EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 162


__ADS_3

...


 


 


 


 


“I—icha?! Ada apa? Kenapa menangis?” Bayu belum balas memelukku dan hal itu membuat aku semakin khawatir.


“Maafkan aku karena berkata kasar tadi. Tolong jangan tinggalkan aku. Hiks!”


“Bayu, jahitannya terbuka. Kita harus cepat mengobatinya.” Suara panik dokter Stefan terdengar tapi aku tidak ingin pergi, aku masih ingin mendegar suaranya, masih ingin menghirup aroma tubuhnya, masih ingin memeluknya dengan erat.


 


“Astaga! Larinya cepat sekali!” Aku mendengar suara Ronald sekarang.


“B—bay, dia terluka dan berdarah-darah.” Kata Lifer ngos-ngosan. Aku semakin mengeratkan pelukanku yang membuat Bayu sedikit menunduk.


“Kami bertemu dengannya di luar kamar, dia sepertinya mencarimu. Tadi dia sangat khawatir dan ketakutan.” Nada suara Benny terdengar lembut, baru kali ini aku mendengar nada suaranya yang ini.


Lalu sekarang aku merasakan kedua tangan Bayu yang memeluk pinggangku. “Ada apa? Kenapa mencariku sampai menangis seperti ini, hm?”


Aku merasa semakin sedih mendegar suara lembut Bayu yang bertanya. Entahlah kenapa aku jadi cengeng seperti ini.


“Jangan mengatakan untuk berhenti mencintamu. Aku tidak ingin berhenti mencintaimu!” Jawabku tegas yang justru mendapat respon tawa darinya.


Sekarang aku merasa seolah melayang, Bayu mengangkatku dengan memeluk kedua pahaku. Refleks aku memeluk lehernya lebih erat, membuat tinggi kepalaku sama dengannya. wajahnya sudah ada di depan wajahku sangat dekat.


“Kita bawa ke UGD untuk menjahit lukanya.” Kata Dokter Stefan terdengar.


Meskipun aku akhirnya menyembunyikan wajahku di lehernya tapi aku sadar kalau semua orang sedang menatapku, dokter Stefan yang memimpin jalan dan ketiga pria ini juga ikut membuka jalan untuk membantu Bayu tanpa hambatan karena beberapa kali aku bisa mendengar suara mereka yang meminta orang-orang untuk memberi jalan pada kami.

__ADS_1


“Apa kamu bermimpi buruk hingga mencariku sampai seperti ini?” Itu bisikkan Bayu sembari dia masih terus menggendongku seperti ini. Aku bisa merasakan detak jantungnya juga suhu tubunya.


“Apa kamu marah? Aku tadi tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. Maaf karena berkata kasar.”


“Sayangku, aku tidak marah. Aku bahkan tidak ingat tadi kamu memakiku, aku tahu kamu tidak seperti itu. Aku yang justru membuatku kesal sampai kamu menangis ‘kan? Maafkan aku ya.”


Sekarang aku sudah bisa berhenti menangis dan hatiku juga sudah merasa jauh lebih baik. Karena rasanya aku sudah tidak merasakan sakit lagi di rongga dadaku, sekarang perhatianku tertuju pada luka di tangan kanan dan bahu kiriku ini.


Benar! Sepertinya jahitannya terbuka karena sakit sekali dan terasa kebas. Perih ini membuat kepalaku pusing. Bahuku seperti melemah dan tanganku juga tidak kuat lagi terangkat.


Aku tidak tahu seberapa jauh UGD tapi rasanya seperti sangat jauh. Aku membiarkan tubuhku yang lemas ini bersandar pada Bayu, membiarkan kedua tangan yang semula memeluk bahunya erat harus terkulai lemas. Kepalaku bersandar lemas di bahunya.


Napasku memburu karena tidak kuat menahan perih. Rasanya aku akan pingsan sampai suara panik Bayu seolah menarikku kembali.


 


“Tidak! Tetap bersamaku, cha!”


“Senang rasanya bisa memelukmu lagi.” Bisikku pelan. Untuk berbicara saja rasanya sangat berat.


 


Samar-samar pandangangku melihat orang-orang di sekelilingku panik mempersiapkan pengobatan untukku, kehadiran Bayu yang juga ada di samping kananku semakin tidak jelas.


Sebuah sentuhan lembut di keningku mengantarkanku pada perasaan yang sulit di jelaskan. Tubuhku hanya merespon dengan air mata yang turun dari sudut mataku.


Mataku memang terpejam tapi aku masih menyadari orang-orang di sekeliling ku, terutama dokter Stefan yang memerintahkan suster untuk memberikan beberapa suntikan untukku. Lalu aku juga tahu kalau pria ini kembali mejahit luka di bahu kiriku.


Lama kelamaan aku bisa kembali menggerakkan jari-jariku, sepertinya suntikan yang di berikan dokter Stefan berhasil mengembalikan kembali tenagaku.


Aku membuka mataku saat wajah pertama yang aku lihat adalah wajah dokter Stefan yang mulut dan hidungnya tertutup masker. Dia sedang menggunting benang di bahu kiriku dan matanya sempat melirikku.


Pria ini kemudian memberikan sentuhan terakhir, menutup jahitannya pakai perban tempel besar lalu dia melepas sarung tangan dan memberikan alat-alat yang di pakainya pada suster di sampingnya.


“Bagaimana tubuhmu? Sudah lebih baik?” Tanyanya sembari melapaskan masker.

__ADS_1


Aku mengangguk pelan dan dokter Stefan menghela napas panjang. “Jangan sampai lukanya terbuka lagi! Sekarang, waktu istirahatmu harus di tambah!”


Ingin protes tapi pria ini sudah berdiri seolah menghindariku. “Tolong panggil Bayu, pria yang tadi  menggendongnya.”


Suster yang tidak aku kenal di samping dokter Stefan mengangguk lalu dia berbalik pergi, kemudian pria ini kembali menatapku sembari tangannya terangkat.


Dia mengelus puncak kepalaku, ada tatapan lembut dan khawatir yang di pancarkan dokter Stefan. “Kalian berdua, aku bisa melihat jelas kalian begitu saling mencintai. Bayu sudah aku anggap sebagai adikku dan aku juga sudah menggapmu adikku, adik perempuanku satu-satunya. Jadi tolong jaga dia ya.”


Kehangatan dan kasih sayang dokter Stefan terlihat tulus. Aku tidak percaya pria sepertinya akan mengganggapku adiknya. Terlebih, aku tidak pernah membayangkan memiliki seorang kakak.


“Terima kasih dok. Aku selalu merepotkanmu.” Jawabku berbisik pelan.


Lalu usapan dokter Stefan terlepas mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Bayu bersama suster tadi sudah datang.


“Hari ini dia harus beristirahat total. Lukanya sudah di jahit dan tidak boleh sampai terbuka lagi. Meskipun lukanya tidak dalam dan dalam keadaan normal bisa sembuh dengan cepat tapi karena dia sudah terkena racun tiga kali tubuhnya lebih lemah dari biasanya, penyembuhan kali ini harus di perhatikan ekstra. Jangan membuatnya stress, hm?” Aku bisa melihat tatapan dengan maksud tersembunyi yang di layangkan dokter Stefan pada Bayu.


Untuk beberapa detik Bayu terdiam namun akhirnya dia mengangguk. “Aku mengerti.”


“Aku akan membawa kursi roda, kau bisa membawanya kembali ke kamar.” Kata dokter Stefan sembari berlalu dari hadapan kami.


UGD tidak begitu ramai pagi ini tapi tetap saja aku merasa gugup ketika Bayu sudah ada di sampingku. Dia duduk di kursi tempat dokter Stefan tadi menjahit lukaku lalu tersenyum kecil menatapku.


“Jangan khawatir, aku akan selalu mencintaimu. Tidak mungkin membiarkan wanita hebat sepertimu ini menjauhi hidupku. Aku yang sangat membutuhkanmu jadi—tolong jangan menangis.” Jari tangannya menyentuh sudut mataku, menghapus setetes air mata yang tidak aku sadari keluar.


Perasaanku begitu rumit pagi ini, awalnya aku kesal, kami berdebat, lalu marah padanya hingga menangis dan beberapa saat lalu aku terisak merasa bersalah, tidak ingin dia pergi. Sekarang pun meskipun dia sudah ada di sampingku tapi hatiku seperti belum lebih baik,  aku bersedih lagi tanpa sadar.


“Melihatmu menangis membuat aku ingin menangis juga. Jadi katakan apa yang bisa membuatmu lebih baik? Aku akan melakukan apapun yang kamu minta selama itu masuk akal. Aku akan memanjakanmu, hm?” Bayu bertanya lembut, ada ekspresi kesedihan yang dia berusaha sembunyikan. Kata terakhirnya mengingatkanku dengan dia yang mengingau semalam.


Kami saling menatap untuk beberapa detik selanjutnya, Bayu masih menunggu jawabanku dan aku masih berpikir apa yang menyebabkan pagi ini perasaanku jadi lebih sensitif dan moody seperti ini.


 


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2