
...
Orang-orang tampak tegang melihat semua adegan itu. Lima pistol di arahkan pada satu target di dalam mobil.
Aku bisa mendengar jelas detak jantungku yang berdenyut cepat. Ruangan dingin yang tadi menjadi tempat penyekapanku seolah tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan ke situasi saat ini.
"Nyonya, anda kedinginan." Suara Lucy di sisi kiriku tidak mengalihkan tatapanku pada Bayu. Aku tahu tanganku bergetar karena kedinginan, tapi aku tidak peduli lagi.
Pluk
Lucy memutuskan untuk menyampirkan jaketnya pada bahuku ketika aku tidak meresponnya. Suasana diam dan tegang penangkapan di depan kami membuatku merasa semakin kedinginan.
"Turun sekarang atau kami tembak!!" teriakan tegas dan penuh ancaman berasal dari salah satu lima orang itu.
Aku bisa melihat pria di dalam mobil perlahan meraih kenop pintu mobil, seharusnya dia tidak punya pilihan karena dia telah di tandai dari segala arah. Namun, aku bisa lihat gerakkannya tidak tampak ketakutan.
Jantungku berdetak lebih gila lagi dengan atmosfir ini. Memikirkan lagi bagaimana dia menculikku sebelumnya, sorot mata dan gerakkannya sangat kejam, dia tidak basa basi dan bahkan berani memukulku dan menjatuhkan pria yang menjagaku.
Aku tidak bisa tenang meskipun pria itu sudah membuka pintu mobil hendak keluar. Tanganku terkepal erat karena sejak tadi fokusnya masih menatap Bayu.
Lalu semuanya terjadi begitu saja saat mataku menangkap gerakkan tangannya yang dengan cepat merogoh baju depannya.
DOOR!!
Tidak!
"Aaarrgghh..." Semua orang menjerit dan menunduk mendengar suara itu.
Aku melihat dengan jelas! Suara itu berasal dari pistol yang di genggam si penculik!
Sesuatu yang menyakitkan mulai menyebar dari dada kiriku. Tenggorokkan ku sesak. Kaki ku berubah lemas dan mataku memanas.
Dia....
Dia menembakkan pistolnya pada Bayu.
Pandanganku tertutup oleh gerakan Lucy yang memeluk bahuku agar menunduk.
"Bayu!" suaraku serak dan air mataku menetes hangat di pipi.
Aku dengan cepat bergerak lepas dari Lucy.
Situasi di sekitarku berubah lebih kacau. Petugas yang tadi membatasi dan menahan kami agar tidak mendekat, semakin mendorong kami ke belakang agar lebih jauh.
Tapi aku sama sekali tidak memperlambat langkah kakiku, aku menerjang, menabrak petugas yang menghalangi jalanku. Aku harus melihat Bayu. Aku harus tahu keadaannya.
Membayangkan dia akan meninggalkanku membuat dadaku sesak.
"Tidak! Lepaskan aku!!" tiga orang petugas menahanku, menutup pandanganku dari tempat kejadian
__ADS_1
"Bayu! Aku harus melihatnya!!"
"Tidak bisa nyonya! Anda harus diam di sini. Berbahaya di sana!"
"Dia--Uhuk!!" sial! Tenggorokkan ku kering dan sakit, kepalaku juga sakit dan pusing.
"Dimana petugas medis?! Kenapa tidak segera mengobati nyonya Natasha??" suara teriakkan marah dari salah satu pria di depanku membuatku menggeleng cepat.
"T--tidak bisa! Bayu! Apa yang terjadi padanya? Apa di--a terluka??" napasku rasanya tercekik ketika aku kembali berusaha menyingkirkan mereka.
DOOR!
DOR!!
Kami semua kembali di kagetkan oleh suara tembakkan. Kali ini 2!
Saat penjagaan petugas yang menahanku melemah, sekuat tenaga aku menerobos mereka.
Mataku dengan cepat mencari sosok itu, Bayu.
Satu persatu, aku melihat petugas yang tadi mengarahkan pistol mereka ada di sana.
Satu
dua
Empat
L--lima??
Oh!
Langkah ku terhenti, tanganku meremas kuat baju depanku. Jantungku seperti naik ke tenggorokkan. Air mata yang sejak tadi aku tahan kembali mengalir.
Aku mulai terisak kecil menyadari kalau hanya ada empat orang yang masih berdiri, mengarahkan pistol ke bawah, ke tempat si penculik tadi berdiri.
Di sana tidak ada Bayu.
"Nyonya! Anda jangan mendekat." Tangan Lucy sudah mencapai bahuku.
Tubuhku bergetar, perasaan takut menguasaiku.
Bagiku, Bayu adalah orang yang muncul secara alami di sampingku. Pertemuan kami seperti air di permukaan danau yang tenang. Meski awalnya pertemuan kami sangat biasa, bukan pertemuan yang menggetarkan atau membakar hati tapi kehadirannya perlahan seperti bagian dari diriku sendiri.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia tidak ada di dunia ini. Tapi aku bisa memastikan sebagian dari diriku akan menghilang saat dia tidak ada.
Pandangan mataku buram karena air mata. Aku memutuskan untuk mendekati mereka meski orang-orang menahanku, setidaknya aku harus memastikan keadaannya bagaimanapun dia.
Aku harus memastikan dengan mataku sendiri!
__ADS_1
Sebelum aku mencapainya, petugas medis datang menyerbuku dan menyerbu ke arah mobil pelaku. Mereka memaksaku untuk berhenti dan mendapat pengobatan.
Aku mengabaikan mereka, mendorong lagi orang-orang ini agar menyingkir dari jalanku.
Kecemasanku semakin tak terhankan, aku mulai berlari kencang mendekati mobil, tempat tim Bayu mengepung di salah satu sisi.
"Nyonya! Di sana berbahaya!"
"Nyonya, berhenti! Anda terluka!"
Suara dan langkah kaki terdengar di belakangku.
Saat aku sudah semakin dekat, aku bisa melihatnya. Empat orang pria mengepung pelaku yang berbaring di jalan aspal lalu lebih banyak lagi orang yang mengepung pelaku, tapi aku tidak melihatnya! Bayu!
"BAYU!!" Aku memekik frustasi untuk memanggil namanya. Isak tangisku semakin kencang karena tidak menemukannya. Sekarang aku harap seseorang memberitahuku tentangnya.
Lalu ada tangan yang merangkulku dari belakang, aku akan berbalik pada Lucy, mengomelinya agar tidak menghalangiku, tapi aku merasakan tangan itu lebih besar dan kokoh dari milik Lucy.
"Di sana berbahaya!"
"Bayu!" aku berbalik, mendengar suara seriusnya membuat jantungku berdetak kencang.
Dia tidak memakai helm dan masker. Wajahnya tampak lelah dankeringat membasahi ujung rambutnya. Sorot matanya menyala penuh khawatir dan marah saat dia memperhatikan wajahku.
Perasaan lega dan aman mengalir memenuhi rongga dadaku dan menyebar ke seluruh tubuh setelah memastikan dia tidak terluka.
"Darah! Dia memukulmu?! Si brengs--hah!" Bayu menggeleng, menghela napas panjang sembari menyentuh wajahku dengan hati-hati.
Aku memejamkan mata sesaat dan menyandarkan kepalaku di lengannya. Rasanya seluruh tubuhku lemas karena tegang. Lengan Bayu memeluk erat pinggangku, dia agak menunduk agar kepalanya bisa bersandar di bahuku.
Bayu tidak apa-apa. Dia tidak terluka.
"Tubuhmu dingin. Aku akan membawamu ke rumah sakit, hm?" Bayu melepaskan pelukannya untuk menatap wajahku lagi.
Aku hanya mengangguk dan kembali menyandarkan keningku di lengannya karena sekarang aku bisa merasakan dengan jelas bagaimana kepalaku berdenyut sakit.
"Pak Bayu, nyonya--"
"Tidak apa-apa. Aku akan bawa nyonya ke rumah sakit sekarang." Bayu memotong ucapan Lucy yang membawa petugas medis.
Aku merasa Bayu tahu suasana hatiku yang tidak ingin apa-apa. Syukurlah dia mengerti.
Ketika tangan lelaki ini meletakkan lengannya di punggung dan belakang lututku untuk menggendongku, aku tidak lagi mengatakan apa-apa, hanya memejamkan mata sembari memeluknya.
Aroma tubuhnya yang sudah familiar di hidungku. Suhu tubuhnya yang hangat dan getaran suaranya saat dia berbicara. Semua ini adalah hal yang sudah biasa di keseharianku, tapi aku tahu kalau aku tidak akan pernah puas.
...
.
__ADS_1