaan ayah Evano, aku akan menyempatkan lari pagi setiap hari sabtu dan melakukan pemanasan ringan lima menit sebelum mandi, awalnya kegiatan itu hanya untuk mengisi waktu luangku yang setiap hari hanya bekerja di kantor, dan semua itu jadi kebiasaan.
“Bagus sekali!” Ayah Rasha mengangguk, “jadi, Cha. Kamu masak apa?”
“Oh!” Aku agak terkejut tiba-tiba di tanya seperti itu, selanjutnya aku menjelaskan apa yang aku masak untuk makan malam hari ini, meminta ayah Rasha untuk ikut makan bersama kami.
Saat makan malam, aku banyak menceritakan tempat-tempat yang aku kunjungi seharian ini, ternyata ayah Rasha tahu banyak karena sebelumnya dia pernah di tugaskan lama di sini.
.
..
...
“Antar ayah sampai mana?” Tanyaku langsung ketika mendengar suara pintu terbuka dan aku bergegas menghampirinya.
“Tentu saja sampai ayah naik mobil.” Aku mengangguk puas, mengingat sudah jam delapan malam.
“Ayah mengejar penerbangan malam ini.”
“Oh? Ayah tidak tugas di sini?” Tanyaku heran.
“Tidak. Ayah datang hari ini karena ada sesuatu yang harus di diskusikan.”
“Lalu tentang Gia, kapan aku bisa bertemu dengannya? Dia baik-baik saja ‘kan?” pertanyaanku ini tidak langsung di jawab Bayu. Dia justru terdiam sebentar dengan ekspresi serius sembari menatapku, kemudian dia menghela napas panjang, berbalik menuju kamar dan kembali lagi dalam beberapa detik dengan membawa map coklat besar.
“Tentang Gia. Kita akan membahasnya nanti, tapi ini yang aku janjikan. Kau bisa membacanya dulu, aku mau mandi.” Ujarnya dengan pandangan lesu.
Aku segera meraih map yang dia sodorkan, ketika aku tarik, Bayu masih menahannya, dia mengatakan, “berjanjilan, setelah membaca laporan ini, kau tidak boleh mengambil keputusan sendiri. Libatkanlah aku dengan apapun yang mau kau lakukan.”
“Apa sampai segitunya?” Aku menatapnya serius.
Bayu mengangguk, “ya, karena ini juga tentang masa lalumu. Semua yang ada di sini sudah terkonfirmasi kebenarannya dengan data dan pengakuan ayah Evano.”
...
__ADS_1