
...
“Hal apa yang paling prof. Bora ingin lakukan bersama dokter Stefan yang sampai hari ini belum di lakukan?” Aku bertanya sembari lanjut memakan buburku.
“Hmm.. Apa ya?? Lalu kalau Icha gimana?”
“Melakukan perawatan wajah bersama. Heheh Aku sudah memikirkan ini dari beberapa minggu lalu tapi belum di lakukan.” Aku tertawa membayangkan aku dan Bayu sama-sama berbaring dengan masker di wajah kami.
“Ohh itu ide bagus. Benar, aku juga kadang ingin memanjakan wajahnya tapi kau tahu dia juga dokter, dia pasti juga merawat wajahnya dengan baik. Hmm... tapi aku ingin coba memancing bersamanya. Kami belum pernah melakukannya.”
“Sepertinya akan menyenangkan. Memancing. Kami juga belum pernah melakukannya.”
Selanjutnya aku dan prof. Bora tertawa dan melanjutkan obrolan kami sampai ke topik yang jauh lebih dalam. Senang rasanya bisa bebas berbicara mengenai pacar kami masing-masing. Kami jadi tahu apa yang harus di lakukan dari sisi wanita jika berada dalam situasi-situasi tertentu.
Prof. Bora orangnya sangat supel dan mudah bergaul mengingat gelarnya. Dia juga masih muda, meski lebih tua empat tahun dariku. Ternyata wanita ini sangat pintar, dia beberapa kali loncat kelas saat di sekolah dasar, SMP, SMA bahkan di bangku kuliah. Bahkan kami sampai membahas musik yang kami sukai.
.
..
…
Dari sore hingga larut malam perhatianku teralihkan dengan tumpukan tugas online di kampus yang belum aku selesaikan. Untungnya prof. Bora membawa laptopnya jadi aku bisa pinjam darinya.
Keadaanku juga sudah jauh lebih baik sekarang, jarum infus juga sudah di lepaskan seiring dengan cairan infus yang habis. Tapi aku masih belum mendapatkan suntikan penawar yang ketiga seperti yang wanita itu katakan tadi padahal sekarang jam menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.
Dan hari ini aku belum mendapa kabar dari Bayu sama sekali, prof. Bora menyampaikan pesan dari dokter Stefan kalau Bayu masih ada tugas yang di kerjakan sehingga belum mengabari.
Udara malam ini sangat dingin dan untungnya prof. Bora meminjamkan sweater dan celana nya padaku setelah aku mandi tadi sore.
Aku duduk di tempat yang sama saat mengobrol dengan prof. Bora tadi sore karena di sini tempat yang bagus untuk aku memandang ke pekarangan rumah depan pintu yang tadi tempat Bayu memarkirkan mobilnya. Tidak ada apapun di sana, aku hanya berharap Bayu akan muncul dengan mobilnya lalu dia mendongak menemukanku dan melambai dengan senyumannya.
__ADS_1
Suasana kamar yang aku tempati sangat sunyi, telingaku samar-samar mendengar suara TV dari lantai bawah tempat prof. Bora sedang berada.
Tapi lamunanku buyar saat mendengar suara getaran ponselku di atas meja samping laptop. Ada telpon masuk dari Ibu yang langsung membuat mood ku jatuh. Aku bisa menebak ibu akan marah-marah lagi karena warisan bibi Rose tidak bisa di proses.
“Halo—“
“Kau di mana? Kenapa tidak ada di rumah?”
“A—aku menginap di rumah teman.”
“Kau mau kabur? Aku sudah tahu ini pasti akan terjadi cepat atau lambat. Kau menipuku dan memberi harapan
padaku kalau urusan warisan itu akan beres, tapi nyatanya warisan itu tidak bias di ganti nama!”
Aku menghela napas, tebakkan ku benar. “Aku akan mengurusnya.”
“Kenapa lambat sekali hanya mengurus hal seperti itu?!”
Aku berdecak menggelengkan kepala dengan sifat ibu yang tidak pernah berubah. Meskipun rasa sakit hatinya masih sama seperti sebelumnya tapi entah mengapa sekarang aku jauh lebih tenang menghadapinya.
“Ibu tahu kau sibuk pacaran dengan tunangannya Jane Alexander!! Ibu kan sudah peringatkan untuk menjauhi lelaki itu! Jangan merebut tunangan orang lain!”
“Tentunya dia ingin kamu putus hubungan dengan tunangannya!”
“Lalu apa yang ibu dapat dari melarangku seperti ini?”
“A—apa yang kau katakan! Kau berpikir buruk tentang ibumu sendiri?!”
“Apa ibu tidak bosan memainkan drama yang sama?” Nada bicaraku masih sama seperti di awal.
“Anak kurang ajar!!” Teriakkan ibu di sebrang telpon membuatku refleks menjauhkan benda pipih itu dari depan telinga.
“Kau sudah berani pada ibu mu sendiri?!”
“Yaa selalu seperti ini! Ibu konsisten sekali!” Komentarku.
“Suruh Jane Alexander menelponku sekarang juga kalau-kalau dia sedang ada di samping ibu atau bilang padanya langsung untuk menghadapku, jangan menjadi pengecut.”
“Apa?! Kau—“
__ADS_1
“Bu, ini sudah malam. Aku tutup telponnya.” Aku segera memutuskan sambungan tanpa mendengar jawaban ibu. Setelah aku menghembuskan napas panjang dan mengusap dadaku. Meski jantungku berdetak cepat tapi syukurlah aku benar-benar tenang sekali menghadapinya.
Aku memejamkan mata sebentar untuk menenangkan suasana hatiku, lalu membuka mata dan hal pertama yang aku lihat adalah pekarangan rumah depan pintu yang sejak tadi kosong sekarang sudah ada dua mobil hitam mewah di sana terlebih keduanya baru datang.
Tiba-tiba saja aku merasa gugup karena berharap Bayu ada di antaranya. Di salah satu mobil, kedua pintu depan dan belakang terbuka memunculkan tiga orang pria yang dua di antaranya familiar bagi ku. Aku ingat mereka adalah orang-orang yang aku kenal saat kasus di desa.
Mereka adalah Lifer dan Ronald.
Lalu mobil lainnya di kedua pintu depan terbuka. Jantungku semakin berdetak tak karuan begitu sosok yang sepanjang hari ini aku rindukan muncul.
Bayu baru turun dari kursi depan penumpang dengan membawa seragam jas hijau lumut di tangan kirinya. Dia belum melihatku tapi aku bisa melihat raut wajah lelahnya dari tempatku.
Tangan lainnya yang bebas sedang berusaha untuk melepaskan dasi dari kerah kemejanya, sesaat aku bisa melihat raut wajahnya yang menggeram kesal karena susah untuk melepaskan simpul dasinya.
Aku terkekeh geli melihatnya, baru pertama kali aku melihat Bayu menampilkan ekspresi yang seperti itu.
Ya ampun lucu sekali.
Pria lain yang turun dari mobil yang sama dengan Bayu adalah dokter Stefan, aku baru pertama kali melihat pria berambut coklat madu itu memakai setelan milternya. Ke lima pria itu memakai kemeja seragam militer yang sama dan terlihat tampak gagah meskipun sudah malam.
Persis seperti yang aku bayangkan tadi, Bayu menyadari keadaanku dan dia mendongak. Tatapan kami bertemu lalu perlahan senyuman lebar lelaki itu muncul, dia melambai padaku yang langsung di balas senyum lebar dariku.
Perhatianku teralihkan mendengar getaran ponsel di atas meja. Ada telpon masuk dari nomoryang tidak di kenal.
Apa mungkin ini Jane?
“Hal—“
“Kembalikan tunanganku!!”
Benar dengan dugaanku. “Siapa ini?”
“Jangan pura-pura bodoh!”
“Apa kau tidak punya sopan santun? Menelponku tanpa mengenalkan diri.” Aku memutar bola mata kesal dan puas karena ternyata benar dugaanku kalau Jane ada di samping ibu tadi.
__ADS_1
...