
...
Sepuluh menit berlalu sejak aku diam menatap keluar jendela setelah aku mengganti pakaian pasien ku dengan dress selutut merah maroon yang tempo hari aku pakai di acara vila.
Jam menunjukkan pukul enam pagi, saat aku bangun jam lima tadi, Bayu yang juga terbangun di dekat ku langsung mengatakan kalau pagi ini dia memutuskan untuk membiarkanku keluar dari rumah sakit, tapi tidak dengan bekerja.
Dia ingin aku istirahat di rumah satu hari lagi dan memberi alasan karena hari ini adalah hari terakhirnya di skor yang menurutnya adalah liburan terakhir, maka dia ingin aku menemaninya.
Mengingat kalau kami akan jarang bertemu ke depannya, maka aku menyetujui usulannya.
“Nona Icha, aku dengar kamu akan pulang hari ini?” Tiba-tiba suara wanita milik suster Rini terdengar di belakangku.
Aku berbalik dan melihatnya sedang berdiri di ambang pintu.
“Yaa, ngomong-ngomong, terima kasih suster Rini untuk bantuannya.” Jawabku melangkah mendekatinya.
“Itu sudah tugasku. Yang penting, tolong jangan kembali lagi sebagai pasien ke sini.” Katanya tersenyum lebar.
Aku terkekeh pelan. “Kalau soal itu, aku tidak yakin.”
“Baiklah, kalau begitu aku pamit.” Suster Rini melangkah pergi dari hadapanku setelah aku mengangguk padanya.
Sembari menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh, aku menyadari koridor rumah sakit pagi ini masih sangat sepi.
Tidak ada siapapun kecuali petugas kebersihan dan beberapa suster yang keluar masuk ruangan. Maka aku kembali masuk dan menutup pintu, memutuskan untuk duduk di sofa menunggu Bayu kembali.
Tidak sampai satu menit aku diam menunggu, pintu kamar terbuka yang langsung memunculkan lelaki yang sejak tadi aku tunggu.
“Maaf menunggu lama, Boo.” Katanya di ambang pintu.
“Boo? Itu panggilan baru untuknya?” Dan dokter Stefan di belakang Bayu.
__ADS_1
Keduanya segera masuk dan menghampiriku. Mataku teralihkan melihat sesuatu di tangan dokter Stefan.
“Apa itu untuk aku pakai?” Aku bertanya sembari melirik Bayu karena aku yakin dia yang mengusulkan ide ini.
“Iya. Agar kamu bisa lebih hati-hati dengan bahumu itu. aku tidak ingin membiarkan sekecil apapun menganggu penyembuhanmu.” Nada suara Bayu terdengar tegas, tidak ingin aku membantah.
Dokter Stefan tersenyum kecil menatap Bayu, lalu dia duduk di sisi kiriku. “Nah Icha, biar aku bantu pakai.”
Arm sling Harness berwarna hitam yang di bawa dokter Stefan mulai di pakai kan pada tangan kiriku. Tanganku memang tidak sakit, tapi Bahuku memang agak kaku dan perih berdenyut masih terasa.
“Terima kasih dok, kami selalu merepotkanmu bahkan di jam pagi seperti ini.” Kataku tersenyum menatap dokter Stefan.
Pria berambut coklat madu ini tersenyum lebar dan menggeleng. “Tidak, aku senang bisa membantu. Jangan khawatir, aku memang selalu ada di rumah sakit. Pulang ke rumah hanya jika benar-benar penting.”
“Dokter Stefan dan professor Bora itu sama aja. Menyukai pekerjaannya sampai seperti ini.” Tambah Bayu.
Tak heran saat mendengar tentang ledekkan Lifer pada dokter Stefan mengenai pertunangan mereka kemarin. Mereka belum menikah padahal sudah tunangan lama.
“Bayu juga sangat gila dengan pekerjaannya, tapi aku bisa melihat, sekarang dia lebih gila lagi untuk menyukaimu.”
Aku terkekeh pelan mendengar penuturan dokter Stefan.
“Hentikan! Ini masih pagi, aku tidak ingin berada di situasi penuh cinta kalian.” Dokter Stefan berdiri lalu menepuk punggung Bayu.
“Kalau begitu, pulang dan istirahat lebih banyak. Jangan sering datang ke rumah sakit sebagai pasien!” Aku mengangguk, tersenyum lebar menanggapinya. Kemudian dokter Stefan segera keluar dari ruangan dan meninggalkan kami berdua.
“Aku sudah membawa barang-barangmu ke mobil. Termasuk hadiah yang di berikan Bianca.” Kata Bayu masih dengan posisinya, berdiri di hadapanku.
Aku mengangguk dan segera berdiri menghampirinya. “Jadi, apa rencananya untuk hari ini?”
“Kita akan pulang ke rumahmu, kau bisa istirahat dulu di rumah, aku akan menemani. Setelah itu kau ikut denganku untuk pulang ke rumahku.”
“Lalu, apa kamu mau menjelaskan tentang kejadian di vila itu? Kakek Jeremy dan ayahmu pasti sudah menjelaskannya ‘kan?” Tanyaku selembut mungkin, mendongak menatapnya.
Untuk sesaat Bayu hanya diam membalas tatapanku.
“Kau sangat ingin mengetahuinya ya?” Tanyanya terlihat ragu.
“Tentu saja.” Bayu menghela napas panjang dan memejamkan matanya sesaat.
“Ada apa? Apa ini ada hubungannya denganku?” Tanyaku mulai berspekulasi. Aku yakin, ekspresi wajahnya ini menunjuk kan kalau Bayu tidak ingin aku tahu tentang masalah ini.
__ADS_1
“Bagaimanapun, kamu juga harus tahu ini.” Gumamnya membuatku semakin mengerutkan kening penasaran.
“Sebenarnya, orang yang menyewa tentara bayaran itu untuk mengincarku. Seseorang menyewa mereka karena cemburu padamu.”
“Hah?? Siapa? Memangnya siapa orang itu sampai bisa menyewa tentara bayaran dan bahkan menggunakan racun itu. Apa jangan-jangan ini ulah Henry?” Tanyaku benar-benar di luar ekspetasi.
Aku tidak ingat ada pria lain di dekatku yang cemburu pada Bayu.
Bayu menarik tangan kananku, membawaku duduk di tempatku tadi.
“Namanya Caesar Adinata. Kamu memang belum pernah bertemu dengannya. Dari penyelidikan, orang itu menyewa tentara bayaran karena mengetahui hubungan kita. Dia adalah orang yang akan di jodohkan oleh kakekmu, pemilik grup Eternity.”
“Hah?! Perjodohan lagi!!” Aku memekik tidak percaya.
“Aku dapat informasi tentang rencana tuan Alvaro Markus Danendra, dia akan segera menggelar pesta pertunangan begitu kamu pulang ke rumah. Caesar adalah pewaris tunggal perusahaan properti terbesar di negara ini.”
“Begitu ya? Tidak heran kalau ternyata dia pewaris tunggal perusahaan besar lainnya. Ini seperti perjodohan politik ‘kan?” Kataku.
“Aku juga tidak bisa menangkapnya karena tentara yang menyerang kita di vila itu bunuh diri. Mereka tidak meninggalkan jejak apapun.”
“S—sampai bunuh diri?” Aku menegang seketika mendengarnya. Tidak pernah terbayangkan dalam hidupku akan bertemu hal-hal seperti ini.
Bayu mengangguk, ekpresi wajahnya terlihat tidak bersemangat. “Aku hanya mendapatkan foto salah satu pegawai kepercayaan Caesar bertemu tentara bayaran itu. Memang tidak langsung membuktikan dia yang menyuruhnya tapi setelah mengetahui fakta dia akan di jodohkan denganmu, kemungkinan dia ingin menyingkirkanku dulu secara diam-diam dan terlihat alami.”
Aku menarik tangan kanan Bayu, menggenggamnya erat sembari menatap matanya dalam-dalam. “Tenang saja, aku akan melindungimu. Sekarang kamu harus bergantung padaku. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.”
“Hah? Apa yang kau katakatan? Melindungiku?” Bayu berdecak tidak percaya dan kaget untuk sesaat.
“Aku tidak mengenal pria itu. Berani-beraninya dia menyentuhmu duluan! Pokoknya aku akan membatalkan pertunangan dan bericara pada tuan Alvaro. Dia seenaknya saja memutuskan masa depanku! Memang nya siapa dia?? Kita bertemu saja tidak pernah!”
“Jadi apa yang akan kau lakukan?” Bayu bertanya padaku.
“Sebelum kita ke rumahmu, kita akan pergi ke rumah tuan Alvaro. Aku akan berbicara padanya agar permasalahan ini cepat selesai.”
...
__ADS_1