
“Apa ini?”
“Kamu tidak perlu tahu. Jika cairan itu masuk ke dalam tubuh manusia, racun itu akan membuat tubuhmu kehilangan darah dalam waktu kurang dari lima hari. Itupun jika kamu beruntung memiliki tubuh yang sehat maka satu minggu adalah waktu paling lama. Sekarang agar membuat aku percaya, suntikkan racun itu.”
Dia sudah sangat gila. Apa-apaan ini!! Dia ingin aku mati perlahan?
“Aku akan tahu kamu berbohong atau tidak dalam waktu kurang dari seminggu. Bagaimana? Berani? Atau beritahu aku sekarang!!”
Dadaku terasa sesak. Aku tidak menyangka akan terlibat dengan hal seperti ini. Aku takut, sangat takut.
“Beritahu aku, siapa kamu?” Suaraku terdengar bergetar.
Dia tersenyum sinis tapi tetap menjawab. “Panggil aku Rey Orihara. Jadi untuk apa kamu ingin tahu siapa aku, sebentar lagi kamu akan mati gadis bodoh!”
“Aku harus tahu siapa kamu untuk mendatangimu jika nanti aku mati.”
Rey bodoh ini justru tertawa mendengar jawabanku. Tidak lucu sama sekali. Pantas saja wajahnya tampak seperti wajah campuran, keluarganya pasti ada yang keturunan jepang.
Sekali lagi aku menatap benda itu, melihat tanganku yang sedikit bergetar ketakutan tak membuat aku mundur langsung. Jika aku nekad, mungkin saja aku akan mati kurang dari seminggu ini. Namun jika aku tidak, dia pasti akan semakin memaksaku dan mencapku sebagai gadis pembohong yang keras kepala.
“Ck. Lihat! Sekarang kamu ketakutan! Cara ini selalu berhasil, aku tahu kamu berbohong! Sekarang katakan padaku, cepat!!” Rey tersenyum puas melihat aku yang jadi diam berpikir.
Bukankah ibu saja tidak percaya padaku? Mana mungkin orang asing sepertinya akan percaya. Sepertinya semua ini memang salahku, aku yang terlihat tidak sungguh-sungguh, aku yang selalu mengecewakan orang-orang di sekitarku sehingga timbul rasa tidak percaya dari mereka. Aku harus kembali bercermin, memperbaiki apa yang salah dengan sikapku selama ini pada mereka.
Yaa.. Mungkin itu adalah alasan yang cukup untuk Tuhan menghukumku saat ini.
Memikirkan semua itu justru membuat tenggorokkanku tambah sakit, dadaku sesak dan aku ingin menangis sekarang. Semuanya salahku.
Masih dengan tangan bergetar, aku segera merobek plastik yang membungkus suntikan itu, kemudian segera membuka tutup yang melindungi jarumnya.
“Aku peringatkan, setetes saja sangat berbahaya. Jangan pura-pura berbuat nekad agar aku menghentikanmu.”
Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya, aku masih ketakutan sekarang, aku tidak berharap Bayu akan datang dalam waktu kurang dari seminggu ini untuk menyelamatkanku. Tidak, dia bukanlah siapa-siapa sekarang, dia hanya pria yang akan selalu aku rindukan.
“Aku melakukan ini bukan karena aku ingin kamu percaya bahwa aku tidak berbohong. Tapi aku melakukannya karena mungkin aku memang pantas mendapatkannya.” Kataku berucap sangat tenang.
__ADS_1
Aku yang sedang menyuntikkan benda itu di tangan kiriku, tiba-tiba melihat cairan merah menetes mengenai tanganku ini, padahal cairannya baru setengah masuk tapi efeknya benar-benar kuat dan langsung.
“Wahh racunnya langsung bekerja.” Aku tersenyum kecil, berusaha menghibur diriku sendiri agar aku tidak merasa semakin takut. Setelah memastikan semua cairannya masuk, aku mencabut suntikkannya dan menyerahkannya pada Rey. Tangan kiriku refleks menutup hidungku yang berdarah, mimisan.
“Sekarang pergilah. Jangan ganggu aku lagi. Aku tetap tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Cari Bayu di tempat lain.”
Aku mendongak menatapnya, ekspresinya terlihat kosong. Dia menatapku tanpa emosi di dalamnya. Aku yang masih sibuk menutupi hidungku yang berdarah karena darah itu sudah berhasil keluar dari sela-sela jariku, hanya bisa berbalik tanpa mendengarkan jawabannya.
Aku cepat-cepat mendorong motor matic ku ke dalam garasi rumah, kemudian menutupnya, dan kembali berbalik untuk mengunci pintu gerbang. Aku harus cepat-cepat masuk ke dalam rumah untuk menghentikkan pendarahan di hidungku.
Sejak tadi aku merasakan tetesan itu tidak berhenti keluar membasahi bibir dan daguku. Tepat ketika aku hendak mengunci pintu gerbang, tanganku tertahankan saat Rey sudah berdiri menahan pagar dari luar.
Pria ini menatapku marah dan dia berkata dengan suara keras. “Bagaimana bisa tubuhmu selemah ini?! Kamu akan mati—“
“Percuma aku mengatakan jika hari ini aku melewatkan sarapan pagi, siang dan malam ‘kan? Kamu tidak akan percaya.”
Aku menarik kuat pintu gerbang agar bisa dikunci. Setelah berhasil, tanpa melihat pria brengsek ini aku segera masuk ke dalam rumah. Berharap bisa melewati malam ini dengan tenang. Ini adalah keputusanku untuk memasukkan racun itu. Aku juga yang harus bertanggung jawab menahan semua efek sampingnya.
“Oke Camila, jangan lupa laporan harian hari ini di cc email padaku, seperti biasanya. Telpon aku jika ada keadaan darurat.”
Aku memutuskan sambungan telpon setelah mengatakan kalimat penutup itu pada Camila, memberitahunya jika hari ini aku ijin tidak masuk kerja. Pagi ini aku hampir selalu jatuh dan tidak bisa jalan sendiri setelah bangun tidur. Rasanya pandanganku berkunang-kunang, semuanya tampak berputar dan yang lebih parahnya lagi tubuhnya terasa sangat lemas hampir tidak bisa menjaga kesadaran.
Padahal kemarin malam baru berefek mimisan akibat racun itu. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi padaku untuk beberapa hari ke depan. Disaat-saat seperti ini tubuhku terlalu lemah, aku sendirian dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi padaku.
Aku kembali merebahkan tubuh di atas kasur, menatap langit-langit kamar sembari berpikir. Siapa sebenarnya Rey? Jika Bayu memang menjadi incarannya selama ini berarti pekerjaan Bayu bukanlah pekerjaan biasa, aku tahu Bayu adalah lelaki yang pintar tapi mengapa dia bisa sampai tidak tahu ada yang mengikuti kemanapun dia pergi? Seharusnya Bayu tahu.
Aku bisa menebak Rey mungkin saja orang yang terlibat hal-hal illegal melihat dari caranya berbicara, berpakaian dan berekspresi. Dia adalah pria brengsek.
Memikirkan semua itu membuat aku mengantuk, karena tahu bagaimana keadaanku sekarang, tadi malam aku sudah berpikir panjang agar siang ini aku akan mengunjungi Ibu, untuk membagikan warisan bibi padanya dan Daniel. Mungkin inilah saatnya sebelum aku pergi.
Aku harus meminta maaf pada Ibu atas segala kesalahanku.
.
..
__ADS_1
…
Aku menatap sekilas langit abu pagi ini. Udara dingin berhembus ke arah barat tanda akan turun hujan sebentar lagi padahal jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Saat ini aku yang baru keluar pintu rumah, siap untuk pergi ke rumah sakit setelah mendengar suara klakson mobil.
Mantel yang membungkus tubuhku seolah tidak ada apa-apanya di bandingkan angin kencang yang menerpa tubuhku. Karena tidak sanggup menggunakan motor, aku memesan taksi.
.
..
Setelah perjalanan kurang dari tiga puluh menit, aku segera turun dari taksi saat mobil ini berhenti tepat di depan pintu lobi rumah sakit. Pandanganku masih berputar, tubuhku lemas dan kelapaku sakit sekali. Aku bermaksud ingin mengecek tubuhku, apa rumah sakit ini bisa mendeteksi racun yang ada di tubuhku ini? atau jika mereka tidak bisa menemukannya, berarti racun yang kemarin Rey berikan bukanlah racun sembarangan.
Aku menduga jika racun itu mungkin saja di gunakan untuk hal-hal tertentu. Racun yang hanya di ketahui keberadaannya oleh organisasi tertentu.
Memikirkannya saja membuatku menghela napas panjang. Kenapa aku harus terlibat akan hal seperti ini? semua ini di luar imajinasiku. Aku hanya seorang wanita yang ingin bekerja, wanita yang ingin memiliki karir.
“Uhuk.. Uhuk,,”
Aku merasakan sesuatu hendak keluar dari mulutku, aku tahu itu adalah darah, seperti yang terjadi tadi pagi. Aku sudah memuntahkan darah selain efek mimisan kemarin malam.
“Halo.. Saya ingin memeriksa kesehatan.” Aku segera menunjukkan kartu identitasku pada bagian pendaftaran di lobi rumah sakit ini. Sembari menutup mulut dengan tangan kiriku, wanita yang berada di balik podium itu sempat memperhatikanku.
“Tunggu sebentar.”
Aku mengangguk, berharap mendapat antrian cepat. Namun harapanku lagi-lagi harus hilang ketika melihat nomor antrianku di atas angka 100. Setelah di perhatikan, ternyata pagi ini pasien yang menunggu banyak sekali.
Perhatianku kembali teralihkan saat aku merasakan cairan itu sudah ada di ujung lidahku. Aku cepat-cepat mencari toilet lalu segera masuk ke salah satu bilik toilet. Memuntahkan cairan merah dari dalam mulutku ke dalam closet.
Banyak sekali yang aku muntahkan. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi, hanya saja rasanya seluruh tubuhku semakin sakit, kepalaku sangat pusing dan aku berkeringat banyak. Jantungku berdebar kencang, kemudian rasa takut mulai menguasai emosiku.
Aku ingin menangis, aku ingin berteriak jika aku kesakitan, aku juga ingin menuntut dan memaki Rey. Aku ingin menerobos ruang dokter agar aku mendapat pengobatan lebih cepat, aku juga ingin bersembunyi agar tidak ada seorang pun yang melihat saat aku lemah seperti ini.
Aku ingin memaki nasibku sekarang tapi di samping semua itu, aku tetap tidak ingin menjadi yang seperti itu. Aku ingin tetap kuat, aku ingin berhasil melewati semua ini. Aku masih ingin mengumpulkan banyak uang untuk menyenangkan Ibu dan Daniel meskipun mereka terkadang tidak mempercayaiku.
Memikirkan itu semua membuat emosiku semakin memuncak, aku terisak pelan. Tenggorokkanku sakit karena menahan tangis. Aku sendirian dengan kesakitan ini.
Andaikan aku bisa dengan bebas menceritakan semua ke khawatiran, masalahku pada ibu seperti yang biasa di lakukan anak lain kepada ibunya, tapi aku tidak terbiasa. Aku dan ibu tidak terbiasa seperti itu, seolah ada dinding tinggi di antara kami.
__ADS_1
.