EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 332


__ADS_3

...


“Beneran kamu rela membiarkan aku pulang duluan dengan bunda?” aku bertanya setengah bercanda untuk menggodanya siang ini, di jam istirahat, Bayu kembali ke rumah sakit untuk mengantarku dan bunda sampai ke bandara, agar perjalanan kami lebih cepat di bandingkan dengan naik bus.


Semua pakaianku yang ada di apartemen sudah di kemas oleh Lucy sebelumnya. Melihat koperku sudah ada di bagasi mobil, berarti Bayu memang sudah merencanakan kepulanganku sejak beberapa hari lalu.


“Aku enggak mau sendirian di sini, tapi tugas dinas berakhir sekitar seminggu lagi, jadi tidak akan lama. Kamu pulang duluan sama bunda, lebih aman di sana karena kakek, ayah Evano, paman Kenzo dan tante Kenzie akan menjagamu, hm? Pokoknya aku akan pastikan Wendy di tangkap sebelum hari terakhir tugas dinasku.”


Katanya sembari merangkulku saat kami berdua sedang ada di tempat parkir basement, di depan mobil yang bagasinya terbuka untuk memasukkan koper bunda serta beberapa bungkusan.


Bayu juga sempat mengatakan kalau jalur pesawat sudah di buka siang ini setelah gempa kemarin, memang tidak ada kerusakan yang parah di kota, tapi tetap ada perbaikan dan tim penyelamat yang siaga. Untungnya pusat gempa jauh dari kota ini.


Lalu pandanganku teralihkan pada bunda yang sedang mengobrol serius dengan ayah Rasha tak jauh di tempat kami, aku tidak bisa mendengarnya tapi ayah Rasha akan menemani Bayu di sini sampai akhir bulan.


“Selain Lucy dan Dika yang akan menemani kalian pulang, akan ada 2 orang lagi yang mengikuti dari belakang sampai kalian benar-benar masuk pesawat. Setelah kalian mendarat, akan ada 2 orang lagi menunggu untuk menemani kalian sampai ke rumah.” Bayu mengingatkan lagi.


Aku hanya mengangguk, tidak semangat dengan tambahan 4 keamanan. Sekarang aku hanya fokus untuk sepuasnya mengisi baterai kebersamaan kami.


Sebelah tangan kami yang sejak tadi saling menggenggam erat tidak ingin melepaskan menarik perhatianku. Bahkan hal kecil seperti ini saja membuatku tidak ingin kehilangan. Aku mendesah kecil, benar-benar tidak ingin pulang sendiri, secara teknis memang berempat.


Suara kekehan Bayu membuat genggaman tangannya lepas dariku. Aku mendongak, hendak protes padanya tapi lelaki ini beralih mengusap kepalaku dengan lembut.


“Ekspresimu ini, terlihat jelas kamu tidak ingin pulang.” Dia meledek.


“Aku.tidak.mau.pulang.” Jawabku penuh penekanan.


Keningku berkerut dalam, menatapnya penuh ancaman. Tapi lagi-lagi Bayu justru tertawa dengan responku.

__ADS_1


“Ya aku tahu itu, aku juga cinta kamu.” Cengirannya membuatku kesal sekali, dia pura-pura tidak mendengarkan.


“Hei!!”


“Anak-anak…” Bunda menginterupsi kekesalanku.


“Ayo jalan.” Ayah Rasha melanjutkan, dia memutuskan untuk membuka pintu kemudi diikuti bunda yang menempati jok depan penumpang.


Bayu menarikku mendekati pintu penumpang belakang di mobil yang sama dengan ayah Rasha dan bunda, aku sempat melirik Dika dan Lucy, mereka menuju mobil lain di belakang yang baru aku sadari sudah ada di sana, sekilas melihat dua orang lain ada di jok depan mobil itu, berarti mereka adalah keamanan tambahan yang Bayu maksudkan tadi.


Aku yang sudah pasrah dengan tarikan Bayu agar segera masuk mobil, hanya bisa menghembuskan napas panjang, tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


.


..


Suara wanita dari pengeras suara yang menginformasikan pesawat yang akan segera berangkat, terdengar menggema di seluruh gedung ini.


Bandara adalah tempat yang ramai, hal itu membuat empat orang yang menjaga kami semakin waspada dengan orang-orang yang mendekat.


Moodku benar-benar tidak bagus hari ini, sejak tadi aku yang cemberut hanya menunduk, memainkan cincin pernikahan kami di jari manis ku. Itu adalah cincin yang di pasangkan oleh Bayu saat acara pemberkatan.


Lalu mataku melirik cincin lain di jari telunjukku, cincin hitam yang di desain dan di pesan khusus oleh Bayu. Pola daun semanggi yang membuat cincin itu tampak mewah. Aku sangat ingat di mana dia memberiku cincin ini, di tempat parkir saat mengantarnya untuk tugas dinas waktu itu.


Dua cincin itu terpasang di tangan kiriku, lalu di tangan kananku ada dua cincin lagi, itu juga cincin pemberian Bayu saat dia melamarku 2 kali, dengan cincin berbeda. Aku memang belum pernah memakai semua cincin itu sekaligus, tapi karena sedang kesal dengannya, aku sengaja memakai semua itu.


Dari sudut mataku, aku tahu Bayu diam-diam melirik tanganku, dia juga sempat terkekeh kecil dan berhenti, memasang ekspresi biasa sebelum aku memergokinya.

__ADS_1


Dia tahu aku sedang kesal, jadi sejak kami sampai di bandara, dia tidak mengatakan apapun lagi, hanya menemaniku dari samping.


Bunda dan ayah Rasha masih mengobrol serius tak jauh dari kami, tidak ada yang mengganggu mereka sejak tadi.


Bosan harus menunggu, mataku yang memperhatikan bagaimana perbedaan tanganku dan Bayu agak menarik. Telapak tangan kirinya yang ada di atas lututku terlihat besar, aku membandingkannya dengan tangan kananku yang ukurannya lebih kecil. Lalu aku melepas cincin saat pemberkatan kami, menarik tangannya untuk mengukur jarinya. Cincin yang pas di jari manisku justru hanya pas di jari kelingkingnya.


Bayu yang sejak tadi memperhatikan mulai berkata, “sayang, cara kamu protes itu imut.” Matanya menatap jari-jari tanganku.


“Aku.enggak.mau.pulang.” Aku merengek, menempelkan wajahku ke lengannya.


Namun kali ini yang aku rasakan justru telapak tangan Bayu menyentuh perutku, dia mengusap-usap perutku sembari berujar, “ini pasti ada campur tangan anaknya ayah yang buat ibu merengek gini ya dari tadi.”


Jantungku berdetak kencang, rengekan dan mood kesal yang sejak tadi aku rasakan langsung menguap mendengar suara lembut itu di tujukan pada perutku. Baru kali ini Bayu berbicara untuk anak kami. Aku terharu tapi terasa asing dengan sisi Bayu yang seperti ini.


Mataku tidak lepas menatap wajah Bayu, dia sedang tersenyum kecil sembari tangannya masih mengusap perutku yang masih rata namun agak keras. Lalu dia melanjutkan, “sayangnya ayah, sabar ya, ayah pasti pulang cepat. Jadi jangan buat ibumu susah. Ini perintah!” aku tergelak, tertawa mendengar bagaimana nada bicara Bayu di akhir kalimat berubah tegas dan serius, mengingatkan aku saat Bayu berbicara pada tim shadow.


“Ho… syukurlah, akhirnya aku bisa lihat kamu ketawa.” Bayu tampak puas menatapku.


Aku tidak bisa lagi kesal padanya. Aku akhirnya menyerah dan memutuskan untuk memeluk pingganya dengan erat, menyembunyikan wajahku di dadanya.


Bayu sepertinya puas, dia balas memelukku sembari mengecup keningku beberapa kali, karena kenyamanan ini, tiba-tiba mataku terasa berat, aku tidak sadar kalau jatuh tidur di ruang tunggu bandara ini.


Namun ketika kesadaranku di tarik dan akan masuk ke dunia mimpi, sesuatu dari purutku naik dengan cepat ke tenggorokkan. Aku refleks membuka mata, menutup mulutku dengan kedua tangan dan keluar dari pelukan hangat Bayu.


...


.

__ADS_1


__ADS_2