
...
“....membersihkan senapan, mengembalikannya ke gudang senjata, lalu membersihkan mobil dari lumpur, biar aku yang melapor pada—tunggu sebentar! Panggilannya tersambung! Beruntung karena sinyal di sini lebih kuat dari pada di ruang lain.” Aku menatap layar ponselku yang menunjukkan gambar Bayu yang masih memakai seragam kamuflasenya, lelaki itu sedang duduk di kursi menghadap ke laptop yang menyala di atas meja. Baru saja dia sedang bicara pada orang di depan mejanya sebelum sudut matanya menemukan panggilan videonya sudah tersambung denganku.
“Kalau gitu, kami akan mulai membereskannya. Kapten bersantailah dulu.” Samar-samar suara lain menjawab di sebrang telpon. Aku ingat suara itu milik Rama.
“Oke. Aku serahkan pada kalian.” Bayu mengangguk, tidak ada lagi jawaban dari Rama, hanya suara sepatunya yang terdengar perlahan menjauh.
“Kelihatannya kau sibuk sekali.” Kataku memulai ketika Bayu sudah memandang layar ponselnya.
“Hanya kegiatan yang sudah biasa kami lakukan—ngomong-ngomong siapa kamu?? Mana istriku?!”
Aku tertawa mendengar gurauannya, dia baru sadar kalau dandananku sedikit berbeda dari biasanya. Sebelum berangkat tadi, nenek sudah menyiapkan dress selutut tanpa lengan tapi menutupi dada dan leher sepenuhnya. Kain di dalamnya terbuat dari satin coklat susu yang lembut, di padukan dengan kain brokat tile motif sakura berwarna merah muda di luar. Aku suka sekali dengan pilihan dress ini.
Selain itu nenek juga menyiapkan dua orang wanita untuk mendadani wajah dan rambutku. Hasilnya sekarang rambutku yang biasa tergerai di buat sanggul modern, dengan tambahan sirkam bermotif bunga sakura berwarna putih, serasi dengan dress yang aku pakai.
“Malam ini aku di kenal sebagai cucu keluarga Danendra, bukan nyonya muda keluarga Jeremy.”
“Tentu saja itu harus! Jika kamu tidak membuat mereka mengenalmu sebagai cucu keluarga Danendra, kau juga tidak akan mengenal dirimu sendiri.”
“Hmmm... Benarkah seperti itu?” Ucapan Bayu berhasil membuatku tiba-tiba memutar otak dan berpikir keras.
“Dulu, waktu orang-orang di sini pertama kali tahu aku adalah cucu dari kakek Jeremy, mereka sering membicarakanku, membandingkan aku dengan kakek dan ayah, atau mengharapkan aku melakukan sesuatu yang luar biasa sebagai cucu keluarga Jeremy. Awalnya aku sangat membenci semua itu, mulai menghindar dan menolak orang-orang yang bertanya tentang kakek atau ayah, tapi ucapan kakek saat dia memarahiku sangat mengesankan. Dia bilang ‘tentu saja kamu cucu kakek! Kamu tidak bisa menolak darah keluarga Jeremy yang mengalir di tubuhmu! Tapi kamu juga harus memutuskan sendiri jalan yang akan kamu lalui, kakek tidak mau pengaruh nama kakek dan ayahmu justru membuatmu lupa siapa dirimu yang sebenarnya. Jika kamu tidak membuat mereka mengenalmu sebagai cucu keluarga Jeremy, maka kamu juga tidak akan mengenal dirimu sendiri!’”
__ADS_1
“Luar biasa.” Aku benar-benar terkesan.
“Setelah kakek mengatakan itu, akhirnya konflik batinku mereda.” Aku tertawa mendengar jawaban Bayu.
Benar.
Saat ini, aku juga mengalami konflik batin. Di satu sisi aku tidak ingin orang-orang tahu identitasku sebagai cucu keluarga Danendra, mereka akan mengharapkan banyak hal dariku, tapi sisi lain, aku juga tidak bisa menolak kalau aku keturunan mereka karena nyatanya darah yang mengalir di tubuhku berhubungan dengan keluarga Danendra.
“Mendengar ada orang membicarakanmu ya? Acara apa yang sedang kalian hadiri?” Bayu mengerutkan kening, menatapku dari layar ponsel.
“Kakek dan nenek tiba-tiba mengajakku untuk ikut bersama mereka ke acara peringatan ulang tahun teman mereka. Di sini memang banyak orang tua, tapi nyatanya acara seperti ini untuk memamerkan anak atau cucu, mengenalkan mereka satu sama lain dan bahkan menjodohkan mereka.”
“Tidak heran, dengan menjodohkan cucu mereka, sama saja dengan membuat teman dekat menjadi keluarga. Lalu, apa ada yang mau menjodohkanmu?” Bayu bertanya sembari menyipitkan matanya, seolah dengan begitu aku tidak berani berbohong.
Kali ini Bayu tersenyum lebar, “coba perlihatkan dirimu lebih jelas lagi. Sayang sekali aku tidak bisa melihatmu secara keseluruhan. Dari layar saja, istriku ini sangat cantik.”
Aku tertawa dan pindah tempat pada pencahayaan yang lebih terang. “Aku akan mengirimkan fotoku nanti.”
Bayu mengangguk, “bersenang-senanglah di sana.”
“Tidak akan sempurna kalau kau tidak di sini, tapi di sini banyak makanan yang enak, jadi aku akan bersenang-senang.” Mendengar lagi tawa Bayu di sebrang telpon, rasanya seperti sudah lama sekali.
“Hah! Aku sangat merindukanmu.” Bisiknya merana.
“Aku juga.” Balasku.
__ADS_1
“Tapi ngomong-ngomong, bukannya kamu lagi sibuk tadi?”
“Ya. Aku akan mulai mengetik laporan , tidak apa-apa, aku senang kalau kau menemaniku.”
“Begitu? Kalau gitu aku akan melanjutkan makananku.” setelah mendapat anggukan dari Bayu, aku melanjutkan langkah menuju stand minuman, mengambilnya dan kembali ke mejaku tadi.
Sambungan video kami tidak terputus, aku meletakkan ponsel di atas meja hingga yang terlihat di layar mungkin adalah langit-langit aula pesta, sedangkan di sebrang telpon aku bisa mendengar suara jari-jari yang menekan tombol keyboard laptop, itu artinya Bayu sudah mulai mengalihkan perhatiannya pada laporan.
“Tapi setelah menyelesaikan laporan, pekerjaanmu hari ini beres ‘kan?” Tanyaku tanpa melirik ke layar ponsel.
“Ya.” Jawabnya singkat, masih terdengar suara ketikan di telingaku.
“Kenapa?” Tanya nya setelah tidak mendengar tanggapan lebih lanjut dariku.
“Tentu saja karena kau harus istirahat. Aku takut kau terlalu bekerja keras di hari pertama mu di sana.”
“Sayang, kamu—tunggu sebentar.” Suara ketikan tiba-tiba terhenti, di gantikan dengan suara kursi yang di geser, lalu suara langkah sepatu yang perlahan semakin menjauh.
Aku mengerutkan kening, meraih ponselku dan tidak ada Bayu di layar. Kursi yang tadi dia duduki kosong, sepertinya dia sedang mengecek sesuatu.
Lalu, sekarang banyak orang di sekelilingku. Para tamu sudah mulai mencari makanan dan mencari meja. Tidak ingin orang lain menatapku curiga karena aku menatap ponsel lama, akhirnya aku mengganti titik fokus kamera. Awalnya kamera depan untuk terhubung dengan Bayu, sekarang aku ganti jadi kamera belakang sehingga aku bisa menyimpan ponselku di atas meja dengan posisi terbalik, orang lain tidak akan tahu kalau aku sedang terhubung dengan Bayu, mungkin mereka akan berpikir aku sedang mendengarkan lagu.
Kemudian, suara ketukan dari mic di panggung depan menyita perhatian semua tamu. Seorang pembawa acara pria yang terlihat seumuran denganku memegang mic, mulai memberikan kata pengantar penyambutan untuk para tamu undangan.
Selanjutnya penyambutan kakek Jona dan nenek Lelei juga anak dan cucunya yang mendo’akan mereka. Seiring dengan berlalunya empat orang itu di atas panggung, makanan di piringku sudah habis namun Bayu belum juga kembali ke depan kamera ponselnya.
...
__ADS_1