
...
“Ayah sudah mengatakan semuanya pada Bayu. Kau bisa mendengar darinya. Sekarang ayah harus pergi, ada pekerjaan yang menunggu di kantor.”
Aku cepat-cepat mengikut ayah keluar dia sudah melewati ambang pintu menuju teras. “Apa yang ayah cari?”
Pergerakkan ayah terhenti saat tangannya sibuk memakai sepatu. Dia berbalik menatapku, sorot matanya terlihat dingin dan—ayah tidak menyukaiku.
“Aku berkunjung ingin bertemu dengan putriku. Tapi kau menuduhku mencuri?”
“Lalu kenapa ayah tidak menjelaskannya? Aku tidak pernah memberi ayah kunci rumah. Ayah sudah dua kali ada di sini tanpa sepengetahuanku. Aku juga menemukan ayah di kamar. Sedangkan lusa kemarin terakhir kita bertemu ayah memaksaku untuk menandatangani surat kuasa itu. Bagaimana aku tidak curiga? Apa aku salah bertanya seperti itu??” Rongga dadaku dan tenggorokkanku sakit.
Di pagi hari harus mendapatkan perasaan seperti ini membuatku benar-benar lelah.
“Apa ayah juga salah ingin memperjuangkan putrinya? Putriku sakit di rumah. Aku hanya minta kau menandatangani surat kuasa itu! Dan kau malah memberikan semua warisan itu pada ibumu! Apa kau tidak ingat masih punya aku, ayahmu?!” Ayah berdiri di hadapanku sangat dekat, suaranya berbisik namun penuh penekanan dan amarah.
Aku kaget karena tidak pernah melihat ayah yang seperti ini. Telingaku bias mendengar detak jantungku sendiri dan napasku tertahan. Aku mengerjap dan bisa merasakan mataku memanas menahan tangis.
“Kenapa kau pelit sekali?! Kau sudah hidup enak sekarang! Kau punya pekerjaan dan jabatan yang bagus, kau bahkan bisa meneruskan sekolah dan membiayai sekolah Daniel! Kau juga mendapatkan pacar dengan pekerjaan dan latar belakang yang bagus! Sebagai seorang wanita yang di takdirkan mengurus dapur, bukankah seharusnya
kau puas dengan pencapaian itu? Apalagi yang kamu inginkan sampai membantu adikmu saja kamu tidak mau!!”
“Apa?! Sejak kemarin malam aku khawatir menemukan ayah yang pingsan tapi begini ayah memperlakukanku?! Aku punya pekerjaan yang bagus karena aku berusaha, banyak orang di perusahaan yang ingin menjatuhkanku karena aku terlalu muda untuk mendapatkan jabatan ini, tapi aku selalu mencoba bertahan! Aku bisa melanjutkan
sekolah memangnya mudah begitu saja? Aku sering pulang malam, sendirian!" Aku tidak tahan lagi. Ibu, Daniel bahkan ayah yang tidak pernah aku temui terus memojokkan ku seperti ini!
"Lalu tentang pacar, memangnya aku menemukannya begitu saja? Kami memperjuangkannya, banyak pengorbanan yang harus kami lalui untuk bersama! Dan tentang adik! Aku tidak pernah mengatakan aku tidak ingin membantunya! Apa selama ini ayah pernah menceritakan padaku tentang adik yang tidak aku kenal itu??” Aku tidak peduli lagi apa ucapanku terlalu kasar atau tidak.
Saat ini aku benar-benar marah padanya! Aku berusaha berpikir positif pada ibu, ayah dan Daniel. Berharap mereka bisa membuka hati mereka, berharap suatu saat nanti kami bisa berkumpul lagi sebagai keluarga bahagia tapi justru aku terlalu naif. Mereka selalu menyalahkanku atas segala hal!
Napasku terengah dan pandanganku buram oleh air mata yang sudah berkumpul di sana. Ayah tidak menjawabku tapi dia masih terlihat sangat marah padaku.
__ADS_1
“Apa kau sudah merasa hebat setelah melalui itu semua??”
“Ayah ada di mana saat aku melalui semua kesulitan itu? Apa pantas kau datang padaku ketika kau membutuhkan sesuatu sedangkan kau sendiri tidak pernah muncul di hadapanku hampir dua puluh tahun!” Perkataanku berhasil membungkam ayah. Dia mengatupkan rahangnya keras lalu berbalik kembali melanjutkan memakai sepatunya.
Aku masih terengah menatap setiap pergerakkannya. Ini masih pagi dan aku tidak mau bertengkar dengannya tapi aku juga tidak bisa mengendalikan kekesalanku padanya.
Aku cape!
Aku benar-benar cape menghadapi orang-orang seperti mereka!!
“Jika kau masih menganggapku sebagai ayahmu, datanglah ke rumah sakit di pusat kota, lantai 6 nomor 923, kau akan tahu bagaimana kondisi adikmu itu!” Nada suara ayah menurun saat mengatakannya. Tanpa menunggu jawabanku, dia sudah melangkah menuju pintu gerbang dan menghilang di sana.
Tenggorokkanku sakit, pipiku juga basah dan rongga dadaku sesak. Aku tidak bisa lagi menahan isak tangisku. Untuk mengurangi rasa sakitnya, aku berharap menangis bias menguranginya tapi aku juga tidak ingin kembali masuk ke rumah dengan keadaan seperti ini.
“Seharusnya aku tidak membiarkanmu sendirian berbicara dengannya.” Aku mendengar suara Bayu di belakang punggungku.
Cepat-cepat aku menghapus air mata di pipiku. “Jangan mengasihaniku karena hal ini.”
“Tidak akan.”
“Aku tahu.”
“Jangan mengkhawatirkanku!”
“—tidak bisa.”
“Jangan menghiburku.”
“Kau harus menangis.”
Aku berbalik cepat menatapnya kesal mendengar jawaban Bayu. Lelaki ini berdiri di ambang pintu sedang bersandar sambil melipat kedua tangannya di atas perut, matanya balas menatapku tapi dia terlihat serius.
Bayu melangkah mendekati, dia tidak melepaskan pandangannya menatap setiap inci wajahku. Lalu sebelah tangannya menurunkan tanganku yang sedang sibuk mengusap pipi yang basah.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi karena perlakuan yang seperti itu. Sebagai orang tua, dia tidak pantas mengatakan hal itu terlebih dia yang tiba-tiba muncul setelah dua puluh tahun.” Ucapan seriusnya mendapat anggukan pelan dariku.
Kini telapak tangan Bayu menghapus sisa air mata di pipi dan rahangku, ekspresi dan aura nya yang dingin menakutkan, bertanya padaku. “Aku bisa membuatnya bertekuk lutut padamu dan meminta maaf, kau mau?”
“Tidak!!” Jawabku cepat. Kemarahan dan kekecewaanku tidak sampai harus membuatnya seperti itu.
“Selama ini dia tetap sosok yang aku anggap ayah meskipun hanya sampai umurku enam tahun. Selebihnya sekarang dia hanya seseorang yang aku kenal di masa lalu. Aku tidak ingin berurusan lagi dengannya.”
“Mendengar dari ucapan terakhirnya tadi sebelum pergi, aku pikir dia yakin kalau kau akan datang ke rumah sakit untuk melihat anaknya—“
“Tidak!” Sela ku menggeleng cepat.
“Apa aku jahat kalau tidak mempedulikannya lagi dan menghiraukan anaknya yang sedang sakit itu?? Atau aku harus datang ke sana untuk melihat keadaannya—“
“Aku yakin dia mampu membiayai anaknya sendiri dengan kemampuannya sekarang, dia masih bisa bekerja kalau perusahaannya memang akan bangkrut pada akhirnya.” Ucapan Bayu memiliki poin bagus yang selama ini tidak aku sadari.
“Kau benar! Menjadi baik bukan berarti bodoh.”
“Dan juga bukan berarti kau harus bertanggung jawab atas hidup keluarganya karena dia datang padamu dan meminta sesuatu. Bagaimanapun kau harus ingat dia tidak melakukan kewajibannya sebagai sosok ayah maka dia tidak akan mendapatkan hak nya. Mengerti?”
“Siap kapten!” Aku tersenyum lebar, entahlah aku merasa perkataannya seolah membuka lebar mataku. Dia memberitahuku sisi logis yang selama ini aku tidak sadari.
Perbedaan pria dan wanita ketika wanita selalu menggunakan perasaannya, pria cenderung menggunakan pikiran logisnya.
“Good girl!” Bayu merangkulku dengan sebelah tangannya dan kecupan singkat di sisi kepalaku membuatku lebih tenang.
“Sudah lebih baik?” Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.
“Sekarang kembalilah ke dalam, kau masih demam dan harus sarapan.” Katanya lagi melepaskan rangkulannya dan mendorongku menuju pintu.
“Kau mau ke rumah ketua RT?” Tebak ku menahan dorongannya. Bayu mengangguk.
“Aku akan ikut denganmu!”
__ADS_1
...