EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 60


__ADS_3

...


 


“Cha.”


“Hmm?”


“Karena cuacanya cerah, ayo kita menikah?”


“APAA?!” Aku seperti tersedak dengan air liurku sendiri tepat ketika Bayu mengulurkan telapak tangannya untuk membantu turun dari helicopter ini.


Bukan hanya aku yang kaget, anggota timnya yang masih di dalam pesawat ataupun di luar langsung terdiam menatap kami. Bahkan aku tidak menyadari dokter Stefan yang ada di belakang Bayu.


Lelaki dengan rambut coklat madunya itu terdiam menahan napas. Bayu terkekeh pelan lalu menarikku lembut untuk turun. Belum sepuluh menit, lelaki ini sudah memintaku menikah dua kali.


 


Ya ampun, apa Bayu salah makan?


“Kau mengagetkanku. Dadaku rasanya sakit sekali.” Ucapanku tidak berbohong memang aku merasa sangat sakit. Sekarang begitu aku menarik napas, terasa menyakitkan.


“Jika kau ingin melamarnya, harus lebih romantis.” Dokter Stefan sedikit mendorong Bayu agar dia bisa menarik


tanganku mengikutinya.


Aku justru mendengar suara kekehan Bayu di belakang, dokter Stefan menarikku perlahan menjauh darinya. “Bagaimana lukamu? Apa sudah di obati? Apa yang terjadi?”


“Bahuku terluka karena luka tembak, tapi pelurunya tidak masuk. Tangan kiriku sakit sekali jika di gerakkan karena


sempat terpukul oleh penjahat itu.”


“Lalu apa lagi yang kau rasakan?”


“Dia demam tinggi dan hanya tertidur kurang dari tiga jam.” Bayu berjalan di samping kananku, menjawab pertanyaan dokter Stefan.


Dari kejauhan aku bisa melihat dua orang suster berdiri di samping brangkar yang di dorong. “Apa tadinya itu


untukku?”


“Yaa..Tapi aku senang melihatmu baik-baik saja, tidak seperti dugaanku. Bahkan lelaki ini bisa mengajakmu menikah di atas helicopter. Ya ampun!” Dokter Stefan masih menggeleng menatap Bayu.


Aku tersenyum senang menatapnya tapi perhatianku tetap tidak bisa lepas dari dada kiriku yang semakin terasa


menyakitkan. Tangan kananku terangkat mengusapnya, berharap akan lebih baik.

__ADS_1


“Ada apa? apa bahumu sangat sakit? Tanganmu?” Dokter Stefan melihat gerakkanku, kami yang sudah sampai di depan dua orang suster ini berhenti melangkah.


“Aku tidak yakin tapi—“ Aku menghentikan ucapanku, melirik Bayu sekilas.


“Apa mungkin racun itu sudah mulai bekerja?” Tanyaku padanya.


Seperti reaksi yang sudah aku duga, sorot mata Bayu berubah khawatir. Sedangkan dokter Stefan memerintahkan agar aku segera di bawa ke mobil ambulance.


“Apa yang kau rasakan?”


“Dadaku panas sekali. Aku bernapas pun terasa menyakitkan.” Bisikku pada Bayu, mencengkram erat jaketku ini.


 


Tiba-tiba saja aku merasa sangat lemas dan aku kesulitan bernapas.


Semuanya terjadi begitu cepat saat Bayu dengan cepat menggendongku dan meletakkanku di atas brangkar. Kedua lelaki ini mendorong brangkar ku menuju mobil ambulance. Sekilas aku sempat melihat anggota tim Bayu melirikku kaget. Aku juga akan bereaksi seperti itu ketika beberapa menit yang lalu aku masih bisa bercanda dengan mereka semua.


Setelahnya aku mendengar suara berisik sirine ambulance. Aku yang masih kesulitan bernapas meringis mencengkram semakin erat baju di dada kiriku. Samar-samar aku mendengar Bayu  memanggil namaku, memintaku agar aku tetap sadar. Lalu dokter Stefan memasangkan aku oksigen yang menutupi hidung dan mulut.


Semakin lama aku kesulitan mencari udara meskipun memakai masker oksigen, dada kiriku seperti terbakar dan tubuhku terasa kaku. Semuanya semakin menyakitkan mendegar suara Bayu yang memintaku tetap bertahan. Dia mengusap pipiku, keningku dan menghapus air mataku.


Aku yang setengah sadar seperti ini menatap Bayu sayu, wajah memerah, raut wajahnya terlihat lelah. Setelah ini dia harus istirahat. Tanganku tanpa sadar terangkat, ingin sekali aku menyentuh pipinya, menghapus kerutan khawatir di keningnya. Niat awalnya jika nanti dia mengantarku ke rumah, aku ingin memakaikannya masker wajah agar kulitnya terawat.


Tapi lagi-lagi kesadaranku semakin di tarik menjauh hingga semuanya gelap dan aku tidak merasakan apapun lagi.


“Bu, sudah aku bilang aku akan menunggu ka Icha sadar!”


Telingaku samar-samar mendengar suara milik seseorang tepat di sebelah kananku. Seluruh tubuhku terasa kaku dan aku merasakan sesuatu menghalangi hidung dan mulutku.


“Jangan membuat ibu selalu menyusulmu ke sini! Ibu tidak suka.”


“Tapi dia kakakku bu, putri ibu juga.”


“Bahkan dengan dia yang tidak sadar seperti ini pun selalu menyusahkan.”


“Bu! Ibu sudah keterlaluan.”


Sekarang aku bisa dengan jelas mengenali dua suara itu. Ibu dan Daniel berada di dekatku.


Perlahan aku membuka mataku, langit-langit kamar berwarna putih menjadi objek pertama yang aku lihat juga


aku merasakan menghirup sesuatu yang segar.


“Kakak sudah bangun?” Daniel menyentuh lenganku dan menatapku dari samping. Aku yang masih berusaha

__ADS_1


mengumpulkan kesadaranku ini hanya menatapnya dalam diam tanpa bisa menjawab.


“Bu, Kak Icha sudah sadar.”


“Ibu lihat sendiri! Sekarang ayo pulang.”


“Bu, kita ini keluarga. Kenapa ibu selalu bersikap seperti ini pada kakak??”


“Kau lihat, anak ini mulai memarahi ibunya sendiri. Ini semua karena pengaruhmu!” Ibu melotot marah menatapku di samping Daniel, ekspresinya selalu sama dengan terakhir kali aku ingat.


Tubuhku terasa sangat lemas, perasaan menyakitkan di rongga dada ini kembali muncul. Ingatan tentang ibu dan


Daniel membuatku merasa sangat kecewa dan tidak berdaya.


“Daniel… Pulanglah.” Dengan susah payah aku bisa mendegar ucapanku ini. Meskipun terhalang oleh masker oksigen tapi anak ini mendengar ucapanku.


“Kakak sedang sakit. Daniel ingin menemani kakak di sini.” Aku menggeleng pelan menatap Daniel agar menuruti


ucapanku.


“Kak, setidaknya biarkan aku menemani kakak malam ini. Aku tidak ingin melihat kakak kesusahan.” Aku tidak


tahu harus senang atau tidak mendengar ucapan anak ini. Kenyataan bahwa dia membayar Rey untuk membuatku menderita meskipun aku belum mendengar darinya langsung.


“Daniel!! Kamu lebih memilih dia dari pada ibumu sendiri? Ibu yang melahirkanmu??”


“Haishhh bu! Setidaknya tunggu sampai kak Bayu datang.”


“Bayu? Maksudmu tunangannya Jane itu?? Ya ampun kalian belum juga menjauh? Dia sudah punya tunangan dan kau dengan terang-terangan ingin merebutnya?” Ibu menatapku kecewa, aku yang benar-benar sudah muak mendengar semua perkataan negative ibu segera membuka masker oksigenku, dengan gerakkan yang masih lemah aku berusaha untuk bangkit duduk hanya menggunakan tangan kananku karena ternyata tangan kiriku sedang di perban.


Daniel membantuku untuk duduk bersandar di kepala tempat tidur, dia masih menatapku entah karena khawatir


atau hanya ingin memastikan aku menderita.


“Bu, lebih baik ibu keluar dari sini. Aku sedang tidak ingin mendengar ibu mengomeliku.”


“Apa?? Dasar anak tidak tahu di untung! Kamu berani mengusir ibu??”


“Lalu aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Ibu saja mengomeliku seperti ini, menyalahkanku terus.


Giliran aku meminta ibu untuk keluar, ibu memakiku. Jika ibu memang tidak senang melihatku, ya sudah jangan cari aku, jangan menemuiku.”


“Kau—berani sekali menceramahi ibu seperti ini!” Aku ingin menjerit rasanya, tapi tidak bisa. Tidak dengan kondisi


dan suasana seperti ini. Aku tidak pernah bisa membuat ibu berbicara padauk dengan cara yang lembut. Setiap pertemuan kami selalu seperti ini.

__ADS_1


 


...


__ADS_2