EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 122


__ADS_3

...


 


Aku sangat sadar kalau sekarang pasti pipiku memerah dan aku juga bisa melihat telinga lelaki ini memerah. Kemudian Bayu bangkit menatapku dari atas, membiarkan aku yang berbaring di bawah rengkuhannya.


Rambut halusnya terlihat jatuh ke bawah, dengan posisi sedekat ini sekujur tubuhku sudah memanas. Ekspresi Bayu masih terlihat serius dan dia masih melanjutkan menyentuh bibirku dengan jarinya.


Lalu wajah lelaki ini mendekat lagi sembari memiringkan kepalanya. Jantungku rasanya hampir melompat keluar begitu bibirnya menyentuh lagi bibirku. Kali ini Bayu melumar bibir bawahku dengan bibirnya sebentar lalu dia melepaskannya, aku yang terlalu gugup tidak bisa membalasnya.


 


 


“Manis.”


 


Aku tidak bisa lagi menyembunyikan kegugupanku di hadapannya, tanganku langsung terangkat menutup mulutnya dan mulutku. Wajahku sudah panas sekali dan sekarang aku bisa melihat sorot jahilnya ada di sana.


“H—hentikan!! K—kau!! Jantungku sudah sangat lemah!” Aku memekik tertahan yang justru mendapat kekehannya. Dia melepaskan tanganku dari mulutnya lalu dia mengecup keningku.


“Bibirmu manis.” Dia menggodaku lagi, aku ingin menghajarnya sekarang tapi Bayu sudah bangkit berdiri, kabur menuju kamar mandi.


 


Ya ampun! Dia meninggalkanku begitu saja??


Apa katanya tadi? Manis? Kalau di ingat-ingat lagi memang bibirnya juga manis, ada sisa manis dari kopi latte yang sebelumnya kami minum.


 


Astaga!!


Itu ciuman pertama ku!!


Aku tidak percaya ini!


Bagaimana aku bersikap di depannya nanti? Pasti aku akan sangat malu menghadapinya!!


 


 


.


..



“Ayo sayang, kau akan kembali nanti.” Teriakkan Bayu membuyarkan lamunanku yang sedang menatap rumah dinasnya dari luar. Lelaki itu sudah siap di depan kemudi, kepalanya keluar dari jendela agar suaranya bisa terdengar olehku.

__ADS_1


Aku mengangguk dan sekali lagi melirik ke belakang, meskipun sebentar tapi aku merasakan banyak kenangan di sini.


“Apa sesedih itu pergi dari rumah ini? Bagaimana kalau kita tinggal di sini saja?” Tanyanya menyeringai.


“Meskipun rumahnya jarang kau tempati dan perabotannya tidak terlalu banyak tapi rumahnya terasa seperti rumah.” Jawabku sembari memasang sabuk pengaman.


Sekarang waktu menunjukkan pukul lima, di langit awan kelabu masih ada, hujan sebentar lagi akan turun dan angin bertiup kencang.


Aku merasakan usapan pelan di sisi kepalaku, Bayu tersenyum kecil tanpa melirikku, tatapannya sedang memperhatikan spion luar ketika dia mulai menginjak pedal gas meninggalkan halaman rumahnya.


“Kita makan malam di luar, kau mau makan apa?” Tanyanya setelah mobil melaju di jalan komplek menuju pos pemeriksaan.


“Apa kau tidak bosan padaku? Ini pertama kalinya kita bersama lebih dari 24 jam.” Tanyaku sedikit menggodanya.


Bayu menggeleng dan terkekeh. “Meskipun kita tidak melakukan perjalanan atau hal menarik dan hanya diam di rumah tapi aku sangat senang. Aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu. Kau tahu, semacam kebutuhan.”


Aku ikut terkekeh pelan, jawabannya persis seperti apa yang aku pikirkan. “Ooohhh sejak kapan kau jadi gombal begini?”


“Aku hanya melakukannya padamu.” Bayu melirikku dengan senyum paling menggodanya.


Aku tertawa keras dan hal itu membuat senyumnya surut, dia cemberut melihat reaksiku. “Apanya yang lucu??”


“Maaf maaf! Ya ampun! Aku pasti akan merindukanmu sesampainya di rumah.” Jawabku menghapus setetes air mata di sudut mataku, lalu seketika senyum Bayu kembali terbit.


“Bagaimana kalau malam ini aku menginap—“


“Tidak!! Itu berbahaya!”


“Apanya yang berbahaya? Oh maksudmu berbahaya seperti yang tadi?” Bayu menaik turunkan alisnya, menggodaku.


“Mungkin lain kali kalau kau membalas ciumanku, aku tidak akan bisa menahannya.”


“Berhenti menggodaku!!” Aku berteriak frustrasi antara malu dan kesal padanya.


 


Bayu tergelak di antara teriakkan amarahku hingga kelakuan kami terhenti saat mobilnya sudah sampai di pos pemeriksaan untuk keluar dari daerah ini.


 


 


Ada semacam verifikasi identitas dan sidik jari di pos pemeriksaan, lalu dua pria berpakaian tentara juga memeriksa mobil dan identitasku.


Saat datang ke sini aku tidak memperhatikan saat kami di pos kedatangan, tapi melihat bagaimana tentara-tentara ini membawa senjata lengkap dan berbagai pemeriksaan sebelum keluar dari gerbang, pasti di pos kedatangan lebih ketat lagi.


“Karena kejadian tadi siang, pos menjadi lebih ketat lagi.” Bayu berkata padaku seperti mengerti apa yang aku pikirkan.


Tiba-tiba hujan mulai turun yang semakin lama semakin deras, kami belum boleh melewati gerbang untuk satu menit berikutnya. Setelah semua pemeriksaan mereka beres, salah satu petugas memberi hormat pada Bayu dan gerbang tinggi besar di hadapan kami terbuka otomatis.


“Jadi, apa yang akan kau lakukan selama kau diskors satu minggu ini?” Aku bertanya mengingat mulai besok aku akan kembali sibuk.

__ADS_1


“Kakek dan ayah memintaku untuk pulang. Mereka akan memarahiku.” Meskipun jawabannya mengandung makna yang membuat orang lain khawatir, tapi ekspresi wajah Bayu terlihat santai seolah itu hal biasa.


“Karena masalah lusa kemarin? Sebenarnya aku ingin tanya, apa engga terlalu berlebihan? Bagaimana kalau mereka mengincarmu? Pejabat dan pengusaha itu?”


Bayu melirikku sekilas dan kembali menatap jalanan di hadapan kami. “Itu pun kalau mereka tahu itu adalah aku. Aku menggunakan nama lain dan memakai perantara untuk memberikan semua buktinya pada polisi dan jaksa. Tapi kalaupun mereka sampai tahu itu aku, seharusnya aku lebih mengkhawatirkanmu.”


“Mereka mungkin akan menargetkanku?” Tebakku yang di anggukinya.


“Kalau begitu kau harus mengajariku bela diri!” Ucapku bersemangat. Ini bisa menjadi alasan agar dia tidak bisa menolak.


Bayu terdiam, tampak serius tapi akhirnya dia mengangguk dan berkata. “Aku akan menjadi instrukturmu yang kejam! Jadi kau jangan mundur!”


“Yes, sir!” Aku berteriak heboh. Kami berdua tertawa setelahnya.


.


..



Kami memutuskan untuk makan malam di foodcourt sebelum Bayu mengantarku pulang. Jam menunjukkan hampir pukul tujuh, perjalanan tadi membutuhkan waktu lebih lama karena kemacetan.


Tepat saat kami sudah memilih tempat duduk di restoran, hujan turun deras di ikuti suara petir yang menyambar. Udara kota yang malam ini terasa dingin, semakin dingin dan berangin. Suasana restoran yang ramai saat ini membuat aku kelaparan.


“Katakan kalau kau kedinginan, aku akan mengambil jaket lain di dalam mobil.” Suara perhatian Bayu mengalihkan pandanganku padanya.


“Tidak. Aku sudah nyaman dengan ini.” Jawabku tersenyum kecil. Dari ekspresinya, Bayu seperti menyadari akan satu hal padaku.


 


 


“Ini jaketku!”


“Apa kau tidak menyadarinya? Aku sudah memakainya sejak tadi siang.” Aku menggeleng tidak percaya.


 


Yaa begitulah lelaki, terkadang mereka tidak memperhatikan ada perubahan pada wanita.


“Sebagai permintaan maafku, kau boleh memesan apapun yang kau suka!” Bayu berseru bangga.


“Mau menyogokku dengan makanan??”


“Karena aku yang akan membayar apapun yang mau kau pesan.”


“Apapun?”


“Yaa! Apapun!”


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2