EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 124


__ADS_3

...


 


Sekarang aku sedang berbaring sendirian di atas kasur, di kamar, di rumah peninggalan bibi Rose yang selalu sepi. Suara kendaraan dari kejauhan terdengar dan malam ini susah sekali untuk ku tidur.


Setelah tante Yuan dan bibi Nuri pulang tadi, aku segera membuka isi amplop coklat besar yang diberikan Bayu, tentang grup Eternity. Berkas-berkas di dalamnya lengkap dan mudah di mengerti.


Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa menyadari aku ternyata memang ada hubungannya dengan perusahaan itu.


Pemilik Eternity grup adalah Alvaro Markus Danendra. Lelaki itu memiliki tiga orang anak. Anak laki-laki pertamanya bernama Evano Kavin Danendra, lalu anak kedua perempuan bernama Kenzie Latinka Danendra dan anak ketiga lelaki bernama Kenzo Elvan Danendra.


Kenzie sudah menikah lima tahun lalu dengan pemilik pengusaha lain tapi mereka belum punya anak. Lalu Evano, lelaki itu ternyata adalah suami bibi Rose, di katakana dalam berkas itu kalau ternyata setelah mereka menikah bibi Rose tidak bisa memiliki anak, maka Alvaro mengatur untuk menikahkan lagi Evano dengan wanita lain.


Dia adalah Mona Keilani, sahabat bibi Rose sejak kecil juga yang ternyata adalah ibu kandungku. Namun Mona meninggal dunia setelah melahirkanku. Karena Evano adalah penerus perusahaan Eternity, lelaki itu harus memiliki keturunan untuk meneruskannya.


Alvaro, -kakek ku- yang tahu aku lahir, segera merubah nama kepemilikan hartanya atas namaku. Natasha Icha .D.


Bukan Natasha Icha Davindra yang selama ini menjadi nama lengkapku, tapi ternyata Natasha Icha Danendra.


Tapi, saat aku masih umur beberapa bulan, Evano mengalami kecelakaan hingga dia lumpuh, tidak bisa jalan. Dia tahu apa yang terjadi padanya bukan kecelakaan biasa, maka dia meminta bibi Rose untuk membawaku jauh dari keluarganya.


Bibi Rose yang juga menjadi incaran tidak ingin membiarkanku jatuh ke tangan mereka, jalan satu-satunya adalah menitipkan aku pada ibu. Membiarkan aku memakai nama Davindra dalam kartu identitas.


Dan lagi, semua warisan yang bibi Rose berikan padaku sebenarnya itu sebagian kecil yang Evano titipkan untuk hidupku. Tidak heran saat aku ingin merubah nama kepemilikan tanah, uang dan rumah ini aku harus mendapat persetujuan dari mereka.


Mendapat kenyataan ini rasanya seperti mimpi bagiku. Terlalu rumit dan tidak bisa di percaya.


Perebutan harta hingga menyingkirkan ahli waris terdengar seperti cerita di dalam drama.


Tapi kenapa harus sekarang? Setelah hampir dua puluh empat tahun ini. Mengetahui hal ini membuatku tidak ingin berurusan dengan mereka karena aku tahu, aku akan mendapatkan masalah lebih besar kalau masuk ke dalam lingkaran mereka.


Lalu ada profil lain yang wajahnya terlihat familiar.


Aku ingat, seorang pria yang datang menemuiku waktu itu di depan restoran saat aku janji bertemu dengan pak Seno, ibu dan Daniel. Pria itu ternyata adalah orang kepercayaan Evano di perusahaan. Wildan Mahendra.


Membaca semua ini aku jadi bertanya-tanya dalam hatiku, kenapa bibi Rose tidak pernah mengatakannya padaku.


Kenapa mereka baru mencariku sekarang?


Dan kenapa harus seperti ini aku mengetahui semuanya!

__ADS_1


Sekarang kepalaku berdenyut sakit, pusing memikirkan ini semua tapi yang pasti adalah hatiku mengatakan aku tidak ingin ikut campur dengan mereka.


Aku sudah dewasa dan aku akan menentukan masa depanku sendiri.


***


“Selamat pagi!”


“Pagi!” Aku tersenyum lebar ketika keluar dari pintu gerbang, Bayu sudah berdiri di samping mobil Jeep hitamnya.


“Oh kacanya sudah di perbaiki?” Tanyaku basa basi sembari mengunci pintu gerbang.


“Yaa, di perbaiki dengan cepat.” Jawab Bayu.


“Bagaimana tidurmu?” Tanyanya lagi setelah aku ada di hadapannya.


“Tidak bisa tidur.” Aku menjawab jujur.


“Sudah aku duga. Maka aku akan mengantarmu ke kantor hari ini dan akan menjemputmu nanti.” Bayu membuka kursi penumpang bagian depan untukku.


“Aku akan mulai sibuk lagi hari ini.” Kataku sembari masuk ke dalam mobilnya. Bayu berlari memutar dan masuk duduk di depan kemudi.


“Dan sepertinya pagi ini aku akan di pecat karena sudah lama izin bekerja.” Tambahku lagi sembari memasang sabuk pengaman.


“Kalau aku benar di pecat, kau harus siap menanggung biaya hidupku!” Aku berseru semangat.


Bayu mulai menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gasnya, menjawab. “Aku sudah siap! Apapun untukmu.”


Aku tidak bisa menahan senyumanku, pagi-pagi lelaki ini sudah merayuku seperti ini. “Baik! Aku mengandalkanmu!”


“Hehehe. Jadi kau sudah membaca hasil penyelidikan yang aku kasih kemarin? Sekarang apa yang akan kau lakukan?”


Aku terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaannya. Menatap keluar jendela, melamun dengan rencana yang aku pikirkan kemarin malam untuk mengacuhkannya saja.


“Aku—“


“Biar aku tebak!” Bayu menghentikan ucapanku. Aku meliriknya penasaran.


“Kalau aku menebaknya dengan benar, kabulkan tiga permintaan dariku.”


“Kenapa tiga? Ini hanya satu pertanyaan!” Aku protes. Bayu menggeleng, matanya berkonstrasi menatap ke depan.

__ADS_1


“Baiklah dua.”


“Satu!”


“Tiga!”


“Dua—eh tidak satu!!” Dia menjebakku!


Bayu tertawa puas karena aku menyetujui dua permintaannya. “Dua permintaan! Kau yang mengatakannya.”


“Isshhh… Oke dua kalau tebakkanmu benar!”


Bayu masih terkekeh dan melirikku sekilas sebelum menjawab. “Sekarang kau berpikir untuk tidak memikirkan itu dan hanya ingin menyelesaikan pekerjaan dan tugas kuliahmu. Sebenarnya kau tidak ingin terlibat dengan mereka, hanya ingin hidup seperti biasanya.”


“Kau—“


“Tapi, pikiranmu akan kembali bimbang kalau ada orang dari grup Eternity dating menemuimu. Kau tidak bisa mengabaikan keluarga kandungmu sendiri. Dan kau membutuhkan jawaban dari mereka tentang apa yang kau pikirkan.” Selanya benar-benar mengerti apa yang aku pikirkan.


“Tebakkanku benar ‘kan?”


“Jadi kau benar-benar turunan vampir, eh? Aku sampai merinding.” Bayu tergelak mendengar pertanyaanku.


“Tapi tunggu dulu! Aku akan menebak sesuatu! Kau datang ke sini menjemputku karena ada hal lain yang ingin kau katakan!” Aku cepat-cepat merespon yang langsung membuat tawa Bayu terhenti.


Lelaki ini melirikku. “Kau tahu dari mana?”


Aku tersenyum senang dan bangga. “Aku sudah bisa membaca raut wajahmu.”


“Kenapa aku yang merinding sekarang.” Gantian, aku yang tergelak mendengar Bayu bergidik ketakutan padaku.


“Kalau aku bisa menebak, kabulkan tiga permintaan dariku!” Aku mulai meniru gaya bicaranya tadi.


“Sayang, kau mau balas dendam ya? Sekarang gantian aku yang akan berkata ‘Kenapa tiga? Ini hanya satu pertanyaan’” Mendengar suara Bayu yang meniru suaraku tadi membuatku tertawa keras sampai sudut mataku mengeluarkan air.


“Hahaha. Baiklah, dua agar adil.”


Bayu mendengus kesal tapi akhirnya dia menyetujuinya juga. “Oke. Coba tebak apa yang akan aku katakan?”


Aku menatap wajah serius Bayu dari samping, berusaha menebak apa yang akan dia katakan. Namun perasaan tentang dia akan berbicara mengenai kakeknya begitu kuat sekarang, aku tidak tahu dari mana datangnya perasaan ini tapi aku benar-benar yakin dengan tebakkanku.


“Ini tentang kakekmu ‘kan? Tentang acara yang akan di adakan akhir minggu ini. Kau ingin membicarakan tentang hal itu.”

__ADS_1


 


...


__ADS_2