
...
“Sedang melamun?”
“Oh, tidak! Hanya sedang berpikir.”Aku tersenyum kecil memperhatikan Bayu yang baru saja datang dengan nampan berisi dua mangkuk makanan dan dua botol air mineral dan dia duduk di samping kiriku.
Suasana kantin yang sangat ramai membuatku lebih dulu menempati tempat duduk agar tidak di dahului oleh orang
lain. Kemudian Bayu meletakkan semangkuk bubur di hadapanku, setidaknya ini lebih baik dari pada makanan hambar tadi pagi.
“Apa di pikiranmu ada aku?” Bayu bertanya, menggodaku.
“Tentu saja!” Jawabku sangat yakin, membalas senyumannya. Lelaki ini terkekeh pelan sembari membuka salah satu tutup botol air mineral dan menyerahkannya padaku.
“Terima kasih.” Ucapku menerimanya dan meneguk sebagian isinya dengan sedotan yang juga tadi di bawanya.
Kami berdua mulai memakan makanan yang di pesan, Bayu yang memilih memesan semangkuk kari tercium lebih enak, beberapa kali dia sempat menggodaku karena tahu aku juga menyukai kari.
“Hari ini kau kembali bekerja?” Tanyaku setelah Bayu sudah menghabiskan setengah mangkuk makanannya.
“Tidak. Aku libur dua hari.”
“Kau tidak pulang?”
“Aku akan pulang nanti untuk ganti baju dan mandi lalu kembali ke sini.”
“Kau harus pulang dan beristirahat di rumah. Tidak usah menemaniku, besok pagi kau datang lagi ke sini.”
Bayu melirikku. “Aku akan menemanimu. Tidak usah mengkhawatirkanku.”
“Tidak! Kau istirahat di rumah atau aku akan memaksa untuk pulang hari ini agar kau juga pulang.”
“Berani mengancamku?”
“Kenapa tidak?” Jawabku santai menghadapi tatapan Bayu yang tidak rela menuruti permintaanku.
“Kau juga tidak usah khawatir. Aku akan mengikuti perkataan dokter Stefan bahkan jika dia ingin aku di sini seminggu ke depan asalkan kau gunakan waktu liburmu ini untuk beristirahat di rumah dan berkumpul bersama keluarga.”
Bayu tidak langsung menjawab ucapanku, dia menghabiskan makanannya terlebih dahulu dan menjauhkan mangkuk kosong itu dari hadapannya lalu meneguk air mineral dalam botol sampai habis.
Aku yang sudah menyerah tidak menghabiskan bubur itu, membiarkannya begitu saja di sebelah kananku. Mataku
__ADS_1
tidak lepas menatap setiap pergerakkan Bayu di samping kiriku ini dengan senyum semakin lebar. Aku bisa menebak dari cara dia meneguk air minumnya dan dari helaan napasnya.
Dia pasti sedang berdebat dalam hatinya karena tidak ingin menyetujui perkataanku. Tapi aku tahu, Bayu pasti
akan menyetujuinya juga.
“Tapi—aku ingin menemanimu! Maksudku, kita jarang bertemu. Bukankah seharusnya wanita lebih senang pacarnya menemaninya saat dia sedang sakit?”
“Tidak semua wanita menyukai itu.” Bantahku.
“Kau tidak menyukaiku?!”
“Bukan! Maksudku bukan itu.”
“Jadi selama ini kau menyembunyikan kenyataan ini? Kau tidak menyukaiku?” Aku tahu Bayu sedang bercanda dengan wajah seriusnya sekarang.
“Aku tidak menyembunyikannya—“
“Kau sangat teliti untuk seseorang yang tidak berniat menyembunyikannya.” Bayu meledekku.
Karena gemas aku mencubit kecil lengannya, Bayu langsung berusaha menjauh dariku tapi aku yang lebih cepat menarik tangannya dan menahannya agar tetap berada di sampingku.
“Baiklah aku akan jujur, selama ini aku berniat menyembunyikannya—“
“Apa?!”
itu, aku tidak tahu pada akhirnya aku akan menyukaimu—“
“Ahhh! Kau tidak berniat menyukaiku??” Bayu menatapku, menuntut jawaban.
“Benar! Tapi, aku tidak tahu kalua aku akan sangat menyukaimu sampai seperti ini—“
“’Sampai seperti ini?’ Berapa banyak?”
“Sangat—“ Aku menghentikan ucapanku, menyadari bahwa sebenarnya aku yang masuk dalam godaannya, Bayu yang tengah menatapku dengan mata berbinarnya terdiam menungguku melanjutkannya.
“Kau menjebakku, huh?” Tanyaku sangat serius. Bayu akhirnya terkekeh pelan dan melingkarkan tangan kanannya di belakang punggungku, menarikku agar dia bisa memelukku dari samping.
Lelaki ini meletakkan dagunya di puncak kepalaku dengan tawa puas. “Aku semakin tidak ingin pulang ke rumah.”
“Bagaimana kalau kau membawaku ke rumah?”
“Apa?? Kau yakin??” Bayu melepaskan pelukannya dengan cepat dan menatapku dengan mata penuh binar. Aku tertawa karena berhasil menggodanya.
__ADS_1
“Maksudku, aku pulang ke rumahku.”
“Heii!” Bayu tampak kesal sekarang dan dia terlihat semakin lucu.
Aku yang sedang tertawa menatapnya perlahan berhenti merasakan rasa panas itu mulai terasa di rongga dada kiriku, refleks aku mengusapnya perlahan berharap bisa lebih baik.
“Ada apa? Sakit lagi?”
“Hmm..” Aku mengangguk pelan menjawabnya. Bayu berubah menjadi sangat serius, dia mengeluarkan ponselnya
untuk menelpon seseorang.
Dari percakapan singkatnya, lelaki ini menelpon dokter Stefan dan memintanya untuk datang ke kantin bersama dengan obat untukku.
“Padahal tidak perlu sampai membuat dokter Stefan datang ke sini. Aku seharusnya segera kembali.” Kataku merasa tidak enak.
Bayu menggeleng, tangannya mengusap sisi wajahku dan mengusap keningku dengan tisu di tangannya. Aku tidak menyadari sekarang aku berkeringat. Namun tatapan khawatirnya seolah mengalihkan perhatianku, aku begitu terbuai dengan sorotan matanya, alih-alih mengalihkan pandangannya, justru Bayu tampak sibuk memperhatikan setiap inci wajahku ini.
Bibirnya tertarik hingga menjadi garis lurus pertanda dia sangat mengkhawatirkanku. Ekspresinya yang serius sangat jelas terlihat jika dia sedang memikirkan sesuatu. Matanya terlihat agak sayu, lelaki ini butuh istirahat.
Aku tersenyum kecil menunduk merasakan ada setitik rasa sakit yang tersirat di rongga dadaku, itu tidak ada hubungannya dengan racun yang membuat jantungku semakin melemah. Sekali lagi aku di sadarkan bahwa ada seseorang sangat kentara menyayangiku di samping masalahku dengan ibu, ayah dan Daniel.
Tuhan telah mengirimkan Bayu sejak dulu padaku. Sejak kami pertama kali berkenalan di umur tujuh tahun. Ketika
kami semakin dekat karena Bayu adalah anak yang sering mengusiliku, membuatku kesal dan marah padanya, membuatku harus mengejarnya saat dia mengambil tempat pensilku.
Atau ketika kami di pertemukan lagi saat sekolah menengah atas, saat dia kembali lagi ke kota ini setelah enam
tahun dia pergi tanpa memberi kabar. Lalu saat kami kembali dekat dan dia mengajakku berpacaran. Hingga saat ini, kami di pertemukan lagi ketiga kalinya meski awalnya aku masih tidak percaya Bayu begitu menyayangiku padahal aku yang meninggalkannya begitu saja.
Dengan semua kisah kami, aku mendapat feeling jika mungkin suatu saat nanti kami akan kembali di pisahkan oleh keadaan. Tapi satu hal yang aku yakin, saat-saat bersamanya adalah waktu yang selalu aku rindukan.
“Apa sangat sakit? Ayo bernapas.” Aku mendongak menatap Bayu yang sedang membimbingku untuk bernapas. Tangannya yang menggenggam tanganku terasa lebih hangat.
Aku mengikuti gerakkannya beberapa kali hingga akhirnya aku tidak bisa lagi untuk menahan tawaku. Aku terkekeh
pelan dan membalas genggaman tangannya, mengusap tangan besarnya ini dengan kedua tanganku.
Rasa panas di rongga dada kiriku memang masih terasa tapi seolah itu tidak memberikan efek yang berarti, aku
merasa jauh lebih baik sekarang dengan adanya Bayu di sampingku.
“Ck! Kenapa dokter Stefan lama sekali!” Dia menggerutu, memperhatikan setiap penjuru kantin namun tidak
__ADS_1
menemukan sosok itu.
…