
...
“Rumah ini dan sertifikat-sertifikat tanah?” tanya nya lagi.
“Ya.”
“Jadi, kau memberikan semuanya setelah pembicaraan kita terakhir?” Aku mengerutkan kening setengah tidak mengerti apa yang ayah katakan. Dia tampak kesal padaku.
“Apa kau lupa punya ayah? Kenapa memberikan semuanya pada dia?” Ayah menunjuk kesal pada ibu.
Tentu saja! Jelas sekali mereka bertengkar di sini karena harta warisan. Memang apa lagi? Apalagi yang aku harapkan?
“Aku ibunya! Aku yang merawatnya selama ini, dan apa yang kau lakukan? Kau tidak pernah menemui kami bahkan tidak pernah memberikan biaya hidup untuk Icha dan Daniel! Sepeser pun tidak! Lalu sekarang, soal harta warisan, kau langsung datang bersama dia dan anakmu yang berpenyakitan ini? Ha ha. Ya ampun, kamu enggak tahu malu ya.” Ibu menjawab kesal pada tiga orang itu.
“A—aku punya hak! Selama ini Icha tetap menganggapku ayahnya! Dan jangan menghina Hanna seperti itu!” Bela ayah Davin.
Sekilas, aku melihat Hanna yang langsung menunduk sedih dan tante Marisa merangkul bahu anaknya dengan ekspresi sedih juga.
Aku menghela napas panjang, drama keluarga ini rasanya tidak ada akhirnya. Selalu berputar seperti itu juga. Aku mengerti maksud ayah datang ke sini bersama istri dan anaknya, strategi untuk mendapatkan sebagian warisan dari bibi Rose dengan menunjukkan mereka sedang menderita dan lebih membutuhkan dari pada ibu. Sedangkan ibu yang keras kepala tidak ingin aku membaginya karena dia merasa berhak setelah mengurusku selama ini.
“Aku tahu, selama ini kamu memanfaatkan Icha! Kamu selalu memarahinya, menyalahkan semua padanya, dan sekarang, kamu menginginkan harta warisannya juga? Kamu tuh yang enggak tahu malu!” Ayah balas memaki.
“Mas Davin, sabar mas. Jangan bertengkar, udah malam, malu sama tetangga.” Tante Marisa mengusap bahu ayah, berusaha menenangkannya.
Ibu berdecak kesal pada wanita itu tanpa menurunkan tatapan tajamnya dari ayah.
Aku merasa malu sekali karena Bayu karena harus melihat semua ini. Apa yang dia pikirkan melihat aku yang tumbuh di antara konflik mereka? Benar-benar memalukan!
Dari sudut mataku, aku melihat Bayu yang menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, lalu dia memeluk pinggangku dari belakang dan menarikku lebih dekat padanya. Aku segera meliriknya yang justru membuatnya semakin menarikku ke belakang sehingga kami sama-sama duduk bersandar, seolah sedang menonton drama live di depan mata.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan?” Bisikku, menggerakkan mulut sekecil mungkin.
“Kamu hanya perlu menontonnya saja, Boo.” Jawab Bayu tanpa mengalihkan tatapannya pada ayah dan ibu yang masih memaki-maki.
Menghela napas panjang, akhirnya aku ikut bersandar dengan tangan Bayu yang sudah berpindah merangkul bahuku, lalu lelaki ini memanggil Lucy dengan tangannya, aku bisa mendengar suaranya ketika dia berbisik. “Tolong buatkan minuman untuk mereka, apapun itu, terserah yang tersedia di dapur.”
Lucy mengangguk dan tanpa bersuara, wanita itu segera melangkah ke dalam rumah mencari dapur.
“Biarkan mereka berdebat sampai cape, karena kalau kau sekarang yang berbicara, mereka tidak akan mendengarkan apa maksudmu dan hanya ingin mendengar apa yang mereka inginkan.” Bisik Bayu.
Aku mengangguk, tidak bersuara. Tenggorokkan ku seolah terkunci, terlalu malu padanya karena menyaksikan pertengkaran mereka, terlebih karena mempermasalahkan harta warisan.
Aku tidak begitu mendengarkan perdebatan mereka, pikiranku sibuk melayang mencari jawaban untuk tuntutan mereka, bagaimanapun, mereka adalah orang tuaku, setidaknya aku mengenal mereka sebagai sosok keluarga,
ibu dan ayah.
Mataku juga sesekali melirik tante Marisa dan Hanna masih dengan ekspresi sedih, kedua wanita itu terkadang melirik kami.
Aku bisa merasakan keringat dingin muncul di leher dan keningku. Nyatanya, aku masih belum terbiasa kalau berhadapan dengan ibu dan ayah yang seperti ini. Sekarang aku juga merasakan perutku sedikit sakit akibat stres memikirkan mereka. Ini salah satu kelemahanku yang ingin di sembunyikan di hadapan Bayu, tapi lelaki ini ada di
sampingku sekarang.
“Pokoknya aku tetap ayahnya! Aku berhak mendapat bagianku! Kau selama ini sudah di biaya oleh Icha, sekarang aku yang lebih membutuhkan untuk biaya kesehatan anak ku!” Suara ayah yang keras membuyarkan lamunanku.
Ternyata Lucy sudah meletakkan enam gelas minuman, masing-masing untuk kami, teh celup yang masih hangat. Wanginya tercium dan asap kecil keluar dari semua gelas di atas meja. Rupanya tindakan Lucy berhasil menghentikan perdebatan mereka sesaat.
Aku segera meraih salah satu gelas itu, berharap dengan air hangat, sakit perutku akan membaik.
“Ayo! Silakan di minum.” Kataku karena mereka berempat justru beralih menatap pergerakanku.
“Terima kasih, Lucy.” Ucapku sebelum meneguk teh ini. Lucy mengangguk singkat dan kembali berdiri di samping Dika.
__ADS_1
“Icha! Pokoknya ibu enggak mau pergi dari rumah ini sebelum kamu bilang pada dia kalau warisan yang mau kamu kasih semua pada ibu tidak akan di bagi padanya!”
“Tidak bisa gitu! Secara hukum, aku juga berhak!”
“Hukum? Kau seenaknya berbicara hukum di hadapan kami setelah selama ini kamu menelantarkan kami?!”
“Icha, bagaimana ini? Apa yang harus di lakukan?” Tante Marisa bertanya padaku.
“Ini semua salahku, kalau aku tidak sakit, aku tidak akan merepotkan ayah dan ibu, aku akan memiliki pekerjaan tetap untuk membahagiakan mereka.” Suara Hanna bergetar, dia menunduk sedih yang langsung di beri usapan kasih sayang tante Marisa. Lalu Hanna tiba-tiba mendongak dan menyentuh lengan ayah agar ayah menatapnya.
“Ayah jangan bertengkar terus. Bagaimana kalau aku juga bekerja?” Usul Hanna yang membuat ayah semakin gusar.
“Kerja? Ayah kan bilang, kamu jangan memikirkan pekerjaan, yang terpenting itu kesehatanmu! Kamu harus segera operasi, kalau sudah dapat kepastian tubuhmu sehat, mau kau cari kerja pun, ayah pasti mendukung.” Jelas ayah. Sorot matanya terlihat penuh perhatian dan kasih sayang. Aku tidak ingat, kapan ayah menatapku seperti itu.
“Ayah jangan khawatir! Icha sudah aku anggap saudaraku, dia pasti menjagaku. Aku bisa ikut kerja dengannya. Aku akan baik-baik saja kalau bersama Icha. Benar ‘kan, Cha?” Hanna menatapku penuh pengharapan.
Sesaat, aku tidak tahu harus menjawab apa tapi aku merasakan dia sedang melempar bom padaku. Kalau aku katakan tidak, ayah pasti menganggapku anak yang jahat karena tidak mau menganggap putri sakitnya sebagai saudaraku, tapi kalau aku menjawab iya, mereka akan semakin menuntutku, mungkin kalau Hanna nanti kambuh, aku yang di salahkan.
“Aku pasti akan berusaha keras membantumu Cha. Jadi kamu tidak usah khawatir—“
“Lalu apa manfaatnya untuk Icha?” Pertanyaan Bayu bernada dingin pada Hanna membungkam pertengkaran mereka.
“Manfaat apa?” Tanya Hanna menatap Bayu.
Lelaki ini kemudian menegakkan punggungnya sebelum menjawab. “Apa manfaatnya Icha harus bertanggung jawab atas karir mu?”
...
__ADS_1