EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 322


__ADS_3

...


“Cucu sombong! Kamu di minta tersenyum saja tidak mau!! Jangan harap dapat warisan dari kakek!!” Kakek kembali teriak-teriak dari layar laptop.


“Bayu tidak minta warisan kakek!”


“Kamu coba menantang kakek?!”


“Kakek yang menantang Bayu duluan.” Gerutunya.


“Rasha! Jangan berikan sepersen pun untuk anak itu!”


“Jem, kamu ini selalu tidak tahan ya kalau ada yang membantahmu, tenang saja, kalau Bayu tidak di berikan warisan, aku akan berikan pada Icha. Mereka akan hidup dengan baik.”


“Al, mana mungkin pria yang bergantung dengan wanita, apalagi urusan materi.”


“Tapi zaman sekarang fleksibel.”


“Itu sih bukan fleksibel namanya, tapi tidak tahu diri.” Kakek Alvaro dan kakek Jeremy saling melempar tawa kecil, aku baru melihat bagaimana akrabnya mereka berdua. Bahkan amarah kakek Jeremy yang menggebu-gebu tadi, seketika langsung menguap, di gantikan dengan gestur santai hanya dengan obrolan singkat dengan kakek Alvaro.


“Bayu, jangan ambil hati perkataan kakekmu, dia memang selalu seperti itu, kamu tahu itu ‘kan?” Ayah Rasha menatap ke layar.


Bayu sekali lagi hanya mengangguk dan kembali menunduk. Aku tidak tahu lagi apa yang bisa membuat perasaannya lebih baik. Kata-kata yang menenangkan rasanya tidak akan bisa mengubah suasana hatinya.


Tok tok tok


Tiba-tiba suara ketukan membuatku dan Bayu melirik ke pintu yang terbuka dari luar. Seorang wanita memakai jas putih dan seorang perawat wanita di sampingnya bergerak masuk. Mereka adalah dokter dan perawat yang memeriksaku tadi.


“Selamat malam.”


“Malam dok.” Aku menjawab sapaannya.


Bayu hendak berdiri untuk memberi ruang pada mereka, tapi dokter wanita ini mengatakan, “tidak apa-apa pak Bayu, anda lebih baik duduk saja. Saya di sini hanya ingin memberikan hasil tes.”


“Hasil tes nya tidak buruk ‘kan dok? Apa Icha gegar otak?” Aku mencubit kecil lengan Bayu mendengar pertanyaannya.


“Jangan negatif terus dong. Berpikir positif.” Kataku.


“Maaf sayang.” Dia mendesah kecil, mengusap puncak kepalaku lalu kembali menatap dokter dan perawat di hadapan kami.

__ADS_1


Karena tadi aku tidak begitu memperhatikan, mataku beralih membaca name tag sang dokter. Dokter Kesya Arfani.


Dia tersenyum kecil melihat kami, “tidak ada luka serius, hanya sedikit memar di bagian punggung. Lalu obat bius yang di hirup sebelumnya sudah hilang, untungnya anda langsung minum air banyak dan tidak menciumnya terlalu banyak.”


Perawat yang ada di sampingnya memberikan selembar kertas dokter Kesya, sesaat dia membacanya dan mengangguk kecil. Hal itu membuatku dan Bayu saling lirik bingung.


Sambungan video call kami masih terhubung, sudut mataku melihat semua orang yang tadi ribut-ribut di layar, sekarang tampak diam tak bergeming, ikut mendengarkan.


“Apa ada sesuatu yang buruk, dok?” Aku tidak bisa menahan pertanyaanku.


Dokter Kesya tersenyum kecil dan menggeleng, “ini hasil tes lab darah ibu Icha.” lalu dia menyerahkan kertas itu padaku. Aku segera menerimanya dan kami berdua segera membaca isinya dengan penasaran.


Mataku dengan cepat membaca kertas yang di berikannya, tapi aku tidak bisa menyimpulkan apa isinya.


“Kadar hormon hCG ibu Icha di 303—“


“HAMIL?!!”


Aku terkejut, teriakan bunda dari sambungan video menghentikan ucapan dokter Kesya. Jantungku berdetak cepat mendengar teriakan bunda, tapi aku mesih belum bisa senang sebelum mendengar penjelasan dokter.


“Betul. Selamat ibu Natasha, anda sedang hamil dengan usia janin lima minggu.”


Bibirku terasa kaku, hanya terdengar suara bunda Kirana yang berteriak kegirangan. Aku masih tidak menyangka bisa hamil secepat ini.


“Jadi, tadi Icha pingsan dan muntah, itu karena sedang hamil?” Suara Bayu terdengar tercekat, tapi aku bisa menangkap nada kegirangan yang tertahan.


“Betul, karena sedang hamil, syok karena kejadian tadi membuatnya lebih rentan. Ini baru awal kehamilan, harus di batasi aktifitas dan jangan sampai mengalami pingsan lagi, itu akan berbahaya.”


Aku merasakan tangan Bayu mengusap puncak kepalaku, begitu aku meliriknya, dia memberikan senyum paling bahagianya hari ini.


“Tapi, janinnya sehat ‘kan dok?” mengingat lagi aku yang di dorong dan pingsan tadi, aku jadi khawatir.


“Iya, dengan kejadian tadi, sangat bersyukur janin dan ibunya kuat dan sehat. Setelah beristirahat malam ini, besok ibu Icha bisa langsung pulang.”


“Terima kasih dok.” aku dan Bayu menjawab bersamaan.


Setelah dokter dan perawat tadi menghilang di balik pintu, kali ini Bayu langsung memelukku sangat erat. Dia bernapas lega dan otot tubuhnya terasa lebih rileks.


“Aku tidak menyangka, akan menjadi kakek secepat ini.” Itu suara ayah Evano.

__ADS_1


“Ini adalah cucu pertama di dua keluarga, iya ‘kan?” Kali ini suara ayah Rasha yang bertanya.


“Ya. Ini cucu pertama keluarga Danendra dan keluarga Jeremy. Icha kamu harus menjaga tubuhmu lebih ekstra lagi. Bunda ingin menyusulmu ke sana, tapi tugas Bayu berakhir dalam dua minggu.”


“Dua minggu? Jem, kamu bisa mempercepat tugasnya?” Tanya kakek Alvaro.


“Aku sudah tidak berwenang lagi di sana, mungkin Rasha, kamu bisa minta mereka mempercepat tugas Bayu?”


“Tidak bisa, yah. Dua minggu ini sudah ada jadwal yang harus Bayu lakukan.”


“Bagaimana kalau Icha pulang duluan?” Usul ayah Evano.


“Apa kalian tidak lihat, mereka asik berdua seperti itu.” Perkataan bunda Kirana membuatku sadar kalau Bayu masih tetap memelukku sejak tadi.


Aku mendorong dadanya tapi Bayu masih tetap memelukku, wajahnya berbalik untuk menatap layar laptop di depan kami, dia berkata dengan tegas, “Icha membutuhkanku, begitupun dengan janinnya.”


Wajahku memanas, aku tidak bisa lagi untuk tidak tertawa di dalam dekapannya.


“Bayu, lepaskan Icha. Dia tidak bisa bernapas kalau kau peluk terus seperti itu.” Bunda mengingatkan.


“Tidak mau!” Kemudian gelak tawa semua orang terdengar.


“Tapi ngomong-ngomong, tentang masalah keluarga Baron yang di ceritakan Bayu, bagaimana keputusannya, Yah?” Pertanyaan ayah Rasha mengingatkanku tentang niat awal kami untuk melakukan video call.


“Ayah pikir, kita tidak perlu membantu perceraian mereka. Biarkan mereka mengurusnya sendiri. Lagi pula Icha sedang hamil, kita tidak boleh menambah beban pikirannya.” Suara serius dan tegas kakek Jeremy membuat semuanya terdiam.


“Jem, apa menurutmu, ada niat terselubung kenapa dia meminta Icha untuk membantunya?” Kakek Alvaro menanyakan hal yang sejak awal aku curigai.


Kakek Jeremy terdiam, semua orang menatapnya, menunggu.


Bayu yang masih memelukku juga memperhatikan ke layar, menatap kakeknya, lalu suaranya yang tegas mengatakan, “ada sesuatu yang mencurigakan dengan istri pak Baron, Nadya. Orang itu tidak se simpel seorang istri yang selalu di pukul suaminya.”


“Apa yang kau dapat dari penyelidikanmu?” Ayah Rasha bertanya.


“Keluarga Nadya berasal dari keluarga konglomerat, kami sudah mengecek ada yang mencurigakan dengan mereka selama setahun ini...” Aku terdiam, masih dalam pelukan Bayu.


Tapi selama lima detik setelahnya, lelaki ini tidak melanjutkan perkataannya, hal itu membuatku langsung mendorong dadanya pelan untuk menatapnya langsung. Nyatanya keluarga yang sedang video call pun hanya saling menatap dan mengangguk.


“Apa? Kalian ingin menyembunyikan sesuatu dariku?” Aku menebak kesal.

__ADS_1


...


__ADS_2