
...
Begitu pintu tangga darurat di buka, ternyata sangat sepi membuat suara langkah sepatu kami terdengar lebih mencekam.
Tapi aku beruntung karena Lucy dan Dika menjagaku dengan hati-hati. Sikap mereka tidak ada yang berlebihan dan sesuai porsinya.
Kami yang menuruni anak tangga di tengah kegelapan terasa lebih lama dan panjang.
BRAAK!
Seseorang tiba-tiba membuka pintu tangga darurat di lantai 4. Refleks Lucy mundur menghalangiku dan Dika yang sudah siap dengan tangan di belakang punggungnya.
“Oh ya ampun! Ada orang juga ternyata.” Itu suara wanita bersama pria di belakangnya.
Barulah aku menghela napas lega karena itu wanita ternyata Indah bersama suaminya. Wanita yang sempat mengobrol denganku saat minggu partama aku tiba di sini.
“Eh Icha.”
“Halo bu Indah.” Sapa ku.
Indah dan suaminya yang masing-masing memegang senter di ponsel mereka menyoroti kami. “Icha juga mau ke bawah?”
“Iya. Kami sedang menuju ke luar gedung.”
“Wah sama dong. Ayo bareng.” Indah langsung mendekatiku dan merangkul tanganku.
Akhirnya kami berlima melanjutkan perjalanan kami, suami Indah yang mengikuti kami dari belakang kemudian bertanya, “bu Icha, pak Bayu sedang lembur malam ini?”
Aku melirik sekilas pada suami bu Indah, meski tidak setinggi Bayu, tapi dia memiliki otot dada dan lengannya yang besar.
“Iya kebetulan sedang lembur. Tapi memangnya malam ini ada jadwal pemadaman listrik?” Tanyaku.
“Setahu kita sih engga, iya ‘kan, pah?” Indah bertanya pada suaminya.
“Iya. Tidak ada. Meskipun ada pemadaman listrik harusnya jenset langsung menyala.” Seperti yang Dika duga tadi.
“Tapi kenapa jaringan seluler ponselnya hilang ya?” Aku bermaksud mengkonfirmasi kalau bukan aku saja yang jaringan selulernya hilang.
“Yaa betul! Kenapa ya jaringannya hilang?” Indah berseru, mengingat hal itu.
Aku mengangguk pelan, agak lega ternyata semua orang di sini juga jaringan selulernya hilang, bukan hanya kami. Itu berarti keanehan ini akan cepat terungkap.
Tidak butuh waktu lama, kami semua akhirnya bisa sampai ke luar gedung. Suasana yang gelap sangat berbeda karena di sini cukup berisik.
__ADS_1
Orang-orang juga mempertanyakan kenapa jaringan seluler mereka hilang. Banyak dari mereka sudah menyalakan senter, jadi aku merasa lega dan agak tenang.
Ketika suami Indah mulai meninggalkan kami untuk mencari informasi, Indah dan aku memutuskan untuk diam di dekat gerbang keluar bersama Dika dan Lucy.
“Apa hal ini pernah terjadi sebelumnya?” tanyaku pada Indah.
“Belum pernah ada kejadian sampai jaringan seluler semua orang hilang. Apa jangan-jangan ada bencana alam sebentar lagi?” Suara Indah semakin mengecil di akhir kalimat.
Aku mengerutkan kening, merasa dugaan Indah tidak mustahil. Hal itu membuat ke khawatiranku pada Bayu semakin besar.
Lalu tak lama setelah itu, Indah pamit untuk mencari suaminya, sekarang tinggal lah Dika dan Lucy bersamaku. Keduanya tidak menurunkan penjagaannya meski ada beberapa orang yang sempat mengajak mereka berbicara.
Aku masih menduga-duga apa yang terjadi, hingga seruan beberapa orang di sekitarku menyadarkanku dari lamunan.
“Nyonya, jaringan seluler sudah kembali.” Ujar Lucy di iringi dengan suara-suara notifikasi yang saling bersahutan di sekitarku.
Aku juga ikut mengecek ponsel, memang benar kalau jaringan sudah kembali. Dan tak lama kemudian tiba-tiba listrik di sekiar kami menyala membuatku menutup mata karena cahaya yang menyilaukan.
Semua orang bergumam syukur karena semuanya kembali normal, begitu pun dengan ku, menghembuskan napas lega.
Ketika semua orang sibuk berjalan masuk ke pintu gedung apartemen, suara mesin mobil yang familiar di telingaku mengalihkan perhatian kami sesaat.
Senyum ku mengembang begitu melihat mobil jeep yang biasa di bawa oleh Bayu memasuki area parkir depan gedung.
“Katanya listrik padam di daerah ini? Aku tidak bisa menghubungi kalian.” Ujar Bayu berjalan mendekati kami.
“Selain listrik, jaringan seluler semua orang menghilang sebentar tadi.” Jawabku.
Ada kerutan heran di kening Bayu mendengar jawabanku, “tapi tidak terjadi apa-apa ‘kan?”
“Tidak.” Jawabku tersenyum kecil, menenangkannya.
“Baiklah, kalau gitu, Dika, Lucy, kalian kembali lah, istirahat. Terima kasih karena sudah menemani Icha sampai malam.”
“Baik pak!” Jawab mereka kompak.
“Oh dan, sebelum kalian kembali.” Suara Bayu mengecil, hampir berbisik dan melanjutkan, “tolong periksa rekaman CCTV di daerah sini sebelum pemadaman listrik. Laporkan besok.”
“Baik pak!” keduanya mengangguk, memberi hormat sebentar dan mereka pamit, meninggalkan kami.
“Apa kau mencurigai sesuatu?” Tanyaku, masih menatap punggung dua orang itu yang semakin menjauh menuju pos keamanan,
Sebelah tangan Bayu merangkul bahu ku, dagunya bersandar di atas kepala ku dan menjawab pelan, “Wendy, kau sudah dengar laporan mereka ‘kan? Hari ini kami memang berburu menangkap organisasinya tapi Wendy belum di temukan.”
__ADS_1
“Apa kau lembur karena sedang menangkap Wendy?”
“Ya. Kami bergilir menangkapnya, ini operasi rahasia dan hanya beberapa orang yang terlibat.” Katanya kali ini berbisik di depan telingaku.
Kami berjalan beriringan memasuki gedung apartemen, begitu sampai lobi, ternyata masih banyak yang mengantri di depan lift.
Beberapa orang sempat menyapa Bayu dan mengajaknya ngobrol basa basi, sedangkan aku yang sejak tadi merasakan suasana janggal, memperhatikan ke sekitarku.
Jika pemadaman listrik biasa, aku tidak akan curiga, tapi sampai mematikan atau memblok jaringan seluler?
Namun pikiranku tiba-tiba teringat dengan Nadya dan pak Baron, aku menarik pelan lengan Bayu, membuat perhatiannya yang sedang tertuju pada orang-orang yang berdiskusi di depan kami, teralihkan.
Dia agak menunduk dengan pandangan bertanya.
“Tadi aku tidak melihat Nadya bersama pak Baron. Apa mungkin mereka ada di kamar—”
“AAAAAAAARGGGH!!” Jeritan beberapa orang menghentikan ucapanku,
Semua orang yang ada di lobi menjadi sunyi mendengar jeritan dari lantai atas gedung.
“Ada apa?”
“Siapa yang jerit-jerit?”
“Apa mereka sedang membuat lelucon?”
“Tidak mungkin, suaranya seperti jeritan takut.” Orang-orang mulai bertanya-tanya dengan waspada.
“AAARRRGGHHH!!” Jeritan itu berlanjut, kali ini suaranya bergerak di iringi suara ribut-ribut langkah kaki yang berlari di sepanjang tangga darurat, seolah merak sedang di kejar-kejar.
Bayu menggenggam tanganku erat, seolah dia siap untuk membawaku lari pergi dari tempat ini. Jantungku berdetak kencang, gugup, menunggu suara langkah kaki orang-orang yang menjerit itu semakin mendekati pintu tangga darurat.
BRAAK!
Pintu terbuka dan berhamburan orang-orang yang berlari dengan wajah takut mereka memenuhi lobi. Para wanita dan pria dewasa bahkan ada beberapa anak kecil yang juga bergabung dalam jeritan takut itu.
Sebelum bisa melihat apa yang mengejar mereka, Bayu segera menyeretku agar aku menjauh dari kerumanan itu, menuju pintu keluar gedung yang terbuat dari kaca.
Namun orang-orang di belakang kami juga ikut berlari menuju pintu, ingin keluar dari gedung secepatnya, tapi sengatan kecil di bahu belakangku membuatku melompat kaget dan menjerit kecil.
...
Akan di lanjut tanggal 08 Agustus 2022.
__ADS_1
See you :)