
...
Aku melangkah keluar dari kamar dan perlahan masuk ke kamar lain yang ada di lantai dua. Tadi aku sempat melihat Bayu keluar dari ruangan ini untuk memakai jaketnya. Saat aku masuk ternyata itu adalah ruang khusus pakaian.
Ada banyak pintu lemari menempel di dinding dan di tengah ruangan ada meja kaca untuk menyimpan
jam tangan dan dasi.
Ada banyak kaca besar juga di sini tapi sayang sekali lemari dan meja kaca itu tidak tidak terisi penuh. Hanya ada dua jam tangan dan satu dasi. Di lemari pun hanya satu pintu yang berisi beberapa kemeja putih, jaket hoddie dan celana katun hitam dan dua tuxedo.
Jadi benar Bayu jarang menempati tempat ini.
Aku menarik jaket hoddie hitam miliknya, wangi parfum pakaian dan aroma khas tubuh Bayu tercium. Tanpa sadar aku tersenyum menyukai wanginya, merasa Bayu ada di dekatku kalau seperti ini.
Setelah aku lengkap berpakaian, aku segera keluar dari ruangan ini dan berniat akan ke bawah tapi ponsel yang ada di tangan ku bergetar pertanda panggilan masuk.
Tante Yuan yang menelpon, aku benar-benar lupa tentang wanita ini.
“Halo—“
“Icha? Kau ada di mana? Tante seharian kemarin sibuk dan baru sempat mengabari hari ini. Tante dan bibimu
–Nuri-, kita akan berbicara di rumah mengenai pertunanganmu dengan Henry.”
“Ya tante, bisakah kita bertemu nanti malam? Aku sedang ada di luar sekarang.”
“Oke, kita akan ke rumah nanti malam. Bagaimana kabarmu sekarang?” Aku tersenyum mendengar suara lembut tante Yuan.
“Aku sangat baik tan, gimana kabar Tante dan paman Ben di sana?”
“Pamanmu itu sering pulang lembur dan Pia akan selalu bosan lalu menemui tante untuk kami mengobrol. Info
yang tante dapat mengenai Henry juga sebagian dari Pia yang menemani ibumu beberapa hari ini.”
“Begitukah?” Tiba-tiba aku teringat kenangan saat menghadiri pernikahan paman Ben dan tante Pia.
__ADS_1
Tante Yuan adalah adik paman Ben, sifat paman Ben yang lembut ketika
berbicara padaku benar-benar mirip adiknya.
Lalu telingaku mendengar suara pintu terbuka di bawah, aku melangkah lebar menuju tangga dan melihat Bayu sudah datang dengan membawa amplop coklat besar di tangannya. Lelaki itu mendongak menyadari kehadiranku, kakinya melangkah menaiki tangga menghampiriku.
“Baiklah, lengkapnya kita akan berbicara langsung. Sampai nanti.”
“Yaa, sekali lagi terima kasih tan. Sampai jumpa.” Aku langsung mematikan sambungan setelah menjawab.
“Aku keluar untuk mengambil ini, tapi temanku mengajakku berdiskusi tentang pekerjaan jadi aku tertahan di sana.” Bayu menunjukkan amplop coklat di tangannya setelah dia ada di hadapanku.
Aku tersenyum menggeleng. “Tidak apa-apa. Lalu, apa itu?”
“Ini untukmu. Aku meminta bukti dan foto tentang perusahaan Eternity.” Bayu menyerahkan amplop itu langsung. Sesaat aku menatap benda itu agak bimbang.
“Baiklah, terima kasih. Aku akan melihatnya nanti.” Jawabku menerimanya.
Bayu mengusap puncak kepalaku sesaat dan berkata. “Beritahu aku kalau ada yang tidak kau mengerti dengan laporannya.”
“Nanti malam aku ada janji dengan tante dan bibiku di rumah, kita akan membicarakan tentang pertunanganku dengan Henry.” Sesaat, aku bisa melihat ekspresi Bayu yang agak kesal karena di ingatkan tentang itu.
“Kau punya rencana tentang itu?” Tanyanya benar-benar bisa menebak pikiranku.
“Baiklah kalau itu sudah keputusanmu.” Bayu mengusap sisi kepalaku dan jarinya dengan lembut turun mengusap pipiku, melihatnya yang begitu memperhatikanku seperti ini membuat jantungku berdetak semakin kencang.
Lalu mataku menangkap ada bekas merah di lehernya dan itu karena ciuman tadi. Seketika sekujur tubuhku memanas dan aku jadi sangat gugup.
“Sayang, ada kantung di bawah matamu dan kelihatannya kulitmu lebih pucat. Kau sudah bekerja terlalu keras. Beristirahatlah dulu.” Ucapannya membuat kegugupanku sedikit menguap.
Kini aku menatapnya kesal. “Terkadang aku benci karena kau bisa menyadari banyak hal.”
Bayu justru terkekeh pelan, sorot mata jahilnya kini menari-nari di sana. “Ini di sebut dengan perhatian karena hanya kau yang aku perhatikan jadi aku menyadari bahkan untuk hal terkecil sekalipun.”
Aku tidak bisa menahan senyum, kata-kata gombalnya selalu berhasil membuatku tersipu malu.
“Tidur lah dulu di sini sampai aku mengantarmu pulang nanti sementara aku mau mengerjakan laporan dulu.” Bayu menarikku hendak membawaku ke kamar tapi aku menahan langkahnya.
“Sebelum itu, biar aku membuatkanmu minuman hangat. latte?” Bayu melepaskan genggaman tangannya dan mengangguk, membiarkan aku berbalik menuruni tangga menuju dapur.
__ADS_1
Sesampainya di dapur aku segera mengisi teko almunium listrik dengan air dan mulai memanaskannya, sambil menunggu dua gelas di persiapkan dengan dua set kopi latte instan yang tersedia di samping teko.
Mengingat perkataannya tadi aku segera membuka aplikasi kamera di ponsel dan melihat wajahku sendiri di layar, sekarang aku sadar sekarang tubuhku lebih mudah Lelah dari biasanya. Meskipun tadi aku tidak melakukan apa-apa tapi rasanya tubuhku ingin berbaring.
Apa karena efek penawar racun itu dan pendarahan kemarin?
Lalu pandanganku teralih keluar jendela, awan masih mendung di luar dan belum turun hujan hari ini. Teringat akan pertemuanku dengan tante Yuan dan bibi Nuri nanti malam, aku berencana untuk mengenalkan Bayu pada mereka.
Sekali lagi mataku menatap cincin yang ada di jari manisku ini, tadi pagi Bayu melamarku dan hari ini banyak sekali kejadian yang tidak terduga dan berlalu dalam sekejap.
Mulai dari kejadian di pasar, pertemuan dengan Sonia, mengenal dua wanita baru –Talia dan Bianca- diikuti acara maskeran tadi, kemudian penjahat yang mengepung rumah ini, berkenalan dengan ayahnya Sonia lalu pertengkaran dengan Bayu dan aksi memarahi Lifer dan Talia.
Belum lagi tentang grup Eternity, aku tidak ingin membacanya di sini karena aku tahu, setelah membacanya aku pasti akan terlalu banyak berpikir tentang hubunganku dengan mereka.
Suara klik teko almunium pertanda air sudah panas terdengar keras di telinga. Aku segera menuangkan air itu ke dua gelas yang sudah di persiapkan, mengaduknya dan membawa keduanya.
Langkah kakiku terhenti di lantai 2 saat pintu yang sejak kemarin tertutup kini terbuka setengahnya. Melihat Bayu yang serius menatap laptop di mejanya membuatku tersenyum kecil.
Ruang kerja ini terlihat rapih dan terasa nyaman. Meja dan kursi ada di sudut ruangan menghadap ke sofa dan meja kecil di depannya. Lemari dan rak buku menempel di dinding. Tidak banyak barang di sini tapi ada setumpuk kertas dan buku di meja Bayu.
Lelaki ini menyadari kehadiranku di ambang pintu, dia tersenyum kecil dan aku segera berjalan mendekati mejanya.
“Ada yang bisa aku bantu?” Aku bertanya padanya sembari meletakkan segelas kopi latte hangat di hadapannya di atas meja.
“Tidak. Kau duduk saja dulu, sebentar lagi selesai.” Katanya.
__ADS_1
...