
...
“Lalu apa hubungannya denganku? Kamu sendiri yang menghancurkannya? Bahkan sebelum kita bertemu, aku dan Bayu sudah bersama! Kalau kau terus-terusan mencari masalah denganku, aku tidak akan segan lagi untuk melawanmu!” Aku berkata dingin dan tajam. Dia terlalu terobsesi karena karakter dan pekerjaanya sebagai selegram yang menuntutnya tampil sempurna.
Tapi sekarang aku tidak bisa lagi mentolerir sikapnya!
Tadinya aku berencana saat kembali ke vila aku akan berbaring sebentar karena rasanya tubuhku cepat lelah tapi sepertinya rencanaku telah gagal.
“Apa kamu masih belum mengerti juga? Pertama Bayu adalah pacarku sejak dulu. Apapun yang kamu tanggung sekarang itu karena akibat dirimu sendiri, kamu tidak mencari tahu dulu tentang siapa cucu tetua Jeremy sebelum menyebarkan gosip. Kedua, kita hanya baru bertemu kurang dari dua puluh empat jam dan sekarang kau berani memarahiku seolah aku lah yang merebut gebetanmu itu. Ketiga, berhenti mengganggu aku! Kau terlihat semakin bodoh karena terus menggangguku!” Aku mendorong bahu wanita ini, menekan setiap kata yang aku ucapkan.
Aku marah sekali padanya. Energiku terkuras hanya karena menerima tingkah bodohnya.
Aku berjalan melewatinya sembari sengaja menabrakan bahuku padanya, menghiraukan makian apapun yang Sandra ucapkan.
Kakiku menghentak lebih keras saat aku menaiki tangga, emosi ini masih terasa besar. Sekarang rencanaku adalah untuk mengambil barangku di kamar dan segera keluar dari vila secepat mungkin.
Lantai paling atas vila tidak ada siapapun kecuali pelayan yang sedang membersihkan di sepanjang lorong. Begitu aku masuk ke dalam kamar, semuanya terlihat sudah rapih dan paper bag yang aku akan ambil masih ada di atas meja seperti yang aku lihat terakhir kali.
Karena kejadian penculikan pagi tadi, aku jadi waspada dan memutuskan untuk memeriksa barangku dengan teliti, tidak mengharapkan ada apapun yang bukan milikku.
Setelah memeriksa semuanya, aku bernapas lega karena tidak ada apapun. Maka tanpa membuang waktu lagi aku segera keluar dari kamar, berjalan cepat menuju tangga.
Suasana sepi di vila entah mengapa membuatku bergidik takut, beberapa pelayan yang turun dan sempat berpapasan denganku membuatku refleks agak menjauhi mereka, membiarkan mereka lewat duluan. Bayangan tentang penculikan tadi pagi masih jelas.
Angin bertiup kencang di luar vila, ranting pohon bergerak-gerak menyentuh kaca jendela sehingga menghasilkan suara ketukan-ketukan.
Ketika langkahku sudah sampai di anak tangga terakhir, mataku tidak menangkap sosok Sandra yang tadi ada di ambang pintu vila. Beberapa orang yang sebelumnya ada di lantai ini juga sudah tidak ada.
__ADS_1
Baru saja aku menghela napas lega sembari berjalan menuju pintu utama vila tapi langkahku terhenti saat Sandra muncul di pintu itu dengan tiga orang pria di belakangnya.
“Ini dia orang yang kalian cari. Aku melihatnya sendiri kalau cucu tetua Jeremy sangat perhatian tadi.”
“Apa yang kau lakukan, Sandra?!”
“Aku hanya menunjukkan jalan pada orang yang mencarimu. Kalau begitu, aku akan pulang dulu. Selamat tinggal.” Sandra tersenyum licik padaku sembari melambai dan dia berbalik menghilang di balik ke tiga pria-pria ini.
Aku punya firasat buruk, dari tampilan mereka saja aku bisa tahu kalau mereka bukan sembarang orang. Pakaian mereka di dominasi warna hitam dan coklat, lalu cara mereka memegang pisau lipat saat mengeluarkannya dari saku juga seolah sudah biasa.
Pria yang berdiri paling depan sudah memegang pisau kecil itu di tangan kanannya, aku tidak akan hanya diam ketakutan. Aku harus segera keluar dari sini.
Pelayan-pelayan yang semula aku lihat berkeliaran sekarang tidak ada satupun yang muncul. Kenapa situasinya selalu seperti ini!
Ketika aku berusaha memikirkan jalan keluar, tiba-tiba dua orang pria di belakang tersungkur dan jatuh seperti ada yang memukulnya dari belakang. Refleks pria yang memegang pisaunya berbalik dan dengan cepat dia mendapat pukulan di rahangnya, sekarang mereka sudah jatuh kesakitan dalam sekejap.
“Apa kau terluka?”
“Tidak! Bagaimana kau ada di sini?”
“Aku memang sengaja ingin menyusulmu. Untunglah sepertinya aku datang tepat waktu!” Bayu menarikku ke dalam pelukannya, memelukku sangat erat.
Aku melepaskan pelukannya ketika dari ujung mataku melihat ketiga pria itu sudah berusaha untuk bangun. “Kita pergi dulu!”
Bayu mengangguk segera menggenggam tanganku dan hendak menarikku tapi pria yang membawa pisau lipat sudah melompat berdiri menghalangi kami.
Semuanya terjadi begitu cepat dan tanpa aba-aba penjahat itu mulai menyerang Bayu membabi buta.
Aku di dorong mundur oleh lelaki ini untuk menghindari perkelahiannya. Melihat bagaimana keduanya saling bertahan dan menyerang, bisa aku katakan penjahat ini seolah sudah terlatih dengan gerakan-gerakannya itu.
Dalam sekejap, Bayu sendirian melawan tiga pria yang sejak tadi ingin mendekatiku.
__ADS_1
Aku mencari sesuatu untuk di gunakan membantu Bayu, menemukan vas bunga kecil di atas meja. Aku segera menyambarnya dan tanpa ampun melemparnya pada salah satu pria yang hendak memukul perut Bayu dengan kakinya.
Celana di kakinya robek, ada darah keluar dari sana dan pria itu menatapku marah sembari dia mundur dan mengaduh kesakitan.
Tanganku merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel dan segera menghubungi dokter Stefan, karena hanya dia yang aku punya kontak nomornya.
Selama beberapa detik menunggu panggilan di angkat, mataku menyadari sudah ada beberapa pukulan yang berhasil tiga pria itu layangkan pada Bayu.
Dia hampir kewalahan melawan 3 orang sekaligus seperti ini, aku harus membantunya melakukan sesuatu. Tapi tidak ada barang dalam jangkuanku yang bisa aku pakai untuk memukul mereka. Lalu aku menunduk melihat sepatuku sendiri.
Benar!
Ini sepatu heels. Setidaknya kalau pakai sepatu untuk memukul mereka, itu akan sakit.
Aku jongkok untuk melepaskan sepatu kananku, meletakkan ponselku di lantai dan tidak mempedulikan apa dokter Stefan menjawab panggilanku. Sekarang, yang harus cepat adalah aku membantu Bayu.
Tidak tahu keberanian dari mana, aku berlari mendekati area pertarungan mereka dan memukul dengan keras kepala salah satu penjahat yang dekat dengan jangkauan ku hingga pria itu jatuh tidak sadarkan diri dengan tetesan darah mulai turun di keningnya.
“Ohh! Aku memukulnya!!” Aku berteriak senang merasakan kalau aku berguna.
“Mundur! Berbahaya!” Bayu menjawabku dengan nada khawatir.
Tapi aku melihat salah satu penjahat itu berhasil memukul pipi Bayu hingga membuatnya jatuh. Aku ingin mendekat tapi lelaki ini sudah berdiri lagi dengan cepat dan menghalangiku.
Bayu kembali maju dan mulai memukul dan bertahan terhadap serangan cepat dua pria ini.
Sekarang apa lagi yang harus aku lakukan?! Jika seperti ini terus, Bayu akan kelelahan dan mungkin dia akan banyak terluka!
Sebuah ide dan adegan muncul di kepalaku.
Setiap kali aku bersama dengan Bayu, aku seperti kehilangan akalku. Aku akan melakukan hal yang bahkan tidak pernah terbayang sebelumnya, seperti sekarang.
...
__ADS_1