EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 303


__ADS_3

...


 


 


 


 


Jam pagi ini menunjukkan pukul enam dan di apartemen ini aku sedang sendirian, karena setengah jam lalu Bayu pamit untuk olahraga sekaligus akan mencari sarapan untuk kami.


 


Lalu, suara pintu depan yang terbuka membuatku langsung berbalik dan lari menyambutnya.


 


 


Sebelah tangan kanannya menutup pintu di belakang punggung dan tangan kirinya menenteng kantung plastik hitam, matanya melihatku berlari ke arahnya, untuk alasan yang tidak kami mengerti, aku tiba-tiba saja menabraknya dan Bayu sudah merentangkan dua tangannya menyambutku, seolah kami tidak bertemu selama berbulan-bulan.


 


 


“Apa yang kau bawa?” Tanyaku ceria dan lega sembari memeluk lehernya, membiarkan dia mengangkatku sebentar hingga kakiku melayang.


 


 


“Kapurung. Berbahan dasar ikan peda.” Jawabnya singkat. Sebenarnya aku tidak begitu penasaran dengan sarapan kami, tapi aku lebih merindukan suaranya yang lembut di samping telingaku.


 


 


Lalu aku segera melepaskan pelukan kami, turun dari dekapannya dan mengambil alih kantung plastik yang di bawanya dan menuntunnya ke meja counter dapur.


 


 


“Ayah baru saja menelponku, Dika dan Lucy sudah di kirim ke sini.” Kataku melapor dengan cemberut.


 


 


“Sudah aku duga.” Bayu mengangguk, “tapi aku juga akan lega kalau ada mereka sementara aku kembali kerja.”


 


 


“Jadi, tugasmu dua bulan lagi di sini ‘kan? Setelah itu kita akan pulang?” Tanyaku penuh harap sembari membuka sarapan kami.


 


 


Bayu mengangguk, “dari surat tugas memang seperti itu.”


 


 


“Hari ini kau akan menjelaskan semuanya padaku ‘kan?” Tanyaku lagi mengingatkannya soal dokter Cilia.


 


 


Bayu menatapku, sesaat dia melamun sebentar dan kemudian mengangguk, “ya.”


 


 


“Kau terlihat ragu untuk sesaat.” Aku meledeknya sembari berdecak.


 


 


Lelaki ini terkekeh pelan, tangannya meraih tanganku untuk di genggam dan dia mengatakan, “kau mengenalku dengan baik, eh? Aku memang ragu tapi aku sudah janji. Bagaimanapun ini ada hubungannya denganmu, jadi kau juga berhak tahu.”


 


 


“Senang mendengarnya.” Aku mengangguk puas, “ayo cepat sarapan. Setelah kau siap-siap aku ingin mengantarmu berangkat.”


 


 


 


 


 


.


..


...


 


 


 


 


 


 


“Kau yakin hapal jalan pulang?” Untuk ke lima kalinya Bayu bertanya padaku dengan kening berkerut, khawatir.


 


 


“Aku beneran hapal! Kalau gitu, sampai jumpa nanti sore!” Aku melambai dan hendak berbalik tapi lagi-lagi Bayu menahan tanganku.

__ADS_1


 


 


Dia menarik tanganku dan menggeleng ketika aku menatapnya, “tidak! Aku tidak tenang! Lebih baik aku minta temanku untuk mengantarmu.”


 


 


Aku menyentuh dadanya, menepuk-nepuk dengan pelan sembari berkata, “aku akan baik-baik saja. Kau percaya padaku ‘kan?”


 


 


Bayu mengangguk patuh, sesaat aku melirik sekilas orang-orang berpakaian sama dengannya sedang menuju pos pemeriksaan, mereka sempat melirik kami ingin tahu.


 


 


 


“Aku akan mengabarimu kalau sudah sampai rumah.”


 


 


“Aku tahu niatmu mengantarku sampai depan kantor. Setelah ini kau akan berkeliling mencari tahu tempat-tempat yang kau inginkan. Ini hari kedua mu di sini dan kamu ingin melakukan semua itu?!” Aku terkekeh dan  mengangguk.


 


 


“Apa terlihat jelas?”


 


 


“Sangat!”


 


 


“Kalau gitu, apa boleh?” Tanyaku melangkah lebih dekat padanya dan dengan sengaja Bayu menyentuhkan dahinya ke dahiku sembari menunduk, lalu tangannya mencubit hidungku dengan gemas.


 


 


“Kamu memang agak nakal, huh! Aku tidak bisa terus menahanmu. Kau harus hati-hati. Kota ini tidak seaman di kota tempat kita berasal.”


 


 


Aku melangkah mundur, dengan tegap menghadapnya dan menjawab penuh semangat, “Yes, sir!”


 


 


“Hmm...” Bayu mengangguk puas, menerima sikapku.


 


 


 


 


“Kau lupa sesuatu.” Katanya sebelum aku protes.


 


 


“Apa??” Aku benar-benar bingung.


 


 


Bayu menunjuk pipinya dengan seringaian jahil. Seketika wajahku memanas. Refleks aku melirik ke sekitar dan orang-orang kantornya yang sejak tadi terus berdatangan menatap kami.


 


 


Lalu sebuah ide jahil untuk membalasnya terpikir di kepalaku, aku dengan cepat mengangkat kedua tanganku untuk menangkup wajahnya, sedikit menariknya agar lebih menunduk dan mengecup sekilas bibirnya.


 


 


Bayu seolah mematung di tempat, dua tangannya kaku di samping tubuhnya, sebelum dia sadar, aku melepaskan ciuman kami dan bergerak mundur, melambai sekali lagi dan berkata dengan cerah, “sampai jumpa!”


 


 


Aku tertawa puas sembari berlari kecil menjauhinya, membayangkan pagi ini orang-orang kantornya akan bergosip tentangnya, dia akan jadi bahan pembicaraan.


 


 


“Hati-hati!!” Bayu berteriak, aku berbalik melihatnya dan balas melambai.


 


 


Jarak kami semakin jauh tapi gerakan bibirnya tanpa suara masih bisa aku lihat. Dia mengatakan ‘nakal’, hal itu semakin membuatku puas tertawa.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


 


***


 


 


 


 


Sudah lebih dari satu jam aku berada di pasar, membeli beberapa bahan makanan seperti sayur, daging dan bumbu. Selain itu, banyak makanan yang asing, tentu saja aku tidak mau melewatkan itu.


 


 


Setelah puas dan kenyang juga lelah, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke apartemen menggunakan taksi. Bagaimana pun aku belum berani menggunakan angkutan umum.


 


 


Mobil taksi mengantarku sampai depan gedung apartemen, aku membawa banyak barang bawaan dan sempat menarik perhatian penghuni apartemen lain yang sedang ada di depan gedung, sampai aku tidak sengaja menabrak seseorang yang hendak keluar.


 


 


“Maaf!” Aku berseru kaget, buru-buru memungut belanjaan yang sebagian berjatuhan.


 


 


“T-tidak apa-apa.” Katanya dengan suara serak seolah habis menangis. Aku mendongak menyadari dia adalah seorang wanita yang mungkin lebih tua beberapa tahun dari ku. Jelas sekali aku melihat ada luka memar di sudut bawah matanya dan sudut bibirnya.


 


 


“Kau tidak apa-apa?” Tanyaku, melupakan sesaat belanjaan yang sedang aku kumpulkan.


 


 


Wanita ini sadar kalau aku sedang memperhatikannya, dia menunduk semakin dalam, membantuku memungut kantung kresek dan segera menyerahkannya padaku lalu berjalan cepat melewatiku tanpa mengatakan apa-apa lagi.


 


 


Aku sempat menatap kepergiannya, berpikir dari mana luka-luka itu? Sepertinya itu mirip luka pukul.


 


 


Lamunanku terbuyarkan saat merasakan ponsel di saku celana bergetar, karena dua tanganku penuh maka aku cepat-cepat masuk ke dalam gedung, menuju lift, menduga pasti Bayu yang menelponku.


 


 


 


 


 


 


 


 


***


 


 


 


 


Ada satu kebiasaan atau tradisi di gedung apartemen ini saat sore menjelang malam tiba. Aku lupa menanyakannya pada Bayu, tapi untungnya hari ini aku tidak sengaja tahu, itu pun karena kelewat penasaran, aku bolak balik keluar masuk gedung hanya untuk mengunjungi tempat-tempat tertentu yang menjual makanan aneh setelah mencarinya di internet dan bertemu beberapa wanita penghuni apartemen gedung ini.


 


 


Mereka mengatakan kalau semua wanita di gedung apartemen akan keluar di sore hari untuk menyambut suami mereka pulang.


 


 


Ya! Gedung ini semuanya di tempati oleh keluarga dari para tentara yang bertugas di kota ini.


 


 


Memikirkan itu, aku senang karena Bayu memilih tempat ini. Selain aku tidak akan merasa asing, di sini juga banyak orang yang setidaknya satu perjuangan.


 


 


Jadi ketika sore pukul lima tiba, aku keluar dari apartemen dan turun ke lantai bawah. Nyatanya sudah ramai di luar gedung, depan parkiran.


 


 


 


 


...


 

__ADS_1


 


__ADS_2