
...
“Aku menuntut itu karena kamu menyebalkan!”
“Apa kau tidak sadar, kau juga sangat menyebalkan??” Balasku.
“Tentu saja aku sadar kalau aku menyebalkan, tapi aku bukan orang yang tiba-tiba mengambil keuntungan dalam kesempitan.”
“Apa maksudmu?” Tanyaku galak.
“Apa kau tidak sadar, tadi kau mencuri ciuman dariku? Ciuman panas yang tiba-tiba terhenti dan berubah jadi mood melow.”
“Oh!!” Aku mengerti, “jadi kau kesal karena ciuman kita harus terhenti, eh?” godaku menyenggol bahunya.
“Kau pikir, kau bisa seenaknya denganku? Kau tidak bertanggung jawab!” Guraunya dengan ekspresi marah yang di buat-buat.
Aku tertawa keras.
Ya ampun, mengobrol dengannya seperti ini saja mood ku berubah-ubah, dari serius, sedih, takut, senang, penuh cinta, jengkel, dan marah.
“Apa yang harus aku lakukan untuk bertanggung jawab?” Tanyaku menantangnya.
Bayu menyeringai jahil, dia menjawab, “kau tahu, aku selalu suka kalau kau yang memulainya. Kau terlihat lebih seksi.”
Wajahku benar-benar panas mendengar kata-katanya. Tapi aku juga tidak mau menolaknya. Maka, aku yang sudah gila ini langsung mendorong dada lelaki ini hingga dia dengan pasrahnya bersandar di sofa.
Aku mulai melepaskan kaos merah ini dari tubuh atasku, melemparnya ke belakang tanpa peduli di mana benda itu jatuh. Dengan senyum menyeringai, tanganku gantian untuk melepas kaos lelaki ini.
“T—tunggu sebentar!!” Bayu menahan tanganku yang hendak melepas celana piyama pendeknya.
“A—apa?” Tanyaku dengan suara tercekat karena gugup. Sejak tadi jantungnya terus menggedor-gedor dadaku hingga terasa agak ngilu.
“Aku tidak akan membiarkanmu yang memimpin sejak awal.”
Keningku berkerut, “kenapa?”
Bayu terkekeh pelan, senyum jahilnya kembali, dia kemudian bangkit duduk menghadapku yang sedang duduk di atas pahanya. Kepalanya mendekati telingaku dan mengatakan, “kalau aku yang memimpin, aku akan memastikan kita melakukannya sepanjang malam.”
Aku menjerit kaget saat tiba-tiba Bayu mengangkatku dan berbalik, membaringkanku di atas sofa. Tubuhnya ada di atas tubuhku. Tatapannya yang membara membuatku malu.
Jari tangan Bayu menyentuh telinga kiriku, menyelipkan rambutku ke belakag telinga dan tanpa mengatakan apapun lagi, dia tidak bisa menahan diri untuk mengigit daun telingaku di bibirnya. Itu lembut dan dingin.
Setelah dia menggigitnya, Bayu mengambilnya ke dalam mulut dan mengisapnya dengan ringan. Jari-jariku mengencang di sekitar bahu lelaki ini. Pada akhirnya, apa yang kami lakukan selanjutnya menjadi kesenangan dan kepuasan sepanjang malam.
__ADS_1
***
“Jadi, hari ini apa akan kau lakukan?” Bayu bertanya, kami berdua sedang ada di lift apartemen.
Pagi ini, aku yang masih mengantuk, memaksa ingin mengantarnya sampai depan pintu gedung, untuk mengantarnya berangkat kerja.
“Aku mau tidur sepanjang hari ini.” Jawabku dengan kepala bersandar di lengannya, dan mata terpejam.
Bayu terkekeh pelan, dia kemudian merangkul pinggangku dengan satu tangan dari samping dan tangan lain mengusap puncak kepalaku dengan lembut.
“Kalau gitu, istirahatlah dulu. Kamu terlihat lelah sekali.” Kepalaku terangkat dari posisi bersandar, mendongak menatapnya dengan sedikit mencibir.
“Salah siapa sampai seperti ini, huh?”
“Hah! Ya, aku ingat. Mereka akan sampai hari ini.” Gumamku malas dan kembali bersandar di lengannya dan memejamkan mata.
Ketika aku sedang menguap lebar dan Bayu menjahiliku dengan senagaja memasukkan kepalan tangannya ke mulutku. Tiba-tiba pintu lift berdenting hendak terbuka.
Aku melihat layar di atas pintu lift, menunjukkan angka 20.
Oh...
Jadi tadi saat kami masuk ke lift, tidak langsung turun ke bawah, tapi justru naik ke atas dulu. Kemudian pintu lift terbuka, perlahan menampilkan sosok seorang wanita dan pria paruh baya.
Aku tidak berniat menjauh dari Bayu, hanya diam menatap siapa yang akan masuk ke lift kosong ini.
Ternyata wanita itu adalah Nadya, orang yang wajahnya sempat aku lihat ada memar pagi kemarin, bersama seorang pria paruh baya berkumis yang tidak setinggi Bayu tapi wajahnya terlihat galak dan memiliki garis wajah yang keras.
Kedua orang itu sepertinya sedang berdebat sesuatu karena ketika pintu terbuka mereka berhenti seketika.
“Oh... Ini dia anak muda, keturunan dari keluarga Jeremy dan istrinya.” Gumam pria itu tak bersemangat, seolah bosan melihat kami.
Aku refleks mendongak menatap Bayu, pria ini hanya tersenyum kecil dan menyapa, “Selamat pagi, pak Baron.”
__ADS_1
Kedua orang itu masuk, bergabung dengan kami di dalam lift. Untuk sesaat, aku merasa canggung, entah mengapa ada sesuatu di antara Bayu dan pak Baron ini.
Lift kami turun tanpa ada yang berbicara sepatah katapun. Ketika pintunya terbuka, aku dan Bayu membiarkan pak Baron dan istrinya yang keluar lebih dulu.
“Apa ini? Kenapa sepertinya kalian bermusuhan?” Bisikku setelah dua orang itu berjalan jauh di depan.
Bayu yang menuntunku keluar lift hanya menjawab dengan santai, “ada orang-orang yang tidak suka dengan eksistensi kakek dan ayah, atau lebih tepatnya keluarga Jeremy. Dia lah salah satunya. Meski aku baru kenal dan belum pernah bermasalah dengannya, tapi selama aku tugas di sini, dia selalu mencari kesalahanku.”
“Aaaahhh aku ngerti!” aku mengangguk, “lalu bagaimana dengan istrinya? Kemarin pagi aku tidak sengaja berpapasan dengannya, wajahnya memar-memar seperti habis di pukuli. Tadi juga, kau melihatnya ‘kan!” Bisikku ingin tahu.
“Aku hanya mendengar gosipnya di kantor kalau dia berlaku kasar pada istrinya, tapi aku pikir kasar dalam arti pembawaan bicaranya, tapi ternyata kasar yang seperti itu.”
“Apa mungkin karena dulu saat mereka pacaran, suaminya sangat baik dan manis, tapi setelah menikah, sikapnya berubah. Bukannya banyak pasangan yang seperti itu?” Kataku.
“Boo, kamu bisa tanya aku langsung.”
Aku menyeringai, “apa?”
“Apa aku orangnya kasar atau tidak? Apa aku akan berubah setelah kita menikah atau tidak? Itu ‘kan?”
“Senang deh kalau suami peka.” Ledekku.
“Peka? Peka itu bukannya pasangannya palu? Peka dan palu.”
“Itu paku!” Jawabku, terkekeh geli mendengar leluconnya.
Obrolan kami tidak di teruskan karena tanpa sadar langkah kami berdua sudah sampai di depan gedung apartemen, lapangan parkir.
Bukan hanya aku yang pagi ini mengantar Bayu berangkat, tapi beberapa penghuni gedung apartemen ini pun melakukan hal yang sama.
Bayu menuntunku menuju motor sport yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, dia tahu tatapanku dan mengatakan, “ini motor temanku. Baru selesai service kemarin sore di bengkel dekat sini. Jadi aku di minta untuk membawanya.”
“Hati-hati di jalan. Jangan kebut-kebutan!” Kataku memperingatkannya saat Bayu sudah naik di atas motor itu dan memasang helmnya.
“Iya. Kamu juga di rumah aja hari ini. Jangan kemana-mana. Tunggu Dika dan Lucy datang.” Jawabnya dengan suara tertahan karena helm full face.
Aku mengangguk tersenyum kecil, mundur beberapa langkah dan melambai padanya ketika Bayu melajukan motornya menuju pintu gerbang, sebelum dia bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya, lelaki itu masih sempat-sempatnya melirikku dan balas melambai.
...
__ADS_1