
...
Aku berdiri cepat, ingin berlari mengejar tapi dari arah berlawanan, aku bisa melihat sosok Bayu masuk dari pintu café, lelaki itu sempat melirik Robert sekilas saat mereka berpapasan namun Robert yang asik menatap ponselnya tidak menyadari Bayu.
Mataku masih menatap tajam punggung Robert yang menghilang di balik pintu café, kalau tatapan bisa membunuh, aku yakin Robert sudah terkapar mengenaskan sekarang.
“Boo, ada apa denganmu? Apa yang kau lihat?” Suara Bayu mengalihkan tatapanku, lelaki ini sudah berdiri di hadapanku sembari kedua tangannya menyentuh bahu dan sisi kepalaku.
Aku menatap Bayu sembari cemberut kesal dan berkata. “Orang itu, tiba-tiba datang ingin mengobrol denganku berdua, dia sangat menyebalkan, bahkan dia memfotoku tanpa izin.”
Bayu berbalik, melihat keluar café, tapi sudah terlambat karena dalam sekejap, Robert telah masuk ke dalam mobil yang menunggu di depan cafe dan melaju keluar dari parkiran menuju jalan raya untuk bergabung dengan mobil lainnya.
Bayu kembali berbalik menatapku. “Pria tadi?”
Aku mengangguk masih kesal karena foto tanpa izin itu, kemudian salah satu tangan lelaki ini mengusap puncak kepalaku dan tangan lainnya merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel.
“Aku janji akan menghapusnya.” Katanya lembut,
“Halo. Apa kamu masih di jalan? Ya, tolong cek mobil hitam yang menuju arah alun-alun kota, nomor platnya—”
“Icha, pria itu sudah pergi?” Suara Talia mengalihkan tatapanku.
“Ya, kami ngobrol sebentar.” Jawabku pada Talia dan prof Bora.
“Apa yang terjadi?” Prof Bora melirik Bayu sekilas yang masih berbicara di telpon.
“Dia tadi memfotoku tanpa izin.”
__ADS_1
“Kebetulan kalian ada di sini, kakek sudah mendapat persetujuan bahwa dokter Stefan dan prof Bora akan bergabung dalam penyelidikan sky di vila. Anggota phonex juga akan ikut terlibat menelusuri jejak sky.”
“Benarkah?” Talia tampak kaget sekaligus bersemangat.
“Yap, baru beberapa menit lalu di setujui. Ini surat tugasnya.” Bayu menyodorkan ponselnya pada Talia, refleks aku dan prof Bora ikut membaca surat di layar.
Talia tiba-tiba menjerit senang. “Aku harus menemukan Lifer!! Astaga.. Astaga.. Astaga... Aku sangat merindukannya!!”
“Lifer ada di markas.” Beritahu Bayu. Talia segera menyambar tasnya, memasukkan ponselnya lalu dia memeluk aku dan prof Bora sekilas sebelum pergi.
“Dari dulu dia sudah terobsesi dengan sky. Peluang untuk lebih dekat mengenal tentang sky tentu saja tidak akan di sia-sia kan.” Kata Bayu. Kami bertiga masih menatap punggung Talia yang dengan cepat menghilang di balik pintu.
“Baiklah, sepertinya aku juga harus kembali.”
“Langsung mencari dokter Stefan?” Tebakku pada prof Bora, namun wanita ini menggeleng sembari membereskan barang-barangnya untuk di masukkan ke dalam tasnya.
“Tidak. Ini sudah sore. Aku akan mulai membahas tentang itu besok.” Setelah mengatakan itu, dia pamit pada kami dan menghilang juga di antara pelanggan-pelanggan café yang sore ini semakin ramai.
“Belum. Bagaimana pekerjaanmu hari ini?”
“Sshh.. Banyak yang harus di kerjakan.” Aku menghela napas panjang.
“Apa urusan di markas sudah selesai? Kau bisa pulang.” Lanjutku teringat pesannya tadi pagi.
“Ya, Aku akan berangkat tugas ke luar kota besok lusa. Kakek memberiku izin libur sehari untuk mempersiapkan semuanya.” Bayu menarik minumanku yang masih tersisa setengah untuk dia coba.
“Jadi, apa yang akan kau lakukan besok?”
“Tentu saja memanjakan istriku.” Ekspresi Bayu berubah jahil dalam sekejap. Aku merasakan wajahku mulai memanas dan tidak bisa menyembunyikan senyuman ku.
“Tapi besok aku harus kerja.”
“Tidak bisakah kau libur??” Bayu merajuk padaku dengan wajah memelas.
“Aku sudah terlalu banyak libur—”
“Toh tetap saja perusahaan itu akan menjadi milikmu.” Dia bergumam pelan yang terdengar olehku.
__ADS_1
“Apa??”
Bayu melirikku hati-hati seolah menyadari perkataannya, aku menatapnya tajam, ingin tahu dan penuh ancaman agar dia berkata jujur. Perasaanku mengatakan kalau rumor di kantor pusat yang di katakana Rima tadi pagi ada sangkut pautnya dengan ayah Evano, bahkan tanpa harus Bayu berbicara seperti itu pun, aku terpikir kalau ayah Evano yang membeli saham perusahaan tempat aku bekerja.
“Apa kau tahu ayah Evano membeli sebagian saham perusahaan tempat aku bekerja? Aku mendenga infonya pagi ini, timingnya terlalu kebetulan. Katakan!”
Lelaki di sampingku ini mendesah putus asa lalu menjawab. “Aku mendengar ayahmu bicara pada temannya di acara pernikahan kemarin. Katanya kau bekerja di perusahaan yang dalam proses untuk ayahmu beli.”
Aku terdiam, berpikir, kemudian pertanyaan yang sudah lama berada di sudut pikiranku akhirnya terucap. “Apa menurutmu, ayah Evano malu memiliki anak seperti ku?”
“Kenapa kau berpikir seperti itu??” Bayu melirikku tajam, dari ekspresinya aku tahu dia tidak suka aku bertanya seperti itu.
“Hanya berpikir saja. Maksudku ayah Evano membeli sebagian saham perusahaan di tempatku bekerja, lalu saat pernikahan, dia tidak mengajakku sama sekali untuk di perkenalkan pada teman-temannya. Nenek Nella Syana tidak menyukaiku, satu-satunya yang dia akui dariku adalah aku menikah dengan anak laki-laki keluarga Jeremy.”
“Oh sayangku, maaf karena kau harus berpikir seperti itu.” Bayu merangkul bahuku, memelukku dari samping.
“Bukan kau yang harus minta maaf, mungkin aku hanya terlalu dramatis?” Kataku tersenyum kecil padanya.
“Tidak. Apa yang kau pikir dan rasakan juga penting untukku. Nama keluarga Jeremy di luar sana mungkin terdengar hebat, namun status dan latar belakang seseorang itu hanyalah sebatas penilaian di mata manusia, bukan di mata Tuhan. Tapi hidupku tidak akan sesempurna ini kalau bukan kau yang menjadi teman hidupku.” Katanya sembari mengusap puncak kepalaku, wajahnya tersenyum lembut yang berhasil membuat perasaanku lebih baik.
“Aku juga ingin merasakan di akui dan di cintai oleh keluargaku, apa aku terlalu egois?”
“Bukan hal yang egois jika kamu mencintai diri sendiri dan membuat kebahagianmu menjadi sebuah prioritas. Itu adalah kebutuhan. Seseorang pernah bilang padaku kalau keistimewaan dari sebuah kehidupan adalah menjadi dirimu sendiri.” Aku menatap sisi wajahnya karena dia sedang fokus mengaduk minuman milikku dengan sedotan, dia mengatakan semua itu dengan nada tenang, saat yang bersamaan dia terlihat menawan.
“Boo, aku mencintaimu sebagai dirimu. Aku menyayangimu sebagai adanya diriku. Tak perlu memalsukan diri, saling apa adanya lebih mempesona.” Bisiknya lembut. Aku tak tahan lagi untuk tidak balas memeluknya dari samping, mendekatkan lebih dekat tubuhku padanya.
“Ingat saat kita kecil dulu, aku selalu membuatmu kesal bahkan di hari pertama kita bertemu? Aku selalu menyembunyikan barang-barangmu dan kau mencarinya sampai kelas kosong?”
“Ya! Kau anak laki-laki yang sangat menyebalkan!” Aku mengangguk sembari tertawa kecil, tidak melepaskan pandanganku darinya.
“Aku tidak tahu apa orang lain pernah merasakannya tapi saat kau masuk ke kelas les itu pertama kali, seolah aku telah menunggumu datang dalam hidupku. Aku ingin mengenalmu, aku ingin lebih dekat denganmu dan akhirnya yang bisa aku pikirkan hanya menjahilimu.” Bayu tertawa di akhir kalimat. Pikiranku melayang mengingat pertama kali aku melangkah memasuki kelas dan sepuluh orang anak laki-laki dan perempuan yang seusia denganku menatap setiap gerakkanku.
...
__ADS_1