
...
“Pak Seno kapan datang ya?”
“Pengacara dari Tan’s grup juga belum datang. Padahal aku sudah mengatakan pada mereka untuk datang lebih
awal.”
Sudah lewat lima belas menit dari waktu perjanjian, makanan yang tadi di pesan oleh Bayu pun sudah tersedia di hadapan kami. Siang ini setelah bekerja setengah hari di kantor, Bayu menjemputku dan membawaku untuk makan siang.
“Boleh kita makan duluan? Aku sudah kelaparan melihatnya.” Bayu terkekeh pelan mendengar penuturanku, salah sendiri dia mengajak dua pengacara itu ke tempat makan seperti ini. kami berada di restoran makanan cepat saji.
Setelah mendapat anggukan lelaki ini. aku mulai membuka makanan yang ada di hadapanku dengan soda minuman dingin. Begitupun dengan Bayu, dia juga sudah membuka makanannya.
“Kenapa membeli ini? Sandwich-tuna? Aku tidak ingat kau suka tuna.” Mataku sempat melirik makanan itu di samping Bayu, belum terbuka sepenuhnya.
“Aku tidak sadar sejak kapan menyukainya, tapi jika sedang menjalankan tugas biasanya makanan yang gampang
dan sering di bawa adalah tuna kaleng.” Aku mengangguk seraya menggigit cheese burger kesukaanku.
“Kau mau coba?” Bayu menyodorkan Sandwich-tunanya setelah aku menghabiskan makananku. Aku meliriknya dan sebelumnya juga Bayu memesan burger tapi sudah hilang.
“Bolehkah?” Tanyaku menggoda dengan alis terangkat.
“Tentu saja, sayang.” Bayu terkekeh menjawab. Sandwich-tunanya sudah setengah habis dan dia memberikan setengahnya untuk aku habiskan.
"Tapi ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu di sini ada menu tuna."
"Aku hanya memintanya khusus dan untungnya bagian dapurnya menyanggupi. Aku hanya memanfaatkan pernyataan kalua pembeli adalah raja." Nada suara Bayu terdengar puas.
"Kalau begitu, aku mau satu lagi."
"Kau masih lapar? Bukannya wanita takut berat badannya naik?"
"Peraturan paling penting! Jangan membahasa masalah berat badan dengan wanita! Itu pembicaraan paling senstif!"
"Tapi aku sudah mengatakannya, lagi pula aku tidak berencana membahas berat badan dengan wanita lain." Di saat sedang mengunyah, Bayu mengatakan hal yang membuat wajahku memanas. Aku meliriknya yang tampak cuek dan hanya memperhatianku.
Jika begini untuk ke depannya aku tidak bias memenangkan perdebatan dengannya!
__ADS_1
Seolah melupakan bagaimana kami sempat berpisah beberapa tahun ini, kami sudah bertingkah seperti sepasang
kekasih tanpa canggung; berbagi satu sedotan, satu makanan atau satu sendok.
Aku ingat kemarin malam saat kami nonton film, kami berbagi satu mangkok mie untuk di makan bersama, melupakan aku yang beberapa menit sebelumnya sudah minum obat.
Jika di pikir-pikir sebenarnya kami bertemu lagi bisa di hitung jari, tapi karena sudah nyaman, aku dan Bayu seolah
sudah sering bertemu.
“Halo Icha.” Pak Seno datang menyapa setelah kami benar-benar menghabiskan semua makanan. Aku berdiri menyambutnya kemudian di susul seorang pria paruh baya datang menyapa Bayu.
“Halo pak Mark. Tidak menyangka anda sendiri yang datang untuk mengurus ini.” Pria berwajah oriental dan berbadan besar itu tersenyum senang menjabat tangan Bayu. Kami saling berkenalan satu sama lain terlebih dahulu sebelum duduk.
“Jarang sekali kemarin kamu menelpon untuk minta bantuan langsung. Jadi aku rasa ini penting.” Pria ini adalah Mark Tan, pengacara sekaligus pemilik perusahaan Tan’s grup. Aku tidak begitu mengenal perusahaan itu tapi melihat reaksi pak Seno yang akan bekerja sama dengan Mark, tampaknya itu adalah firma hukum yang besar. Pak Seno beberapa kali mengungkapkan ketidakpercayaannya bisa berhadapan langsung dengan pemilik Tan’s grup.
Setelah kami berdiskusi sebentar, Bayu dan aku pamit pada kedua pria paruh baya di hadapan kami. Dia mengajakku untuk pergi dari sana dan hanya menunggu hasil dari mereka.
“Kita akan kemana? Apa tidak berlebihan Pak Mark langsung yang mengurus urusan kecil ini? Aku merasa tidak
enak padamu.” Aku berkata jujur setelah kami keluar dari pintu restoran.
“Mungkin kemarin kau menelponnya dengan permintaan yang tidak biasanya.” Bayu mengangguk menyetujui ucapanku yang justru membuatku bingung.
“Aku hanya mengatakan jika aku butuh pengacara untuk menyelesaikan kasus tanah pacarku.” Refleks aku memukul tangannya dan melepaskan genggaman kami. Sebenarnya malu.
“Aku seperti memanfaatkan koneksi pacarku.”
Bayu tidak marah, dia justru terkekeh pelan dan kini merangkul bahuku untuk melanjutkan langkah kami yang
sempat tertunda.
“Sama-sama.” Ledeknya. Menyebalkan tapi dia terlihat manis.
***
Bayu mengajakku ke salah satu mall di pusat kota. Dia ingin meminta pendapatku untuk membelikan kado untuk temannya laki-lakinya yang menikah mengingat Bayu tidak bisa datang. Setelah kami berkeliling dan sempat nonton film, Bayu mengajakku untuk makan malam.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Tidak terasa sudah lama sekali rasanya aku tidak se-rileks ini, menikmati saat santai tanpa memikirkan tentang masalah pekerjaan atau tugas kuliah.
Kami memutuskan untuk makan di tempat stand-stand makanan berjajar yang menawarkan makannya di dalam mall lantai paling atas. Orang-orang harus memesan sendiri di stand pilihan mereka dan nanti akan di antarkan ke meja-meja yang banyak berjajar di dekat stand..
__ADS_1
Suasananya yang masih sangat ramai membuat mood kami semakin bagus, sejak tadi aku selalu tertawa mendengar cerita yang Bayu lontarkan. Entah tentang pengalamannya bertugas atau mengenai teman-temannya. Atau saat dia mendengarku berbicara, mengobrolkan pengalamanku bekerja sambil kuliah. Banyak sekali yang kami obrolkan mengingat sudah lama kami tidak bertemu.
Hingga makanan kami habis, aku dan Bayu masih asik mengobrol melupakan ponselku yang sejak tadi bergetar pertanda ada panggilan masuk. Saat aku mengeceknya sudah ada 8 panggilan tidak terjawab dari Daniel.
“Haloo.. Ada apa?” Aku langsung bertanya saat menelpon balik adikku itu. Dengan gesture tangannya, Bayu pamit
untuk ke toilet sehingga meninggalkanku sendirian di meja.
“Kak, apa kau bersama ibu? Tadi dia pamit tapi sampai malam belum juga pulang. Aku sudah menelponnya tapi tidak di angkat.”
“Tidak.” Daniel berdecak gelisah di sebrang telpon.
“Mungkin ibu sedang di jalan.” Tambahku berusaha menenangkannya.
Setelah bergumam, dia berpamitan dan aku memutuskan sambungan. Anak itu memang sangat menyayangi ibu. Terkadang aku iri karena Daniel bisa mendapat balasan yang sama dari ibu.
Braakkkk!!
Aku hampir melompat kaget saat meja yang aku tempati tergeser sedikit karena seseorang menabraknya. Lelaki itu
beberapa kali meminta maaf dan cepat-cepat berlari menjauh bersama wanita di sampingnya.
Aku yang baru menyadari jika sekarang suasana mall tampak ramai karena orang-orang mulai berlomba-lomba
menuju tangga escalator. Namun masih banyak juga yang sama sepertiku, diam tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Apa mungkin ada diskon besar-besaran di lantai dasar? Atau ada artis yang datang ke mall ini? Tapi ternyata dugaanku salah saat seorang petugas keamanan mall ini menghampiriku.
“Maaf bu, kamu harus segera keluar dari mall ini. Kami akan segera menutupnya. Ada keadaan darurat.”
Aku mengerutkan kening antara tidak mengerti dan masih berpikir. Tapi akhirnya aku mengangguk pelan menduga mungkin saja sedang ada hal berbahaya. Tapi memikirkannya saja sulit di percaya, tidak pernah aku mendengar sekalipun kasus berbahaya di dalam mall, yang notabennya tempat umum.
Setelah mendapat jawabanku, petugas keamanan itu mengangguk dan memperingati pengunjung lain yang hanya diam duduk.
Aku segera membereskan tas selendang kecil yang aku bawa dengan belanjaan yang tadi kami beli, hendak berdiri untuk mencari Bayu tapi lelaki itu sudah sampai di hadapanku.
“Ada apa?” Melihat ekspresi wajahnya yang tampak serius membuatku berspekulasi jika Bayu tidak tahu apa yang terjadi.
“Lebih baik kita keluar dari sini.” Bayu mengambil kantung belanjaannya dari tanganku dan tangannya yang lain mulai menggeggam tanganku erat.
...
__ADS_1