
...
“Dimas adalah suami Camila. Dia teman di kantorku.” Bisikku pada Bayu yang masih diam di sampingku, sama-sama melihat situasi di depan kami.
Kemudian aku segera melanjutkan langkahku yang sempat tertunda dan langsung berdiri di belakang Camila.
“Mila..” Panggilku selembut mungkin, seolah suaraku bisa menghancurkan hatinya.
Wanita ini menengok kebelakang dan segera bangkit untuk menerjangku dengan pelukannya. Selanjutnya dia semakin menangis kencang di bahuku.
“Dia sudah meninggal. Padahal tadi pagi dia masih menyuruhku untuk tidak melupakan sarapan. Padahal tadi siang dia masih mengajakku makan siang bersama tapi aku tidak mau karena te—terlalu jauh. Padahal tadi sore dia masih menanyakan ingin di bawakan apa. Hu hu.” Aku mengangguk dan mengusap punggungnya, aku sendiri tidak tahu harus mengatakan apa untuk menenangkannya. Tubuhnya bergetar dan mataku sudah memburam karena air mata yang tertahan di pelupuk mataku.
“Bagaimana ini, Cha? Bagaimana aku bisa hidup tanpanya? Kenapa aku harus kehilangan dia secepat ini?”
“Kamu tenangkan dulu. Coba ceritakan apa yang terjadi?” Tanyaku pelan.
Camila melepaskan pelukannya, mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangannya tapi percuma, aku bisa melihat pipi itu basah lagi karena air mata yang terus menetes.
“D—dia kecelakaan saat pulang dari kantornya. Orang yang menabraknya sedang mabuk dan—dia-.” Aku mengangguk, tidak tega jika dia melanjutkan ceritanya dan kembali memeluknya lagi. Menggumamkan semua kata-kata yang bisa menenangkannya.
Aku tidak ingat berapa lama aku menemani Camila yang menangis saat pada akhirnya dia jatuh tertidur di bahu ku. Kami berdua sudah duduk di kursi tunggu depan ruang UGD sedangkan tubuh Dimas sudah di urus oleh tiga orang keluarganya yang tadi datang bersama Bayu, meninggalkan kami berdua di sini.
Pipi Camila masih sembab dan dia juga sesekali masih terisak dalam tidurnya. Wajah dan rambutnya berantakkan dan aku melihat kakinya, dia memakai sandal yang berbeda.
Ini adalah cobaan berat baginya, sejak tadi aku juga membayangkan bagaimana jika hal ini terjadi padaku? Bayu yang pekerjaannya jelas-jelas selalu menantang bahaya.
Pikiran negatif ku terhenti saat Camila tiba-tiba bangkit duduk. Aku meliriknya dan melihat wanita ini sudah bangun dari tidurnya dengan mata sembab dan pipi merah.
“Icha, kamu masih di sini?” Tanya nya terlihat bingung.
Aku tersenyum lebar dan mengangguk. “Bagaimana keadaanmu?”
Dia menggeleng sembari pelupuk matanya kembali berkaca-kaca. Aku kembali memeluknya lalu menepuk pelan punggungnya. “Aku turut berduka, tidak pernah menyangka akan melihatmu menangis seperti ini.”
Camila mengangguk, dari sorot matanya aku melihat kembali cahaya kehidupannya, sebagian dari dirinya terlihat sudah merelakan kepergian Dimas.
“Maaf aku menelponmu tiba-tiba. Apa aku mengganggu?”
“Tidak tidak! Aku senang kau menelponku. Apa yang bisa aku bantu? Mau aku temani malam ini?” Tanyaku serius tapi temanku ini menggeleng.
__ADS_1
“Aku tidak ingin mengganggu pengantin baru.” Jawabnya dengan senyum kecil, menggodaku.
“Kalau soal itu kau tidak usah berpikir terlalu banyak.”
“Aku beneran tidak apa-apa. Besok tidak bisa kerja.”
“Tentu saja. Besok kau tidak perlu kerja.”
“Jadi bagaimana? Kau ke sini dengan suami?” Tanya Camila masih menggodaku. Aku tersenyum lalu mengangguk, lega rasanya melihat dia sudah lebih baik.
“Aku tidak melihatnya. Di mana dia?”
“Dia ikut membantu mengurus sesuatu dengan keluargamu.”
“Ah benar, terima kasih.”
Aku menatapnya, senyuman Camila terlihat kaku sekali. “Kau bisa menceritakan kesedihanmu padaku.”
Sesaat, dia menatapku dalam dan menghela napas panjang kemudian menjawab. “Ada orang pernah berkata kalau di tinggalkan oleh seseorang yang kita cintai secara tiba-tiba itu lebih menyakitkan dari pada secara perlahan.”
Aku menggeleng keras. “Tidak! Menurutku, yang namanya di tinggalkan oleh orang yang kita cintai entah itu tiba-tiba atau secara perlahan sama saja menyakitkan karena perpisahan tidak pernah menyenangkan.”
Air matanya kembali turun membasahi pipi dan Camila menangis tersedu lagi. Aku menepuk-nepuk bahunya dan sebuah pemahaman tiba-tiba terlintas di pikiranku.
“Hidup itu seperti buku, beberapa bab sedih, beberapa bahagia dan beberapa menarik. Tapi jika kamu tidak pernah membalik halaman, kamu tidak akan pernah tahu apa yang ada di bab selanjutnya. Aku tidak bisa membuatmu lebih baik, tapi aku di sini ada untuk menyemangatimu. Jangan berpikir kalau kau sendirian karena ada orang-orang yang masih menyayangimu, termasuk aku, oke?”
“Senang kau di sini.” Jawab Camila membawaku ke pelukannya. Aku balas memeluknya dan tersenyum kecil.
“Ayo kita menyusul yang lain.” Ajakku sambil melepaskan pelukan kami.
Camila mengangguk dan kami segera berdiri dan mulai melangkah meninggalkan UGD.
***
“Tidak apa-apa kan?”
“Tenang saja. Aku akan mengikuti kalian dari belakang.” Jawab Bayu saat dia sudah siap di atas motor sport nya, sedangkan aku di samping taksi yang membawaku bersama Camila.
Tubuh Dimas telah di naikkan ke atas ambulance dengan di temani oleh tiga anggota keluarganya yang ikut dalam mobil. Aku bermaksud akan mengantar Camila sampai rumah dan segera pulang setelah itu mengingat waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.
__ADS_1
Sebelum ini, Bayu dan Camila sudah saling mengenalkan diri di bumbui dengan Camila yang malu karena wajahnya berantakkan.
“Terima kasih. Hati-hati.” Jawabku menggenggam tangannya sesaat, Bayu mengangguk, meski memakai helm full
face tapi dari matanya aku tahu dia tersenyum kecil.
Begitu pintu taksi tertutup, sekali lagi aku menatap ke luar melalui jendela, lelaki itu sedang bersiap menyalakan motornya untuk mengikuti kami.
“Maaf merepotkan kalian.”
“Huushh! Jangan berpikir macam-macam. Kau harus istirahat.” Kataku pada Camila. Kemudian, taksi yang kami tumpangi mulai melaju meninggalkan parkiran rumah sakit.
.
..
…
Lima menit di perjalanan kami sama-sama diam, menatap ke luar jendela dengan pikiran masing-masing. Aku tidak ingin mengganggunya, aku tahu dia pasti sedang banyak berpikir hidup tanpa suaminya. Meski mereka belum punya anak tapi siapapun pasti tidak ingin di tinggalkan oleh orang yang dicintainya.
Memikirkan itu, aku langsung teringat Bayu.
Kepalaku berbalik kebelakang, memastikan lelaki itu memang mengikuti kami dan memang benar, dia tepat di belakang kami. Angin menerpa tubuhnya sehingga menggoyangkan jaket hitamnya.
“Sepertinya besok aku akan ambil izin juga.” Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa di pikirkan dulu olehku. Ide Bayu yang memintaku izin libur besok untuk menemaninya sudah aku putuskan untuk menyetujuinya.
“Kenapa? Apa kamu sakit, Cha?” Suara serak Camila terdengar khawatir.
Aku meliriknya dan menggeleng. “Tidak. Aku ada perlu dengan Bayu. Dia besok mengambil libur juga sebelum bertugas.”
Wanita ini mengangguk dan menatapku lebih teliti kemudian untuk pertama kalinya sejak tadi, aku melihatnya tersenyum lebar dengan mata penuh binar keingintahuan, seperti Camila yang aku kenal di kantor setiap kali ada yang memberiku coklat. “Dia pria yang beruntung, eh? Aku bisa melihat jelas kau sangat menyukainya.”
“Hehehe. Aku sangat mencintainya—“
“ASTAGA!!”
BRAAAKKK
Suara teriakkan supir taksi di ikuti suara tabrakan lain dari arah depan mobil membuatku dan Camila sama-sama melirik ke depan.
__ADS_1
Taksi berhenti mendadak dan beberapa meter di depan kami sebuah mobil abu berhenti dengan arah berlawanan, selain itu, asap putih menutupi pandangan untuk sesaat.
...