
...
“Kalian sudah pulang. Bagaimana pestanya?”
“Lumayan.” Jawab kakek pada ayah ketika kami baru masuk ke dalam rumah. Lalu pandangan ayah bertemu dengan pandanganku. Sesaat dia melihat penampilanku dan mengangguk sembari tersenyum.
“Cantik. Sangat cantik.” Ujarnya melangkah mendekatiku.
Tiba-tiba saja aku jadi gugup dan wajahku memanas mendapat pujian dari ayah. “Makasih Yah. Dress ini pilihan nenek.”
Ayah melirik nenek, tapi karena nenek tidak memberi tanggapan, dia melangkah keluar dari percakapan kami menuju tangga, ayah kembali melirikku dan berkata, “malam ini menginap di sini, ayah sudah mengabari Kirana kau tidak pulang.”
Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan yang tidak bisa di tolak olehku.
“Ganti baju dan mandilah dulu, setelah itu kita bicara. Ada yang mau kau bicarakan ‘kan?” Ingatkan ayah yang seketika mengingatkanku akan niat awalku datang ke sini untuk bertanya padanya tentang kasus Red Apple.
Aku mengangguk, merasa cape karena pesta itu, lalu paman Felix menuntunku pada kamar yang sudah di siapkan lengkap dengan piyama di atas kasur.
.
..
...
“Red Apple?”
“Icha ingat, ayah pernah menyinggung tentang kasus ini.”
Setelah beristirahat sebentar di kamar dan mengganti dress menjadi piyama, aku datang menghampiri ayah yang ada di ruang kerjanya, di depan laptop. Saat ini duduk berhadapan di depan meja kerja ayah terasa sangat asing dan tidak biasa, hal itu membuatku gugup dan agak canggung.
“Kenapa kau ingin mengetahui tentang kasus itu?”
“Selain karena kasus itu ada hubungannya denganku dulu, aku juga tahu kalau Red Apple ada hubungannya dengan dokter Cilia dan racun-racun sebelumnya.” Aku menjawab jujur, menduga ayah pasti kenal dengan dokter Cilia dan sudah menyelidiki tentang ini sebelumnya.
Nyatanya dugganku memang benar ketika ayah menatapku sembari melamun, tidak terkejut sama sekali saat aku menyinggung tentang dokter Cilia dan racun.
__ADS_1
“Ayah sudah tahu tentang dokter Cilia ‘kan?” Tanyaku lagi, berusaha mendesaknya.
“Ketika kamu pertama kali mengenalnya, ayah hanya tahu dia sebatas dokter. Tapi, sejak kau bertemu Rey dan kau dalam bahaya karena racun, ayah kembali mencari semua informasi tentang orang-orang yang menganalmu, cukup yakin kalau Rey tidak semudah itu mengetahui tentangmu kalau bukan dari orang yang ada di dekatmu.”
“Maksud ayah, doker Cilia dan Rey, mereka saling mengenal?”
Ayah menghela napas panjang, dia bersandar ke kursinya dan menatapku serius, “ceritanya sangat rumit, belum ada yang pasti. Ayah dan Rasha masih mencari semua informasi yang bisa kami dapatkan, sebelum semua jelas, ayah tidak bisa memberitahumu.”
Aku terdiam, memikirkan perkataanya, kemudian sesuatu yang tanpa sadar sejak di pesta tadi menggangguku, akhirnya terucap, “apa Bayu tahu sesuatu yang tidak aku ketahui? Ataukah dia sedang menyelidiki sesuatu?”
Ayah Evano tidak langsung menjawabku, dia berpikir sebentar sebelum menjawab, “Ya.”
“Apa salah satunya sedang menyelidiki orang bernama madam Carol?”
“Dari mana kau tahu?” Ayah menegakkan posisi duduknya agak panik.
“Atau tentang komunitas peramal Prognoz?”
Ayah terdiam, menatapku heran tapi dia tidak menjawab meski ekspresinya terlihat penasaran dari mana aku tahu.
“Tidak bisa aku membantu juga?” Tanyaku.
“Tapi aku tidak bisa hanya diam ketika tahu kalau Bayu, ayah, atau ayah Rasha mendekati bahaya karena mencari tahu sesuatu yang ada hubungannya denganku.”
“Izinkan kali ini ayah yang melindungimu. Kau sudah melalui banyak kesulitan karena harus berpisah dengan kami dan bahkan sekarang pun, saat kau sudah di sini, masih ada yang ingin membahayakanmu.”
“Aku tidak mempermasalahkan itu lagi, Yah! Aku tidak bisa hanya diam menunggu! Tahu tidak , Yah? Musuh terbesar manusia adalah kebenaran yang disembunyikan.” Kataku kesal.
“Icha, dengarkan ayah untuk hal ini.” Ayah menatapku dengan pandangan dia tidak ingin di bantah.
"Kalaupun aku setuju untuk mendengarkan ayah dan menunggu, aku tetap akan diam-diam mencari tahu. Bukan kah mendengar dari orang lain justru akan ada kemungkinan terjadi kesalahpahaman?”
Ayah menghela napas panjang, dia mengangguk dan menjawab, “apa yang kamu katakan memang benar, tapi ayah benar-benar tidak mau menempatkanmu dalam bahaya. Setidaknya, tunggu sampai Bayu pulang untuk mendiskusikan ini lebih lanjut.”
“Apa ayah tidak percaya padaku? Apa karena aku lemah? Mungkin aku akan menghambat pencarian kalian.”
“Tidak seperti itu, Cha! Ayah dan suamimu tidak ingin melihatmu dalam bahaya. Kami ingin membuatmu aman dan selalu bahagia.” Sorot mata ayah terlihat sedih sampai membuatku tidak bisa menjawab.
Kasih sayang tersirat yang aku rasakan dari ayah memang asing, tapi aku menyukai perasaan ini, lega dan merasakan rasa aman yang tidak pernah aku dapatkan dari ayah Davin.
__ADS_1
“Tolong turuti ayah kali ini, hm?” Bujuknya.
Aku menghela napas panjang, memang ternyata kami sama-sama keras kepala, bahkan aku dan Bayu pun keras kepala. Mungkin, untuk kali ini aku harus mengalah. Biar bagaimanapun, mereka melakukan itu untukku juga.
“Baik. Tapi aku punya satu syarat.”
“Katakan.” Ayah terlihat lega.
“Kalau salah satu dari kalian, yang sedang mencari informasi tentang semua ini terluka, sekecil apapun, maka ayah harus menceritakan semuanya dan izinkan aku untuk ikut membantu. Janji?”
Ayah ingin membantah tapi aku segera mengangkat jari kelingking tangan kananku ke hadapannya.
“Janji?” Ulangku.
“Baiklah, janji.” Ayah mengaitkan jari kelingkingnya padaku meski sambil menghela napas berat.
***
Mataku sangat fokus memperhatikan pergerakan orang di layar laptop, mengerjap sekali lagi dan semakin yakin kalau yang ada di dalam video adalah sosok wanita, meski wanita ini memakai pakaian serba hitam dan memakai topi, hampir menyembunyikan wajahnya, tapi aku yakin kalau wanita ini adalah dokter Cilia.
Sudah sepuluh kali aku memutar ulang rekaman CCTV di rumahku yang tadi di berikan Lucy, tepat setelah aku keluar dari ruang kerja ayah Evano.
Sekarang, dengan meminjam laptop paman Kenzo, -sebelumnya ayah sudah mengizinkan aku untuk memakai laptop paman Kenzo- aku bisa memastikan kalau aroma tanaman rosmarin yang tadi siang tercium di ruang makan ternyata memang nyata. Rekaman CCTV menunjukkan dokter Cilia sengaja menyemprotkan aroma itu, satu jam sebelum ibu dan Daniel datang ke rumah.
Untuk beberapa saat, aku hanya bisa diam merenung, tidak pernah membayangkan, orang yang aku kenal selama ini, yang sudah aku anggap orang baik bahkan aku sempat mengaguminya, ternyata dia salah satu dalang di balik kesakitanku.
Aku tahu, apapun yang dokter Cilia semprotkan di ruang makan adalah sesuatu yang berbahaya. Dia sampai sejauh ini untuk membuat penderitaanku lebih lanjut.
Lalu sekarang, kalau di pikir-pikir lagi, dulu, aku yang emosianal menghadapi ibu, bahkan sampai membuat suaraku hilang, apa mungkin benar karena mentalku, atau justru semua itu di rencanakan olehnya?
...
__ADS_1