EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 66


__ADS_3

...


 


Dadaku  sakit sekali, bernapas pun rasanya sangat sulit. Menyadari aku masih memakai infus membuatku mengingat lagi jika aku sudah di vonis memiliki sakit jantung. Lalu kejadian-kejadian tentang Ibu, Daniel dan ayah berputar seperti gulungan film.


Kembali lagi mengingat tentang kejadian sebelum penculikan, aku dan dokter Cilia berada di kereta api untuk mengambil sertifikat tanah yang di wariskan bibi Rose. Untuk seharian kemarin aku hampir melupakannya tapi seolah aku di sadarkan oleh sakit ini, aku seharusnya segera menyelesaikan urusan itu. Sakit yang aku rasakan ini menakutiku, aku takut tidak bisa lagi membuka mataku.


Ketika aku sedikit saja menggerakkan tubuhku, dadaku seperti terhimpit sesuatu dan perih sekali. Aku mengerang, meringis memejamkan mata berharap bisa mengurangi sakitnya tapi justru mataku panas dan berair.


Dengan susah payah aku merubah posisi dudukku di pinggir kasur dengan kaki menggantung di udara tepat di sandal hitam kebesaran yang aku pinjam dari suster di sini. Sambil memejamkan mata dan mengatur napasku yang memburu, aku melepaskan kabel-kabel yang menempel di dada dan tanganku lalu melepas jarum infus.


Perasaan rindu dengan rumah dan bibi Rose membuncah dalam hatiku. Aku masih sadar dan sepertinya bisa untuk berdiri sendiri, aku tidak bisa tinggal lebih lama di sini ketika dokter Stefan masih memeriksa racun yang ada di tubuhku ini.


Aku rindu bekerja, aku rindu teman-temanku dan aku rindu rumah. Jika memang sakit jantung ini tidak bisa di sembuhkan, setidaknya aku ingin melakukan kegiatan biasanya, tidak terkurung di tempat ini.


Ketika mataku terbuka, pusing dan rasa panas di dadaku semakin menjadi-jadi. Tanpa sadar aku meremas kuat selimut, menekan dada kiriku ini untuk melawan rasa sakitnya. Napasku yang mulai pendek-pendek semakin menakutiku.


Ketika tubuhku sudah tidak kuat lagi, cahaya lampu masuk melalui pintu kamar yang terbuka. Badanku yang sangat lemas terhuyung kedepan, akan jatuh mencium lantai tapi aku tahu, seseorang yang tadi membuka pintu berlari cepat menghampiriku.


Tubuhku menabrak tubuhnya, kedua tangan besarnya menahan lenganku saat daguku mendarat di bahunya. Aroma parfum maskulin di campur dengan wangi sabun ini sudah familiar beberapa minggu ini.


Bayu berlutut di hadapanku, di samping tempat tidur. Aku bisa merasakan jantungnya berdetak cepat. Meskipun kesadaranku rasanya akan di tarik cepat akibat kondisi jantungku yang melemah tapi aku masih ingin bertahan. Selama ini aku tidak mudah sakit meskipun aku kehujanan atau berkemah selama empat hari tiga malam saat mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di SMP.


Aku harus kuat! Racun ini tidak boleh mengendalikanku seenaknya!


“Icha! Apa yang kamu lakukan?!” Itu suara khawatir Bayu, lelaki ini langsung memelukku erat saat aku menyandarkan kepalaku pada bahunya dengan lebih nyaman. Perlahan tanganku yang terasa tidak memiliki tenaga ini terangkat, tidak sanggup balas memeluknya akhirnya aku hanya mencengkram ujung bajunya.

__ADS_1


“Aku ingin pulang. Aku rindu rumah, aku rindu bekerja, aku rindu teman-temanku dan aku rindu bibi Rose.” Aku berbisik lemah, mataku terpejam karena pandanganku terlihat berputar.


“Kau harus segera minum obat. Dadamu sakit lagi?”


“Hmm… Aku ke—kesakitan.” Aku tidak bisa lagi menahan suaraku untuk terdengar baik-baik saja, sekarang aku benar-benar kesulitan bernapas.


Mataku yang terpejam merasakan tubuhku seperti melayang hingga aku kembali di baringkan. Tangan kananku yang sejak tadi meremas baju di bagian dada kiriku ini tergenggam oleh tangan hangatnya. Lalu saat mataku perlahan terbuka sekedar ingin memuaskan rasa rinduku melihatnya, Bayu sudah memasangkan masker oksigen


yang menutupi hidung dan mulutku


“Ayo, bernapas perlahan. Seperti ini.” Dia mencontohkan untuk bernapas lebih baik, aku mulai mengikutinya dan perlahan lebih baik meskipun dadaku masih sakit.


Tangan kananku di tariknya, dia genggam dan matanya menatapku sangat serius.


 


Aku mengangguk pelan, lensa mata kehitamannya seperti menarikku untuk betah menatapnya. Dari sana terlihat jelas ke khawatirannya meskipun sikapnya terbilang tenang menghadapiku. Untuk beberapa menit ke depan dia masih diam seperti menungguku lebih stabil, dia juga berkali-kali mengecek denyut nadi di tanganku.


“Tunggu sebentar, aku akan membawa obat.” Katanya bangkit berdiri dan segera berlari cepat keluar kamar. Karena cahaya lampu yang remang-remang di sini, aku baru menyadari pakaian Bayu berbeda dari terakhir aku melihatnya.


Sekarang dia sudah memakai pakaian lengkap dan rapih. Kemeja dan celana hijaunya dan jas hijaunya tersampir di sofa. Dari aroma parfumnya tadi aku menduga dia sudah mandi dan bersiap-siap. Apa dia akan bekerja? Bukankah dia bilang libur dua hari? Seharusnya dia mulai bekerja besok.


Jam yang menunjukkan pukul empat pagi membuatku semakin tidak percaya jika dia harus berangkat sepagi ini.


Lalu ruangan ini berubah lebih terang karena lampu di nyalakan. Dari ambang pintu Bayu masuk bersama dokter Stefan dan seorang suster membawa obat-obatan dalam baki almunium. Tanpa banyak bertanya, pria berambut coklat madu ini langsung memeriksaku dan memasangkan lagi jarum infus.


“Jangan di lepas lagi!” Tatapannya mengancamku. Aku tidak menjawabnya hanya refleks melirik Bayu yang berdiri tak jauh di belakang dokter Stefan, memberi ruang dokter ini untuk memeriksaku.

__ADS_1


Setelahnya, dua suntikan lain masuk melalui selang infus, bercampur di sana dan masuk ke dalam tubuku. Efek yang di berikan sangat terasa, dada kiriku perlahan lebih baik, tidak sesakit sebelumnya.


“Bagaimana? Lebih baik?” Tanyanya lagi menatapku intens. Aku mengangguk dan tersenyum kecil.


“Dokter, aku ingin pulang.” Aku yakin dokter Stefan maupun suster ini mendengar ucapanku walaupun aku berkata sangat pelan.


“Kondisimu belum stabil. Lebih baik kau di rawat di sini agar bisa di tangani lebih cepat.” Aku sudah menduga jawabannya.


Karena tidak memiliki tenaga untuk berdebat, akhirnya aku hanya diam tidak membantah. Lalu dokter Stefan mundur dan berbicara singkat pada Bayu. Lelaki ini kembali mendekatiku saat dokter dan suster itu pamit.


Bayu menarik kursi dan duduk di samping kananku, matanya tidak lepas memperhatikan setiap inci wajahku ini seolah memastikan tidak ada yang terluka di sana.


“Aku ingin pulang, aku rindu rumah, aku rindu bekerja dan aku rindu bibi Rose.” Kataku pelan. Dia ruangan yang sunyi ini suaraku terdengar sangat keras.


“Aku tahu, kau wanita kuat dan mandiri. Kau pasti lebih memilih bekerja dari pada berdiam di sini tanpa kepastian. Tapi kondisimu harus stabil dulu, hm? Aku sangat khawatir melihatmu tadi.”


Aku menghela napas, menghadapi Bayu yang seperti ini membuatku tidak berdaya untuk berdebat dengannya.


 


“Kau akan pergi? Aku sendirian di sini?” Sial! Suaraku terdengar seperti merajuk. Tidak ingin dia pergi.


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2