EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 296


__ADS_3

...


 


 


 


 


Lelaki ini memakai topi hitam dan menyembunyikan sebagian wajahnya, untuk beberapa detik kemudian, kami sama-sama diam, saling menatap, memperhatian detail wajah masing-masing dan aku bisa melihat dengan jelas perubahan raut wajahnya menjadi lebih pucat ketika dia mengerjap, menyadari apa yang terjadi di sini.


 


 


 


“Kapten??” Panggilan heran dua pria di belakang mobil membuat kami sadar akan situasi. Bayu melirik mereka dan aku pun mengikuti arah pandangnya.


 


 


Dua pria yang memakai kaos hitam dan celana cargo abu-abu itu menatap kami bergantian dan salah satunya aku kenal. Wajah itu juga melotot kaget melihatku, untuk sesaat tadi dia tidak mengenaliku.


 


 


“N—nyonya Icha??” Seru Jack. Salah satu anggota tim Shadow, pria yang ahli dalam pengobatan.


 


 


“Gia. Gadis yang bersama denganku ketika penculikan di desa itu. Dia ada di dalam sini. Kita harus segera mengeluarkannya.” Kataku melirik Bayu dan Jack.


 


 


Perasaan lega membanjiri seluruh tubuhku, namun rasa tertekan karena khawatir masih aku rasakan.


 


 


“Jack, kamu cek keadaan mobil di depan sana dan kau, Justin, bantu di sini.” Bayu berbicara cepat. Kedua pria ini mengangguk dan melakukan apa yang lelaki ini intruksikan.


 


 


Ketika pria yang bernama Justin sudah naik dan menatapku penasaran, tatapan Bayu jatuh padaku dengan sorot mata serius dan khawatir, dia berkata, “lalu, kamu, Natasha! Segera turun dari sini!!”


 


 


Aku ingin membantahnya, tapi situasi yang serius ini tidak bisa di kompromi lebih lanjut. Lebih baik aku turun agar mereka berdua bisa dengan cepat membebaskan Gia.


 


 


Tanganku langsung menyerahkan cutter dan gunting padanya, tanpa berkata apa-apa, aku segera turun dari atas tumpukan ban. Polisi yang dari tadi hanya menatap kami segera membantuku turun.


 


 


Bayu dan Justin segera menyingkap terpal itu, namun ada benda lain yang menghambat kami untuk membongkar muatan.


 


 


Jaring untuk menangkap ikan di laut, benda transparan itu yang harus di lepaskan juga. Tapi meski begitu, kali ini kami semua bisa melihat ada seorang wanita di tengah tumpukan ban mobil bekas ini. Terlihat jelas dari rongga kosong di setiap ban itu kalau tubuh Gia sedang terikat.


 


 


Dua lelaki ini sama-sama mengeluarkan pisau lipat dari saku mereka. Benda kecil itu bisa memotong jaring dengan sekali ayunan menandakan kalau itu lebih tajam dari cutter pemberianku.


 


 


 


 


“Hiks... Ka Icha!” Gia terisak menatapku. Dalam sekejap, ban mobil di sekelilingnya sudah di jatuhkan oleh Bayu dan Justin.


 

__ADS_1


 


Selagi mereka melakukan itu, aku kembali naik untuk menarik Gia agar segera turun. Meski tubuh dan tangannya terikat oleh tali, kakinya tidak. Tepat saat aku sedang menariknya dan dua pria ini masih menyingkirkan tumpukan ban, Jack berlari menghampiri kami dengan wajah pucat.


 


 


“Aki mobilnya sudah di amankan tidak akan meledak tapi ada gas bocor dari bus, dan itu lebih berbahaya! Akan ada ledakan besar kalau itu terjadi. Kita harus menjauh sekarang juga! Ayo!!”


 


 


Gia panik dan aku pun refleks menarik Gia semakin cepat agar dia bisa keluar. Bayu dan Justin masih berusaha membantu menyingkirkan benda bulat itu, polisi yang menemani kami sedang mengamankan penonton agar tidak mendekat. Jack bergabung denganku untuk membantu Gia keluar.


 


 


“Cepat cepat cepat! Suara bocor gasnya semakin cepat!!” Jack berseru panik. Aku bisa mendengar suara itu juga.


Kekhawatiran ku kali ini berubah tujuan pada Bayu. Lelaki itu masih ada di atas tumpukan ban mobil sedangkan Justin sudah turun dan membantu menurunkan dari sisi mobil.


 


 


 


“Kamu, turun sekarang!!” Teriakku.


 


 


Bayu melirikku dan menjawab, “biar kami yang menariknya. Kamu menjauh sekarang!”


 


 


“Tidak!!” Jawabku cepat. Dia sudah turun dan membantu menyingkirkan ban dari sisi yang berlawanan dari Justin.


 


 


“Ini bukan waktunya untuk berdebat!” Katanya marah.


 


 


 


 


“Rencanamu empat bulan lalu, ketika kau ingin aku pura-pura terkejut saat kau datang nanti.” katanya mengingatkanku, “hebat sekali! Aku benar-benar terkejut dengan kedatanganmu. Sangat terkejut!”


 


“Bibi ini senang melihat paman terkejut.” Jawabku kesal.


 


Bayu cemberut dan mendesah keras mendengar aku yang memanggilnya paman. Itu adalah salah satu petunjuk sejak dulu, kalau kami sudah saling memanggil dengan sebutan paman dan bibi, itu artinya kami sedang serius bertengkar.


 


 


Seelum pertengkaran kami berlanjut, akhirnya kami bisa memegang Gia, menarik gadis itu keluar dari tumpukan ban dengan Jack yang berseru agar kami segera menjauh.


 


 


Gia di bantu oleh Jack dan Justin untuk berlari, telingaku bisa mendengar suara gas yang bocor itu semakin cepat, jantungku seolah naik hingga tenggorokkan. Lalu tangan besar milik Bayu meraih tangan kiriku.


 


 


Telapak tangannya terasa dingin dan basah, dia menarikku sekuat mungkin untuk berlari menjauh.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


DUAAARRRR!!


 


 


 


 


Ledakan besar terjadi dari bus.


 


 


 


 


DUAAARR!


 


 


Ledakan lain juga menyusul yang aku duga dari mobil pickup.


 


 


Aku sadar kalau sekarang dua tangan Bayu memelukku erat-erat, melindungiku saat dua ledakan itu terjadi. Dia menjatuhkan kami berdua untuk tiarap, tubuh jangkung dan besarnya menghalangiku dari ledakan itu, di iringi dengan jeritan samar orang-orang di sekitar kami, panas yang menyengat langsung terasa dari arah bus dan mobil pickup.


 


 


Tidak bisa di percaya semua kejadian itu terjadi saat menjelang siang, terlebih lagi terjadi di perempatan jalan raya! Aku pikir awalnya ini memang kecelakaan, tapi dengan adanya Gia di antara  tumpukan ban itu, aku yakin kalau semua ini sudah di rencanakan.


 


 


“Icha?! Hei!! Kau baik-baik saja ‘kan?!” Bayu mengguncang bahuku setelah dia menarikku untuk duduk.


 


 


Aku mengerjap dan menatap kebelakang punggung Bayu di mana kobaran api itu melaham bus dan mobil. Warna terang oren dan asap yang mengepul hitam tertiup angin semakin menambah intensitas kobaran api. Lalu mataku melirik wajah Bayu yang berkeringat dan pucat. Dia balas menatapku khawatir.


 


 


Semua yang aku pikirkan seolah tertahan di tenggorokkanku hingga membuatnya sakit. Tidak bisa di bayangkan apa yang terjadi jika tadi kami tidak keluar dari bus.


 


 


Tanganku terangkat untuk menarik lengan Bayu, menyandarkan kepalaku di dadanya dan melingkarkan kedua tanganku di sekitar perutnya. Memeluknya erat-erat dan mendesah lega.


 


 


Lelaki ini balas memelukku, membungkus punggungku dengan satu tangan dan tangan lain membelai leher belakangku. Suaranya yang berat sarat akan perasaan kaget menggema di puncak kepalaku, “akhirnya kamu ada di pelukanku.”


 


 


“Bayu, aku takut.” Bisikku dengan suara serak menahan kengerian ledakan itu.


 


 


“Tidak apa-apa. Kamu aman sekarang.” Jawab Bayu menenangkanku, “selama kau ada di sampingku, di sini, di kota yang sama denganku, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu.”


 


 


Aku melepaskan pelukannya, ingin menatap wajahnya lebih dekat. Lelaki ini menunduk, tersenyum kecil sembari mengusap sisi wajahku, menghapus titik keringatku dengan jari tangannya.


 


 


 


...

__ADS_1


 


 


__ADS_2