
...
“Ibumu benar-benar tidak tahu malu. Bertemu lagi dengan ayahku menunjukkan jika wanita itu hanya ingin uang!! Sudah berapa pria yang menjadi korban ibumu itu??”
“Kapan dan dimana dia bertemu dengan ayahmu?”
“Aku tidak harus melaporkan semuanya ‘kan? Kau sebagai putri satu-satunya seharusnya lebih tahu.”
Aku kecewa!
Aku marah sekarang!
Apa ibu kembali bertemu dengan ayah Jane setelah delapan tahun? Seharusnya tidak boleh seperti ini! Aku tidak ingin kejadian delapan tahun lalu terulang, saat ibu hampir menghancurkan rumah tangga orang lain.
Saat aku yang menjadi sasaran amarah dari Jane dan nyonya Alexander. Saat ibu juga memarahiku karena ikut campur dengan urusannya.
“Aku tidak tahu.”
Jane sudah berdiri sangat dekat di depanku, wanita ini tersenyum meremehkan. “Menjauh dari keluargaku, atau aku akan bertindak kejam!”
Dadaku terasa berat dan aku merasakan tenggorokkanku perih.
Aku ingin menangis.
Aku ingin berteriak.
Jika bisa, sekarang juga aku ingin berlari menemui ibu dan mengatakan padanya agar tidak mengganggu keluarga Alexander tapi rasanya berat sekali.
Ada sisi pertahanan dalam diriku yang menolakku untuk tidak bertemu dulu dengan ibu mengingat apa yang terjadi
padaku lusa kemarin. Saat suaraku menghilang untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun.
Jika aku menghadapi ibu, aku takut tidak bisa lagi bersuara. Tapi aku tidak bisa diam saja seperti ini. Aku juga tidak ingin keluarga Alexander hancur karena ibu.
“A—aku akan berbicara dengannya setelah pekerjaanku selesai.”
“Tidak bisa! Telpon dia sekarang dan suruh dia untuk menjauh!!”
Aku diam, menatap sorot mata Jane yang penuh dengan amarah. Matanya sedikit basah dan aku semakin tidak tega memikirkan bagaimana jika aku yang ada di posisinya.
“Apa yang kamu tunggu?! Atau jangan-jangan kamu sudah merestui tindakan ibumu itu?!”
“Tidak!”
“Cihh.. Tidak menyangka parasite seperti kalian akan kembali ke keluargaku.”
__ADS_1
Seluruh tubuhku bergetar. Aku tentu saja tidak terima dengan ucapannya, tapi aku tidak ada tenaga untuk bertengkar dengannya.
“Cepat telpon sekarang atau aku akan menyebarkan masalah ini ke karyawan di perusahaan ini!”
Meskipun berat tapi aku akhirnya membuka kunci layar ponsel dan mencari kontak nama ibu. Tanganku terasa bergetar saat aku menekan tombol hijau.
Sengaja aku berbalik dan berjalan agak menjauh dari Jane sambil menunggu ibu mengangkat telpon. Beberapa kali aku menghembuskan napas, mengatur pernapasanku agar lebih tenang.
“Masih ingat ibu?!”
“Bu—“ Suaraku tercekat mendengar bagaimana suara sarkastik ibu menjawab. Jantungku berdetak cepat dan rongga dadaku mulai kesakitan.
“Anak macam apa yang tidak peduli ibunya sakit? Kau pura-pura tidak tahu padahal Daniel sudah menelponmu tempo hari.”
“Bu, kau bertemu lagi dengan Pak Alexander?” Aku tidak ingin basa basi, aku ingin cepat mendengar jawaban ibu.
“Apa? Apa yang kau pedulikan? Mau ibu bertemu atau tidak, jangan mencampuri urusan ibu!!”
“Bu!! Tolong berhenti menjadi orang ketiga! Apa ibu tidak malu?” Aku sedikit berteriak. Dadaku benar-benar sakit.
“YAAKK!! Kau sudah berani berteriak pada ibumu sendiri? Mana sopan santunmu?!”
Aku tidak tahan lagi, air mataku sudah berjatuhan keluar dari pelupuk mata. Aku mendongak berusaha untuk menahannya tapi tidak bisa.
Lalu tiba-tiba dari arah belakang aku merasakan seseorang dengan sengaja menabrak bahuku hingga aku hampir
Jane berjalan melewatiku menuju pintu, sebelum wanita itu menghilang dia sempat menatapku dengan tatapan
ancamannya.
Kakiku terasa seperti jelly tepat ketika Jane telah keluar. Aku tidak kuat lagi dan berjongkok masih dengan
ponsel di telinga kanan. Aku tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk menghadapi ibu.
Air mataku tidak berhenti keluar, aku menangis dalam diam. Aku berada di posisi yang tidak menguntungkan, seolah aku tidak bisa bergerak sama sekali.
“B—bu, ayo kita bertemu dan bicara. Kita selasaikan semuanya. Apa yang ibu minta, akan aku turuti yang penting ibu jangan pernah berhubungan lagi dengan keluarga Alexander.”
“Jadi kau menuduh ibu yang menghancurkan keluarga mereka?! Alexander sendiri yang terus mengejar ibu!! Keluarganya tidak bisa di selamatkan. Waahh kau membuat ibu jadi penjahatnya di sini, hah?”
“Bu, bisakah kau membayangkan betapa aku sangat mencintaimu? Bisakah ibu menjawabku tanpa prasangka dan amarah?”
“Tidak bisa! Aku masih tidak menyukai sifatmu itu, sifat cerewetmu itu yang membuatku harus berpisah dengan suamiku!!”
“BU!! DIA JUGA AYAHKU!”
“Lihat? Kau bahkan membentak ibumu lagi.”
__ADS_1
Oh Tuhan.
Dadaku sakit sekali. Air mataku tidak bisa berhenti keluar. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan untuk mengurangi rasa sakit ini?
“Bu, sekali ini saja. Tolong menjauh dari keluarga Alexander. Kita bertemu dan bicarakan semuanya, hm? Aku minta
maaf jika aku selalu menyinggung ibu. Aku tidak bermaksud melakukannya. Yang pasti, aku sangat menyayangi ibu.”
Dan aku merindukan ibu. Aku merindukan suara lembut ibu ketika memanggilku. Aku merindukan pelukan ibu. Aku
merindukan senyuman ibu. Semua yang aku rasakan ketika masih kecil, meskipun samar tapi aku mengingatnya.
“Sekali lagi kau menuduhku menghancurkan keluarga Alexander, aku tidak akan pernah memaafkanmu!”
Tut.
Sambungan terputus.
Hanya mendengar suara ibu saja, membuat pertahananku hancur. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana harus
menghadapi ibu langsung.
Rasa trauma yang besar dalam hati membuatku takut dan tidak ingin berhadapan dengan ibu. Hampir dua puluh tahun hidupku, ibu selalu berkata kasar dan mengancamku.
Aku sudah memberontak dan meminta maaf tapi tidak ada yang berubah. Perpisahan ibu dengan ayah lah yang membuat ibu sangat membenciku.
Aku memang bersalah, tapi saat itu aku masih kecil, aku tidak tahu apapun tentang perceraian, aku tidak tahu bahwa perkataanku membuat mereka harus berpisah.
Aku merasakan sangat lemas, seolah semua tenagaku menguap entah kemana. Aku masih diam menatap ke lantai dengan mata dan pipi yang basah.
Biasanya aku jarang menangis meskipun harus berdebat dengan ibu, tapi sekarang hatiku tidak tahan lagi mendengarnya.
TAKK!!
Tiba-tiba lampu yang ada di ruangan mati diikuti suara teriakkan kaget dari anggota timku di ruang sebelah. Sebelum aku keluar, cepat-cepat aku membersihkan pipi dan pelupuk mataku, tidak ingin meninggalkan jejak air mata di sana.
Aku berjalan cepat menuju tempat saklar listrik di lantai ini, samar-samar di sana sudah berdiri Wildan, office boy yang juga sedang menatap bingung benda itu.
“Wildan, bagaimana gedung sebelah? Apa sama listriknya mati?”
“Oh bu Icha, iya sedang di periksa oleh Dani.” Aku mengangguk, Dani dan Wildan adalah office boy yang bekerja
membersihkan seluruh lantai gedung ini.
“Tolong kamu cari Dani, jika hanya gedung ini yang listriknya mati, panggilkan Pak Setno ya.” Wildan mengangguk
dan segera berlalu dari hadapanku. Padahal sudah mendekati jam pulang kantor, tapi listrik harus mati.
__ADS_1
...