EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 246


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


Kesibukkan kuliahku kembali seperti biasa, setelah pulang kerja menjelang malam, aku berangkat menuju kampus kali ini yang tugas jaga adalah Dika. Kami bertiga sudah sepakat akan membagi tugas pershift, kalau mereka berdua selalu menjagaku dua puluh empat jam, aku mengkhawatirkan kesehatan mereka.


 


 


Pertemuan dengan Talia untuk membahas dokter Cilia harus di tunda karena jadwal kami tidak sama, dia janji akan mengatur ulang setelah kasus yang sedang di kerjakan Talia selesai.


 


 


Jam pulang malam ku kembali, waktu menunjukkan pukul setengah sebelas ketika mobil yang di kendarai Dika sudah mencapai depan gerbang rumah bunda Kirana.


 


 


Wanita itu terus mengatakan kalau aku harus tinggal di rumah orang tua Bayu sementara ketika aku kembali sibuk dengan kegiatan kerja dan kuliah. Bunda tidak tega kalau harus membiarkan aku kembali ke rumah warisan bibi Rose, sendirian. Dia mengatakan kalau kami sudah jadi keluarga jadi aku tidak perlu sungkan.


 


 


Rumah yang di beli Bayu untuk kami tempati masih dalam tahap pemasangan alat keamanan. Dika dan Lucy yang secara langsung mengawasi.


 


 


Begitu sampai di pintu depan, bunda Kirana yang membuka pintu langsung, dia sudah memakai piyama dan segera memberiku pelukan, mengantarku ke kamar milik Bayu, dia sempat menawariku makan malam tapi aku menolaknya dengan halus. Tanpa banyak basa basi, bunda membiarkanku segera istirahat, meninggalkanku di kamar Bayu yang sepi.


 


 


 


 


Begitu memasuki kamar, aroma khas campuran rockrose, patchouli dan aroma buah menghadirkan nuansa segar dan tropical, mengingatkanku akan Bayu, alhasil, aku merasa semakin kesepian. Tapi, aku harus mengingatkan lagi kalau biasanya beginilah kehidupanku, pulang ke rumah yang sepi, namun semenjak Bayu hadir lagi dalam kehidupanku, meski kebersamaan kami singkat, sebelum dia pergi tugas, ada perbedaan jauh yang aku rasakan ketika dia tidak ada.


 


 


Teringat sikapnya yang menyebalkan dengan cengiran konyalnya, salah satu hal yang mulai aku rindukan.


 


 


Namun lamunanku terhenti karena getaran ponsel yang baru saja di letakkan di atas meja samping tempat tidur. Senyumku merekah membaca nama Bayu tertera di layar ponsel.


 


 


 


“Halo.” Sapaku, merebahkan tubuh di atas kasur.


 


 


“Halo sayang. Apa kau sudah sampai rumah?” Suaranya yang menenangkan membuatku seketika terbuai, ingin selamanya memutar suara itu.


 


 


“Ya. Baru saja sampai. Bagaimana denganmu? Apa yang sedang kau lakukan?”


 


 


“Tidak banyak. Sesampainya di sini kami melakukan rapat dan simulasi. Besok kami akan memulai misi.”


 


 


“Semuanya baik-baik saja?”


 


 


“Tentu saja. Semua berjalan lancar. Tapi mulai besok sampai misi selesai aku tidak bisa menelponmu setiap hari.”


 


 


“Padahal kau baru menelponku sekali tapi sudah bilang mulai besok tidak bisa menelponku setiap hari.”


 


 


“Apa dengan begitu kau akan lebih merindukanku?” Aku bisa membayangkan cengiran Bayu.


 


 


“Tentu saja! Aku berhak merindukanmu sebanyak yang aku mau, iya, kan?”

__ADS_1


 


 


Lalu suara tawa kecil terdengar di sebrang telpon. “Aku juga sangat merindukanmu.”


 


 


Sekarang aku tersenyum begitu kata-katanya menghangatkan rongga dadaku, mengusir sepi yang tadi aku rasakan.


 


 


“Oh ya ngomong-ngomong. Ada hal yang ingin aku ceritakan.” Tiba-tiba aku teringat tentang percakapanku dengan Pak Ginanjar.


 


 


Kemudian selama lima menit, aku menceritakan telah mengirim surat pengunduran diri dan menyampaikan gosip-gosip di antara karyawan, juga seseorang yang telah siap untuk menggantikan posisiku.


 


 


Bayu pendengar yang baik, dia tidak menyela tapi memberi reaksi yang memuaskan seperti ‘kurang ajar!’.


 


 


“Memang sih sudah rahasia umum ada semacam konspirasi dalam setiap perusahaan, tapi tetap saja, masa kerjaku bertahun-tahun ini di kalahkan oleh karyawan baru dan karena hak cuti ku.”


 


 


“Apa perlu aku bantu untuk menakut-nakuti mereka? Kau tahu, aku punya teman semacam itu.”


 


 


“Itu tawaran yang menggoda.” Aku tersenyum kecil “tapi tidak, aku akan mencari tahu siapa yang menyebarkan gosip itu.”


 


 


“Lalu apa rencanamu setelah itu? Walaupun nantinya kau tidak bekerja, bagiku tidak masalah.”


 


 


“Sebenarnya ayah Evano memintaku untuk membantunya di perusahaan, mungkin aku akan mulai dari sana. Tapi aku berencana untuk masuk ke perusahaan dari jalur biasa, menunggu interview. Aku tidak ingin menambahkan gosip tentang masuk ke perusahaan besar karena orang dalam.”


 


 


 


 


“Sudah makan?”


 


 


“Tenang saja. Di sini jadwal makan sudah teratur.”


 


 


“Oh lega mendengarnya.”


 


 


“Boo, aku tidak mungkin melupakan makan. Bagi kami, itu seperti tambahan bensin.”


 


 


“Tentu saja, aku tahu kok.”


 


 


“Shh.. itu seperti jawaban tidak aman bagiku.” Aku bisa membayangkan raut wajah Bayu yang mengkerut sembari menatapku curiga. Hal itu membuatku langsung tertawa.


 


 


Selama tiga puluh menit kedepan, aku dan Bayu membicarakan hal-hal konyol. Karena besok pagi kami sama-sama harus bekerja, mau tidak mau akhirnya kami mengakhiri sambungan, dia berjanji akan menghubungi ku lagi secepatnya.


 


 


 


 


 


 


.


..

__ADS_1



 


 


 


 


 


 


Pagi berikutnya, suasana di ruang kantor seketika menjadi suram setelah aku mengatakan pada teman-teman admin tentang surat pengunduran diri, juga beberapa gosip jelek tentangku. Rima yang biasanya update dengan kabar seputar karyawan perusahaan kali ini hanya diam.


 


 


“Mereka dengan mudah menyuruhmu resign? Setidaknya setahun ini kau jarang sekali mengajukan cuti, hampir


tidak pernah.” Tiwi mendesah kaget.


 


 


“Satu minggu untuk serah terima? Enggak akan cukup.” Kiki berdecak kesal.


 


 


“Siapa gantinya? Yudha?” Kali ini Camila yang tanya.


 


 


Aku menggeleng. “Bukan, tapi aku sudah minta Pak Ginanjar untuk mencari tahu. Lagi pula aku tidak ingin keluar dari sini dengan nama jelek. Gosip itu membuat pusat semakin yakin untuk memecatku.”


 


 


“Lalu kepala bagian di cabang lain gimana? Mereka ribut soal pengunduran diri ini?” Bela mendekatiku dan berdiri di samping mejaku.


 


 


“Belum, karena aku mengirimkan surat pengunduran diri itu kemarin malam. Mungkin baru di proses pagi ini.”


 


 


Mereka semua cemberut tapi kemudian Rima menghela napas panjang memberi kami perhatian penuh padanya. “Sebenarnya aku sudah dengar gosip itu kemarin, tapi aku tidak menyangka pusat akan cepat sekali membuat keputusan.”


 


 


“Bagaimana bisa itu tersebar? Apa karena pernikahan ku yang terlalu mendadak?” Tanyaku.


 


 


“Ya, salah satunya. Tapi aku pikir bukan hanya karena itu, ada beberapa orang yang iri padamu, mungkin itu yang membuat gosipnya makin terdengar parah.”


 


 


“Iri? Padaku?”


 


 


“Tolong Cha, kamu enggak sadar selama ini?” Rima mendesah lesu.


 


 


“Bukan enggak sadar, tapi lebih ke menghiraukan.” Jawabku.


 


 


“Pokoknya, mereka iri pada kemampuanmu, pada usiamu yang masih muda dan sudah menjabat jadi kepala bagian. Di tambah, ini…” Rima mengutak atik ponselnya sebentar lalu menunjukkannya padaku.


 


 


Aku menerima ponselnya dan seketika semuanya berlari kecil ke belakangku untuk melihat apa yang ingin Rima tunjukkan.


 


 


Ternyata itu fotoku dan Bayu di atas altar ketika lelaki itu memasangkan cincin padaku, lalu ada foto lain yang menunjukkan aku dan dia sedang saling menatap, melempar senyum lebar dan foto terakhir ketika Bayu merangkul pinggangku protektif, sembari kami tersenyum pada para tamu.


 


 


 


 


...


 


 

__ADS_1


__ADS_2