EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 90


__ADS_3

...


 


Lensa matanya yang berwarna hitam menatapku lekat lalu berkata “Tenang saja. Aku sudah mendapatkannya. Racun itu tidak akan lagi membuatmu kesakitan. Jadi bagaimana keadaanmu sekarang? Tubuhmu tidak ada yang sakit ‘kan?”


Aku tersenyum kecil dan menggeleng. Saat ini racun itu tidak bereaksi apa-apa pada tubuhku. Entah aku harus lega atau khawatir. “Lalu bagaimana dengan penjahat tadi? Siapa dia? Apa yang dia inginkan? Dan lagi ada apa dengan tim mu? Bukankah seharusnya kalian pulang saja karena penjahat itu sudah tertangkap? Aku lihat tadi kalian sedang merencanakan sesuatu.”


“Tim ku sudah memeriksanya, penjahat itu dari orang kepercayaan Alfred. Mungkin karena kami sudah berhasil menghancurkan dan menangkap gudang senjata mereka jadi Alfred berusaha mendekati dan akan mencelakaimu. Tapi syukurlah polisi yang aku minta untuk mengawasimu selama aku tidak ada, berhasil menghentikan penjahat


itu. Hari ini mereka sempat masuk ke rumah ini karena tahu aku sudah pulang, mereka nekad akan mencelakaimu di dalam rumah.” Mendengar penuturan Bayu membuatku sedikit merinding.


“Sampai penjahat tadi yang kami tangkap buka mulut tentang keberadaan Alfred, kami akan berjaga dan memastikan semuanya baik-baik saja. Yang jelas sekarang kau tidak usah mengkhawatirkan apapun, percayakan semuanya pada kami. Aku memang tidak sekuat yang kau pikir, tapi dengan anggota timku, aku akan lebih kuat untuk melindungimu.”


“Sebenarnya entah mengapa aku tidak khawatir tentang itu. Tanpa kau ucapkan pun aku tahu kalau kau percaya diri untuk apa yang harus di lakukan kepada orang-orang yang ingin mencelakaiku. Yang aku khawatirkan adalah kau dan semua anggota timmu yang terlibat, jangan sampai terluka dan sakit.”


Bayu mengangguk. “Yaa. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak terluka tapi kami akan hati-hati.”


“Terima kasih sudah mau menjawab. Aku mengerti posisimu, tugas-tugas ini rahasia. Aku tidak akan bertanya lebih dalam lagi.” Jawabku mengangkat tangan dan tersenyum puas untuk meyakinkannya.


Lelaki ini tertawa kecil dan kembali berdiri sembari tangannya menarik tanganku untuk mengikutinya. “Sekarang lebih baik kau tidur. Saat ayahmu bangun nanti, aku akan memberitahumu. Aku tahu kau sebenarnya mengkhawatirkannya.”


Aku menghela napas pelan tidak bisa membantahnya.


 


“Dan lagi, tunjukan kotak obatnya. Kau harus makan obat dulu!” Katanya tegas, tidak ingin mendengar bantahan dariku.


.

__ADS_1


..


...


Aku tidak tahu sudah malam ke berapa kualitas tidurku tidak terpenuhi. Hanya saja aku sadar malam ini pun sama seperti malam ketika aku tidak bisa tidur karena efek racun itu, atau ketika aku terlalu stress dan banyak pikiran.


Setelah memastikan aku sudah berada di balik selimut di kamar tamu, Bayu meninggalkan kamarku dan membiarkanku tidur, tapi hanya empat jam aku mampu memejamkan mata karena demam yang sudah di sadari Bayu sejak tengah malam tadi ternyata menggangguku.


Aku merasa kedinginan meskipun seluruh tubuhku tertutupi selimut tebal. Napasku juga terasa hangat dan kulit wajah serta seluruh badanku panas. Ruangan ini gelap dan hanya ada pencahayaan dari lampu tidur di atas lemari kecil di samping tempat tidur ini.


Jika di pikir-pikir lagi, aku merasakan badanku tidak baik saat datang berkunjung ke rumah Bela. Apa mungkin karena di picu oleh stress saat bertemu ibu dan Daniel? Aaahh kesehatanku akhir-akhir ini memang sangat rentan, biasanya aku tidak pernah langsung sakit sesetress apapun aku menghadapi ibu selama ini.


Baiklah, sekarang aku harus istirahat agar saat bangun nanti aku bisa lebih baik, aku tidak bisa membuat Bayu khawatir lagi! Dia harus lebih fokus terhadap tugasnya.


Tapi sudah mencoba memejamkan mata setengah jam berikutnya, aku tidak bisa lagi tertidur. Sekarang selain napasku yang panas, aku juga merasa sangat pusing dan tubuhku semakin menggigil kedinginan meskipun aku sudah terbungkus selimut tebal.


Akhirnya aku memutuskan untuk bangun, duduk di sisi tempat tidur dan melirik sekilas jam dinding. Waktu menunjukkan pukul empat lewat lima puluh pagi. Lebih baik aku bersiap dan—


Dia melangkah mendekatiku dan berjongkok di hadapanku, tangannya terulur menyentuh dahiku yang langsung membuatnya menghela napas dalam. Tatapan matanya yang begitu lembut menatapku, membuat aku betah lama menatapnya juga.


Hingga tanpa sadar, aku bergerak maju untuk melingkarkan kedua tanganku pada lehernya. Menempatkan kepalaku pada bahu kirinya, memeluknya erat.


“Oh! Aku tidak pernah tahu kau menjadi manja saat bangun tidur. Hehehe.” Ada nada geli dan jahil dari nada suara Bayu. Dia memang sedang terkekeh meledekku tapi kedua tangannya juga erat balas memelukku.


“Untuk saat ini aku membiarkanmu lolos.” Jawabku pelan antara malu dan tidak ingin melepaskannya. Entahlah tiba-tiba saja aku sangat ingin memeluknya.


“Bagaimana keadaanmu sekarang? Lebih baik?” Aku segera menyudahi pelukan ini.


“Tapi kau masih demam. Pagi ini kita harus ke rumah sakit. Kau bisa mengurus izin untuk tidak bekerja?” Lanjutnya, aku mengangguk pasrah meskipun pikiranku langsung tertuju pada pekerjaan yang menumpuk karena aku sudah izin cukup lama, aku hanya akan memperpanjang izin sakitku sampai hari ini, pokoknya besok harus mulai bekerja lagi!

__ADS_1


“Apa kau tidak tidur?”


Bayu mengangkat bahunya lalu menjawab. “Kami jaga bergantian tadi. Pekerjaan kami baru selesai, hanya sisa intrograsi singkat dengan ayahmu ketika dia bangun nanti.”


Benar!


 


Tentang ayah, aku tidak bisa menghentikan pikiranku yang mulai curiga tentangnya berada di rumah ini lagi. Apa yang ayah cari? Padahal aku tidak memberinya kunci cadangan ataupun tidak mengharapkannya datang ke rumah tanpa mengabariku.


“Apa yang kau pikirkan? Kau bisa menceritakannya padaku.” Bayu beranjak berdiri lalu duduk di samping kiriku, di sisi ranjang. Aku meliriknya sekilas lalu kembali berpaling mencoba mencari kata yang cocok untuk mengungkapkannya.


“Hmm.. Kau tahu, sebenarnya aku tidak tahu apa yang ayah cari di sini. Sudah 2 kali—Hah! Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya nanti.” Lidahku seperti kaku dan seolah aku tidak memiliki tenaga untuk melanjutkannya.


Namun yang aku rasakan adalah usapan lembut di puncak kepalaku. Bayu menatapku dengan sorot mata pengertiannya. Dia tahu maksudku. “Tenang saja, aku akan menanyakannya nanti. Aku mengerti.”


“Terima kasih.” Bisikku tersenyum lebar.


.


..



“Apa kalian akan menyukainya?”


“Tidak usah terlalu di pikirkan. Kami bisa makan apapun!” Jack berseru bersemangat ketika aku sudah menyiapkan sarapan pagi ini. Semuanya sudah bangun, termasuk ayahku. Kini dia tengah di intrograsi oleh Bayu dan timnya di ruang keluarga. Sedangkan aku dan Jack menyiapkan sarapan sejak setengah jam lalu.


 

__ADS_1


 


….


__ADS_2