EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 226


__ADS_3

 


 


...


 


 


 


 


 


“Ayah?”


 


 


“Kalian datang, ayo duduk.” Ayah Rasha yang sedang membuka berkas-berkas di hadapannya mempersilakan kami untuk duduk di depan meja khusus di ruang kerja nya


 


 


Samar-samar, aku bisa mendengar suara pria-pria yang mengobrol seru, itu pasti pasukan Sam, mengingat Bayu membawa mereka ke ruang tamu besar di belakang rumah. Dulu, ruangan itu di buat khusus untuk di pakai ayah Rasha jika harus mengadakan pertemuan dadakan dengan anggota tentara nya yang lain.


 


 


Ayah Rasha sudah rapih dengan seragam hijau lumutnya, rambutnya yang rapih dan wajahnya tampak segar.


 


 


Setelah kami berdua duduk di dua kursi depan mejanya, baru lah pria paruh baya ini memusatkan perhatiannya pada kami sepenuhnya.


 


 


 


 


“Bagaimana dengan Sam dan pasukan nya?” Ayah bertanya pada Bayu.


 


 


“Mereka sudah ada di belakang. Setelah ini aku akan kesana.” Ayah Rasha mengangguk mendengar jawaban anaknya.


 


 


“Lalu, ayah sudah dengar rencana kalian untuk pindah ke rumah baru itu. Tapi ayah harus mengatakan kalau kalian tidak bisa pindah kesana.”


 


 


“Kenapa?” Bayu bertanya cepat bahkan sebelum aku mengerutkan kening heran.


 


 


“Keadaannya belum begitu aman. Orang-orang itu belum tertangkap dan berita tentang pernikahan kalian sudah tersebar.”


 


 


“Orang-orang itu?” Tanyaku tidak mengerti siapa yang ayah Rasha maksud namun ayah justru melirik Bayu seolah mempertanyakan padanya kenapa aku menanyakan tentang itu.


 


 


“Orang-orang itu? Maksud ayah Rey, Alfred?” Bayu balik bertanya.


 


 


Ayah Rasha mengangguk. “Dan Luc. Kau tidak bisa mengabaikannya.”


 


 


Sekali lagi aku mengerutkan kening heran karena belum pernah Bayu membahas tentang seseorang bernama Luc.


 


 


“Luc?” Tanyaku melirik Bayu yang sekarang ekspresi wajahnya terlihat lebih dingin, sorot matanya berubah penuh kekecewaan dalam sekejap.


 


 


“Dan aku sudah mendiskusikan ini dengan keluarga Danendra. Mereka setuju, akan lebih aman kalau kalian berada di safe house. Evano juga menduga kalau mungkin beberapa saingan bisnis nya cepat atau lambat akan menemuimu.” Lanjut ayah Rasha membuyarkanku soal Luc.


 


 


“Aku juga akan menempatkan dua penjaga untuk menemani kalian.”


 


 


“Aku juga?” Tanya Bayu.


 


 


“Ya! Kau juga!”


 


 


“Tapi itu tidak perlu untukku.”


 


 


“Sangat perlu untukmu juga.”


 


 


“Apa bunda yang mengusulkan ini?”


 


 


“Kami berdua mengusulkan ini.”


 


 


“Tapi—“


 


 


“Tidak ada bantahan!” Aku menatap dua pria yang sedang berdebat ini. Wajah Bayu memang lebih mirip bunda Kirana, tapi gaya nya, caranya duduk, sorot matanya dan bahkan aura nya lebih mirip ayah Rasha.


 


 


Tepat setelah itu, suara ketukan pintu memutus tatapan tajam mereka berdua.

__ADS_1


 


 


 


 


“Masuk!” Seru ayah Rasha.


 


 


Aku ikut berbalik untuk melihat siapa yang datang, ternyata wajah bunda yang muncul dari balik pintu.


 


 


“Ayah, mereka sudah datang.”


 


 


“Oh? Benarkah? Waktu yang tepat, suruh mereka masuk.” Jawab ayah terlihat sangat senang sambil berdiri.


 


 


Bunda menghilang dari ambang pintu tapi aku bisa mendengar suara langkah kaki mendekati ruangan ini dan muncul lah satu orang pria dan satu orang wanita tinggi dengan wajah tegang, berpakaian kasual berwarna serba hitam memberi hormat pada ayah Rasha dari ambang pintu. Mendapat jawaban anggukan kepala, barulah mereka berdua bergerak masuk.


 


 


“Mereka sudah datang. Biar aku kenalkan, dia Dika, yang akan menjagamu.” Ayah Rasha menatap Bayu.


 


 


“Dan ini Lucy.” Lanjutnya gantian menatapku.


 


 


“Mereka berdua adalah murid terbaik dalam ilmu bela diri.”


 


 


“Ayah, aku tidak bisa menerima ini! Ilmu bela diri ku juga tidak buruk. Lebih baik mereka berdua menjaga Icha saja—“ Aku segera menggeggam tangannya hingga menghentikan protes yang sedang di layangkan Bayu.


 


 


Bayu melirikku dan aku menggeleng padanya. “Dengarkan ayah, jika ada yang menjagamu itu bisa membuat kami ikut tenang, terutama ayah dan bunda.”


 


 


“Anak baik.” Komentar ayah Rasha tersenyum padaku dan menatap puas pada Bayu.


 


 


Untuk beberapa saat lelaki ini tampak menghela napas panjang dan sepertinya dia sudah menyerah untuk menolak.


 


 


 


 


 


“Baik! Aku akan menerima nya. Tapi dengan satu syarat.”


 


 


 


 


“Aku ingin kami pindah ke rumah seperti yang di rencanakan, tidak ada safe house atau apapun itu.”


 


 


“Tidak bisa!”


 


 


“Kalau gitu, aku tidak akan menerima pria ini.” Ayah Rasha tampak berpikir keras dengan tawaran Bayu sampai helaan napas panjang pertanda dia setuju terdengar.


 


 


 


 


“Baik! Tapi aku juga punya satu syarat.”


 


 


“Ayah~~” Rengek Bayu kesal. Aku terkekeh pelan, seru sekali melihat perdebatan mereka.


 


 


“Kalian bisa pindah setelah kami memasang beberapa alat keamanan di sana.”


 


 


“Untuk hal itu, aku tidak bisa memutuskannya sendiri. Bagaimana menurutmu, istriku?” Bayu melirikku dengan pandangan minta pedapat.


 


 


Aku tersenyum senang padanya, lelaki ini menghargai suaraku.


 


 


 


“Aku tidak keberatan.” Bayu mengangguk dan kembali menatap ayah Rasha.


 


 


“Kami menerimanya! Tapi aku punya satu syarat.”


 


 


“Lagi??” Jerit ayah Rasha yang seketika membuat Bayu terbahak.


 


 


“Bercanda, hanya bercanda. Kalau aku mengajukan syarat lagi, ayah pasti membalasnya dengan syarat lain. Jika seperti itu terus, kapan berakhirnya.”


 

__ADS_1


 


“Benar! Kamu mengenal ayahmu ini dengan baik, nak.” Aku ikut tertawa kecil melihat Bayu yang puas karena menjahili ayah Rasha.


 


 


Seketika, aku memikirkan ayahku sendiri. Andaikan aku bisa seperti ini, berbicara santai tanpa canggung. Tapi nyatanya yang aku rasakan dengan Ayah Davindra dan Ayah Danendra adalah jarak.


 


 


 


 


“Kalian baru saja menikah, harusnya kalian menikmati waktu kalian, tapi keadaan yang memaksa kita untuk selalu berhati-hati.” Perkataan ayah Rasha membuyarkan lamunanku.


 


 


Aku mendongak menatapnya dan ternyata bukan hanya ayah, tapi Bayu pun sedang menatapku. Apa aku ketinggalan obrolan?


 


 


 


 


 


 


“Ya! Kita harus hati-hati dan selalu waspada.” Jawabku.


 


 


“Baiklah kalau gitu, selamat datang untuk Dika dan Lucy. Tolong jaga mereka.” Ayah Rasha berjalan menghampiri dua orang yang sejak tadi berdiri di dekat meja memperhatikan kami.


 


 


“Baik pak!” Seru mereka kompak yang membalas jabatan tangan ayah Rasha.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


***


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


“Luc? Siapa Luc?” Aku menahan tangan Bayu ketika kami sudah ada di luar ruang ayah Rasha. Lelaki ini berbalik menoleh padaku, matanya melirik Dika dan Lucy yang tepat ada di belakangku.


 


 


 


 


“Seorang yang dulunya teman.” Jawabnya singkat dan terdengar ambigu.


 


 


Aku mengerutkan kening, pikiranku tiba-tiba menyambungkan Luc dengan seorang anggota tim Phonex yang mengkhianati mereka dulu, cerita yang aku dengar dari Bianca, Talia dan Prof Bora di rumah dinas.


 


 


Tapi melihat bagaimana ekspresi Bayu tadi, aku memiliki perasaan dia lebih berbahaya dari Rey.


 


 


Namun rangkulan lelaki ini menyadarkan ku lagi padanya. Dia membawaku untuk melanjutkan jalan kami menuju ruang tamu.


 


 


“Pikiranmu pasti sudah menduga-duga, pokoknya aku akan lebih tenang kalau kau selalu aman ketika aku kerja nanti.”


 


 


“Jadi, kau akan mulai bekerja besok?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan, ingin melupakan tentang hal itu sejenak.


 


 


“Ya, dan ada kemungkinan aku tidak akan pulang dan bertugas untuk enam bulan kede--”


 


 


“Enam bulan?!!”


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2