
...
“Tapi kali ini berbeda! Ini tentang anak tante! Atau mungkin tante sendiri? Bisa kah tante memulai lagi dengan mendekati pria itu? Pasti bisa, iya ‘kan?” Suara langkah ke dua nya terdengar melewati bilik toilet ku, lalu suara keran air yang di putar terdengar nyaring.
Aku menduga mereka berdua ada di depan barisan wastafel.
“Fiona enggak bisa jawab semua pertanyaan tante, kalau tante tetap ingin mencoba mencari jawaban, kenapa tidak menemui yang lainnya? Kenapa harus Fiona? Fiona sudah di kenal sebagai keturunan yang gagal. Fiona enggak punya kemampuan apapun.”
“Tapi kamu satu-satunya cucu kandung dari ibu Tiara. Setidaknya, kamu pasti bisa berusaha untuk melihat!”
“Tante sedang menghina ku?”
“B—bukan maksud—“
“Sudahlah! Bisa tante pergi sekarang? Tolong jangan buat Fiona marah dan melaporkan tante ke keamanan!” Suara wanita itu terdengar benar-benar marah.
“Baiklah, tante pergi sekarang. Tapi tolong atur pertemuanku dengan ibu Tiara? Sekali ini saja?” Ada jeda panjang sebelum aku mendengar suara menyerah wanita itu.
“Baik! Hanya sekali ini lagi!”
“Terima kasih. Kalau gitu, tante pamit.” Setelah itu terdengar suara langkah kaki yang memakai hak perlahan menjauh hingga tidak terdengar lagi.
Aku tidak mengerti inti pembicaraan mereka, tapi sebenarnya apa yang di inginkan tante Marisa? Dia bahkan menghubungkan nya dengan Hanna.
Lalu Fiona dan ibu Tiara?
Aku memutuskan untuk membuka pintu bilik toilet setelah berpikir sebentar, berjalan mendekati barisan wastefel dan menemukan wanita berambut hitam panjang bergelombang menyentuh pinggangnya sedang menunduk, masih sedang mencuci tangannya.
Sepertinya tidak ada kesempatan lagi, feeling ku mengatakan aku harus tahu. Entah mengapa ucapan tante Marisa menggangguku.
“F—Fiona?” Tanya ku menyapa dengan hati-hati.
Wanita ini mendongak dan melompat kaget begitu melihat aku dari bayangan di cermin sedang berdiri di belakang nya.
“Astaga! Apa ini? K—kau mengenalku?” Dia berbalik masih kaget menatapku.
Aku tersenyum kecil dan maju mendekatinya untuk mematikan keran air yang masih menyala. “Maaf, baru saja aku mendengar percakapan kalian. Kau dan tante Marisa.”
Tinggi wanita ini sama seperti ku, dia memakai celana jins biru dongker di padukan dengan kaos putih polos berkerah ‘V’ dan di balut kardigan oren kecoklatan. Wajahnya kecil dan cantik, bulu matanya panjang dan hidungnya mancung, bibirnya yang kecil di sapu oleh lipstik berwarna peach.
“Mungkin ini terdengar kurang ajar tapi boleh aku tanya apa yang kalian bicarakan tadi?” Tanya ku pelan tapi Fiona justru masih melotot menatapku, dia seperti sedang terpesona oleh sesuatu.
Tidak mungkin dia terpesona oleh kecantikan ku ‘kan? Menurutku Fiona lah yang lebih cantik dariku. Dia seperti boneka.
__ADS_1
“Astaga! Astaga! Astaga!” Dia tiba-tiba berteriak kegirangan sembari menggenggam kedua tanganku.
“Aku bisa melihat sesuatu darimu!”
“Hah?”
“Aku! Selama dua puluh enam tahun hidupku! Akhirnya aku bisa melihat sesuatu! Hahahaha.” Dia masih berteriak senang dan kali ini lompat-lompat sembari menggerakkan ku agar aku ikut menari konyol dengannya.
“Jadi seperti ini maksud nenek? Melihat dengan mata batin!”
“Tunggu sebentar! Apa maksudmu?“
“Siapa nama mu? Aku Fiona Maharani.” Fiona mengulurkan tangannya dengan antusias.
“Aku Natasha Icha Danendra.” Jawabku menyambut uluran tangannya.
“Bisa kau beritahu aku maksud percakapan kalian? Apa yang tante Marisa ingin kan?” Tanyaku cepat sebelum wanita berkata.
Lalu dia berdehem seolah baru sadar apa yang tadi dia lakukan, kemudian dia menatapku dengan pandangan yang berusaha menyembunyikan ke kagumannya, tapi itu percuma karena sorot matanya masih terlihat sangat antusias.
“Kamu mengenal tante Marisa?”
“Ya.”
“Tapi aku tidak di bolehkan membongkar rahasia klien.”
“Ya, kamu pernah dengar komunitas peramal Prognoz?”
“Tidak.”
“Tentu saja, kamu dan orang-orang di sekitarmu tidak pernah menemui peramal, tapi kami adalah komunitas peramal paling terkenal di negara ini. Kami banyak di cari oleh orang-orang yang ingin di ramal seperti tante Marisa tadi.”
“Jadi, tante Marisa ingin di ramal?” Tanyaku tidak percaya.
“Dia sudah sering datang tapi entah mengapa akhir-akhir ini dia jadi tidak sabaran dan ingin di ramal terus. Padahal jadwal kami padat sekali.”
“Apa yang ingin dia ramal?”
“Tidak bisa aku katakan.” Katanya menggeleng cemberut.
Aku menghela napas panjang, mengerti kalau itu pasti rahasia klien.
“Baiklah, kalau gitu, terima kasih.” Aku hendak berbalik pamit tapi Fiona menahan tanganku.
“Tunggu dulu! Bisakah aku minta nomor telpon mu? Aku ingin kita selalu bertemu.” Aku mengerutkan kening curiga tapi Fiona langsung tertawa dan menggeleng.
“Bukan seperti yang kamu pikirkan, aku ingin kita bertemu karena kau satu-satunya orang yang aku temui selama ini yang bisa aku lihat dengan mata batinku.” Aku mengerutkan kening tidak mengerti.
“Singkatnya, aku adalah cucu kandung peramal terkenal dan terhebat bernama nenek Tiara tapi aku berbeda dari yang lain, sejak kecil aku tidak bisa meramal, aku orang normal dan karena hal itu lah orang-orang di komunitas kami menyebutku semacam produk gagal. Tapi entah kenapa aku langsung bisa melihat sesuatu dari mu begitu hanya melihatmu seperti ini. Ini tidak pernah terjadi, jadi setidaknya aku harus tahu dan belajar.” Jelasnya antusias sekali.
__ADS_1
“Aku bisa memberikan nomor telponku dan kita bisa bertemu tapi dengan dua syarat. Pertama, jangan katakan apapun padaku apa yang kau lihat dari ku kecuali aku memintanya.” Fiona mengangguk tanpa membantah.
“Yang kedua, kau harus menceritakan semuanya apa yang tante Marisa inginkan. Sedetail mungkin.” Mendengar syarat kedua ku, bahu Fiona seketika merosot lesu.
“Aku tidak yakin soal itu.”
“Intinya kau memanfaatkan ku, dan aku juga memanfaatkan mu, kita sama-sama untung ‘kan?” Kataku berusaha meyakinkan nya.
Dia terdiam sebentar lalu tangannya segera merogoh saku celana nya, mengeluarkan ponsel untuk menelpon seseorang.
“Halo nek, aku bisa melihat—benar, dia seorang wanita. Umur?” Fiona mendadak menatapku.
“Umur mu berapa?”
“Tahun ini dua enam.” Jawabku.
“Benar nek, seumuran denganku. Kalau gitu boleh aku… hah? Menikah?” Fiona mengerutkan kening sembari berbicara di telpon.
“Tidak, aku tidak bisa melihat sudah menikah atau belum, tapi melihat ada cincin di tangannya—“
“Aku sudah menikah, beberapa hari lalu.” Kataku menyela ucapannya di telpon karena Fiona melirik ku terus.
“Oh! Baik! Terima kasih nek!” Setelah panggilan di tutup, Fiona menatapku antusias.
“Apa jangan-jangan nenek mu meramalkan pertemuan kita?” Tebak ku.
“Ya, katanya, nenek bisa melihat ada seorang wanita yang seumuran denganku akan menjadi teman baru ku yang menguntungkan. Dia juga sudah melihat kalau kau terterik dengan masalah tante Marisa, kalau wanita itu baru menikah, maka aku boleh memberitahumu. Itu artinya kau orang yang di ramalkan nenek.”
Aku tidak tahu apa harus mempercayai semua ini sepenuhnya? Tapi untuk sekarang, itu tidak penting.
“Baiklah, bisa kau ceritakan, apa yang tante Marisa inginkan?” Tanyaku kembali ke inti pembicaraan kami.
“Intinya, tante Marisa ingin aku mengatur pertemuan dengan nenek Tiara karena dia ingin di ramal untuk anaknya Hanna, katanya dia ingin di ramalkan apa bisa Hanna masuk ke keluarga baru anak tirinya. Dia ingin Hanna atau tante Marisa sendiri ikut terlibat dalam keluarga itu. Tapi aku pikir--” Fiona menatapku intens sebelum melanjutkan “Maksud tante Marisa, itu keluargamu? Jadi kau anak tiri tante Marisa?”
“Aku tidak yakin apa sebutan untuk hubungan kami. Tapi dia bukan benar-benar ibu tiri ku karena ternyata baru-baru ini aku mengetahui fakta kalau ayah yang selama ini aku anggap sebagai ayah kandung ternyata bukan.” Jawabku mengangkat kedua bahuku, membicarakan ini tidak membuat hatiku sakit, aku merasa biasa saja sekarang.
Fiona mengangguk. “Kalau kau ingin dengar tentang tante Marisa, aku bisa memberitahumu lebih detail tapi mungkin tidak sekarang, jadi bisa aku minta nomor telponmu?”
“Ya. Benar, aku lupa, Bayu sedang menungguku.” Kataku sadar kalau mungkin saja lelaki itu sedang khawatir mencariku.
Aku segera memberikan nomor telpon dan Fiona mencoba memanggil ke nomor ku. “Itu nomorku, kalau kau ada waktu, kabari ya.”
“Oke. Senang berkenalan denganmu, Fiona.”
“Aku juga, sampai jumpa, Natasha.” Fiona tersenyum melambai padaku dan aku langsung berbalik balas melambai padanya juga, melangkah menuju pintu toilet.
...
__ADS_1