
...
“Kalian semua gila, mengembangkan racun. Benar-benar—” aku tidak ingin menghabiskan energi hanya untuk memaki mereka.
Wendy tidak terpengaruh dengan perkataanku, dia menatapku dengan penuh selidik, namun dia tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan, “apa kamu sedang memikirkan cara untuk melarikan diri? Hah! Jangan mengharapkan itu mulai sekarang karena kamu akan jadi bahan penelitianku. Racun itu jelas-jelas sudah masuk ke tubuhmu, iya ‘kan?”
Aku menatapnya dengan kening berkerut, mendengarnya berbicara seolah tahu apa yang aku pikirkan terlihat lucu. Dia tidak tahu apa-apa dan berusaha untuk dekat denganku.
Menghela napas kecil, aku memilih untuk menghiraukannya sembari mengalihkan pandangan ke luar jendela. Nyatanya, sekarang aku memang pasrah dengan semua ini, di bawa oleh mereka dan di jadikan bahan penelitian. Tapi tetap, dalam hati aku berdo’a agar Bayu menemukanku.
“Senang melihat ternyata kamu adalah anak yang baik. Pantas saja Cilia terus mengatakan kamu bukan anak yang merepotkan.” Perkataannya berhasil mengalihkan pandanganku padanya lagi.
Mendengar nama Cilia membuatku rasanya ingin memukul sesuatu. Pengkhianat itu!
Lalu tiba-tiba mobil belok ke pom bensin dan berhenti di sudut, dekat mini market.
“Kami akan segera menggantinya.” Sopir berkata singkat, Wendy mengangguk menyetujui.
Aku memperhatikan apa yang akan pria itu lakukan, tapi suara Wendy lagi-lagi menginterupsi perhatianku, “dia akan mengganti plat mobilnya.” Wanita ini tertawa kecil, seolah melihat kebodohan yang ekspresiku tunjukan.
Hah. Tentu saja! Dengan bunda yang tahu plat nomornya, mereka akan menggantinya dengan plat lain agar tidak mudah di lacak.
“Gilbert akan segera bergabung dengan kita.” Pria yang tadi menyeret Dika, berbalik menatap Wendy ketika dia melapor.
“Oh? Apa urusan di bandara selesai?” Jantungku berdetak lebih kencang karena mendengar kabar terbaru dari tempat Bayu berada.
“Mereka tidak bisa menyelamatkan barang-barangnya jadi mereka memutuskan untuk mundur.”
“Hah! Ini semua karena gempa! Rute biasa jadi berantakan! Apa bahan yang aku butuhkan ada?”
“Ya. Untungnya Gilbert berhasil membawa barang yang anda inginkan.”
“Ha ha ha.” Wendy tertawa puas.
__ADS_1
Aku yang sejak tadi memperhatikan mereka tidak bisa tenang. Percakapan singkat mereka menyimpulkan banyak hal di kepala.
Gilbert pasti nama pria yang di sukai Wendy, salah satu anggota dari kartel narkoba. Bahan yang di maksudnya tidak tahu apa, tapi aku yakin itu bahan untuk penelitian racun yang sedang dia kembangkan dan satu hal lagi, gempa memperlancar rencana tim Bayu untuk menangkap mereka. Rute untuk memperdagangkan barang-barang illegal sekarang masih ada gangguan.
“Bagus! Kali ini aku akan membuat racunnya semakin kuat, seberapa kuat itu sampai kamu, Natasha, akan terpengaruh. Ini pasti sangat menarik.” Rasanya bulu kuduk ku berdiri, aku merinding mendengar Wendy mengatakan semua itu dengan santai.
Klik
Aku agak kaget karena tiba-tiba pintu mobil di sampingku terbuka. Seseorang membukanya dari luar, dan itu adalah sang sopir yang menunduk menatapku dan Wendy.
“Semuanya beres.”
“Oke. Kerja bagus. Sekarang—” Wendy menggantung kalimatnya untuk melirikku.
Apa?
Aku punya firasat buruk ketika sang sopir merogoh saku celananya, sebelum mengeluarkan sesuatu dari saku, dia melirik ke kanan kiri, seolah memastikan tidak ada siapapun yang memperhatikan.
“Apa yang—” tangannya sangat cepat keluar dari saku untuk mendekatkannya ke wajahku.
***
Rasanya buruk.
Seluruh tubuhku sakit dan tenagaku seperti terkuras habis, seolah aku baru saja melakukan lari marathon.
Namun hidungku yang pertama kembali normal setelah aku di paksa untuk tidak sadarkan diri. Hal pertama yang tercium adalah aroma kaporit di campur dengan aroma khas rumah sakit. Mungkin aku akan mengira telah di selamatkan bagaimana pun caranya dan di bawa ke rumah sakit, jika telingaku tidak mendengar suara obrolan yang samar-samar, suara wanita yang familiar dan sudah lama tidak terdengar.
“….sangat yakin. Dia tidak cukup pintar menipu kita dengan mencampurkan racun itu dengan yang lain. Kau ingat kan kalau anaknya membutuhkan obat racikan dari lab ini.” Wendy terdengar yakin.
“Ya. pasti dia begitu, tapi kenapa Icha tidak terpengaruh sama sekali dengan racunnya? Apa ada yang salah?” Ini suara Cilia. Suara mereka pelan tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas karena rasanya ruangan yang aku tempati kosong dan dingin, terdengar suara mereka sedikit menggema.
Kelopak mataku masih sulit terbuka, jadi aku hanya diam mendengar mereka diam-diam.
__ADS_1
“Kita sudah mencoba nya pada subjek lain, bukannya mereka akan kesakitan saat jatuh cinta? Racunnya berhasil. Mungkin kita harus memeriksa tubuh Icha.” Aku merinding mendengar nada suara Wendy yang acuh tak acuh.
“Hmm… tapi selama menunggu itu, kalau dosisnya di naikkan—”
“Haaaahhh….” Aku sengaja menghela napas panjang dan perlahan membuka mata, rasanya tidak sanggup lagi mendengar apa yang akan mereka simpulkan pada akhirnya, namun yang jelas adalah aku di sini sedang dalam bahaya.
Seperti yang di duga, mereka menghentikan diskusi dan berjalan pelan menghampiriku. Pandangan mataku yang sudah kembali normal melihat langit-langit kamar berwarna putih dan kasur yang hanya cukup satu orang di tempati olehku.
Lalu aku melirik ke sekeliling, seperti dugaanku tidak ada apa-apa. Di ruangan besar ini hanya ada ranjang kasur kecil, meja yang berantakkan oleh kertas dan lemari yang di penuhi dengan cairan-cairan. Udaranya dingin dan suasananya suram, anehnya lagi, aku tidak bisa mendengar apapun di luar. Sangat sunyi seolah
hanya ada satu-satunya rumah di tempat ini.
Kalaupun markas mereka ada di antara perumahan, seharusnya terdengar suara kendaraan di kejauhan, tapi aku sama sekali tidak mendengar apapun, hal ini membuatku takut.
“Di mana aku?” suaraku terdengar serak.
“Akhirnya kamu sudah sadar, kita ada di markas lab asura tentu saja.” Wendy menjawab antusias seolah dia menyambutku datang.
“Halo Icha. Kita bertemu lagi.” Cilia menyapaku dengan sopan dan terlihat baik seperti biasa.
Tanganku mengepal menahan amarah, aku tidak boleh terbawa emosi dulu. Aku harus tahu di mana tempat ini, lalu mengirim pesan pada Bayu untuk menyelamatkanku atau melarikan diri bagaimana pun caranya.
Ya!
Semua ini tidak mustahil, hanya mungkin akan sulit.
“Nah, karena Icha sudah sadar. Cilia, tolong siapkan itu, jangan lupa naikkan dosisnya 2 kali lipat.”
“Hah!! Apa yang kalian katakan! Kalian mau meracuniku lagi??” Aku panik dan segera bangkit duduk, menyadari mereka tidak mengikatku, dengan cepat aku turun dari tempat tidur tapi sebelum itu terjadi, dua tangan menarikku dengan kasar untuk kembali berbaring.
“Percuma kalau kau ingin kabur. Tempat ini tidak akan pernah di temukan oleh siapapun.” Wendy menatapku dengan puas.
...
__ADS_1
.